
❄Selamat membaca❄
Setelah mandi aku mengenakan pakaian ku dan mengabaikan gadis bodoh itu yang menyudut di sudut kamar sembari fokus membaca. Buku apa sih yang ia baca sampai segitunya?.
Aku keluar dari kamar menuju ruang depan. Menyalakan televisi dan mencari channel yang menarik namun tak kunjung ketemu.
Aku sungguh merasa bosan sekali saat ini.
"Mini! " Dengan sekeras-kerasnya kupanggil nama bodoh itu. Tunggu! Kenapa aku memanggil dia?.
"Ada apa tuan? " Ia dengan buru-buru turun dari kamar menuju ke hadapan ku saat ini. Baiklah kalau dia sudah mulai sadar untuk tidak mengulur waktu.
"Buatkan saya teh." Hah? Kenapa tiba-tiba memesan teh? Astan, apa otakmu sedang losdol akhir akhir ini? Suka sekali mengeluarkan kata-kata yang bertentangan dengan dirimu.
"Dari tadi saya perhatikan kamu selalu memegang buku itu?buku siapa itu?terlihat asing dan sepertinya bukan dari rumah ini."ia langsung terdiam karena ucapanku itu. Memang aku paling teliti mengenai rumah ini.
"Anu,, itu tuan mas alga meminjamkan bukunya kepada saya,mas alga sangat baik," Ucapnya dengan semangat dan tunggu! Dia tersenyum? Kenapa rasanya sangat kesal saat tau ia tersenyum membicarakan laki-laki lain? Ahh aku kesal karena melihat gadis tidak tau diri itu tersenyum saat membicarakan orang lain.
"Cepat buatkan teh sesuai yang saya inginkan."kukeraskan Kepala ku hingga ia terlonjak kaget.
Setelah ia berada didapur aku langsung melihat buku pemberian alga itu. Apa hebatnya buku itu hingga gadis bodoh itu tersenyum saat menceritakannya tadi. Ahhh jengkel.
"Cara menunjang motivasi belajar?hahahah." Aku sungguh tak bisa menahan tawa membaca judul buku yang dibaca oleh gadis bodoh itu sejak tadi.
"Lucu sekali,bahkan anak teka saja tidak membaca buku seperti ini,kalau memang orangnya memiliki niat untuk belajar tanpa buku ini ia akan terus termotivasi untuk belajar,dasar alasan,, bilang saja ia hanya ingin menarik perhatian gadis bodoh itu." Aku benar-benar kesal sekarang. Alga pasti memiliki perasaan suka terhadap gadis bodoh itu. Dan tentunya gadis bodoh itu tak tau sama sekali.
Buru-buru kuletakkan buku itu diatas meja karena aku mendengar suara derap langkah kaki dari arah dapur. Pasti gadis bodoh itu.
"Teh nya sudah siap tuan."ia tersenyum kearahku hingga membuat sesuatu di dadaku bergetar hebat.
Aku dengan cepat membuang jauh-jauh perasaan aneh itu dan langsung meraih gelas berisi teh itu. Tanpa kutiup dulu aku sudah langsung meminumnya. Hingga aku merasakan panas yang luar biasa.
" Akhh,"pekik ku karena merasa panas dan gelas yang berisi teh itu jatuh keatas meja tepat mengenai buku pemberian alga itu. Aku sama sekali tidak sengaja menjatuhkan teh itu hingga mengenai buku tersebut.
"Astaga,,, kenapa tuan menjatuhkan gelas itu tepat diatas buku ini? " Ia buru-buru meraih buku itu dan membersihkan nya dengan bajunya sendiri.
Tunggu! Apa ia sedang menyalahkan ku hanya karena sebuah buku bodoh itu? Apa barusan ia sedang menyepelekan ku? Wahh mulai hebat yah dia. Aku benar-benar tidak ingin menyakitinya saat ini tapi karena ulah kurangajar nya aku sungguh ingin marah padanya.
