Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.21 - Perbatasan


Tang Shu dan Fu Chen segera beristirahat setelah sampai di gubuk. Kristal ungu yang berhasil mereka ambil hanya 40 butir, namun bagi orang lain itu adalah jumlah yang sangat banyak.


Mata Fu Chen berbinar mengamati kristal ungu di kantongnya. Ia berpikir kristal itu akan di jual dan hasilnya digunakan untuk membeli sumber daya. Dia tidak mengetahui sama sekali, jika kristal ungu itu sendiri adalah sumber daya berharga.


"Akan kita apakan kristal ini ayah?" Fu Chen ingin memastikan dugaan-nya benar.


"Kristal ini dapat kau gunakan untuk meningkatkan energi Qi dalam tubuhmu." Tang Shu memeriksa kualitas kristal ungu di tangannya. Ia heran, karena energi alam dalam kristal itu cukup pekat. Padahal tempat itu tidak terlalu jauh dari kehidupan manusia.


"Hm? Aku kira ayah akan menjualnya ... lalu, bagaimana caranya kristal ini bisa masuk dalam tubuhku?" Jika sebelumnya energi yang ia serap melalui pori-pori, lalu bagaimana dengan keristal ini? pikir Fu Chen.


Tang Shu menghela nafasnya lelah, anaknya sungguh menjengkelkan saat bertanya. "Bersabarlah, ayah akan mengajarimu nanti. Untuk saat ini kau harus bisa menguasai ketiga jurus Arus Jeram itu dulu!"


"Hum, baiklah." Fu Chen masih membersihkan kristal-kristal yang ia kumpulkan," Bagaimana dengan kolam di goa itu? kurasa kolam itu yang membuatku bisa memiliki Qi." Fu Chen baru teringat dengan kolam yang membuat tubuhnya terasa panas sebelumnya.


"Sudahlah Chen'er, kau masih bisa mengunjunginya lain kali. Waktumu berlatih hanya tinggal empat bulan lagi, ayah tidak ingin kau membuang-buang waktu yang masih sedikit itu."


Alasan Tang Shu sebenarnya karena ia masih mengkhawatirkan keberadaan binatang magis di dalam sana. Ia tidak ingin anaknya terkena masalah sebelum menjadi murid sekte.


"Huft ... kurasa hari ini akan sangat membosankan." Fu Chen berpikir keras cara menghabiskan waktu libur latihannya yang hanya satu hari ini.


"Maukahbayah menceritakan kisah-kisah ayah selama di benua tengah?" Fu Chen merasa tidak ada pilihan selain mendengarkan cerita Tang Shu, meski bukan hal yang buruk karena bisa menambah pengetahuannya, tapi itu sangat membosankan.


"Hm? Apa kau yakin? itu akan memakan banyak waktu liburmu." Tang Shu merasa heran, tidak biasanya Fu Chen ingin mendengarkan ceritanya disaat seperti ini.


"Tidak masalah, aku juga tidak tau harus melakukan apa."


Tang Shu tertawa mendengarnya, baru kali ini ia melihat anaknya malas melakukan sesuatu. "Baiklah baiklah, kau bos nya disini …" Tang Shu memilih yang menurutnya berguna bagi Fu Chen untuk di ceritakan.


***


Di saat yang sama, di sebuah aula istana yang sangat megah, seorang pelayan sedang membungkuk memberikan laporan pada Kaisar nya.


"Maaf Yang Mulia, Jendral Jia Lu ingin menghadap pada anda…" pelayan itu meegatakan Jendral Jia Lu membawakan laporan dari perbatasan selatan Kekaisaran.


"Izinkan dia masuk!" perintah kaisar tersebut.


"Baik Yang Mulia…" pelayan itu berlari kecil menuju pintu aula yang tertutup. Saat di depan pintu, pelayan itu langsung membukanya perlahan.


"Silahkan Jendral, Yang Mulia sedang menunggu." Pelayan itu mempersilahkan Jendral Jia Lu untuk masuk.


"Lapor, Yang Mulia" Jendral Jia Lu meletakkan lutut kirinya di atas lantai saat telah di hadapan sang Kaisar.


"Berdirilah!"


Jendral Jia Lu berdiri kemudian merapikan rompinya. "Laporan apa yang ingin kau sampaikan?" Kaisar itu bertanya maksud kedatangan Jia Lu padanya, tanpa ingin berbasa-basi lebih dulu.


"Ini Mengenai pergerakan beberapa kelompok pendekar di Kekaisaran Meng, yang mulai agresif melakukan kekacauan di sekitar perbatasan, Yang Mulia."


"Kami khawatir, kelompok itu akan menerobos masuk dan mengacau di Kekaisaran kita" Jendral Jia Lu memberikan laporan setiap kerusuhan yang di akibatkan kelompok itu.


"Apa kalian takut dengan kelompok kecil ini?" Kaisar yang bernama Song Li itu mengetukkan jarinya di kursi singahsana.


"Bu-bukan begitu Yang Mulia. Dari laporan terakhir yang hamba dapatkan, kelompok itu telah melakukan kekacauan sejak satu tahun yang lalu. Dan dalam beberapa bulan yang lalu, kelompok itu telah berani mengacau di Ibu Kota Kekaisaran Meng dan-"


"Apa?!" Song Li bangkit dari singgahsana nya memotong ucapan Jendral Jia Lu. "Kenapa kau baru melaporkan hal sepenting ini sekarng?!" Song Li membentak Jendral Jia Lu yang tertunduk.


Son Li sangat marah dengan Jendral Jia Lu, seharusnya hal sepenting itu segera di laporkan, karena akan memberikan dampak yang sangat besar dari Kekaisaran nya.


