
Wanita itu terus mundur beriringan dengan setiap Fu Chen berjalan mendekat. Wajah wanita itu ketakutan sambil menodongkan belati di tangannya.
"Jangan mendekat!" ancam wanita itu panik.
Fu Chen tidak menghiarukannya, dia terus melangkah dengan pasti.
"Aku bilang jangan mendekat! Atau aku-"
"Atau apa?" sergap Fu Chen memotong ucapan wanita itu.
"Sial! Apa-apaan bocah ini?" umpat wanita itu dalam hati. Wajah pemuda di hadapannya sangat dingin seolah dapat membunuhnya kapanpun.
Wanita itu kemudian melemparkan belati di tangannya sekuat tenaga dan berniat untuk kabur. Dia tidak melihat jika Fu Chen telah menangkap belati yang ia lemparkan dengan mudah.
"Aku sudah malas bermain kejar-kejaran…" kata Fu Chen sebelum melemparkan kembali belati yang dia tangkap.
"Ahk!" Wanita itu tercekat saat sebuah belati menancap di kakinya. Dia terjatuh dan merintih kesakitan.
"Jangan mendekat! Jika kau berani membunuhku maka kelompok Beruang Hitam akan mencarimu!" ancam wanita itu lagi dan terus merangkak mundur.
"Beruang Hitam?" Fu Chen menaikkan alisnya. Misi yang Xiao Jung ambil juga berkaitan dengan kelompok ini. Fu Chen tidak menyangka akan bertemu dengan anggota mereka begitu cepat.
"Jadi kau berasal dari kelompok itu?" tanya Fu Chen dan menghentikan langkahnya.
"B-benar… Aku adik Hang Guan sang pemimpin kelompok itu! Jika kau membiarkanku hidup maka aku akan melupakan kejadian ini!" Sahut wanita itu cepat. Wajahnya perlahan mulai membaik karena mengira Fu Chen telah takut setelah mendengar nama itu.
"Ah, identitasmu lebih baik dari yang ku kira," Kata Fu Chen sambil tersenyum penuh makna. "Aku akan mempertimbangkan untuk tidak membunuhmu…" Setelah selesai mengatakannya keberadaan Fu Chen tiba-tiba menghilang dan muncul kembali di belakang wanita itu.
"Tapi aku tidak bilang akan membiarkanmu pergi…" Fu Chen berkata dingin lalu menebas salah satu kaki wanita itu. "Dengan ini kau tidak akan bisa kabur!"
Wanita itu berteriak histeris, dia tidak menduga jika bocah di depan tadi tiba-tiba saja menghilang dan muncul kembali di belakangnya. Meski ia masih memiliki satu kaki, tapi kaki itu sudah tertancap oleh belati, mau bagaimanapun dirinya tidak akan bisa berjalan dengan normal setelah ini.
Fu Chen kembali melirik ke arah pertarungan Xiao Jung dengan para perampok yang ternayata sudah hampir selesai. Pertarungan itu berakhir dengan para perampok yang menyerahkan diri, mereka tentunya tidak ingin mati sia-sia dengan melawan seseorang yang tidak seharusnya mereka hadapi.
Xiao Jung kemudian mengambil pemanah yang masih tidak sadarkan diri di atas pohon. Dia mencari keberadaan Fu Chen sejenak dan menemukan pemuda itu sedang berjalan mendekat.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Xiao Jung sedikit cemas dan di jawab dengan sebuah anggukan kepala oleh Fu Chen.
"Masih ada dua anggota perampok di depan sana, senior bisa membawanya kemari. Aku akan mengambil yang masih ada di atas pohon," Kata Fu Chen sebelum pergi mengambil mayat para pemanah yang ia bunuh.
Xiao Jung memandangi Fu Chen dengan perasaan campur aduk, gaya bicaranya terasa berbeda. "Mungkin dia hanya kelelahan…" Batin Xiao Jung, ia mencoba untuk mengerti kondisi Fu Chen saat ini.
Xiao Jung di buat terkejut saat ia menghampiri tempat yang di tunjuk Fu Chen. Dia melihat sosok wanita yang tadi menjadi sandera sudah tergeletak tidak sadarkan diri dengan salah satu kaki yang terputus.
"Dia masih hidup…" Gumam Xiao Jung setelah memeriksa nadi wanita itu, kemudian ia mengikatkan sebuah kain pada bagian kaki wanita itu yang terpotong agar pendarahannya dapat berhenti.
Xiao Jung berjalan lebih jauh dan menemukan satu orang lagi dengan kondisi yang lebih mengenaskan. Xiao Jung menggelengkan kepalanya pelan sambil menghela nafas. Dia tidak menyangka anak yang biasanya terlihat sangat sopan itu akan begitu sadis dengan musuhnya.
