
***
Fu Chen terpaku begitu lama seraya memandang makam keluarganya yang berjejer rapi. Hati Fu Chen sedikit gundah, mungkinkah dia juga harus ikut terbaring dan membuat makam baru di samping mereka?
Sebelumnya Fu Chen telah kehilangan kesadaran selama satu hari karena energi qi miliknya terkuras habis. Bahkan untuk melihat makam adiknya dia harus pergi secara diam-diam karena larangan dari Sin Zhou yang khawatir dengan kondisi mental Fu Chen.
Fu Chen berlutut di samping makam ayahnya, tangan kanannya memegang nisan bertuliskan Tang Shu sambil memejam kan mata, "Ayah, aku dapat melihat kekacauan yang akan ku buat di masa depan, akan aku pastikan mereka mendapat balasan lebih buruk dari ini."
"Mei'er… aku berjanji akan membalas mereka dengan pedang ini, pedang yang telah merenggut nyawamu." Fu Chen tersenyum pahit, pedang yang ia kira akan melindungi keluarganya justru memakan tuannya sendiri.
Fu Chen terdiam setelahnya, lidahnya kelu untuk sekedar bicara, semua rasa sedih yang bercampur di hati Fu Chen berbuah pahit. Dendam dan amarah secara terus menerus mengisi pikirannya.
Fu Chen kemudian bangkit, dia melirik makam itu sekali lagi sebelum meninggalkannya. Sementara Sin Zhou yang sadar Fu Chen tidak ada di rumah menjadi panik, khawatir Fu Chen akan melakukan hal sama dengan adiknya.
Sin Zhou baru bernapas lega saat mendapati pemuda itu tengah membersihkan rumahnya sendiri. Rumah itu adalah kenangan terindah bagi Fu Chen, sehingga ia harus merawatnya agar rumah itu tetap terjaga.
Sin Lou dan teman-temannya segera menawarkan diri untuk membantu Fu Chen, sebelumnya mereka tak sempat melakukan apapun karena masih dalam suasan berduka.
Fu Chen tersenyum lembut sebelum menyetujuinya dan pekerjaan mereka pun berakhir dengan cepat. Sin Zhou tidak menyangka saat Fu Chen masih bisa tersenyum setelah apa yang ia lalui akhir-akhir ini, bahkan dirinya tak yakin dapat melakukan hal serupa jika berada di posisi pemuda itu.
"Nak, tinggallah berasama kami jika kau mau, kau tidak sendirian, aku akan selalu menyambutmu sebagai keluarga." Sin Zhou tersenyum lembut.
"Terimakasih paman, tapi aku punya rencanaku sendiri." Fu Chen kemudian segera menyiapkan seekor kuda, menyiapkan beberapa perlengkapan lainnya agar Sin Zhou tidak mencurigainya.
"Kau mau ke mana, Saudara Chen? Bagaimana dengan misi kita?" sahut Sin Lou terburu-buru saat melihat Fu Chen mulai menaiki kuda, wajahnya terlihat cemas.
"Aku ingin pergi ke suatu tempat, kalian dapat menyelesaikan misi itu sesuka kalian, aku tidak akan ikut campur…" Fu Chen segera memacu kudanya.
"Tunggu, aku akan ikut denganmu!" Sin Lou sedikit memohon.
Namun Fu Chen segera menolaknya, ia tidak ingin pemuda itu terlibat dalam masalahnya lebih jauh. Fu Chen mempercepat kudanya namun Sin Lou kembali menghadang. Sebelum Sin Lou sempat berbicara Fu Chen lebih dulu memberinya peringatan.
"Jangan membuatku mengulanginya sekali lagi! Tetaplah di sini dan menjauh dari jalanku! Aku tidak membutuhkan orang sepetimu!" Fu Chen berkata dingin, ia terpaksa mengatakannya untuk membuat Sin Lou menyerah.
Tanpa sadar aura pembunuh yang ia dapatkan selama ini merembes keluar, membuat napas Sin Lou dan ayahnya segera tertahan. Sin Lou sedikit menyingkir dari hadapan Fu Chen karena terkejut, mulutnya sedikit terbuka, hendak mengucapkan aebuah kalimat namun segera di tahan oleh ayahnya.
Sin Zhou menggeleng pelan sambil menahan pundak anaknya. Selama ini Shin Zhou telah mengetahui identitas Tang Shu, Shin Zhou sadar Fu Chen tidak akan tinggal diam setelah semua yang dia alami. Meski merasa khawatir namun Shin Zhou tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan pemuda itu.
"Aku harap dia tetap berada di jalan yang benar," guman Sin Zhou sembari menghela napas panjang, kemudian memberikan sedikit nasihat kepada anaknya sebelum kembali ke kediaman mereka.
***
"Tempat ini jauh lebih bagus sejak terakhir aku melihatnya…"
Fu Chen mendekati gubuk yang biasa di gunakan ayahnya saat melatihnya dahulu. Terlihat jelas jika Tang Shu selalu mengurus tempat ini, bahkan tempat dia dulu berlatih pedang juga semakin luas. Sepertinya Tang Shu berencana mengajarkan Fu Chen ilmu pedang yang jauh lebih hebat andai dia masih hidup.
