
"Sebelumnya aku tak sempat menanyakan ini, tapi kemana saja kau pergi selama menjalankan misi itu, murid Xiao?"
Tetua sekte yang baru saja memberikan laporannya menghela napas pelan. Dari sepuluh murid terkuat di sekte Pedang Suci, hanya Xiao Jung seorang yang bertingkah sesuka hati di setiap misi yang ia ambil.
"Seperti yang anda ketahui, organisasi Menara Bintang Permata saat itu sedang menyelenggarakan lelang, aku hanya menyempatkan diri untuk berkunjung dan melihat-lihat." Xiao Jung tertawa canggung.
"Dasar, sebaiknya kau perbaiki sikapmu itu karena setiap tindakan yang kau ambil juga berdampak pada nama keluargamu."
"Ahah… ya baiklah-baiklah."
"Sampaikan salamku pada tetua Xiao, belakangan ini dia terlihat sangat terpuruk." Tetua itu pergi meninggalkan Xiao Jung usai mengucapkannya.
Xiao Jung sedikit heran dengan ucapan tetua itu namun ia tidak ingin memikirkan lebih jauh karena pamannya memang selalu di hadapkan dengan tumpukan dokumen yang harus di periksa.
"Semoga kabar baik yang aku bawa ini bisa membuatnya lebih bersemangat," ucap Xiao Jung bersemangat.
Setelah selesai dengan laporannya, Xiao Jung segera menuju kediaman tetua Xiao Tian yang sekaligus gurunya sendiri. Xiao Jung tidak melihat keanehan apapun dari kediaman itu saat ia tiba, bahkan para murid masih berlatih seperti biasa.
"Dia tidak pernah berubah, selalu saja meninggalkan tugasnya sebagai guru." Xiao Jung bergumam pelan.
Xiao Jung kemudian langsung membuka pintu ruang kerja milik tetua Xiao Tian begitu saja saat ia sampai, namun ia sedikit terkejut sekaligus heran karena keberadaan murid luar di ruangan itu.
"Bukankah kau… eeh, sial aku sedikit lupa…" Xiao Jung mengelus dagunya sambil berpikir keras.
"Ah benar… kau pasti teman Fu Chen, aku lupa siapa namamu, hehe…" Xiao Jung tersenyum canggung.
Qiao Wu hanya melirik Xiao Jung sekilas dan kembali mengalihkan pandangannya pada tetua Xiao Tian.
"Kau punya waktu dua bulan untuk memutuskannya, tetua Xiao. Tentu saja pilihanmu itu tidak berpengaruh apapun bagi kami." Nada bicara Qiao Wu terdengar seperti sebuah peringatan, bahkan ia langsung meninggalkan ruangan itu setelah mengucapkannya.
Xiao Jung yang tidak tahu pembicaraan keduanya hanya memandangi Qiao Wu dalam diam bahkan hingga gadis itu pergi.
Xiao Jung kemudian melirik pamannya yang sedang meremas rambutnya dan terus menghela napas.
"Paman, ada apa sebenarnya?" Xiao Jung merasa bingung dengan situasi ini.
"Jung'er, sepertinya kita sudah tidak punya harapan lagi," desah tetua Xiao Tian pelan.
"Apa maksudmu paman?" Xiao Jung semakin tidak mengerti.
"Pendekar itu… ternyata dia tidak sendirian, dia sudah mengirim penyusup ke sekte ini sejak dua tahun lalu. Entah puasaka yang ia cari ada di sini atau tidak, kehancuran sekte ini hanya tinggal menunggu waktu."
"Lalu, apa hubungannya dengan gadis tadi? Jangan bilang kalau-" Xiao Jung melebarkan matanya.
Tetua Xiao hanya menghela napas berat sambil mengusap wajahnya.
"Gadis itu salah satu mata-mata sekaligus pengirim pesan yang di utus oleh pendekar itu. Dalam dua bulan ini mereka sedang menunggu anggota lainnya dan melakukan persiapan. Aku tidak tahu dari mana mereka berasal namun gadis itu memberikan kita dua pilihan, bergabung dengan mereka atau melawan dan mempertahankan sekte."
Kening Xiao Jung berkerut dalam karena tidak cukup percaya dengan yang pamannnya katakan namun ia juga tidak bisa membantah.
"Qiao Wu… jadi selama ini dia hanya bersandiwara?" Xiao Jung bergumam pelan. "Apa mungkin gadis sekecil itu di latih untuk menjadi mata-mata?"
