Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.92 - Ujian Tak Tertulis


Setelah Fu Chen menyudahi istirahatnya, ia segera menghampiri tetua Li yang ada di lantai lima. Fu Chen menarik napas sejenak sebelum melangkahkan kaki untuk masuk ke ruangan tetua Li.


Fu Chen begitu gugup, takut jika tetua Li tidak ingin mengangkatnya sebagai murid sebab dirinya tidak mengenal tetua lainnya.


"Duduklah Chen'er," ucap tetua Li yang memang sudah menyadari keberadaan Fu Chen sejak ia memasuki lantai lima.


Fu Chen duduk secara perlahan, entah mengapa perasaan takut mulai muncul sebab tetua Li terus membelakanginya.


"Bagaimana misi pertamamu Chen'er? Aku tidak menyangka kau begitu cepat menjadi murid dalam dan menjalin hubungan yang cukup dekat dengan seorang Tuan Muda keluarga Xiao."


Tetua Li memutar kursinya dan meletakkan beberapa lembar kertas yang baru saja ia baca. Di balik senyumnya yang begitu hangat ia sedang menyembunyikan rasa terkejut karena aura dari tubuh Fu Chen terasa sedikit berbeda.


Fu Chen hanya tersenyum canggung sambil mengusap tengkuk lehernya mendengar perkataan tetua Li. Bagi Fu Chen, jika tetua Li sudah mengetahui tentang misinya maka tetua itu pasti sudah menerima laporan setiap bagian penting dari misi itu. Sehingga Fu Chen tidak perlu menceritakannya lagi.


"Bagaimana menurutmu Chen'er?" Tetua Li tiba-tiba bertanya.


"Hmm? Maksud… tetua?" Fu Chen sedikit memiringkan kepala, tidak paham atas pertanyaan itu.


"Pemuda Xiao itu, bukankah kau cukup dekat dengannya? Mungkin saja kau tertarik untuk menjadi murid tetua Xiao Tian dan membangun relasi dengan keluarga Xiao. Dengan bakatmu itu aku yakin mereka akan menerimamu."


"Itu tidak benar, tetua." Fu Chen buru-buru menyahut.


"Kedekatan kami hanya sebatas rekan, sama sekali tidak ada niatan bagiku untuk menjalin hubungan seperti yang tetua maksudkan."


Tetua Li terkekeh pelan mendengarnya. "Keteguhan hati keturunan klan Tang memang tidak di ragukan, tapi ini belum cukup untuk mengujinya," batin tetua Li ketika melihat sorot mata Fu Chen.


"Orang yang tangguh tidak perlu berbicara lantang untuk membuktikan kekuatannya. Orang yang memiliki keyakinan tinggi tidak perlu mencari cara untuk menunjukkan keteguhan hati di hadapan sang tuan," ucap tetua Li sambil menulis sesuatu di selembar kertas.


Fu Chen hanya terdiam mendengarkan tetua Li berbicara, ia percaya setiap kalimat yang ia ucapkan memiliki makna yang luas.


"Kau tidak akan mengerti kalimat itu jika hanya dengan memahaminya. Ada saat di mana seluruh pemahamanmu akan sirna… akan ada saat di mana kau hanya berpegang pada sesuatu yang lebih tinggi dari keyakinan."


Tetua Li kemudian melipat kertas yang baru saja ia tulis dan mengikatnya pada kaki seekor burung yang bertengger di jendela di belakangnya.


"Sesuatu yang lebih tinggi dari keyakinan?" Fu Chen bergumam pelan, "Apakah itu tekad?" tanya Fu Chen sambil terus berpikir.


"Apa kau yakin?" Tetua Li bertanya balik sambil memandangi burung merpati yang mulai terbang menjauh.


"Emh…" Fu Chen menggaruk kepalanya yang mulai terasa gatal.


"Haha… inikah yang kau sebut tekad saat kau sendiri masih ragu akan jawabanmu?" Tetua Li menggelangkan kepalanya perlahan.


Fu Chen hanya bisa diam mendengarnya, ia sadar atas kesalahannya namun memang tidak bisa di pungkiri jika keraguan itu masih melekat.


"Kau bisa memikirkannya lain waktu, dan bila kau berhasil menemukan jawabannya maka aku akan menceritakan beberapa hal yang aku tahu tentang klan-mu dan juga cincin itu." Tetua Li menunjuk cincin yang ada di ibu jari Fu Chen.


"K-kau-! Dari mana tetua mengetahuinya?!" Mata Fu Chen melebar tidak percaya, tubuhnya sontak melompat ke belakang dan mengeluarkan pedang yang tersimpan di cincin Bumi miliknya.


"Haha… reaksimu lebih cepat dari dugaanku, tapi seharusnya kau pura-pura tidak tahu saja karena lawanmu jauh lebih kuat dari perkiraanmu." Tetua Li beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati Fu Chen.


