Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.23 - Merah Merona


Tang Shu dan Fu Chen berangkat menuju Desa saat hari mulai petang. Seperti biasa, perjalanan mereka memakan waktu dua hari menunggangi kuda. Hal pertama yang di lakukan Fu Chen ketika sampai di Desa adalah menghampiri makam Bibi Fei.


Dirinya terdiam memandangi batu nisan yang bertuliskan nama Ning Fei. Dalam hati, Fu Chen berjanji akan membalaskan kematian Bibi Fei.


"Bibi tenanglah disana, aku berjanji akan menemukan Xuan Rong!" Fu Chen bertekad dalam hatinya. Setelah merasa cukup, Fu Chen dan Tang Shu segera pulang.


Saat sampai di Desa, keduanya di sambut bahagia oleh keluarga mereka. Disana juga ada Sin Lou yang memang ingin melihat perkembangan Fu Chen. Fu Mei yang tidak tahan lagi segera memeluk kakaknya dengan erat.


"Hahaha… kau semakin besar, Mei'er" Fu Chen tertawa bahagia, sudah lama dia tidak melihat adiknya itu.


"Hei, Fu Chen… apa kau melupakan temanmu ini?" Sin Lou menggerutu karena dirinya seolah tidak di anggap sama sekali disana.


"Kau… kau siapa?" Fu Chen sebenarnya juga menyadari keberadaan Sin Lou, dirinya hanya malas menyapa pemuda itu.


"kau!" Dahi Sin Lou terasa berkedut mendengar partanyaan itu, apalagi wajah Fu Chen yang polos itu sungguh membuatnya jengkel.


Seolah tidak memperdulikan Sin Lou, Fu Chen justru mengajak Fu Mei untuk berkeliling Desa. "Apa kau mau mengantarku? aku sudah lama tidak melihat kondisi Desa."


"Apa kakak tidak mau istirahat?"


"Em…" Fu Chen menggelengkan kepalanya, "kakak bahkan masih bisa berlari sepanjang hari jika kakak mau."


"Benarkah, kalau begitu kita berangkat!" Fu Mei begitu semangat menjawabnya, ia juga meminta oleh-oleh dari Fu Chen.


"Apa kau tidak mengajakku?" Sin Lou merasa tidak berada dalam obrolan itu.


"Apa kau mau kakak gendong?" Fu Chen tidak menghiraukan pertanyaan Sin Lou.


"Benarkah?" Fu Mei menjawab antusias.


"Hei! aku masih disini, kau tau!" Sin Lou berteriak kesal.


"Ya, cepatlah!" Fu Chen menjawab pertanyaan Fu Mei.


Fu Mei naik di punggung kakaknya dengan senyum bahagia. Fu Chen kemudian segera berlari menjauhi Sin Lou yang masih mengumpat disana.


"Sialan! tunggu aku!" Sin Lou kemudian segera berlari mengejar Fu Chen ketika menyadari Fu Chen sudah tidak ada di hadapannya.


Fu Mei terkejut dengan kakaknya yang dapat berlari dengan cepat, padahal dirinya sedang berada di gendongannya.


Xin Xue terkekeh kecil melihat kelakuan anaknya, "apa kau juga ingin menyusul mereka?" Xin Xue bertanya pada Tang Shu.


"Tidak perlu, biarkan mereka bersenang-senang, kita pulang saja" Tang Shu merangkul pundak istrinya dan berjalan pulang.


Malam harinya, keluarga Tang Shu dan Sin Zhou berkumpul untuk mengadakan makan malam. Mereka melakukanmya hanya untuk melepaskan kerinduan masing-masing.


"Bagaimana keadaanmu selama di hutan Chen'er?" Tanya Sin Zhou penasaran, ia teringat anaknya begitu ketakutan ketika di antar pulang oleh Tang Shu dulu.


"Itu cukup menyenangkan, apalagi aku bisa berlatih sepuas hati disana." Fu chen menjawabnya santai.


"Ah, begitukah…" Sin Zhou kemudian menatap anaknya setelah mengatakannya.


Sin Lou lekas mengalihkan pandangannya sambil bersiul untuk menghindari tatapan Sin Zhou. Dia sudah merasa tidak nyaman ketika Sin Zhou membahas hal itu sebelumnya.


"Hentikan siulanmu itu Lou'er, apa kau lupa pantangan di Desa kita?" tegur Nihao Ni yang tidak lain adalah ibu Sin Lou.


