Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.30 - Tiba Di Kota


Wang He memacu kudanya lebih cepat dari sebelumnya, terlihat jelas jika dirinya terburu-buru ingin melaporkan kasus pemabantaian itu.


Meski mengetahui gambaran besar situasi di dalam Desa, Jyu Sun tetap merasa penasaran hal apa yang membuat Tetua Wang bersikap demikian. "Senior Xiao, bisa kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?"


Jyu Sun menagih ucapan Xiao Jung sebelumnya, keduanya membiarkan yang lain berada di depan agar anak-anak tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Aku tidak yakin tentang ini, tapi dari bukti yang kami dapatkan, pelaku pembantaian ini mungkin adalah kelompok Mawar Putih." Jawab Xiao Jung atas pertanyaan Jyu Sun.


Jyu Sun menghela nafas pelan sambil menggelengkan kepalanya, menangani kelompok sekelas Mawar Putih tentunya bukan hal yang mudah bagi sekte mereka. Bahkan sekte besar sekalipun kesulitan untuk mencari keberadaan kelompok itu.


***


Perjalanan mereka di lanjutkan dengan penuh kewaspadaan. Beberapa hari setelah mereka meninggalkan Desa, Wang He dan lainnya sempat di hadang oleh iringan pedagang yang sedang di rampok.


Wang He benar-benar tidak habis pikir dengan para perampok ini. Jalanan yang mereka lalui adalah jalanan umum di lewati banyak orang, tentu akan sangat beresiko untuk merampok di sekitar sini.


Anak-anak bahkan terlihat tidak bersemangat lagi dalam perjalan. Mental mereka benar-benar di kuras karena terpaksa menyaksikan pembunuhan dengan mata kepala mereka sendiri.


Bahkan tidak ada rasa gembira yang di tunjukkan anak-anak ketika memasuki kota. Kota yang besar itu sebenarnya cukup untuk membuat mereka terkagum-kagum, namun suasana hati yang buruk membuat mereka tidak sadar dengan keindahan kota.


"Tetua, apa tidak apa-apa membiarkan mereka murung seperti itu?" Xiao Jung merasa prihatin dengan kondisi anak-anak saat ini, meski ada beberapa yang terlihat cukup baik namun sebagian besar masih mendekap lutut masing-masing.


"Biarkan saja, mereka harus sadar dengan dunia persilatan yang akan mereka tempuh."


"Bukankah ini terlalu awal bagi mereka? mereka bahkan baru mengetahui dunia luar."


"Percaya lah padaku, kondisi mereka akan lebih baik esok hari. Lebih baik kau segera cari penginapan untuk istirahat malam ini, aku akan menemui Walikota untuk mengabarkan kasus di Desa sebelumnya."


Xiao Jung menghela nafas pelan sebelum akhirnya melakukan perintah Wang He. Xiao Jung mencari penginapan yang cukup besar karena rombongannya juga cukup banyak.


Xiao Jung memesan beberapa kamar di sebuah penginapan bernama Rumah Merpati, Penginapan itu cukup besar dan memiliki tiga lantai. Lantai pertama adalah sebuah rumah makan yang cukup luas disana juga ada tempat yang di tunjukkan untuk para penghibur.


Sedangkan lantai tiga adalah kamar dengan fasilitas yang cukup lengkap dan tentunya memiliki harga yang lebih mahal.


Xiao Jung memesan kamar di lantai dua karena harganya lebih murah, uang yang di berikan Wang He tidak akan cukup untuk memesan lebih dari dua kamar di lantai tiga.


"Senior Xaio, bisakah kau memesan satu kamar lagi untuk ku? aku merasa tidak nyaman jika tidur satu kamar dengan laki-laki." Qiao Wu memandang Fu Chen saat mengucapkan kalimat terakhirnya.


Xiao Jung juga memandang Fu Chen sejenak sebelum mengerti keadaanya. "Oh… baiklah, tentu saja seorang wanita harus di perlakukan dengan istimewa."


Fu Chen mengangkat bahunya dengan wajah penuh tanda tanya, ia tahu yang mereka bicarakan adalah dirinya tapi apa hubungannya dengan memperlakukan wanita dengan istimewa?


"Kalian istirahatlah lebih dulu, aku akan menghampiri Tetua untuk memberitahu tempat penginapan ini… Ah iya, jangan lupa turun kebawah malam nanti jika kalian ingin makan malam."


"Baik…" mereka semua menjawab serentak dengan lesu.


***


"Bagiaman Tetua, apa Walikota akan membuat misi untuk hal ini?" Xiao Jung bertanya pada Wang He saat keduanya sedang berjalan menjuju penginapan.


"Aku tidak yakin Walikota itu peduli dengan apa yang terjadi, tapi seharusnya dia meningkatkan penjagaan karena lokasinya dekat dengan kota ini."


"Kita tidak bisa hanya berharap dengan Walikota, Tetua harus melaporkan ini pada Ketua sekte agar murid-murid mendapatkan misi."


"Kau benar… bagaimana keadaan anak-anak? apa mental mereka mulai membaik?"