Xiao Jung memeriksa denyut nadi orang itu dan mendapati bahwa dia sudah mati. Kemungkinan orang ini mati karena dia kehabisan darah akibat luka lebar di punggungnya dan kakinya yang terputus. Xiao Jung tidak melihat adanya luka lain yang membuat orang ini kehilangan nyawa selain itu.
"Biarkan kami membantumu, tuan…" Kata pemimpin pengawal saat melihat Xiao Jung membawa dua orang sekaligus.
"Apa maksud tuan pemuda tadi? Dia bilang akan mengambil satu orang lagi yang tertinggal," Jawab pengawal itu.
"Begitu ya…" Xiao Jung menganggukkan kepalanya. Dia hanya khawatir karena Fu Chen adalah tanggung jawabnya saat ini.
Mereka mengikat para perampok itu satu persatu, Xiao Jung juga menyarankan pada para pengawal itu menbawa kereta pengangkut milik para perampok untuk membawa mereka.
Lagi-lagi Xiao Jung hanya bisa menghela nafas pelan saat Fu Chen membawa sebuah mayat di punggungnya ketika ia kembali. Xiao Jung tidak menanyakan Fu Chen membunuh mereka karena ini pasti berat untuknya.
Para perampok itu tidak ada yang mati selain empat orang yang Fu Chen bunuh. Anak itu sedikit menjauh dari rombongan itu karena ia masih sedikit tertekan dengan apa yang ia lakukan. Mayat-mayat itu kemudian di kuburkan di dalam hutan karena tidak ingin menimbulkan bau tidak sedap kedepannya.
"Terimakasih pendekar, Jika tidak ada anda mungkin kami tidak akan selamat dari kejadian tadi…" Kata seorang pria paruh baya berusia sekitar 45 tahun. Orang ini adalah pedagang yang menyewa para pengawal itu.
"Bukan apa-apa, kami juga kebetulan melewati jalan ini," Balas Xiao Jung sambil tersenyum lembut.
"Jika pendekar berkenan, maukah anda makan malam bersama kami malam ini? Lagi pula hari sudah mulai petang, aku merasa tidak nyaman jika tidak menjamu anda…" Kata pedagang itu sopan.
Xiao Jung tersenyum canggung sambil menggaruk pipinya sejenak, dia kemudian melirik ke arah Fu Chen yang sedang bersandar di sebatang pohon dengan menyilangkan kedua tangannya.
Fu Chen menyadari tatapan itu, dia menganggukkan kepala untuk menjawabnya.
"Baiklah… kami akan merepotkanmu malam ini," Balas Xiao Jung sambil tertawa canggung.
Rombongan itu melanjutkan perjalanan mereka setelah membereskan semuanya. Fu Chen duduk di tempat paling belakang, dekat dengan para perampok itu di ikat, sedangkan Xiao Jung duduk di kereta kuda bersama si pedagang.
Pandangan Fu Chen terus terarah pada wanita yang tadi ia tebas kakinya, membuat wanita itu terus bercucuran keringat dingin dan tak berani bersuara.
Fu Chen hanya diam saja saat mendengar umpatan-umpatan yang di lontarkan para perampok itu. Satu hal yang ia pelajari dari sini, para perampok ini tidak menyesali perbuatan mereka meski sudah menyerahkan diri. Fu Chen juga belum memberitahukan pada Xiao Jung jika perampok ini adalah bagian dari kelompok yang mereka cari.
"Hei, siapa namamu?" Tanya Fu Chen yang membuat Para perampok itu terdiam. Mereka saling berpandangan satu sama lain karena tidak jelas siapa yang Fu Chen tanyakan.
"Kau yang memimpin perampokan ini kan?" Tanya Fu Chen lagi.
"Benar, apa lagi yang kau mau boc-"
"Bukan kau yang aku maksud!" Fu Chen memotong perkataan pria kekar yang sebelumnya mengaku sebagai ketua perampok ini.
Pria kekar itu menelan ludahnya saat melihat tatapan Fu Chen begitu dingin. Wanita yang sejak tadi terdiam melirik ke arah Fu Chen karena merasa dirinya lah yang di maksud pemuda ini.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya wanita itu dengan nada yang bergetar.
"Siapa namamu?" Fu Chen mengulangi pertanyaannya, cara bicaranya sedikit melunak.
"Hang Xie…"Balasnya singkat.
Fu Chen tersenyum tipis dan berniat melanjutkan pertanyaan lainnya. "Tenang saja, aku tidak akan memotong kakimu yang tersisa jika jawabanmu cukup memuaskan," Kata Fu Chen sambil mengelus sarung pedangnya.
"Jaga bicaramu bocah!" Sergap pria kekar itu kembali. Dia terlihat sangat marah saat melihat Fu Chen tertawa kecil mendengar peringatannya.
Tentu saja Fu Chen hanya menggertak dengan ucapannya, dia sendiri sebenarnya tidak ingin menebas kaki wanita itu jika tidak terpaksa.