"Cih, kenapa kau tidak menggunakan burung pengantar pesan? Itu akan lebih cepat di bandingkan dengan kau yang kemari." Song Li menarahi Jendral Jia Lu karena kinerjanya yang tidak becus.


"Sudahlah suamiku, Jendral Jia Lu hanya ingin memberikan kepastian padamu," ucap selir Song Li sambil mengelus pundaknya. Ia merasa kasihan dengan Jendral Jia Lu yang di pojokkan suaminya.


Song Li mengehela nafas sejenak sebelum kembali duduk di kursinya. "Lalu bagaimana keadaan ibu kota itu sekarang?"


Selir Song Li tersenyum lembut melihat suaminya kembali tenang, ia juga kembali duduk dan mengipasi suaminya.


Jendral Jia Lu merasa sangat berterimakasih pada selir Yang Mulia Kaisar itu, karena sudah membantunya lepas dari situasi yang mengancam jabatannya.


"Yang Mulia Kaisar Meng berhasil selamat bersama dengan keturunannya. Namun separuh dari seisi kota sudah hancur berantakan, banyak nyawa bangsawan yang ikut lenyap dalam penyerangan itu." Jendral Jia Lu menjelaskan setelah mengatur nafasnya.


Song Li mengelus janggutnya sambil memikirkan kondisi ibu kota kekaisaran Meng saat ini. "Apa kelompok itu berhasil dimusnahkan?"


"Tidak Yang Mulia, meski berhasil di pukul mundur, kelompok itu masih memiliki kekuatan yang patut di perhitungkan. Beberapa hari sebelum hamba berangkat, kelompok itu kembali menghancurkan sekte menengah di Kekaisaran Meng."


"Apa sebenarnya tujuan kelompok ini?" Song Li bertanya dalam hati. Jika kelompok itu memang berniat membunuh keturunan keluarga Kaisar, maka mereka tidak perlu bersusah payah menghancurkan sekte-sekte disana.


"Baiklah, laporanmu ku terima, aku akan mengabarkan Jendral lainnya terkait hal ini. Kau bisa beristirahat sambil menunggu perajurit bersiap untuk memperketat keamanan di perbatasan." Song Li kemudian memanggil seorang Kasim untuk menghadap padanya.


"Terimakasih Yang Mulia" Jia Lu pergi meninggalkan aula, ia berpas-pasan dengan Kasim saat di ambang pintu.


"Hamba menghadap, Yang Mulia" Kasim itu membungkukkan badannya memberi hormat.


"Buatlah surat dan perintahkan pada seluruh Jendral untuk melakukan perkumpulan di aula, satu minggu dari sekarang!" Son Li memerintahkan pada Kasim di hadapannya.


"Baik Yang Mulia," ucap kasim itu lalu mengundurkan diri.


Song Li bersandar di kursinya sambil memijatkan kening setelah Kasim itu tidak terlihat lagi.


"Tenanglah, Kekaisaran ini akan baik-baik saja, jika kita tidak mencari masalah lebih dulu," Xiao Lan meraih tangan Song Li untuk menenangkannya.


"Bukan itu yang ku pikirkan Lan'er, tapi motif di balik penyerangan yang mereka lakukan. Kenapa mereka harus menyerang sekte-sekte disana jika tujuan mereka adalah keluarga Kekaisaran"


Xiao Lan yang tidak lain adalah selir yang menemani Song Li merasa terkejut. Ia baru menyadari kejanggalan dari kelompok ini. "Mungkin mereka ingin melemahkan Kekaisaran itu terlebih dahulu."


"Itu tidak mungkin, jika mereka melakukannya, maka kelompok itu akan semakin melemah sebelum meneyentuh pasukan Kekaisaran. Kecuali jika mereka begitu yakin dengan kekuatannya dan tidak membayar mahal di setiap pertarungan yang mereka buat. Tapi itu juga mustahil dilakukan, mengingat kekuatan sekte di Kekaisaran Meng juga tidak bisa diremehkan."


Song Li semakin pusing memikirkannya.


"Apa mungkin mereka adalah suruhan pendekar itu?" Xiao Lan memberikan pendapatnya, ia teringat dengan seorang pendekar yang meminta mereka mencarikan sebuah pusaka satu tahun yang lalu.


"Apa maksudmu, Lan'er?" Song Li tidak mengerti siapa yang di maksud istrinya.


"Apa kau tidak mengingatnya? pendekar yang saat itu menyuruhmu untuk mencarikan pusaka yang ia inginkan…"


Mata Song Li melebar, benar apa kata istrinya. Satu tahun yang lalu, pendekar itu bahkan dengan mudahnya menyusup dan mengancam nyawanya untuk mencarikan informasi pedang pusaka yang dia inginkan.


"Jika memang benar, maka ini akan sangat berbahaya. Bisa saja kelompok itu semakin meluas dan dan mengacaukan Kekaisaran lain." Ia tidak menyangka jika pendekar itu akan menjelajah seluruh negeri untuk mendapatkan pusakanya.


"Kita hanya bisa berharap kabar ini tidak sampai di telinga pendekar di Kekaisaran kita. Jika itu terjadi, maka Kekaisaran ini juga akan mengalami kekacauan." Xiao Lan dapat memprediksi, pusaka seperti apa yang membuat pendekar itu mencarinya sampai sejauh ini.


Song Li menghela nafasnya membayangkan Kekaisaran yang sudah susah payah ia pertahankan justru runtuh dari dalam. "Ya ... kau benar, aku akan memerintahkan para Jendral nantinya untuk merahasiakan hal ini."


Meski Xiao Lan hanya seorang selir, tapi dari semua pasangan yang dimiliki Song Li, hanya dia yang dapat membantunya di saat seperti ini. Sedangkan Permaisuri sendiri sedang jatuh sakit dan belum sembuh selama beberapa bulan terakhir.