Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.48 - Boneka Kayu


Tao Lin dan tetua Mao sedang berjalan menuju aula administrasi. Keduanya sudah bersiap-siap sejak matahari masih di ufuk timur. Langkah Tao Lin nampak sangat percaya diri dan begitu bersemangat.


"Pertarunganku dengannya sangat menyenangkan. Tidak banyak kesempatan untuk bertarung dengan orang sehebat itu." Tao Lin bergumam sambil membayangkan pertarungannya dengan Fu Chen.


Luka-lukanya sudah sembuh, bahkan anak ini tertarik untuk duel sekali lagi.


Tetua Mao yang mendengarnya hanya bisa menggelengkan kepala, pelan. Muridnya ini justru akan semakin tertantang untuk melawan orang yang lebih kuat darinya, meski berisiko tinggi.


"Kau akan segera bertemu dengannya nanti," ucap tetua Mao sambil tersenyum simpul.


"He? Siapa?" tanya Tao Lin kebingungan.


"Orang yang baru saja kau pikirkan. Bukankah kau sangat ingin bertemu dengannya?" Pancing tetua Mao.


Tao Lin mengalihkan pandangan sambil mengusap hidungnya yang tidak gatal. "Apa guru juga bisa membaca pikiranku?" Tanya Tao Lin, malu.


Tetua Mao tertawa kecil, "suaramu bisa ku dengar dengan jelas …, lagipula anak itu juga akan melakukan ujian pagi ini, bersamaan denganmu."


Tao Lin sedikit terkejut dengan ucapan gurunya. Sepengetahuannya, pemuda yang ia lawan adalah murid inti. Tapi kenapa ia masih ingin melakukan ujian? "Kenapa? Apa dia juga mempertaruhkan tokennya?" Tanya Tao Lin.


"Ha ha ha!" Tawa tetua Mao menjadi lebar. "Sejak awal dia memang hanya seorang murid luar. Kau bahkan tidak membiarkan dia berbicara lebih banyak saat menantangnya. Itu salahmu sendiri."


"Ah itu benar juga." Tao Lin tersenyum kecut. "Aku bahkan belum berkenalan dengannya," ucap Tao Lin, murung. "jadi aku di kalahkan oleh murid luar? Aaahh! Ini memalukan sekali!" Teriak Tao Lin frustasi. Ia juga sudah mendengar berita kekalahannya yang menjadi perbincangan hangat di kalangan murid dalam. Reputasinya terasa hancur.


***


Fu Chen telah menunggu pasangan guru dan murid itu cukup lama. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan ini karena terlambat. Usahanya berbuah manis saat melihat tetua Mao membuka pintu aula.


"Oh … kau datang lebih awal ternyata, murid Fu." Tetua Mao menyapa lebih dulu.


"Tidak juga … aku tiba beberapa saat sebelum tetua datang." Fu Chen tersenyum canggung. Ia terpaksa berbohong meski telah menunggu lebih dari dua jam.


"Jadi margamu Fu?" Sahut Tao Lin lalu menyambar tangan Fu Chen untuk bersalaman dengannya. "Perkenalkan! Namaku Tao Lin! Aku salah satu yang terkuat di murid dalam!" Ucapnya sambil membusungkan dada.


Fu Chen hanya bisa tertawa hambar. Setitik keringat keluar dari keningnya. "Ahaha … aku Fu Chen, aku bukan siapa-siapa," jawab Fu Chen sambil berusaha untuk melepaskan tangannya.


"Sudah-sudah! Kau terlalu kasar pada juniormu, Tao Lin." Tetua Mao berusaha melerai keduanya, ia lalu membawa mereka menuju salah satu meja administrasi.


Tempat adiministrasi ini di sebut sebagai paviliun mahkota muda. Tempat ini selalu ramai karena ini adalah tempat bagi murid-murid untuk memilih misi dan melakukan ujian seperti yang Fu Chen dan Tao Lin akan lakukan.


