Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)

Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)
ciuman lembut


...Soundtrack//good morning-kassy(ost fight for my way) //...


...Aku lebih baik melihat tatapan dingin dan kebencian mu dibanding harus melihat mata berair dan air matamu...


...Tanpa kusadari aku ikut tersiksa saat melihat itu....


...-mina-...


23.40 pm


Aku mencoba tidur tapi tetap tidak bisa.


Mas Astan sepertinya sudah terlelap tidur.


Entah apa yang membuatku merasa sangat resah dan susah tidur.


Rasanya kepalaku sangat sakit begitu juga dengan persendian ku rasanya sangat lemas.


Belum lagi dinginnya malam ini sangat tidak bisa lagi kutahan.


Aku tak memiliki selimut setiap tidur.


Hanya bisa memeluk diri sendiri saat saat seperti ini datang lagi.


"Hiks,," Aku mencoba menahan rasa sakitku.


"Dyva?,,, kenapa kamu disini? " Astan menghampiri dyva yang duduk diantara batu hitam dengan menggunakan gaun putih layaknya putri.


Gadis yang ia sebut Dyva itu melihat tidak suka kearah Astan.


"Semenjak kepergian ku aku sudah mulai tidak mengenali kakak,kakak telah berubah menjadi orang yang Dyva benci," Ucapnya dengan kesal.


"Apa maksudmu dyva?ayo ikut kakak pulang." Astan memegang tangan Dyva mencoba menariknya.


Tapi Dyva menghempas tangan Astan dengan kasar.


"Aku benci sama kakak hiks,, kakak berubah menjadi jahat, aku tidak suka." Dyva menangis.


"Dyva,, apa maksudmu kakak berubah menjadi jahat? " Astan masih bingung


"Kenapa kakak menjadikan kepergian Dyva menjadi alasan kakak untuk membalaskan dendam,aku tak suka kalau kakak seperti itu,kembali ke kakak yg Dyva kenal." Dyva.


"Apa maksudmu Dyva?ayo kita pulang kerumah, rumah terasa sepi tanpa Dyva disana,setiap kakak pulang kerja rasanya sangat menyesakkan tak ada Dyva yang menyambut kakak." Astan menangis menunjukkan betapa tersiksa nya ia semenjak kepergian Dyva.


"Aku tidak bisa lagi pergi bersama kakak,aku sudah bahagia disini,tapi akan lebih bahagia lagi kalau kakak ikhlas dan mau menerima dengan tenang," Ucapan Dyva mulai hilang ditelan cahaya.


Astan berlari mengejar cahaya yang membawa pergi Dyva adiknya.


"Tidak,,, tidak,, " Astan tak mau menerima ini semua.


"Tidak,, " Teriak Astan.


Aku sangat terkejut mendengar teriakan mas Astan.


Aku mencoba bangkit walaupun rasa sakit dikepalaku masih terasa sangat sakit.


Aku terkejut melihat mas Astan menangis dalam tidurnya sembari bergerak gusar dan berkata tidak berkali-kali.


Apa yang sebenarnya mas Astan mimpikan? Kenapa ia sangat tersiksa seperti itu?.


"Tidak,, " Air mata Astan semakin deras saat mengalir.


Aku tak tega melihatnya seperti itu.


Kenapa ia sangat terlihat menyedihkan saat seperti ini.


Aku lebih baik melihat tatapan kebencian dan pancaran dingin dari matanya daripada harus melihat dia tersiksa seperti ini.


Entah kenapa aku malah merasakan rasa sakit yang sama.


Air mataku ikut mengalir melihat dia menangis seperti itu.


"Tuan,, tuan baik baik saja? " Tanyaku menyentuh bahunya untuk sekedar menyadarkan kalau saat ini ia hanya bermimpi.


Mas Astan menarik tubuhku hingga ikut jatuh terbaring dalam dekapannya.


"Jangn pergi,,, jangan hiks,, " Air mata mas Astan kembali mengalir lebih deras lagi.


Harusnya aku senang saat melihat dia terpuruk begini, apalagi mengingat semua perlakuan mas Astan kepada ku, tapi kenapa hatiku ikut terluka?.


Mas Astan semakin mengeratkan dekapannya ditubuhku hingga aku yang semula merasa sangat kedinginan menjadi hangat kembali karena dekapan mas Astan.


Belum pernah aku rasakan kehangatan senyaman ini.


"Jangn tinggalkan aku,, aku sudah tak tahan hidup seperti ini hiks,, " Mas Astan menyeruakkan kepalanya dileherku.


Aku menganggukkan kepala dengan otomatis "Aku tidak akan pergi,, jadi mas tenang yah," Ucapku menepuk bahu punggung mas Astan dengan pelan.


Mas Astan mengeratkan pelukannya hingga mulai kesulitan untuk bernafas.


