Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.26 - Perpisahan


Tang Shu bernapas lega saat anaknya terpilih dan di beri kesempatan untuk duel. Dia sudah berpikir jika Fu Chen tidak terpilih maka dia sendiri yang akan melatihnya sampai menjadi pendekar hebat.


Warga Desa kembali ke rumah masing-masing setelah acara selesai. Sedangkan Sin Zhou masih berusaha untuk menenangkan anaknya saat masih di perjalanan pulang.


"Bagaimana menurutmu, tetua? Kurasa dantian Hitam bukanlah fantian cacat." Xiao Jung bertanya pada tetua bernama Wang He yang sejak pertama pembentukkan Dantian telah memperhatikan Fu Chen.


"Aku juga berpikir seperti itu, seharusnya kemampuan Dantian cacat lebih parah dari Dantian putih, tapi apa yang di perlihatkan anak itu justru sebaliknya. Apalagi anak itu setidaknya berada di ranah pendekar kelas dua." Tetua itu mulai menerka-nerka jika kualitas Dantian hitam sebenarnya adalah yang tertinggi dari seluruh tingkatan.


Wang He juga penasaran dengan seumber daya dan latar belakang Fu Chen. Dia mencurigai ilmu penyerapan energi qi yang Fu Chen kuasai adalah ilmu tingkat tinggi, sehingga membuat Fu Chen naik tingkat dalam waktu kurang dari satu tahun.


Sebab percuma saja jika seseorang memiliki bakat yang tinggi namun tidak di dukung dengan ilmu yang memadai, maka bakat orang itu akan terkubur begitu saja.


"Seharusnya keputusan kita sudah tepat dengan meluluskan bocah itu." Wang He menghela napas kasar, dirinya terlalu memikirkan masalah orang lain.


Meski Xiao Jung hanya seorang murid inti di sekte Pedang Suci namun dirinya adalah salah satu dari sepuluh murid terbaik disana. Dengan usianya yang baru menginjak 25 tahun, Xiao Jung berhasil memasuki ranah jendral petarung.


Bakat sepertinya tentu akan di jaga oleh sekte Pedang Suci, apalagi dirinya adalah keturunan keluarga bangaswan Xiao yang membuat dirinya mendapat posisi tinggi di mata para Tetua.


***


"Kau tidak mengecewakan ayahmu Kyoto." Yoshi Kishimoto mengusap kepala anaknya. Segala pengorbanan uang dan jerih payahnya untuk mecari pendapatan lebih akhirnya terjawab.


Kyoto tersenyum tipis sambil menatap ayahnya. Jujur, dia masih belum puas dengan hasil itu. Kyoto sadar jika masih ada pesaing yang jauh lebih hebat darinya.


"Kekuatanmu memang mengesankan, tapi masih ada beberapa orang yang jauh lebih unggul darimu." komentar pendekar yang melatih Kyoto, pendekar itu telah memutuskan untuk menetap di Desa Bintang Jatuh.


Meskipun hanya menjadi seorang penjaga Desa, tapi menurutnya lebih baik dari pada harus mempertaruhkan nyawa untuk menjalani misi di setiap Kota. Apalagi saat dimana misi yang dijalaninya gagal, maka dia tidak akan mendapat upah apapun dan itu hanya akan membuat musuhnya semakin banyak.


"Ya, itu memang benar… kekuatanku masih jauh di bawah bocah Lou itu." Kyoto menjawab pernyataan yang di lontarkan padanya, tangannya mengepal keras saat mengingat dirinya tidak berhasil mencapai angka delapan poin.


Pendekar bernama Ling Ryu itu mengelengkan kepalanya, menurutnya peserta paling kuat adalah Fu Chen. Meski tingkatannya baru di ranah Jendral petarung tahap awal, tapi ia dapat memprediksi jika pemuda itu masih manahan diri karena lawannya sangat lemah. Dugaanya kemudian di perkuat oleh hasil yang di tunjukkan batu penguji.


Tapi ia juga mengakui jika kekuatan Sin Lou sangat mengesankan. Desa yang di tinggalinya sekarang benar-benar melahirkan bakat yang langka untuk sekelas sekte menengah sekalipun. Dia mencurigai jika penduduk Desa ini sebenarnya adalah seorang pendekar di masa lalu.


"Paman, apa Paman dulu pernah menjadi murid sekte juga?" tanya Kyoto pada Ling Ryu, selama pelatihan hubungan keduanya juga semakin dekat.


"Tentu saja, namun paman keluar dari sekte karena alasan tertentu." jawab Ling Ru singkat.


"Apa itu?" tanya Kyoto penasaran.


"Aku tidak bisa mengatakannya, tapi kau akan merasakan apa yang aku rasakan jika dirimu menjadi orang yang lemah disana. Lebih baik kau bersitirahat dari pada memikirkannya."


Ling Ru kemudian berlalu pergi ke sebuah kedai untuk mecari arak. Dia sudah pernah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membahas masa lalunya kepada siapapun, meski itu adalah teman terdekatnya sekalipun.


***


Satu minggu yang di berikan Xiao Jung terasa begitu cepat bagi para peserta, terutama untuk Fu Chen. Dia telah meninggalkan keluarganya selama sepuluh bulan dan baru kembali beberapa minggu yang lalu. Fu Chen merasa masih ingin menikmati hari-harinya bersama keluarga.


Namun di balik semua itu, yang paling tidak rela adalah Fu Mei. Dia menangis seharian penuh saat mengetahui kakaknya akan kembali pergi, beruntung Xin Xue berhasil menenangkan anaknya itu.


"Chen'er, ikut ayah sebentar. Ada yang ingin ayah bicarakan," Tang Shu mengajak Fu Chen ke kebun, tempat biasa dia mencari rumput untuk kuda dan kerbaunya.