"Ahah… maaf, aku lupa." Sin Lou tertawa canggung sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.


Mereka memulai makan malam itu dengan penuh canda tawa, sesekali Sin Lou juga menyinggung perkembangan Fu Chen. Tapi Fu Chen hanya menjawab, bahwa ia ingin memberikan kejutan saat seleksi nanti.


***


"Mei'er sudah besar ya… kurasa akan cocok dengan Sin Lou nanti." Celetuk Nihao Ni saat memperhatikan Fu Mei yang membantunya membereskan meja makan.


"Hahaha… itu benar, Mei'er memang cocok untuk menjadi menantu ayah nanti." Sin Zhou tertawa puas membayangkan ayah dari menantunya adalah Teman dekatnya sendiri.


Sontak saja pipi Sin Lou dan Fu Mei merona mendengar ucapan Sin Zhou. Sin Lou memandangi ayahnya dengan tersenyum lebar, seolah menyetujui usulan ayahnya.


Fu Mei yang mengetahui maksud Sin Zhou hanya bisa menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah. Dia kemudian berjalan mendekati Fu Chen.


"Aku tidak akan setuju jika Mei'er menikah dengan mata keranjang sepertinya…" Fu Chen menunjuk ke arah Sin Lou dengan dagunya. Ia merasa Fu Mei meminta bantuannya karena menghampirinya.


"Ayolah kawan, apa kau tidak ingin memiliki kakak ipar sekuat diriku?" Sin Lou kemudian mulai memperlihatkan otot otot lengannya. Ia begitu membanggakan hal itu setelah berlatih beberapa bulan terakhir.


Fu Chen yang melihatnya justru semakin menguatkan tekadnya untuk tidak menjodohkan adiknya dengan pemuda itu. "Tidak akan!" Jawab Fu Chen singkat.


"Itu benar!" Fu Mei berkata dengan penuh percaya diri di belakang kakaknya, tangannya kemudian merangkul leher Fu Chen dari belakang. "Aku hanya mencintai kakak ku!"


Suasana langsung hening setelah Fu Mei mengakhiri kalimatnya. Pipi Fu Mei kemudian kembali memerah menyadari ucapannya, ia membenamkan wajahnya di pundak Fu Chen untuk menutupi rasa malunya.


Fu Chen tersedak ludahnya sendiri, terkejut mendengar ucapan Fu Mei yang menimbulkan suasana canggung itu.


"Apa maksudmu Mei'er?" Fu Chen berkata dengan sedikit terbata-bata. Fu Mei tidak menjawabnya, ia masih tertunduk malu di pundak Fu Chen, tangannya kemudian semakin erat memeluk leher Fu Chen.


Fu Chen yang merasa lehernya tecekik hanya bisa tersenyum pahit, lalu mengelus kepala adiknya dan mengingatkan untuk tidak mencekik kakaknya sendiri.


"Ahah… kurasa ini terlalu cepat untuk Mei'er, dia juga masih belum tau apa-apa akan hal ini." Sin Zhou tertawa canggung, ia juga tidak mempermasalahkan ucapan Fu Chen yang menyinggung anaknya. Dia justru membenarkan hal tersebut dalam hati.


"Iya itu benar… jadi lupakan ya, Mei'er?" Nihao Ni merasa bersalah, dirinya lah yang membuka obrolan ini. Namun, tentu saja kejadian ini tidak akan mudah bagi Fu Mei untuk melupakannya.


Fu Mei menggelengkan kepalanya pelan yang masih berada di pundak Fu Chen. Fu Chen merasa canggung dengan hal ini, ia akhirnya membuka suara kembali.


"Aku akan mengantar Mei'er ke kamar. Jadi kalian bisa lanjut mengobrol" Fu Chen menggaruk pipinya lalu mengantar Fu Mei ke kamar dengan menggendongnya.


"Kurasa dia memang menyukai kakaknya…" Tang Shu tertawa canggung, dia merasa harus mengenalkan Fu Mei dengan pemuda lain saat ia dewasa.


"Haha… itu akan menjadi urusan yang rumit," Sin Zhou kemudian bangkit dari duduknya. "Kami akan pulang, lagipula malam sudah semakin larut, terimakasih untuk makan malamnya."


