
Ketiga pemuda itu berenang secepat mungkin dengan panik, bahkan hingga tidak sengaja menelan air danau tersebut. Sedangkan buaya yang berkumpul semakin banyak karena percikan air yang mereka hasilkan.
"Kalian berdua cepatlah! Buaya-buaya itu semakin mendekat!" Sin Lou yang ada di barisan paling belakang terpaksa harus menjaga kakinya agar tidak di lahap oleh buaya di belakangnya.
Posisi ketiga pemuda itu sebenarnya tidak terlalu ke tengah danau tetapi kedalaman air yang mencapai dada manusia membuat mereka kesulitan bergerak, apalagi untuk melawan kawanan buaya tersebut.
Fu Chen yang hampir mencapai pinggiran danau pun mulai mengayuh tangannya lebih cepat. Saat tiba di area yang dangkal Fu Chen segera menarik pedangnya dan meminta Sin Lou dan Kyoto untuk bergerak cepat.
"Jangan lihat ke belakang! Aku akan menahan mereka." Fu Chen segera memasang kuda-kuda kemudian mengalirkan qi ke pedangnya.
Saat pedang itu telah terlapisi energi qi Fu Chen kemudian mulai melakukan beberapa gerakan sebelum menebaskan pedangnya ke arah kawanan buaya.
Aliran energi qi melaju dengan tenang sebelum mengenai salah satu buaya dan membuat sebelah matanya terluka. Fu Chen tidak hanya melakukan satu serangan, tebasan-tebasan berikutnya kemudian membuat kawanan buaya di barisan terdepan menggelepar hingga beberapa buaya di belakangnya terpaksa berhenti.
"Cepat!" Fu Chen meraih tangan Sin Lou dan Kyoto kemudian menyarungkan pedangnya kembali. Ketiga pemuda itu masih belum bisa bersitirahat dan harus segera mencari tempat yang aman.
Napas Kyoto mulai tidak teratur setelah berlari cukup jauh, meski staminanya masih cukup namun kejadian yang terlalu tiba-tiba ini membuatnya tidak siap. "T-tungu, ku rasa ini sudah cukup…" ucap Kyoto yang melihat tidak ada lagi buaya yang mengejar.
"Yah kau benar…" Sin Lou menghentikan langkahnya sambil mengatur napas kembali. Sin Lou merasa lega karena dia mengira akan mati di dalam hutan ini.
Fu Chen memperhatikan sekitar dan ternyata mereka masih jauh di dalam hutan, kemungkinan munculnya ancaman lain masih sangat tinggi. "Kita harus bergegas ke pinggiran hutan, tempat ini masih berbahaya."
"Ah, biarkan kami istirahat sejenak." Sin Lou menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.
"Huh sialan, semua ini terjadi juga karena dirimu," Fu Chen mendengus pelan, "Lalu mana beruang yang ingin kau tangkap?"
Sin Lou tertawa canggung sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal mendengar pertanyaan Fu Chen. "Beruang itu ternyata lebih besar dari dugaanku jadi aku mengurungkan niat untuk menangkapnya."
"Dasar," Fu Chen menghela napas pelan, "Cepatlah, kita akan segera pergi."
Setelah memeras air yang ada di jubah mereka Kyoto tidak sengaja melihat satu pohon besar dengan beberapa buah segar yang menghiasinya. Kyoto kemudian membisikkan hal itu pada Sin Lou.
"Kau yakin? Di mana?" Sin Lou merasa tidak percaya jika di tengah hutan seperti ini terdapat tanaman yang menghasilkan banyak buah.
Kyoto kemudian menunjuk ke salah satu sisi hutan, pandangan Sin Lou mengikuti arah tangan Kyoto kemudian senyuman mulai mengembang di wajahnya.
Fu Chen juga ikut melihat apa yang di tunjuk Kyoto, alisnya sedikit terangkat saat menyadari begitu banyak buah persik yang siap di panen.
Sin Lou segera berjalan ke arah pohon persik itu namun langkahnya terhenti karena di tahan oleh Fu Chen, "Tunggu dulu-"
"Aku tahu, aku akan berhati-hati," ucap Sin Lou memotong perkataan Fu Chen.
Fu Chen menghela napas pelan, merasa Sin Lou yang sekarang selalu berbuat sesuka hati, Fu Chen hanya bisa berharap tidak terjadi sesuatu yang merepotkan nantinya.
Saat mereka tiba di sana Sin Lou sempat memperhatikan pohon persik itu dan sekitarnya, tidak ada yang mencurigakan baginya selain seekor monyet yang sedang tertidur dengan bulu berwarna putih bersih.
Sin Lou mundur beberapa langkah secara perlahan, firasatnya mengatakan monyet itu sangat berbahaya jika sampai dia terbangun.
"Ssst!!" Sin Lou menempelkan jarinya di depan bibir dengan mata melotot, kemudian ia menunjuk ke arah monyet putih yang ada di atas pohon.