Para tetua tidak dapat mengambil misi dari sini, mereka hanya mendapat misi langsung dari ketua sekte. Bahkan misi untuk murid inti juga di bedakan dengan yang lainnya.


"Bagamaina kabarmu, murid Shi?" Sapa tetua Mao pada seorang resepsionis.


Resepsionis itu menghentikan pekerjaanya lalu mengalihkan pandangannya pada tetua Mao. "Seperti biasa tetua Mao. Pekerjaanku sangat banyak disini," desah gadis itu, mengeluh dengan kesibukan yang ia jalani.


Tetua Mao tertawa kecil. "Tidakkah cara bicaramu itu terlalu santai kepada seorang tetua sepertiku?"


Gadis bernama Shi itu memutar bola matanya Lalu mengubah posisinya agar terlihat lebih sopan. "Apa yang bisa saya bantu untuk anda, tetua?" Tanya gadis itu lebih sopan.


Gadis itu berusia sekitar 24 tahun dari wajahnya. Dia sebenarnya adalah seorang murid inti. Dia mendapatkan posisi itu bukan dengan kekuatannya, melainkan kecerdasan yang ia miliki.


Sekte Pedang Suci tidak hanya nelatih murid-muridnya menjadi seorang pendekar. Namun mereka juga memberikan pelajaran khusus untuk mereka yang memiliki potensi menjadi sarjana.


Tetua Mao menyunggingkan senyumnya. "Tolong siapkan ujian murid dalam untuk mereka. Aku yang akan menjadi saksi nantinya!" Pintanya.


"Ujian murid dalam masih sangat lama, tetua Mao. Apa mereka mempunyai token murid dalam untuk di tukarkan?"


"Tentu saja, aku tidak melupakan aturan itu." Balas tetua Mao.


Gadis itu menghela nafasnya sejenak. "Sudah kuduga. Tetua Mao sangat suka membesarkan berandalan seperti mereka, ya?" Meski berkata demikian, ia tetap melakukan permintaan tetua Mao.


"Iya-iya aku paham. Muridmu cukup terkenal di kalangan murid dalam. Dia benar-benar seorang berandalan!" Sahut gadis itu sambil menyiapkan sesuatu.


"Nah kalian berdua, ujiannya sedang di persiapkan. Mohon tunggu sebentar."


Fu Chen menganggukkan kepalanya, sedangkangkan Tao Lin menguap sambil mengorek lubang hidungnya.


Setelah munggu beberapa saat. Fu Chen dan Tao Lin di bawa ke sebuah ruangan tertutup. Keduanya di pisahkan di ruangan yang berbeda.


Ujian pertama mereka hanyalah ujian tertulis. Peraturan ini sengaja di buat agar para murid yang terpilih adalah mereka yang memahami dunia luar. Pihak sekte Pedang Suci tidak ingin muridnya mengambil misi tanpa mengetahui konsekuensinya.


Pertanyaan-pertanyaan di setiap soal itu terasa mudah bagi Fu Chen. Ia dapat mengerjakannya kurang dari 20 menit. Itu karena soal yang ia kerjakan hanya membahas hal-hal umum di dunia persilatan. Dia bahkan sudah mengetahui lebih dari itu berkat sering membaca di perpustakaan.


Begitu juga dengan Tao Lin, dia keluar dari ruang ujian hampir bersamaan dengan Fu Chen. Ujian murid dalam memiliki tiga tahap. Jika tahap pertama mengukur pengetahuan, maka tahap kedua akan menguji kekuatan mereka.


Kali Ini Fu Chen dan Tao Lin di arahkan ke ruangan yang sama. Di dalam ruangan itu cukup luas, ada semacam pembatas di setiap lorongnya.


Pada ujian Kedua, Fu Chen dan Tao Lin harus menghancurkan 7 buah boneka kayu. Masing-masing boneka itu memiliki kekuatan yang setara dengan pendekar kelas tiga tahap menengah. Berat mereka setidaknya mencapai 500 kilogram. Wujud mereka juga menyerupai manusia.