"Racun?" Xiao Jung melebarkan matanya, "Ah, aku punya kabar baik, paman-"
"Hentikan bualanmu Xiao Jung, aku harus mencari cara agar mereka mau memberikan penawar itu untuk ayahmu," Tetua Xiao Tian mendengus pelan.
"Itu dia yang ingin aku sampaikan, paman! Ayah… seluruh racun di tubuhnya telah di angkat, dia telah sembuh sepenuhnya!" sergap Xiao Jung penuh semangat.
"Jangan bercanda di saat seperti ini Xiao Jung! Bahkan tabib terhebat di kekaisaran ini tidak dapat menyembuhkannya, kau pikir aku akan percaya tabib biasa yang kau temui dapat menyembuhkannya? Yang benar saja!" Tetua Xiao memebentak dengan kesal.
"Aku tidak bercanda paman! Paman pikir kenapa aku bersikeras mengikuti lelang itu?! Semua karena ayah! Aku mendapat informasi bahwa mereka akan melelang pil yang cukup hebat, karena itu… karena itu aku menghabiskan seluruh uangku untuk membelinya."
Nada bicara Xiao Jung sedikit meninggi, ia merasa kesal karena selalu di pandang sebelah mata oleh keluarganya sendiri.
Meski sedikit ragu namun saat melihat Xiao Jung yang terbawa emosi tetua Xiao Tian merasa yang di katakan Xiao Jung memang benar. Ia sungguh ingin berbahagia mendengar kabar itu namun waktunya sangat tidak tepat.
"Kalau yang kau katakan itu benar, maka masalah ini menjadi sedikit lebih mudah meski tidak merubah fakta bahwa sekte ini akan di serang." Tetua Xiao Tian menarik napas panjang untuk mendinginkan pikirannya.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi aku harus memikirkan rencana yang matang sebelum batas waktu yang mereka berikan," timpal tetua Xiao Tian kembali.
"Paman, anda tidak harus memaksakan diri untuk memikirkannya, kita dapat mencari jalan keluar masalah ini bersama-sama." Xiao Jung berusaha untuk meyakinkan pamannya meski ia belum memiliki gambaran apapun tentang masalah ini.
"Aku tidak bisa Xiao Jung, aku harus menjernihkan pikiranku di tempat yang tenang. Tolong jaga kediamanku selama aku pergi." Tetua Xiao Tian beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Xiao Jung.
"Tapi paman…-" Xiao Jung tidak dapat menyudahi kalimatnya karena segera di sanggah oleh tetua Xiao Tian.
"Aku akan memberikan kabar saat keputusanku sudah bulat." Tetua Xiao Tian menepuk pelan pundak Xiao Jung dan meninggalkannya seorang diri di ruangan itu.
Rahang Xiao Jung menegang, sedangkan tangannya terkepal keras menahan rasa geramnya. Dada Xiao Jung terasa sesak namun ia hanya terdiam di ruangan itu entah hingga berapa lama.
***
Setelah pergi meninggalkan kediaman tetua Xiao, Qiao Wu datang menghampiri seorang murid dalam yang biasa ia temui. Keduanya terlihat membicarakan topik yang serius sambil memperhatikan sekitar.
"Jadi orang itu sudah sampai lebih dulu," gumam Qiao Wu pelan.
"Bagaimana reaksi tetua itu usai menerima peringatan darimu?" tanya pemuda yang ada di depan Qiao Wu.
Qiao Wu tersenyum tipis mendengarnya, "Dia hanya terdiam seperti orang bodoh. Mungkin sebelumnya dia berpikir tidak ada yang akan mengawasinya, sungguh pemikiran yang naif!"
Pemuda di depan Qiao Wu hanya terkekeh pelan, sejak awal dia sudah tahu jika tetua Xiao Itu orang yang mudah di permainkan.
"Lalu di mana orang itu saat ini? Aku tidak yakin dia akan berdiam diri dan menunggu hingga dua bulan lamanya."
"I-itu… dia bilang ingin mengajak bawahannya untuk bersenang-senang. Kau tahu, entah mengapa tubuhku selalu bergetar saat menghadap pada orang itu, aku tidak yakin orang-orang mu akan tahan menerima tekanan dari tubuhnya." Pemuda itu tersenyum hambar.
"Itu wajar, bahkan ayahku tidak berani menatap matanya terlalu lama." Qiao Wu menghela napas pelan.
Orang yang keduanya sedang bicarakan merupakan pendorong di balik terjadinya kudeta di Kekaisaran Meng, bahkan orang itu berhasil membuat pemimpin organisasi gelap terbesar di Kekiasaran Meng tunduk pandanya.