Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.126 - Rencana


Fu Chen meringis pelan begitu sekelompok pendekar tadi telah pergi. Tombak pendekar itu menancap pada potongan daging yang Fu Chen keluarkan dari cincin Bumi. Daging itu telah di alirkan qi, sehingga membuatnya lebih keras dari biasanya.


Fu Chen hanya berharap sandiwaranya tadi tidak berlebihan. Ia lalu melirik ke meja tempat Su Anna sebelumnya duduk, wanita itu sudah tidak ada namun mayat para pengawalnya hanya dibiarkan begitu saja.


Seperti dugaan Fu Chen, ketika ia melihat keluar jendela sekelompok pendekar itu dapat pergi dari rumah makan tanpa hambatan suatu apa pun.


Sebenarnya Fu Chen cukup enggan untuk ikut campur urusan ini, tapi melihat seorang wanita yang di bawa beberapa pria membuatnya teringat akan kejadian yang di ceritakan para warga tentang insiden Fu Mei.


Fu Chen lantas melompat keluar jendela, ia mendarat di salah satu atap bangunan dengan mulus. Fu Chen lekas menghilangkan hawa keberadaanya untuk membuntuti orang-orang itu. Fu Chen akan memikirkan cara untuk menghadapi pendekar Raja itu nanti, yang terpenting adalah membawa gadis itu pergi.


"Ah… jadi aku juga harus pergi, sayang sekali… padahal pemandangan ini cukup memuaskan." Dou Huang menarik napas pelan, "Tapi sepertinya anak itu akan melakukan hal menarik."


Melihat tingkah Fu Chen yang sekarang membuat Dou Huang teringat masa mudanya dulu. Dou Huang dulunya selalu mencampuri urusan orang lain jika ia ada di sana, membuatnya menerima banyak sekali masalah saat itu.


Sementara Fu Chen tengah membuntuti rombongan itu keluar Kota, Hong Jitei nampak tergesa-gesa kembali ke kediamannya. Beberapa bawahannya juga tidak lagi mengikutinya, pakaian Jong Jieti nampak lusuh dan kotor.


Hong Jitei lekas menghampiri 10 orang prajurit yang di tugaskan untuk menjaga Su Anna di sekitar kediamannya. Wajahnya pucat pasi, seolah dirinya baru saja mengalami hal yang mengerikan.


Beberapa prajurit yang menyadarinya pun segera menghampiri Walikota itu.


"Kenapa denganmu? Di mana Nona Su dan yang lain?" tanya seorang prajurit dengan cemas begitu melihat ekspresi Hong Jitei.


"Ce-cepat panggilkan teman-temanmu! Nona Su telah di culik!" ucap Hong Jitei terbata-bata.


"Apa yang kau bicarakan?! Katakan dengan jelas!" Prajurit itu meninggikan suaranya.


"Aku bilang Nona Su di culik! Dia baru saja di bawa oleh sekelompok pendekar, sebaiknya kalian cepat mengejar orang itu!"


"Sial!" Prakurit itu mendesis, "Bagaimana denganmu?"


"Lupakan aku, para penculik itu lari keluar Kota, mereka mungkin masih tidak terlalu jauh."


"Baik! Jaga dirimu di sini," sahut prajurit itu, cepat.


Hong Jitei kemudian tersenyum tipis saat melihat prajurit-prajurit itu mulai menunggangi kuda mereka dan mengejar ke arah yang ia tunjuk. Dengan kemampuan para prajurit yang hanya pendekar kelas dua itu, Hong Jitei yakin mereka akan mati di tangan pendekar itu.


Saat para prajurit itu melewati rumah makan yang sebelumnya di datangi Su Anna, mereka merasa ada kejanggalan di sana. Tempat itu masih ramai pengunjung, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


Tapi mereka tidak ingin terlalu larut dengan pikiran itu, sekarang yang menjadi prioritas adalah keselamatan Nona Su.


***


"Hmmph! Hmmmph!!"


Su Anna mencoba meronta saat dirinya mulai di masukkan ke dalam kereta kuda. Kaki dan tangannya sudah terikat, sementara mulutnya di sumpal oleh potongan kain dari pakaian yang ia kenakan.


Para penculik itu berhasil keluar Kota Dianxi dengan Mudah. Karena sepertinya orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di Kota ini berada di sisi yang sama dengan para penculik itu.


Fu Chen masih membuntuti mereka dari kejauhan, ia berencana akan melumpuhkan mereka satu per satu saat berada di tengah hutan. Malam yang semakin larut ini pasti akan membantu, pikir Fu Chen.


"Ayo cepat! Pestanya masih belum berakhir," perintah pendekar yang bernama Wong Pei seraya tersenyum lebar.


Mereka kemudian memacu kudanya semakin cepat, membuat Fu Chen sedikit meningkatkan kecepatannya agar tidak tertinggal terlalu jauh. Fu Chen sebenarnya masih penasaran siapa pelaku yang menyerangnya di rumah makan tadi, tapi ia tidak merasakan keberadaan lain selain kelompok pendekar itu.


Selang beberapa waktu setelah kelompok itu memasuki hutan, mereka tiba-tiba memperlambat laju kuda mereka. Fu Chen bersembunyi di balik sebuah dahan pohon di sana, ia menyipitkan matanya agar dapat memperhatikan gerak-gerik kelompok itu.