Fu Chen terkejut saat mengetahui lawannya adalah benda mati. "Boneka Kayu?"


"Jangan remehkan kekuatan mereka! Boneka itu bisa menyerangmu layaknya manusia pada umumnya!" Peringatan dari tetua Mao membuat Fu Chen menaikan alisnya.


"Apa benar benda ini bisa bergerak? Aku pernah membacanya, tapi melihatnya secara langsung sungguh berbeda." Fu Chen bergumam sambil memandangi ketujuh boneka yang masih diam di tempat mereka.


"Batas waktu kalian hanya 20 menit untuk mengalahkan mereka!" Setelah tetua Mao mengakhiri ucapannya. Seketika mata seluruh boneka disana bernawarna merah menyala.


Fu Chen mengambil dua langkah ke belakang saat melihatnya. Di sisi lain, Tao Lin langsung saja menerjang ke arah boneka-boneka yang ada di lorongnya. Dia sudah pernah melakukan ini sebelumnya, sehingga dia cukup percaya diri.


Fu Chen juga mulai menyerang. Gerakan boneka itu cukup lamban, membuat gerakan mereka muda terbaca.


Tetua Mao hanya bisa tersenyum kecut melihat muridnya sangat bersemangat menghancurkan boneka-boneka itu.


"Muridmu tidak pernah berubah, tetua Mao," ucap gadis resepsionis sebelumnya. Dia masih mengawasi mereka karena ialah yang menyiapkan ujian ini.


Tetua Mao tertawa hambar mendengarnya. "Dia hanya berusaha untuk menikmatinya," balas tetua Mao, tidak ingin membahasnya lebih lanjut.


"Tapi pemuda yang satu itu cukup berhati-hati. Dia sangat berbeda dengan muridmu," sahut gadis itu saat melihat ke arah Fu Chen. "Apa anda ingin mengambilnya juga?"


Tetua Mao tidak segera menjawab, dia memperhatikan Fu Chen sejenak. "Entahlah … aku tidak yakin dia tidak memiliki hubungan dengan tetua lainnya. Kau tahu? Di mendapatkan token itu dari Tao Lin!" Desah tetua Mao, merasa jika sudah ada yang memperhatikan Fu Chen lebih dulu sebelum dirinya.


"Jadi begitu…" Gadis itu menganggukan kepalanya. "Dia memiliki potensi yang besar kedepannya."


Tetua Mao tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya dan mengamati pertempuran Fu Chen.


Fu Chen sendiri sudah menghabiskan waktu sekitar dua menit untuk mengamati lawannya. Ia tau boneka ini memiliki pola gerakan yang sudah di atur. Membuat Fu Chen dapat dengan mudah menyerang mereka, namun yang menjadi masalah adalah pertahanan mereka yang cukup kokoh.


Beberapa pukulan Fu Chen bahkan hanya menghasilkan retakan di boneka itu. "Aku mengerti sekarang. Jadi maksudnya ujian kekuatan adalah dengan menghancurkan boneka-boneka ini."


"Seharusnya ada satu titik yang lemah. Tapi dimana?" Fu Chen menelisik satu per satu boneka di hadapannya, "perut? Kepala? Atau dada?" Gumamnya sambil menghindari beberapa serangan.


"Tidak, bukan ketiganya!" Seru Fu Chen sebelum melepaskan tendangan pada tulang belakang salah satu boneka. Membuat boneka itu langsung ambruk begitu saja.


"Ah… dia menebaknya dengan benar…" ujar tetua Mao dan Gadis resepsionis bersamaan.


Fu Chen tersenyum tipis, lalu melanjutkan aksinya. Boneka-boneka disana selalu menghindar saat Fu Chen membelakangi mereka. Selain itu, mereka juga saling memunggungi satu sama lain. Tebakan Fu Chen pun benar karena hasil dari pengamatannya.


Dengan mengandalkan ilmu Langkah Bayangan, Fu Chen mampu menumbangkan enam boneka yang tersisa kurang dari satu menit.