"Tidak perlu sungkan, sampai jumpa!" Tang Shu membungkuk memberikan hormatnya. Tang Shu kemudian segera menutup pintu rumahnya saat Sin Zhou dan keluarganya tidak terlihat lagi.


***


Hari yang di nanti-nanti telah tiba, warga Desa kembali berkumpul di stadium untuk menyaksikan perwakilan Desa mereka masuk ke sekte Pedang Suci. Perwakilan sekte Pedang Suci juga sudah ada disana.


Hanya perlu menunggu kata sambutan dari Xiao Jung selesai, maka seleksi itu akan segera dimulai.


"Para hadirin sekalian, kurasa aku tidak perlu memperkenalkan diri lagi bukan?" Xiao Jung berkata dengan sedikit mengalirkan Qi untuk memperkeras suaranya.


"Aku akan langsung menjelaskan peraturannya, peserta yang ikut bertanding adalah mereka yang terpilih sebelumnya. Jadi yang merasa dirinya terpilih segera menuju arena yang terdapat meja disana!" Xiao Jung menunjuk meja pendek yang terdapat alat tulis di atasnya.


Tetua yang hadir kali ini hanya tiga orang, dua di antara mereka bertugas menilai tulisan serta kemampuan membaca peserta. Sedangkan satu orang lainnya bertugas mengatur alat yang akan di gunakan untuk mengetes kekuatan peserta.


30 orang peserta yang sebelumnya terpilih segera memilih meja mereka masing-masing. Semua dari mereka merasakan perasaan gugup, bahkan untuk Fu Chen sekalipun.


Sin Lou memilih untuk duduk di samping Fu Chen, ia berharap pemuda itu mau membantunya. Fu Chen baru sadar jika peserta yang lolos ternyata juga ada seorang gadis. Fu Chen memperhatikan sekelilingnya dan hanya satu gadis yang lolos dan saat ini sedang duduk membelakanginya.


"Saya akan menjelaskan aturannya, kalian harus menulis kalimat yang di berikan oleh panitia dengan kuas yang disediakan. Jangan lupa untuk menuliskan nama kalian disana, lalu pergilah pada salah satu Tetua untuk tes selanjutnya, yaitu membaca!" Panitia yang di sebut Xiao Jung adalah Murid inti lainnya dari sekte Pedang Suci yang bertugas disana.


Seluruh peserta mengangguk mengerti, mereka kemudian menuliskan kalimat yang telah disediakan di meja masing-masing.


Setelah menunggu sekitar setengah jam, anak perempuan di depan Fu Chen berdiri dan mendekati salah satu Tetua untuk melakukan tes selanjutnya. Dia kemudian disusul oleh Fu Chen dan Kyoto, sedangkan Sin Lou masih berusaha untuk menulis kalimat terakhirnya.


Entah mengapa, tapi Fu Chen selalu berada di belakang gadis tersebut. Dia berniat memilih Tetua lainnya sebelumnya, namun langkah Fu Chen kalah cepat dengan Kyoto.


Gadis di hadapan Fu Chen melirik ke arahnya, mata coklatnya yang besar membuat Fu Chen terpesona. Melihat Fu Chen yang melamun, gadis itu mencoba untuk menyadarkan Fu Chen. Gadis itu melambaikan tangannya di depan wajah Fu Chen.


Fu Chen segera tersadar dari lamunannya dan menjadi salah tingkah. "Ah, eh… ya ada apa?" tanya Fu Chen sambil menggaruk tengkuknya, ingin sekali ia mencari lubang dan bersembunyi disana untuk menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah.


Gadis itu yang melihat rekasi Fu Chen yang salah tingkah membuatnya tertawa kecil. Melihat gadis itu menahan tawanya dengan tangannya membuat wajah Fu Chen semakin memerah.


"Tidak ada…" gadis itu menjawab pertanyaan Fu Chen sebelumnya. "Perkenalkan, aku Qiao Wu." Gadis itu tersenyum manis sambil mengulurkan tangannya.


Fu Chen terpesona dengan senyuman gadis itu, itu adalah senyuman termanis yang pernah ia lihat setelah ibu dan adiknya.


"Eh… p-perkenalkan a-aku Fu Chen, s-senang berkenalan denganmu…" Fu Chen tersenyum canggung sambil menjabat tangan gadis itu. Ia mengumpat dalam hati karena tidak biasa di situasi seperti ini.