"Ingat! Dalam hitungan ketiga kita akan melompat dan mengambil buah itu." Sin Lou kemudian meminta Fu Chen dan Kyoto memilih buah yang paling dekat, setidaknya ia ingin masing-masing dari mereka mendapatkan satu buah persik.
"Satu, dua, tiga…"
Ketiga pemuda itu melompat cukup tinggi secara bersamaan, tangan mereka berhasil meraih buah persik yang mereka pilih. Dahan pohon persik bergoyang cukup kuat saat mereka berhasil mengambil buah persik yang seukuran tiga kepalan pria dewasa itu.
"Lari!!" Sin Lou berseru lantang, ketiga pemuda itu kemudian berlari secepat mungkin sebelum monyet putih yang menjaga buah itu menyadari keberadaan mereka.
Karena guncangan yang cukup kuat dan teriakan Sin Lou yang keras, monyet putih itu terbangun dari tidurnya, ia terkejut sebab beberapa buah persik miliknya menghilang dan tidak menemukan siapa pencurinya.
"Uu, u Aaa… Aaaa!!" erang monyet putih itu penuh kekesalan.
"Hahaha…" Sin Lou tertawa lebar saat teriakan monyet putih itu terdengar cukup keras padahal jarak mereka lumayan jauh.
Merasa monyet putih itu tidak mengejar mereka Fu Chen meminta kedua temannya untuk segera keluar dari hutan. Fu Chen khawatir akan ada bahaya yang lebih besar menanti mereka jika terlalu lama di tempat ini.
Sementara itu Li Chun dan Li Han masih menunggu kedatangan Fu Chen dan teman-temannya sambil bermain catur. Mereka sempat berdebat beberapa kali mengenai kemampuan Fu Chen dan latar belakangnya namun hanya berlangsung sejenak dan kembali fokus ke permainan.
"Apa kau ingin mendengar rencanaku yang sebenarnya?" Li Chun ingin mengalihkan pembicaraan karena merasa kesal tidak pernah menang.
Li Han tertawa pelan mendengar ucapan Li Chun, "Apa itu?"
Li Chun tersenyum tipis, "Sebenarnya aku telah melepaskan segel di hutan ini yang mengurung siluman hasil tangkapanmu. Berharaplah agar mereka dapat kembali hidup-hidup."
"Apa kau gila? Bagiamana jika siluman-siluman itu masuk ke kediaman sekte?" Li Han menepuk keningnya sambil menggeleng pelan, tidak habis pikir dengan isi kepala Li Chun, bisa-bisanya orang ini mempertaruhkan keselamatan murid sekte hanya demi sebuah ujian miliknya.
"Tenang saja, aku telah mengatur semuanya. Aku akan bertanggung jawab jika ada satu atau dua siluman yang keluar, tetapi mereka tidak akan kembali hidup-hidup, haha…" Li Chun tersenyum puas sambil mengelus dagu.
Sementara Li Han hanya menghela napas pelan dan tidak ingin mempermasalahkannya, lagipula Li Chun bukanlah seorang anak kecil yang bertindak ceroboh. Setidaknya dia bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya itu nanti.
"Kalau begitu bukankah taruhan kita juga harus di rubah?" Li Han memberikan tawaran, "Aku bertaruh Chen'er akan selamat dan sampai di kediaman ini sebelum malam tiba."
"Chen'er?" Li Chun terkekeh pelan, "Jika mereka tidak berhasil sampai di kediaman ini sebelum malam maka akulah pemenangnya."
Li Han mengangguk pelan sebelum kembali mengajak Li Chun untuk meneruskan permainan. Li Han telah mengenal Fu Chen cukup lama, setidaknya sejak anak itu bergabung dengan sekte Pedang Suci ia tidak pernah menyerah dengan tujuannya. Sekali Fu Chen mencari tahu tentang sesuatu maka ia akan memahaminya sampai tuntas.
Tanpa terasa Fu Chen dan lainnya telah menghabiskan waktu selama lima jam di dalam hutan. Berbagai macam binatang aneh sempat mengejar mereka beberapa kali hingga membuat Fu Chen sedikit kehilangan arah.
Setelah keluar dari hutan mereka segera mendekat ke arah air terjun untuk membersihkan diri di kolam kecil di sekitarnya. Pada kesempatan ini Fu Chen meminta Sin Lou untuk menuruti perintahnya sebelum kembali ke hutan bambu nanti.
Fu Chen merasa Li Chun telah memulai ujian yang sebenarnya hari ini, karena empat hari sebelumnya mereka tidak menemukan bahkan berurusan dengan kawanan siluman di hutan itu.
Satu-satunya kekhawatiran Fu Chen sejauh ini hanyalah tekanan di hutan bambu yang sangat membebaninya. Apalagi jika dirinya harus membantu Sin Lou dan Kyoto sekaligus.