Fu Chen masuk ke gubuk itu dan memeriksa isi di dalamnya, ia menemukan tiga kotak kayu yang berjejer rapi di sana. Fu Chen membawanya keluar karena di dalam sana terlalu sempit.
"Sudah ku duga kau tidak mungkin menyimpan benda seperti ini di Desa…" Fu Chen merasakan pancaran energi qi dari 2 kotak di depannya sementara satu kotak lagi terlihat biasa saja.
Fu Chen membuka kotak kayu yang tidak memancarkan qi dan berukuran panjang. Di dalamnya ternyata berisi setumpuk pedang kayu dan sebuah seruling bambu di tumpukan paling atas. Fu Chen mengambil seruling itu dan menemukan sebuah ukiran yang bertuliskan sebuah nama.
"Ayah…" Fu Chen mengepalkan tangannya sambil memejamkan mata.
Fu Chen sedikit menarik napas panjang sebelum membuka kotak berikutnya. Di kotak ke-2 terdapat beberapa sumber daya berharga, Fu Chen dapat mengenali semuanya berkat pengetahuannya selama di sekte. Pandangan Fu Chen kemudian tertuju pada kotak terakhir, kotak yang memancarkan qi paling padat.
Namun, sebuah aliran listrik tiba-tiba menyengat tangan Fu Chen saat ia mecoba membukanya, Fu Chen berusaha lebih keras namun hasilnya tetap sama.
"Apa aku harus mencapai tingkat tertentu untuk membukanya? Baiklah aku akan menyimpannya dulu." Fu Chen merasa belum memerlukan semua itu saat ini.
Setelah memasukkan kedua kotak itu ke dalam cincin Bumi dan merapikan gubuk itu kembali, Fu Chen segera melepas pakaiannya dan melakukan pertapaan di bawah air terjun. Fu Chen ingin menenangkan pikirannya lebih dulu sebelum mengambil sebuah keputusan nantinya.
**
Dua hari telah berlalu, pikiran Fu Chen terasa segar dan perasaannya menjadi lebih tenang. Kemudian Fu Chen segera memakai bajunya, beruntung kudanya tidak kelaparan karena ada rumput yang bisa di makan di sana.
Fu Chen berniat mendatangi goa tempat dia dulu mendapatkan banyak kristal ungu. Fu Chen merasa ada sesuatu yang dapat membantu kultivasinya di sana, meski sekarang ia memiliki banyak sumber daya namun semua itu tidak berguna jika ia tidak tahu cara melangkah ke tahap selanjutnya.
Fu Chen mengandalkan ingatannya yang cukup kuat untuk menemukan goa itu. Penampakan luar goa itu tidak berubah, hanya saja udara di sana terasa lebih hangat bagi Fu Chen.
Saat Fu Chen menginjakkan kakinya ke dalam goa, tiba-tiba cincin Bumi di tangannya sedikit bergetar dan mengeluarkan cahaya putih selama beberapa saat.
"Apa yang terjadi?" Fu Chen mengerutkan keningnya, namun cincin itu kembali normal saat ia periksa.
Perasaan Fu Chen mendadak jadi tidak enak saat ia melangkah lebih dalam. Ia menghentikan langkahnya saat menemukan sebuah kolam yang dulu pernah dia gunakan, kolam itu terlihat bersinar cahaya yang terpancar dari ratusan kristal ungu di goa itu.
"Akhirnya kau kembali anak muda…"
Fu Chen langsung tersentak ketika sebuah suara aneh menggema di dalam goa. Pandangannya segera menyapu sekeliling, tapi ia tidak menemukan apapun. Fu Chen melirik ke ujung goa sambil menelan ludah, tapi sayangnya tempat itu terlalu gelap.
"Siapa kau?" Fu Chen meningkatkan kewaspadaan.
Terdengar suara geraman sebelum suara aneh itu kembali muncul, "Apa itu adalah jawaban yang pantas setelah aku menyelamatkan nyawamu?"
Aura yang begitu dahsyat tiba-tiba menekan tubuh Fu Chen saat suara itu menghilang. Fu Chen kesulitan bernapas hingga membuatnya terpaksa berlutut, saat kesadarannya mulai melemah tiba-tiba cincin bumi miliknya memancarkan cahaya yang menyilaukan.
Fu Chen sedikit mendongakkan kepalanya untuk melihat sosok putih sedikit transparan yang melayang di depannya, berkat sosok itu aura yang menekan tubuh Fu Chen pun menghilang.
"Kenapa bahaya selalu datang padamu, Anak Muda?" ucap sosok itu melirik Fu Chen dari sudut matanya, "Aih lupakan dulu hal itu, aku akan mengurus Rubah Kecil ini dulu…"
Fu Chen mengerutkan kening lantaran tidak mengerti ucapan sosok itu yang seolah tidak mengharapkan jawaban dari dirinya. Bahkan Fu Chen masih bertanya-tanya dari mana orang-orang kuat ini muncul.
"Kauu…!" suara aneh itu kembali terdengar, tapi kali ini suaranya terdengar seperti menahan geram dan amarah, "Bagaimana kau bisa sampai di sini?"
Sosok putih itu terkekeh pelan, "Inilah yang dinamakan takdir, Rubah Kecil!"
~
Arc 1 - Legenda Pendekar Surgawi - Kebahagiaan (END)