Aura yang terpancar dari tetua Li membuat Fu Chen tidak dapat menggerakan tubuhnya. Aura itu terasa semakin berat saat tetua Li berada tepat di sampingnya.


"Pedang yang menarik, tapi apa kau yakin ingin melawanku dengan pedang seperti ini? Jika aku memang berniat mengambil cincinmu, apa perlu aku melakukan semua ini?" Tetua Li kemudian menarik kembali aura miliknya.


"Mungkin jawaban yang tepat adalah menyerah. Tapi klan Tang yang aku kenal tak pernah mengatakannya dalam setiap pertarungan mereka. Mereka percaya jika lebih baik mati dalam pertempuran dari pada hidup dalam pelarian." Tetua Li tersenyum tipis.


Tetua Li berjalan menuju pintu, namun sebelum pergi ia kembali berpesan, "Setelah semua ini, apa kau masih yakin ingin menjadi muridku? Pikirkan baik-baik! Murid yang berbakti adalah murid yang tak menyimpan rahasia pada gurunya."


"Hidup dalam pelarian?" Fu Chen bergumam pelan.


Napas Fu Chen sedikit memburu, matanya terpejam sambil berusaha menahan amarah namun perkataan tetua Li sungguh membuatnya tersinggung.


"Klan Tang yang kau kenal kini hanya sebuah sejarah, mereka tidak pernah melarikan diri! Mereka hanya melindungi kepercayaan mereka dengan terus bertahan hidup! KAU TIDAK TAHU APA-APA TENTANG MEREKA!!"


Fu Chen menggertakkan giginya sambil menggenggam erat pedang yang ia pegang. Amarah itu membawanya kepada satu keputusan yang bulat.


"Aku akan membuktikannya! Tepat di depan matamu akan ku buktikan jika klan Tang akan segera bangkit!"


***


"Apa kau sudah memutuskan misi apa yang akan kau ambil?" Kyoto bertanya pada Sin Lou karena anak itu terus membahasnya sepanjang malam.


"Belum… Aku tidak menemukan misi yang sesuai dari daftar minggu ini." Sin Lou mendesah pelan, ia cukup kecewa karena daftar misi hanya di perbarui setiap dua minggu sekali.


"Huh… misi macam apa yang kau cari sebenarnya?" Kyoto menghela napas panjang.


"Apa kau tidak mendengar cerita Fu Chen? Ia pergi bersenang-senang ke Ibu Kota padahal misinya telah selesai. Setidaknya aku ingin mencari misi yang mudah dengan batas waktu yang cukup lama," gerutu Sin Lou lalu memayunkan bibirnya.


"Misi seperti itu tidak mungkin ada." Kyoto meledek Sin Lou dengan ikut memayunkan bibirnya. "Lagipula apa kau memiliki uang yang cukup untuk bersenang-senang?"


"Tentu saja tidak," sahut Sin Lou cepat. "Apa kau tidak merindukan Desa? Kita sudah cukup lama tinggal di sekte ku rasa ini waktu yang tepat untuk pulang ke sana."


"Yah, kau benar…" Kyoto menyahut, keduanya kemudian menghela napas secara bersamaan.


Kyoto kemudian teringat dengan teman-temannya yang lain, sepengetahuannya diantara mereka bersepuluh, hanya dirinya serta Fu Chen dan Sin Lou yang sudah menjadi murid dalam.


"Bagaimana dengan Qiao Wu? Bukankah dia selalu berada di sekitaran lingkungan murid dalam?" Sin Lou bertanya.


Kyoto menghela napas pelan saat mendengar nama Qiao Wu, "Entahlah, aku tidak terlalu perduli dengan anak itu, bahkan untuk berbicara dengannya saja cukup sulit."


Sin Lou justru menampilkan seringai tipis dari wajahnya mendengar jawaban Kyoto.


"Ayolah… kau selalu saja kaku pada wanita, terutama Qiao Wu. Apa kau tidak senang jika ia dekat dengan senior itu? Karena kau sudah menjadi murid dalam sebaiknya kau tantang senior itu untuk membuktikan pada Qiao Wu bahwa kau lebih kuat darinya."


"Diamlah! Ocehanmu itu tidak berguna!" Kyoto mendengus kesal.


"Hahaha… jadi itu benar?" Sin Lou semakin kegirangan.


"Aku bilang Diam!" Kyoto tidak tahan lagi dengan kekesalannya, ia melayangkan sebuah pukulan keras namun dapat dengan mudah di tahan oleh Sin Lou.


Tawa Sin Lou semakin keras, "Aku akan melaporkannya pada Fu Chen. Hahaha…!"


.~~


Maaf ya kalau updatenya agak renggang, othor susah nyari sinyal🙏