"Kurasa begitu, malam nanti kita akan makan malam bersama di penginapan, kurasa kondisi mereka akan lebih baik dari sebelumnya."


"Itu bagus, kau memang cocok untuk di angkat menjadi Tetua tidak lama lagi." Wang He menepuk pundak Xiao Jung sambil tersenyum lebar.


***


Seperti dugaan Xiao Jung, suasana hati anak-anak menjadi lebih baik setelah usai makan malam. Xiao Jung memesan banyak hidangan terbaik di penginapan itu, orang-orang bahkan terperangah melihat banyaknya makanan di atas meja mereka.


Wang He tidak heran dari mana Xiao Jung mendapatkan uang untuk memesan itu semua. Dengan posisinya sebagai keturunan bangsawan Xiao, membeli penginapan ini pun bukan hal yang tidak mungkin.


Xiao Jung meminta Fu Chen untuk menemuinya di lantai tiga setelah makan, meski tidak tau apa yang Xiao Jung inginkan Fu Chen tetap menghampirinya.


"Apa senior ada di dalam?" Fu Chen mengetuk pintu kamar Xiao Jung saat ia telah tiba.


"Ya, masuklah!"


"Baik." Fu Chen membuka pintu kamar dengan hati-hati.


Fu Chen terkagum dengan kamar yang di tempati Xiao Jung ternyata cukup besar. Tempat tidurnya bahkan cukup lebar untuk dua orang.


Fu Chen segera tersadar saat mendengar suara deheman dari Xiao Jung. "Ah, maafkan aku senior,"


"Tidak apa-apa… kemarilah, ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan padamu." Xiao Jung menyuruh Fu Chen untuk duduk di kursi didepan nya. Di samping mereka jendela besar terbuka lebar yang mebiarkan cahaya rembulan membatasi keduanya.


Fu Chen duduk dengan tenang, namun pikirannya sangat kacau. Fu Chen selalu berusaha menahan energi qi yang dimilikinya selama ini karena tidak ingin menjadi pusat perhatian. Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku untuk Xiao Jung dan Wang He.


"Tidak perlu gugup, aku sudah memesan beberapa makanan sebelumnya, kurasa sebentar lagi mereka akan datang."


"Ini… senior tidak perlu melakukannya, aku sudah cukup kenyang sebelumnya." Fu Chen merasa tidak enak hati jika harus menerimanya tapi tidak baik menolak tawaran orang lain.


Xiao Jung hanya tersenyum lembut mendengarnya, "Fu Chen, aku hanya ingin memastikan apa kau yakin jika dantianmu itu cacat? Maaf jika menyinggung mu… aku tidak pandai berbasa basi."


"Eh… tidak apa senior, aku memakluminya. Aku tidak peduli dantian ini cacat atau tidak, ayahku selalu mengajarkan untuk bekerja keras agar mendapatkan hasil yang sepadan,"


Fu Chen memandangi tangannya sebelum kembali berkata, "Kenapa senior menanyakannya? Apa senior mengetahui sesuatu tentang dantian ini?"


Xiao Jung menggeleng pelan, dia hanya penasaran karena Fu Chen memiliki bakat yang tinggi. Bahkan di usianya yang begitu muda ia telah memiliki energi qi yang melimpah.


Fu Chen menegak ludahnya kasar, ternyata dugaannya benar dirinya masih tidak bisa menyembunyikan energi qi dari seorang pendekar dengan kemampuan tinggi.


Alasan Xiao Jung mengundang Fu Chen sebenarnya hanya ingin memberinya sedikit nasihat. Xiao Jung menyarankan Fu Chen untuk berhati-hati ketika berurusan dengan murid yang memiliki hubungan dengan murid Dalam mupun Inti. Mereka biasanya selalu berusaha menindas yang lemah.


Fu Chen baru sadar ternyata Xiao Jung hanya mengetahui Qi di dalam tubuhnya, tetapi tidak bisa memastikan Fu Chen ada pada tingkatan berapa.


"Kenapa senior hanya memberitahuku? Bagimana dengan yang lainnya?"


Xiao Jung tertawa lepas mendengar pertanyaan Fu Chen. "Apa kau tau yang di sebut dengan memperlakukan dengan istimewa?" Xiao Jung berusaha untuk menahan tawanya. "Aku hanya merasa tertarik padamu, ingatlah Fu Chen… menambah teman lebih baik dari pada menambah musuh."


Fu Chen tidak yakin dengan ucapan Xiao Jung, bagaimanapun keduanya baru saling mengenal dan Fu Chen tentunya tidak akan mudah percaya membangun relasi dengan Xiao Jung begitu saja.


"Maaf Tuan, makanannya sudah siap." Pelayan penginapan itu di ikuti oleh beberapa pelayan lainnya membawa seguci arak dan nampan di tangannya.


"Masuklah-!" Xiao Jung mempersilahkan pelayan-pelayan itu untuk masuk.


Meski merasa kenyang namun Fu Chen tidak enak hati menolak tawaran Xiao Jung. Fu Chen menyantap hidangan sembari mendengarkan kisah Ciao Jung di dunia persilatan.


...~...


Jangan lupa tinggalkan like~