Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.60 - Kota Tiemao


Saat dalam perjalanan itu, Fu Chen ingin sedikit mencairkan suasana agar Chu Ying tidak terlalu tegang. Selain itu, ternyata ia cukup mahir untuk menjadi seorang kusir. Fu Chen tidak pernah menduga ini sebelumnya.


"Ying'er, sudah berapa lama kau ada di dalam sana?" Sana yang di maksud Fu Chen adalah markas para perampok.


Chu Ying mengangkat kepalanya, kedua kakinya berayun dari tempat duduk kusir itu karena terlalu pendek. "Tiga hari…" Jawab Chu Ying lemah.


"Kakek mengajakku untuk meninggalkan Kota saat itu. Kakek bilang di luar sana sangat menyenangkan, Kakek rela membayar para pedagang agar aku bisa ikut. Tapi… tapi Kakek berbohong padaku. Dia… dia mati karena menolong ku!"


Air mata kembali muncul di sudut matanya, ia berusaha menyeka air mata itu berkali-kali namun tetap keluar. Fu Chen memeluk Chu Ying dengan tangan kanannya, membiarkan gadis itu menangis dalam dekapannya. Ia jadi merasa bersalah karena menyinggung hal itu.


"Tidak apa, Kakekmu pasti senang karena kau bisa selamat sekarang. Jangan biarkan air matamu keluar agar Kakekmu tidak lagi khawatir," Ujar Fu Chen menyemangati gadis itu.


Gadis itu mengusap matanya beberapa kali meski masih sesunggukkan setelah mendengar ucapan Fu Chen. Gadis berusia lima tahun itu tidak menyadari jika penyelamatnya hanya empat tahun lebih tua darinya, semua orang juga tidak akan menyangka jika mengetahui usia Fu Chen yang sebenarnya karena tubuhnya menunjukkan anak usia belasan tahun.


"Kau bilang kau dari kota, kau tinggal di kota mana?" Fu Chen sangat berharap jika gadis ini dapat sampai ke tempat tinggalnya dengan selamat.


"A-aku tinggal di Ibu Kota." Chu Ying masih sesunggukkan saat mengucapkannya.


Mata Fu Chen melebar mendengar hal tersebut, tidak menyangka jika kakek dari gadis ini akan membawa cucunya sangat jauh. "Tujuan kita sama jika begitu. Aku juga berniat pergi ke Ibu Kota setelah ini," Kata Fu Chen sambil menyunggingkan senyumnya.


"Benarkah?" Chu Ying menjadi sedikit bersemangat.


"Tentu saja, kita akan segera kesana setelah mengantar mereka." Fu Chen menunjuk para korban perampokan yang saat ini dia bawa.


Chu Ying menoleh ke belakang, ia kemudian tersenyum bahagia. Fu Chen juga ikut tersenyum melihat senyuman gadis itu.


***


Perjalanan Xiao Jung dan Fu Chen terus berlanjut selama beberapa hari untuk mendatangi Kota terdekat. Saat tiba di depan pintu gerbang itu, kereta Xiao Jung di tahan oleh seorang prajurit untuk di periksa.


"Siapa orang-orang yang kau bawa ini?" Tanya prajurit itu dengan nada tegas.


"Mereka orang-orang yang di culik oleh para perampok. Aku dan rekanku membebaskan mereka," Jawab Xiao Jung ringkas.


Prajurit itu nampak tidak percaya. Memang sangat mencurigakan karena tidak biasanya seseorang akan mengangkut banyak orang sekaligus, selain pedagang. Prajurit itu kemudian menghampiri prajurit lainnya yang terlihat memiliki pangkat lebih tinggi.


Prajurit tadi berbisik-bisik dengan atasannya, mata mereka sesekali melirik ke arah Xiao Jung. Atasan itu kemudian segera mendekati Xiao Jung dengan gagah setelah mendengarkan laporan bawahannya.


"Bukan maksud menahan perjalanan, Tuan. Tapi, bisa Tuan tunjukkan bukti jika mereka adalah korban perampokkan?" Tanya atasan prajurit itu.


Xiao Jung memutar bola matanya lalu merogoh sesuatu di balik jubahnya. Dia menunjukkan sebuah lencana dan seketika membuat atasan prajurit itu membuka matanya lebar-lebar.


"T-tuan muda, maafkan kami. Kami telah lancang!" Ujar prajurit itu lalu menarik bawahannya agar ikut berlutut.