"Apa tadi kamu baru saja memperlihatkan kalau kamu lebih menghormati buku sialan itu dibanding saya?wahhh hebat sekali yah,siapa kamu sampai selancang itu menyalahkan saya? "Kecam ku dengan tekanan keras di pipi nya.
Ia menggeleng dengan pasrah "Tidak,, tuan,, sa,, saya, tidak bermaks,, akhh," Ucapannya terpotong karena aku semakin menekan keras pipinya hingga sudut bibirnya terlihat sedikit koyak. Kalau tau selemah ini kenapa masih berani macam-macam?.
"Ingat dan dengarkan ini baik baik,hidup dan matimu ada di tangan saya,terserah saya ingin memperlakukan kamu seperti apa,beruntunglah saya masih memperlakukan kamu sebagai manusia, jadi jangan melewati batas dan sadarlah posisimu gadis bi*nal." Kulepaskan tekanan di pipinya itu hingga ia terlihat sangat lega dan menahan sakit dibibirnya itu.
" Hanya karena buku sialan ini kamu bersikap lancang menyalahkan saya?bagaimana jika tangan saya lecet hanya karena teh panas mu itu?ahh sepertinya kamu sengaja yah melakukannya untuk mencelakai saya?"aku memang tidak terlalu memikirkan teh panas itu dan takut tanganku akan terluka. Hanya saja aku sungguh tidak habis pikir kalau gadis bodoh itu lebih mementingkan buku pemberian laki-laki bodoh itu. Dia bahkan tak peduli dengan tanganku yang terkena air panas teh bodohnya itu. Ahhh sudahlah aku malas membahasnya.
Kulihat ia menunduk pasrah dihadapanku. Sebenarnya tidak tega memperlakukan ia seperti itu tapi hanya dengan begitu caraku untuk membuat ia terluka. Ayolah astan bukankah kamu sudah bertekad membuat hidupnya bagai dineraka. Kenapa malah berbelas kasih sih? Harus konsisten kalau sudah jahat di awal makan lanjutkan lah agar dendam mu terbalaskan. Jangan goyah sedikitpun hanya karena rasa kasihan. Apakah kamu tidak kasihan dengan dyva yang saat ini bahkan tak bisa merasakan terangnya dunia ini.
Ia masih saja menunduk merasa bersalah sembari memegang pipinya yang sakit itu.
Aku lebih baik melanjutkan aksiku saja dari pada harus memberinya belas kasihan. Apa peduliku dengan nya. Aku akan lebih senang jika ia mati sekalian. Agar aku tak perlu lagi repot-repot untuk membunuhnya.
"Bersihkan ini semua setelah itu ikut saya ke kamar." Aku berjalan pelan menuju kamar meninggalkan gadis bodoh itu di ruang depan.
Kulirik ia yang langsung bergerak dengan cepat membersihkan ruang depan itu karena takut aku marah lagi jika ia terlambat datang ke kamar.
Aku duduk diatas kasur dan berpikir keras bagaimana lagi aku harus membuat ia kesusahan. Aku sudah kehabisan akal jahat saat ini.
Segala bentuk penyiksaan fisik sudah hampir kulakukan untuknya. Mulai dari memukul, mendorong, mencambuk, dan bahkan mengurungnya berkali-kali. Apa lagi yah saat ini?.
Gadis bodoh itu juga kenapa masih bertahan hingga kini padahal jika diingat. Yang kulakukan bukanlah sesuatu yang layak untuk diterima oleh manusia. Apa gadis bodoh itu bukan manusia yah hingga masih bertahan sampai saat ini padahal aku tidak pernah main-main saat menyiksanya.
Terkadang aku sendiri yang tidak tahan melihat dan menyadari perbuatan ku. Kenapa ia sanggup dan masih bisa tersenyum kearahku padahal aku sangat kejam untuk ukuran manusia.
Dia pasti bukan manusia. Hanya orang yang kuat yang bisa menahan segala bentuk penghinaan dan penyiksaan ku itu.
Dan ia sudah termasuk kedalam kategori itu.
BERSAMBUNG...
Jangan lupa yah like, komen dan vote