Setelah sampai, Tang Shu diam sejenak untuk membuang rasa ragu di hatinya. Fu Chen diam berdiri di belakang Tang Shu, dia menanti kalimat yang akan keluar dari mulut ayahnya itu.


"Chen'er, apa kau masih mengingat cincin Bumi yang pernah ayah ceritakan?" Tang Shu ingin melihat apakah Fu Chen memperdulikan masalah yang pernah ia bahas dahulu.


"Iya ayah, ada apa dengan pusaka itu?" Fu Chen balik bertanya dengan heran, tidak mungkin pusaka itu hilang begitu saja bukan?


"Pusaka cincin Bumi ini masih ada di tangan ayah, hanya saja dia memerlukan pewaris baru selain ayah." Tang Shu memandangi Fu Chen sambil tersenyum lembut.


"Jangan bilang jika ayah ingin…" Fu Chen tidak mampu mengakhiri kalimatnya saat Tang Shu menganggukkan kepala. Mata melebar dengan tatapan tidak percaya.


"Kau benar Chen'er, ayah ingin kau menyimpan cincin ini hingga kau dapat menggunakannya. Cincin ini tidak memilih ayah sebagai pewarisnya. Ayah tidak ingin cincin ini hanya menjadi barang tidak berguna bila terus di tangan ayah. Ayah memiliki keyakinan, kau adalah orang yang di tunggu untuk membuka cincin ini kembali."


Tang Shu memperhatikan cincin Bumi di tangannya sambil tersenyum pahit, sudah sangat lama cincin itu tidak bisa terbuka. Bahkan, Tang Hao yang saat itu memimpin klan sekalipun tidak dapat membukanya.


"Bagaimana mungkin? Kekuatanku masih sangat lemah untuk melindungi pusaka ini ayah. Bagaimana jika orang lain tau? bagaimana jika sekte-"


"Ayah tau itu Chen'er, karena itu ayah katakan. Gunakanlah jika kau sudah mampu menghunakannya. Berprilaku lah seolah tidak terjadi apa-apa." Tang Shu tersenyum kecut, dia merasa bersalah jika harus memberikan beban yang berat ini pada Fu Chen.


"Anggaplah sekte Pedang Suci sebagai pelindungmu dari dunia luar, bersembunyi lah ketika orang lain mengetahui cincin ini dan larilah saat memiliki kesempatan. Kau harus bisa selamat sebelum kembali membalas itu semua, Chen'er."


Fu Chen menggertakkan giginya kesal, perkataan Tang Shu hanya akan membuat dirinya menjadi seorang pengecut. Ingin sekali dirinya membantah ucapan Tang Shu, namun Fu Chen sadar ayahnya telah menanggung beban berat di pundaknya selama bertahun-tahun.


"Maafkan permintaan egois ayahmu ini Chen'er, ayah tidak ada pilihan lain selain menyerahkannya padamu. Ayah hanya ingin keluarga kita hidup dengan tenang." Lirih suara Tang Shu terdengar di telinga Fu Chen.


Fu Chen tidak kuasa lagi menahan rasa haru-nya, buliran air mata mulai keluar. Fu Chen menangis sambil memeluk sang ayah, kepergian kali ini akan sangat lama dan berbahaya. Dirinya tidak tau, apakah masih bisa bertemu dengan keluarga dan warga Desa setelah ini.


"Aku berjanji ayah, aku akan menjaga pusaka ini layaknya menjaga nyawaku sendiri!"


Tang Shu mengelus kepala Fu Chen yang masih dalam pelukannya. Tidak ada kata lain yang terucap dari mulutnya selain kata 'maaf.'


"Berusahalah Chen'er, ayah akan menjaga adik dan ibumu disini," kata Tang Shu setelah cukup lama menenangkan Fu Chen dan dirinya sendiri.


Tang Shu menyerahkan cincin Bumi pada Fu Chen setelah melihatnya cukup tenang. Dia memegang kedua pundak Fu Chen untuk menguatkan tekad anaknya.


"Ayah tenang saja, aku akan berusaha semampuku!" Fu Chen menggenggam erat cincin di tangannya. Dia bertekad tidak akan membiarkan siapapun menyentuh cincin itu.


***


Fu Chen dan seluruh peserta yang terpilih menjadi murid sekte Pedang Suci sebelumnya, di antar menuju gerbang Desa saat sore hari. Tetua dan perwakilan sekte Pedang Suci lainnya telah menunggu disana.


Sepuluh orang anak itu di antar oleh keluarga mereka masing-masing. Kesepuluhnya kemudian di arahkan untuk menaiki kereta pengangkut yang di tarik oleh dua ekor kuda. Saat Fu Chen baru akan naik, Fu Mei memanggilnya dengan lantang.


"Kakak! Aku akan menyusulmu ke sana!" Fu Mei berteriak sambil tersenyum lebar di gendongan Tang Shu.


Fu Chen hanya tersenyum lembut lalu melambaikan tangannya untuk membalas perkatan Fu Mei. Sin Lou yang mendengar teriakan Fu Mei lekas mengeluarkan kepalanya dari dalam kereta, senyuman lebar terukir di wajahnya.


"Kau tenang saja Mei'er, aku akan menjaga calon kakak iparku ini!" Sin Lou berteriak lantang agar dapat di dengar oleh Fu Mei. Namun sayang, perkataannya itu hanya di balas dengan uluran lidah mengejek.


Fu Chen tidak menghiraukan ucapan Sin Lou, dia memperhatikan gerbang Desa yang semakin mengecil hingga akhirnya tidak terlihat lagi. Helaan napas kasar terdengar setelahnya, ini akan menjadi perjalanan yang sangat panjang dan penuh hambatan baginya.