Prajurit bawahan itu kebingungan atas apa yang terjadi, namun melihat kaptennya yang ketakutan membuatnya hanya bisa diam.


"Sudahlah, ceoat buka saja gerbangnya."


"B-baik!"


Seseorang yang dengan santainya membawa budak-budak memasuki kota secara terbuka pasti memiliki latar belakang yang tidak biasa.


Xiao Jung lekas menuju ke pusat kota dimana letak kediaman walikota itu berada. Saat tibanya disana dia harus menunjukkan lencananya kembali agar dapat masuk.


"Kabarkan pada walikota jika aku datang berkunjung," Pinta Xiao Jing pada seorang penjaga gerbang itu.


"Baik!" Penjaga gerbang itu lekas melaksanakan perminataan Xiao Jung. Sementara, dia dan Fu Chen mengikat kuda mereka pada sebatang pohon besar yang rindang.


"Senior, kita sekarang ada dimana?" Fu Chen tidak tahu apa-apa karena sejak tadi dia hanya mengikuti Xiao Jung dan terus mengobrol dengan Chu Ying.


"Kita ada di kediaman Walikota Tiemao. Para korban ini akan di urus olehnya," Kata Xiao Jung tanpa menoleh ke arah Fu Chen, dia sibuk mencari sesuatu di halaman kediaman itu.


"Hei, kau! Kemari!" Panggil Xiqo Jung pada seorang penjaga yang ia temukan, dengan sedikit berteriak.


Penjaga itu lekas menghampiri Xiao Jung karena ia sudah mengetahui identitas pemuda ini. "Ada apa Tuan?" Tanya Penjaga itu.


"Kau jaga mereka semua selagi aku menemui Walikota. Ingat! Jangan biarkan mereka meninggalkan kediaman ini sebelum Walikota yang menyuruhnya." Xiao Jung menujuk para korban itu dengan dagunya.


"Siap!" Sahut penjaga itu tegas.


Xiao Jung kemudian mengusap hidungnya sambil menahan senyum melihat sikap penjaga itu. "Ayo, Chen'er."


Xiao Jung lekas memimpin jalan, namun saat Fu Chen melangkahkan kakinya sebuah tangan kecil menarik jubahnya.


"Ada apa Ying'er? Tidak perlu takut, aku hanya pergi untuk beberapa saat." Fu Chen membungkukkan badanya dan mengusap kepala gadis itu.


"Ikut…" Kata Chu Ying dengan menggoyang-goyangkan pingganya pelan, suaranya begitu lirih bahkan hampir tidak terdengar jika di telinga orang biasa.


Fu Chen tersenyum canggung saat melihat tingkah gadis ini menjadi sedikit manja, sepertinya ia sudah terlalu nyaman pada Fu Chen selama beberapa hari di perjalanan.


"Ada beberapa hal yang harus kami urus Ying'er, mungkin Walikota akan tidak nyaman jika kau ada disana."


"Itu benar Ying'er, masih ada paman disini. Paman akan menjagamu sampai Tuan muda ini kembali." Salah seorang pria paruh baya menyahut ucapan Fu Chen. Pria ini sepertinya sudah dekat dengan Chu Ying sejak di dalam sel tahanan.


Dia tidak banyak bicara sebelumnya mungkin karena takut pada Fu Chen yang selalu ada disisi gadis itu. Chu Ying nampak tidak rela, namun ia tetap menuruti perkataan paman itu.


"Jangan khawatir, kita akan segera bertemu lagi setelah ini." Fu Chen mengusap kepala gadis itu sekali lagi dan tersenyum lembut. Dirinya kemudian segera menyusul Xiao Jung.


Xiao Jung menghampiri seorang penjaga di dekat pintu karena tidak ada tanda-tanda jika Walikota akan menyambutnya. Ia kemudian bertanya, "Apa Walikota ada di kediamannya?"


"Iya, Tuan. Beliau sedang bersiap-siap," Balas penjaga itu dengan sedikit membungkukkan badannya.


"Kalau begitu aku akan menunggunya di ruang tamu." Xiao Jung langsung masuk saja tanpa menunggu persetujuan penjaga itu.


Fu Chen sebagai rekan sekaligus junior dari orang yang tidak tahu malu ini hanya bisa menggaruk lehernya dan memasang senyum kecut. Fu Chen akui, meski latar belakang Xiao Jung sangat istimewa, bukan berarti ia dapat melupakan norma-norma sosial dan berprilaku tidak sopan seperti ini.