Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.20 - Aura Binatang Magis


"Ayah, kapan kita akan mengunjungi goa itu?" Fu Chen terduduk lesu di tanah. Dia baru saja memperagakan jurus ketiga dari ilmu pedang Arus Jeram.


Empat hari sudah berlalu ketika Fu Chen mempelajari ilmu pedang Arus Jeram, Fu Chen berhasil mempelajari ketiga jurus ilmu itu hanya dalam empat hari. Pencapaian ini sangat mengejutkan bagi Tang Shu, selama ia tinggal di dalam klannya sekalipun, ia tidak pernah melihat ataupun mendengar hal demikian.


Saat mempelajari kedua jurus terakhir, Fu Chen baru mengetahui alasan di balik nama yang di berikan. Pada jurus kedua, gerakan yang di gunakan memiliki pola yang tidak beraturan, kecepatan setiap serangannya juga tidak menentu.


Sedangkan pada jurus ketiga di tumpukan pada gerakan yang sangat cepat. Jurus ketiga di haruskan untuk dapat mengalahkan lawan dengan sekali tebasan.


Fu Chen sangat kewalahan untuk memperagakan kedua jurus yang tersisa. Mengubah pola serangan menjadi tidak beraturan itu sangat sulit, apalagi tempo kecepatan yang di gunakan juga ikut berubah.


Fu Chen merasa frustasi saat ia mempelajari jurus ketiga. Dia harus bisa melewati sebuah patung kayu yang memiliki jarak lima meter dari dalam satu lompatan.


Kesulitan semakin bertambah saat Fu Chen harus mengayunkan pedang kayu, layaknya seseorang yang mengeluarkan pedang dari sarungnya dengan cepat. Dari sini Fu Chen bisa menyadari betapa sombong dirinya dalam bermain pedang. Sedangkan ilmu yang ia miliki hanyalah sebutir debu.


Fu Chen kemudian kembali mengumpulkan tekadnya dan mengulangi setiap jurus dari awal, hingga akhirnya ia berhasil melewati patung kayu sejauh lima meter di hadapannya, di hari keempat.


"Kau baru berhasil satu kali, apa kau merasa puas sampai disitu?"


"Tentu saja tidak, aku hanya ingin istirahat untuk satu hari…" Fu Chen menghela nafasnya, melepaskan rasa letih yang ia rasakan.


"Hoho … ayah lupa siapa yang mengatakan ingin segera menjadi kuat beberapa waktu yang lalu." Tang Shu tersenyum melengkung berniat memanasi Fu Chen.


Fu Chen cemberut menjawabnya, "baiklah, aku akan menyelesaikannya hari ini. Jika perlu, akan ku buat jurusku sendiri nantinya!" Fu Chen meninggalkan Tang Shu dengan menghentakkan kakinya ke tanah.


"Hahaha… istirahatlah sejenak, kita masih memiliki banyak waktu. Kita akan pergi jika kau berhasil merusak patung kayu itu dengan pedangmu… dan jangan sampai pedang kayu itu patah!" Tang Shu tertawa keras melihat Fu Chen seperti seorang gadis ketika marah.


"Tidak akan!" teriak Fu Chen dari kejauhan. Fu Chen kemudian menghampiri patung kayu untuk latihannya. Ia menarik nafas sejenak untuk menenangkan diri, Fu Chen memikirkan cara merusak patung kayu itu dengan pedang kayunya.


"Jika aku langsung membenturkan pedangku dengan patung ini, maka bisa di pastikan pedangku akan rusak lebih dulu." Batin Fu Chen sambil memperhatikan pedangnya dan patung kayu di depannya.


"Bagaimana jika aku menyerangnya seperti menahan sebuah serangan? jika beban yang di lawan terlalu berat, berarti beban itu juga melakukan perlawanan, bukan? baiklah, kurasa ini patut di coba." Fu Chen berpikir sambil mengelus dagunya, memperkirakan setiap kemungkinan yang bisa di ambil.


Fu Chen kemudian melirik ke arah Tang Shu, ia melihat ayahnya saat ini sedang bermain seruling. Nadanya terdengar sampai di telinganya, alunan nada yang tenang itu membuatnya terbawa suasana.


Setelah meikirkan jalan yang di ambilnya, Fu Chen segera mengatur posisi awal dari jurus ketiga. Kaki kirinya di tarik kebelakang, sedangkan tubuhnya condong kedepan, bertumpuan kaki kanan yang sedikit di tekuk.


Tang Shu mengatakan jika mengatur posisi awal seperti ini tidak perlu dilakukan saat pertarungan terjadi. Namun untuk pemula seperti Fu Chen, memehami posisi awal akan menentukan kecepatan loncatan yang di hasilkan.


Fu Chen segera meloncat ke arah patung kayu dalam satu kali loncatan setelah menarik nafas. Tangan kananya terayun dengan pedangnya untuk mengenai bagian leher patung.


Fu Chen memperhatikan patung kayu dan pedang kayunya setelah berhenti. Tepat di leher patung kayu itu terdapat goresan kecil, sedangkan pedang kayunya tidak mengalami kelecetan.


Fu Chen tersenyum lebar, mengetahui taktiknya berhasil. Ia kemudian terus mengulanginya hingga menjelang malam.


"Hah hah hah…" Fu Chen baring telentang setelah berhasil memenggal kepala patung kayu itu, nafasnya terputus-putus karena sudah terlalu memaksakan diri.


Untuk berdiri pun sudah tidak sanggup lagi ia lakukan. Pedang kayu Fu Chen juga tidak lebih baik dari patung kayu yang ia hancurkan. Retakan yang cukup besar membuat pedang kayu itu hampir patah.