Aku mencoba melepaskan pelukan mas Astan tapi lagi lagi mas Astan yang sudah mulai tenang tadi tiba tiba ingin menangis lagi.


Kenapa saat ini mas Astan lebih lucu dibandingkan anak kecil?.


"Jangn pergi,, " Mas Astan kembali merasa resah.


Aku memegang tangan mas Astan dengan lembut.


"Aku tak akan pergi mas,,, aku akan selalu bersamamu." Aku malah menangis setelah mengatakan itu.


Mas Astan tiba-tiba menarik wajahku mendekat kearahnya.


Cup,,,


Kenapa suka sekali sih menciumku?.


Aku mencoba melepaskan ciuman mas Astan, tapi mas Astan sudah memeluk erat pinggang ku dan menekan tengkuk ku agar tetap berada diposisi yang mudah untuk ia cium.


Mas Astan menggerakkan bibirnya dengan lembut dibibirku.


Entah kenapa ciumannya saat ini sangat berbeda dari kedua ciumannya saat itu.


Ini terkesan lembut dan menuntun hingga aku juga tak sadar ikut membalas ciuman dari mas Astan.


Kami sama sama saling menggerakkan bibir dan saling memagut.


Mas astan me****** bibirku dengan lembut hingga aku terbuai dan menutup mata.


Tanpa kusadari aku mengalungkan tanganku dileher mas Astan.


Hisapan demi hisapan mas Astan lakukan dibibirku seolah bibirku sangat lezat menurutnya.


Aku hanya bisa diam karena mas Astan sangat mendalami ciuman ini.


Kenapa jantung ku semakin keras saja berdetak begini?.


Mas Astan masih saja menghisap bibirku dengan nikmat,aku tak tau kapan ia akan merasa bosan menghisap bibirku yang tak akan pernah mengeluarkan madu itu.


Dan saat kemudian aku kaget saat mas Astan malah berpindah ke area leherku dan menghisapnya hingga menimbulkan kesana sakit dan geli.


"Akhh,, mas,, apa yang mas lakukan? " Tanyaku pelan


Mas Astan tak menghiraukan aku.


Ia masih saja menciumi leherku dan menghisapnya dan bahkan sesekali menggigitnya pelan.


"Akhhh,, sakit mas," Aku tak tahan lagi.


Kenapa sih mas Astan ini? Setelah habis menciumi bibirku sekarang ia malah menggigit leherku, memangnya dia famvir apa?.


Aku mencoba melepaskan diri dari mas Astan namun mas astan menarik tubuhku kedakam pelukannya yang hangat itu.


"Jangan pernah pergi,, maafkan aku." Mas Astan mencium keningku.


Aku yang mendengar itu merasakan getaran yang semakin sangat di dadaku.


Apa barusan astan mengatakan itu kePadaku?.


Ia meminta maaf?.


Kenapa air mataku malah mengalir sih?.


Apa aku mencintai mas Astan? Kalau itu benar aku harus membuangnya jauh jauh.


Seorang perebut kebahagiaan seseorang seperti ku tak pantas jatuh cinta dan dicintai.


06.23Am


Bruk,,,,


"Akhhh." Aku meringis sakit saat tubuhku terjatuh dari tempat tidur aja


Mas Astan.


Aku melihat kakinya yang tadi menendang tubuhku.


"Kenapa kamu bisa tidur diranjang saya? Wahh berani beraninya kamu bersikap lancang begitu? " Marah mas Astan.


Ayolah mas,mas sendiri yang menarikku untuk berbaring disitu.


"Belum lagi tadi apa yang kamu lakukan?kamu memelukku yah? Wahh semakin lancang saja yah kamu? " Mas Astan berdiri menghakimi ku yang masih duduk dilantai.


Sudahlah terserah mas Astan saja menyebutku apa dan mau melakukan apa,toh ku jelaskan pun mas Astan tak akan sadar dan tak akan percaya.


"Kali ini saya biarkan karena saya tak mau memulai pagi saya dengan hal hal menjengkelkan seperti ini, cepat siapkan air untuk saya mandi," Titah mas Astan.


Aku langsung bangkit menuju kamar mandi.


"Ada apa dengan nya, setelah mengambil kesempatan memelukku saat tidur ia mendiami ku? " Heran mas Astan


Dia pikir aku tak mendengar itu?.


Lihat saja kalau sampai mas sadar kalau semua ini adalah perbuatan mas.


Dia malah memutar balikkan fakta yang ada.


Kenapa aku merasa kesal sih?


...//bersambung//...


...🔷🔷🔷🔷...


Wekaweka,,,


Astan astan, ngaca dong bang situ yang mesum malah nuduh orang mesumin dia.


Sabar toh mina


🔷🔷jangan lupa vote and komen yah tayang tayang 🔷🔷


♦♦jangan lupa follow author yah♦♦


Laffyouall buanyak buanyakk ❤