"Nak, sepertinya kita kedatangan tamu baru." Suara Dou Huang kembali terdengar di telinga Fu Chen.


"Apa mereka satu kelompok dengan orang-orang ini?" Fu Chen membatin, ia sedikit khawatir jika para penculik itu bertambah banyak.


"Sepertinya bukan…" Dou Huang menjawab, "aura mereka jauh berbeda dari para penculik itu."


Para prajurit memacu kuda mereka dengan cepat begitu melihat rombongan lain di hadapan. Mau benar atau salah, mereka harus memeriksa rombongan mencurigakan itu.


"Jangan lengah! Mungkin saja ada jebakan di sekitar sini!" seru seorang prajurit yang memimpin di barisan paling depan.


"Akhirnya mereka datang juga!" Wong Pei tersenyum lebar, mereka menghentikan kuda mereka untuk menyambut kedatangan para prajurit itu.


"Berhenti di sana! Kami akan melakukan pemeriksaan!" seru pemimpin prajurit, ia bersama beberapa rekannya segera menghampiri rombongan Wong Pei secara perlahan.


"Haha… tak perlu repot-repot memeriksanya, orang yang kau cari ada di dalam." Wong Pei menyeringai lebar, tangan kirinya sedikit terangkat untuk menyuruh anak buahnya segera bergerak.


"Kau-! Kau berani melawan prajurit Kekaisaran? Kau tau apa resikonya? Kau akan di buru sampai mati!" Pemimpin prajurit itu meningkatkan kewaspadaan.


"Peduli setan dengan Kekaisaran!" Wong Pei tersenyum mengejek, "Habisi mereka sekarang juga!"


Fu Chen sedikit terkejut begitu mengetahui rombongan tadi adalah prajurit Kekaisaran, ia tidak menyangka bahwa para prajurit itu memiliki kekuatan cukup tinggi meski mereka hanya di perintahkan sebagai pengawal.


Fu Chen kemudian memanfaatkan pertempuran yang mulai pecah itu untuk menyelinap. Matanya tidak lepas untuk mengawasi Wong Pei yang masih duduk santai di atas kuda, ia terlihat menikmati pertempuran itu.


Fu Chen segera bergerak lincah, ia melumpuhkan beberapa pendekar yang ada di belakang dalam sekali pukulan di leher. Ia melakukannya kurang dari lima detik, membuat pendekar lain tidak menyadarinya.


Sebelum ia mendekati kereta kuda milik Su Anna, Fu Chen sempat melirik ke tempat Wong Pei sebelumnya tapi orang itu tiba-tiba menghilang dari sana.


"Ke mana dia pergi?" Fu Chen meningkatkan kewaspadaan, ia lekas melompat kedepan dengan berputar di udara saat sesuatu hampir menyentuh pundaknya.


"Oh… reflek yang sangat bagus!" Wong Pei menyeringai lebar, "Bocah! Bagaimana kau bisa hidup dan sampai ke sini?"


Fu Chen menelan ludahnya sejenak, sepertinya kemampuan menyelinap nya masih perlu diasah lagi. Andai ia tertangkap kali ini mungkin tidak ada kesempatan kedua untuknya bisa hidup.


Fu Chen memperhatikan sekitar, sebelumnya ia telah melumpuhkan beberapa pendekar kelas satu dan menyisakan pendekar yang masih bertarung dengan para prajurit dan seorang jenderal petarung yang hanya mengamati Wong Pei.


"Kau berani berpaling saat berhadapan denganku? Nyalimu besar juga, Bocah!" Wong Pei sedikit terpancing.


"Entahlah, aku juga merasa diriku ini gila karena datang ke tempat ini tanpa tujuan yang jelas." Fu Chen membenarkan posisinya, lalu segera mengeluarkan pedangnya dari cincin Bumi.


Wong Pei sedikit tersentak saat tiba-tiba sebilah pedang muncul di udara, "Hahaha… kau memiliki trik yang menarik, tapi itu tidak berguna dihadapanku!"


Wong Pei segera menerjang ke arah Fu Chen usai mengetakannya, ia menyerang dengan tangan kosong, senjatanya yang berupa tombak panjang masih tersimpan di dekat kuda yang di tungganginya.


Fu Chen menangkis dan menahan setiap serangan dari Wong Pei, dirinya terus mundur secara perlahan karena Wong Pei tidak berhenti melancarkan serangan yang kuat.


"Ugh, ini berat!" Fu Chen bergumam saat dirinya terseret mundur usai menahan serangan Wong Pei.


Kekuatan Wong Pei ini setidaknya sedikit lebih kuat dari prajurit batu yang di buat Dou Huang. Tapi menghadapi Wong Pei terasa lebih berat karena dia memiliki tekniknya sendiri.


"Kemampuanmu memang hebat untuk seorang Jenderal Petarung. Aku rasa kau bukan bagian dari para prajurit itu, jadi siapa kau sebenarnya?"


"Sayang sekali, tapi aku tidak berniat untuk berbincang dengamu." Fu Chen kembali memasang kuda-kuda, ia tahu Wong Pei saat ini masih meremehkan dirinya dan itu adalah kesempatan besar.


"Baiklah, ini bisa di hitung sebagai uji coba dari hasil latihanku beberapa bulan ini."