Tangan dan kaki Fu Chen terasa sangat lemas, saat setelah melakukan gerakan pada jurus ketiga puluhan kali. Tang Shu yang melihat semua itu sangat kagum dengan pemahaman Fu Chen, ia mengira anaknya akan mengayunkan pedang kayunya sekuat mungkin untuk merusak patung kayu yang ia buat.


"Istirahatlah, malam ini kau tidak perlu bermeditasi di bawah air terjun." Tang Shu merasa, seorang pendekar tingkat tiga tahap akhir sekalipun akan sulit untuk mengikuti latihannya.


Ia memberikan keringanan pada Fu Chen malam itu, dan akan menepati janjinya untuk segera pergi ke goa menuruti keinginan Fu Chen. Fu Chen tersenyum kecut menyangka ayahnya hanya ingin mempermainkan dirinya.


Fu Chen tanpa sadar tertidur begitu saja di tanah, suara dengkurannya terdengar oleh Tang Shu yang sedang membakar ikan. Tang Shu menggendong anaknya untuk di pindahkan kedalam gubuk.


Dalam hati, ia sangat bangga memiliki anak seperti Fu Chen yang sangat berbakat. "Kuharap, leluhur memberikan warisannya padamu, Chen'er" Tang Shu mengusap wajah anaknya yang sedikit berdebu. Senyuman bahagia terukir diwajahnya saat memeperhatikan wajah Fu Chen.


Tang Shu kembali menuju perapian untuk mengambil ikan bakar, pikirannya teringat dengan mimpi yang ia alami beberpa bulan yang lalu. "Kuharap ini hanya perasaanku saja…" dirinya menghela nafas pelan sambil memperhatikan langit malam, di temani dengan seekor ikan bakar untuk dimakan menyaksikan bintang jatuh dari langit.


***


"Siapa yang melakukan pertarungan disini Chen'er?"


Keesokan harinya saat Tang Shu dan Fu Chen telah sampai di mulut goa. Tang Shu di buat sangat heran, karena ia tidak menemukan tempat ini sebelumnya. Apa lagi di tempat itu juga ada bekas pertarungan.


"Ayah, bukankah aku sudah mengatakan ini sebelumnya. Seekor harimau mengejarku, dan kami bertarung disini." Fu Chen malas menceritakan kembali dari awal kisahnya. Salah Tang Shu sendiri kenapa tidak memperhatikan ucapannya.


"Huh?" Tang Shu mengira jika itu adalah bekas pertarungan penghuni goa itu dengan hewan buas di dalam hutan.


"Harimau dewasa setidaknya memiliki kekuatan setara pendekar tingkat dua tahap awal, jika Chen'er berhasil mengalahkannya … bukankah itu berarti dia setara dengan pendekar tingkat dua, bahkan saat dia belum memiliki Qi?" gumam Tang Shu pelan, ia menggelengkan kepalanya memikirkan kekuatan Fu Chen yang sangat mengerikan untuk anak seusianya.


"Cepatlah ayah, kristal itu ada di dalam, bukan di semak-semak itu." Suara Fu Chen menyadarkan Tang Shu dari lamunannya, dengan segera ia kemudian menyusul anaknya.


Saat Tang Shu baru memasuki goa beberapa langkah saja, ia merasakan aura yang sangat mengintimidasi jiwanya. "Chen'er, berlindung di belakang ayah!" Tang Shu menarik kerah Fu Chen untuk berada di dekatnya.


"Ada apa?" Fu Chen yang melihat ayahnya begitu waspada juga ikut bersiaga.


"Apa kau merasakannya? sebuah aura aneh di dalam sana." Tang Shu menunjuk kedalam goa.


"Emhh, aku merasakannya, tapi itu hanya sedikit" Fu Chen juga memperhatikan bagian dalam goa. Ia kagum dengan ayahnya yang selalu menjaga kewaspadaan pada hal kecil seperit ini, menurutnya.


Berbeda dengan Fu Chen, Tang Shu justru mengerutkan dahinya mendapatkan jawaban Fu Chen. Bagaimana mungkin anaknya tidak terpengaruh? mentalnya sendiri bahkan sedikit goyah saat pertama kali merasakannya.


Dahi Tang Shu semakin berkerut saat merasakan aura aneh itu semakin menipis saat Fu Chen menyelesaikan kalimatnya.


"Apa itu sebenarnya?" Fu Chen bertanya pada ayahnya karena merasa ayahnya mengetahui sesuatu.


"Itu… itu adalah aura hewan magis, ayah tidak tahu apa yang ada di dalam sana. Tapi ayah pernah merasakan aura yang sama saat masih di benua tengah"


"Hewan magis? apakah itu berbeda dengan siluman?"


"Ayah tidak tahu apa yang membedakan keduanya, namun banyak yang mengatakan, jika hewan magis memiliki ciri khusus yang tidak dimiliki binatang manapun, temasuk siluman."


Fu Chen nengangguk tidak ingin mempertanyakan lebih lanjut, ia sendiri tidak merasa terganggu dengan aura aneh itu. Perhatiannya kemudian berpindah pada Kristal ungu yang melekat pada dinding goa.


"Apa kristal ini berharga, ayah?" Fu Chen menunjukan kristal di tangannya.


"Ya, itu dapat membantu kultivasimu, ambil secukupnya dan kita segera pergi dari sini … ayah merasa kurang nyaman berada di tempat ini." Firasat Tang Shu mengatakan, akan menjadi hal buruk jika dia terus berada disini.


Fu Chen menuruti keinginan ayahnya dan segera mengumpulkan kristal-kristal sampai kantongnya penuh. Mereka kemudian segera meninggalkan tempat itu.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata telah memperhatikan mereka sejak masuk ke dalam goa. Sepasang mata itu terus mengikuti langkah keduanya hingga keluar goa.