
Fu Chen berpikir sejenak untuk menentukan pilihan terbaik sebelum meninggalkan hutan bambu. Di lihat dari sungi kecil ini saja Fu Chen sedikit memahami jika di luar hutan bambu ini cukup berbahaya.
"Untuk berjaga-jaga lebih baik kita tidak berpencar, hutan itu pasti lebih berbahaya dari kelihatannya." Fu Chen meminta pendapat kedua temannya yang kemudian di jawab dengan sebuah anggukan kepala oleh Sin Lou dan Kyoto.
Kyoto merasa Fu Chen dapat di andalkan di saat seperti ini karena ia juga penasran kenapa tugas dari Li Chun terdengar begitu mudah.
"Baiklah, jangan sampai terpiasah!" Fu Chen melompat menyebrangi sungai kemudian di ikuti Sin Lou dan Kyoto.
Ketiga pemuda itu masuk ke dalam hutan, Fu Chen menggunakan pedangnya untuk menebas rumput-rumput liar yang menghalangi mereka. Fu Chen memilih untuk tidak masuk ke bagian hutan yang lebih dalam, selain tidak ingin kehilangan arah ia ingin melihat hulu sungai tersebut.
"Hmm, saudara Chen, kenapa kita tidak masuk ke dalam hutan saja? Bukankah di sana ada lebih banyak binatang untuk di buru?" Kyoto ingin mengetahui apa yang di rencanakan Fu Chen karena anak itu terlihat memahami sesuatu.
"Kita akan mencari sumber air lebih dulu, lagipula orang itu tidak menyuruh kita untuk berburu di dalam hutan, kan?" Fu Chen menjawab dengan santai.
"Ah, ya kau benar." Kyoto tersenyum pahit.
Sin Lou hanya diam mendengarkan, ia masih terbayang segerombolan ikan mengerikan yang ada di sungai. Sin Lou mengira jika tangannya akan bernasib sama dengan daun itu jika ia memasukkannya.
Karena hari masih terbilang pagi, mereka berhasil menemukan beberapa ekor ayam hutan kurang dari satu jam. Fu Chen memberi tanda untuk berhati-hati dan memperhatikan langkah mereka.
"Ada apa-?" Sin Lou ingin bertanya namun segera di tahan oleh Kyoto menggunakan tangannya.
Kyoto meminta Sin Lou untuk diam sejenak karena Fu Chen sedang mengintai buruan mereka. Kyoto juga ikut memperhatikan, jumlahnya ada tujuh ekor ayam dan itu lebih dari cukup untuk makan malam meski mereka tidak terlalu membutuhkannya.
"Kyoto, apa kau membawa belatimu?" Fu Chen bertanya tanpa mengalihkan perhatian dari mangsanya.
"Ya," jawab Kyoto kemudian mengeluarkan beberapa belati.
"Bagus, kalau begitu tolong bidik ayam-ayam itu, aku akan menangkap yang berusaha kabur." Setelah mengatakannya Fu Chen segera berpisah dan mendatangi tempat yang telah dia perhitungkan.
Kyoto menarik napas sejenak, mempersiapkan tiga buah belati di tangannya untuk membidik ayam-ayam itu. Saat dirinya merasa tenang, Kyoto segera melemparkan ketiga belati tersebut.
Woosh!
Satu diantara ketiga belati itu berhasil mengenai target namun karena serangan kejutan itu ayam-ayam lainnya menjadi panik dan berhamburan. Fu Chen yang sudah memperhitungkannya dengan sigap menangkap dua ekor ayam di kedua tangannya.
"Fyuh, tugas pertama selesai," Kyoto tersenyum lebar kemudian mendekati Fu Chen dan mengambil ayam dan belati yang ia lemparkan.
Fu Chen mengikat ayam hasil tangkapannya dan menyerahkannya pada Sin Lou. "Bawa ini!" ucap Fu Chen sambil tersenyum penuh makna.
Awalnya Sin Lou sedikit perotes namun Fu Chen mengatakan jika itu adalah tugasnya karena ia tidak melakukan apapun untuk menangkap ayam itu.
"Bagaimana? Adil, kan?" Fu Chen mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum tipis.
"Cih, baiklah terserah apa maumu." Sin Lou mendengus pelan sambil menenteng tiga ekor ayam termasuk tangakapan Kyoto.
Saat berjalan lebih jauh lagi, ketiga pemuda itu akhirnya menemukan hulu sungai tersebut. Sungai itu ternyata berasal dari sebuah air terjun yang tinggi dengan aliran air yang cukup deras.
Ketiga pemuda itu mencoba untuk mendekatinya namun saat mereka mencoba lebih dekat dengan air terjun, ada semacam tekanan mengerikan yang menghentikan langkah mereka.
Sin Lou dan Kyoto menelan ludahnya dengan kasar, merasa terselamatkan karena Fu Chen selalu waspada dengan kondisi sekitar.
"Sudah melihatnya kan? Kita hanya bisa mengambil air dari kolam-kolam kecil di sekitar sini saja." Fu Chen menyerahkan ember kayu milik Sin Lou yang ia bawa, kemudian mengisi ember miliknya dengan air hingga penuh.
"Apa ikan-ikan itu tidak sampai ke tempat ini…? Ah, sudahlah. Ku rasa mereka memang jenis ikan yang tinggal di arus seperti itu." Fu Chen tidak ingin memikirkannya lebih jauh kemudian meminta temannya untuk mendekat.
"Ada apa?" Sin Lou bertanya.
"Kita akan memulihkan diri sejenak di tempat ini, energi qi disini cukup padat, ku rasa tidak akan lama untuk mengembalikan setamina kita." Fu Chen meminta Sin Lou dan Kyoto untuk bergegas.
Sin Lou dan Kyoto menuruti keinginan Fu Chen, mereka duduk bersila di tempat yang sedikit berjauhan. Energi qi mulai mengalir di tubuh mereka secara perlahan dan membuat tubuh mereka dalam kembali prima.
Fu Chen bersyukur salah satu tebakannya benar, sekarang yang menjadi kekhawatirannya adalah cara kerja tekanan yang ada di hutan bambu. Jika tebakannya benar, maka itu akan menjadi rintangan tersulit untuk tugas ini. Terlebih mereka harus menjaga air yang mereka bawa agar tidak tumpah.
Setelah merasa lebih baik mereka kembali ke posisi awal saat mereka berangkat. Fu Chen meminta kedua temannya untuk waspada dan berhati-hati.
"Ada apa denganmu ini? Sejak tadi selalu saja meminta kami berhati-hati padahal tidak terjadi apapun." Sin Lou merasa jika Fu Chen terlalu takut dengan keadaan hingga membuatnya terlalu waspada.
"Jika kau takut maka aku akan pergi lebih dulu, daah…" Sin Lou pergi mendahului Fu Chen dengan santai.
"Tungu-" Fu Chen ingin menghentikan Sin Lou namun ia terlambat, anak itu sudah melompat ke seberang sungai.
"Lihat! Hahaha… dasar penakut! Mulai sekarang aku yang akan jadi pemimpinnya." Sin Lou tertawa lebar sambil membusungkan dada, sementara Fu Chen merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Sudahlah, aku tahu kau khawatir tekanan itu masih ada tapi tadi malam kau juga merasakannya kan? Tekanan itu menghilang sejak kita memasuki kediaman Paman Li." Kyoto menepuk pelan pundak Fu Chen kemudian menyusul Sin Lou.
"Paman?" Fu Chen bergumama pelan, tidak percaya jika mereka semudah itu mempercayai orang lain.
Sin Lou kemudian memimpin jalan saat mereka telah berkumpul di hutan bambu. Kyoto sempat melirik Fu Chen yang terus terpikirkan tentang kinerja tekanan di hutan ini. Kyoto tidak paham mengapa anak itu terlalu mengkhawatirkan hal tersebut.
"Oh… kalian sampai lebih cepat dari dugaanku." Li Chun menyambut mereka dengan bertepuk tangan pelan.
"Hahaha… tentu saja, itu semua karena aku yang memimpin mereka." Sin Lou menyungingkan senyum lebar sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Haha… kalau begitu ikuti aku, kita akan ke tempat latihan yang sebenarnya." Li Chun mengambil tiga ekor ayam yang di bawa oleh Sin Lou sebelum pergi ke tempat yang di maksud.
Sementara Fu Chen masih merenungi pola pikirnya yang selalu memikirkan kemungkinan terburuk. Mungkin Sin Lou benar jika ia terlalu takut dengan sekitar, namun Fu Chen memiliki beban yang tidak bisa membuatnya bertindak ceroboh.
"Hmm… bagaimana bocah? Setelah ini kau harus memikirkan cara untuk mendapat kepercayaan mereka kembali." Li Chun melirik Fu Chen sambil tersenyum tipis.
Sebelumnya Li Chun memang berniat untuk memasang tekanan itu kembali namun setelah mempertimbangkan kecerdasan Fu Chen, Li Chun merasa kurang menarik jika bocah keturunan Tang itu menemukan jawaban terlalu mudah, karena itu dia menghilangkan tekanan dan membuat Sin Lou dan Kyoto tidak mendengarkannya lagi.
Li Chun meminta Fu Chen, Sin Lou dan Kyoto untuk memperagakan jurus yang baru mereka kuasai dan ia akan memberikan sedikit arahan untuk memperbaikinya. Sebenarnya Li Chun tidak berniat untuk melakukannya namun demi mengecoh Fu Chen, ia telah merencanakan sesuatu yang menarik!
~
Maaf, kuota othor habis kemaren hehehe…