
***
"Sepertinya aku sudah tidak bisa menyembunyikannya lebih lama lagi…" Dou Huang menghela napas panjang seraya menggeleng pelan.
Berkat ucapan Feng Bian sebelumnya, Fu Chen akhirnya dapat mengerti alasan mengapa Dou Huang tidak ingin menjelaskan semuanya dengan rinci. Fu Chen juga terkejut saat pertama mendengar nama Iblis itu tapi setelah satu hari beristirahat, pikiran Fu Chen terasa lebih jernih.
Fu Chen ingin tahu lebih banyak tentang misinya tapi Dou Huang segera menolak, Dou Huang ingin Fu Chen untuk mencermati informasi yang diterimanya lebih dulu, lalu setelahnya Dou Huang akan menjelaskan misi Fu Chen seiring berjalannya waktu.
Setelah beberapa hari merenungi informasi di kepalanya, sikap Fu Chen terlihat lebih dewasa. Dou Huang menduga perubahan itu dikarenakan ingatan yang di terima Fu Chen.
Gambaran mengerikan yang terus terngiang di kepala Fu Chen nampaknya telah membuka matanya, tentang betapa keji dan naifnya sifat manusia.
Fu Chen memejamkan matanya, jika dipikir-pikir, keberadaan aliran Hitam dan aliran Putih terasa seperti permainan anak-anak setelah dirinya menerima ingatan Dou Huang.
Fu Chen sebenarnya sudah menduga misi seperti apa yang akan di berikan Dou Huang, tapi mendengarnya secara langsung masih membuat hatinya bergetar.
Misi Fu Chen tidak lain adalah untuk menghentikan Iblis yang kemungkinan akan bangkit tidak lama lagi. Iblis itu masih tersegel sampai saat ini namun tidak ada jaminan segel itu akan bertahan lebih lama.
"Karena sudah sejauh ini, aku akan memberitahumu satu hal lagi…" Dou Huang mendesah pelan setelahnya, "Apa kau masih ingat tentang sosok lain yang menghuni tubuhmu?"
"Hm…" Fu Chen merenung sembari mengelus dagunya, "Aku ingat, karena sebelumnya selalu terjadi hal-hal aneh yang tidak bisa aku mengerti. Mungkinkah suara-suara aneh yang muncul di kepalaku saat itu juga bukan mimpi? Tapi bagaimana kau bisa mengetahuinya?"
"Selama ini aku terus menhawasimu, Bocah… sosok lain yang mendiami tubuhmu itu mungkin adalah dia, Sang Iblis yang ada di ingatanmu! Kemungkinan penyebab kenapa dantianmu berwarna hitam juga karena keberadaanya."
Fu Chen tersentak kaget, ucapan Dou Huang singguh di luar dugaannya. Jadi selama ini sosok mengerikan itu selalu berada di dekatnya?
Tapi Fu Chen juga tidak menyangka penyebab dantiannya berawarna hitam adalah karena Iblis itu. Tapi jika dipikirkan kembali memang masuk akal mengingat aura gelap yang begitu kental terpancar dari Iblis di ingatannya itu.
"Lalu bagaimana dengan sejarah yang di katakan Ayahku? Bukankah dia bilang dantian Hitam itu adalah berkah dari surga sehingga dantian itu mendapat julukan Dantian Surgawi? Apa mungkin semua itu salah?"
"Dantian Surgawi? Heh, yang benar saja! Nama itu terlalu tinggi untuk dantian rendahan yang ternodai energi Iblis." Dou Huang menggeleng pelan, merasa lucu saat memikirkan manusia yang seenaknya memberikan julukan pada sesuatu yang tidak mereka pahami.
"Tidak mungkin…" Fu Chen berkata lirih, "Padahal leluhur yang di maksud ayahku sangat hebat dan rendah hati…"
"Mungkin leluhurmu itu berhasil menyingkirkan pecahan jiwa Iblis di dalam tubuhnya, hal itu bisa saja terjadi asalkan dia punya mental yang kuat," ucap Dou Huang seraya mengelus janggutnya, ia cukup penasaran dengan kekuatan orang itu karena mampu mengalahkan pecahan jiwa Iblis.
"Apa itu mungkin?" Fu Chen masih setengah percaya.
"Yah, Kau tenang saja aku akan melatihmu agar Iblis yang berdiam di tubuhmu itu segera musnah!" Dou Huang tersenyum lebar sambil menunjuk ke arah perut Fu Chen.
***
"Jadi… untuk mempelajari kitab bela diri ini aku harus lulus dari ujian yang kau berikan?" Fu Chen bertanya, Dou Huang sebelumnya telah menjelaskan, untuk mengalahkan iblis itu Fu Chen harus mempelajari ilmu kitab yang di turunkan para Dewa.
Kitab itu amat hebat, Dou Huang yakin jika keberadaanya di ketahui dunia maka kekacauan besar akan terjadi. Lagipula ilmu itulah yang Dou Huang gunakan untuk menyegel Iblis tiga ribu tahun lalu.
"Itu benar, tapi ujian itu tidak akan di mulai di tempat sempit seperti ini! Yah, tempat melarikan diri makhluk kecil seperti rubah ini memang tidak cocok untuk di tinggali." Dou Huang tersenyum mengejek sembari melirik Feng Bian.
Dou huang menggerakkan mulutnya dengan wajah mengejek. Feng Bian terpancing emosi tapi sumpah serapahnya hanya di abaikan begitu saja.
"Baiklah… hal pertama yang harus kau lakukan adalah menempa tubuhmu kembali. Meski tubuhmu bisa di katakan sempurna tapi itu tidak akan berguna jika tidak terlatih. Mulai besok, kau akan mengikuti pelatihanku."
Dou Huang tersenyum lebar sembari meremas kedua telapak tangannya. Melihat Fu Chen yang memiliki kualitas tulang dan dantian tertinggi membuatnya ingin menyiksa bocah itu. Dahulu dirinya harus mempertaruhkan nyawa untuk mendapatkan itu semua namun Fu Chen… Dewa sungguh tidak adil, pikir Dou Huang.
"Emh… apa aku boleh bertanya? Aku merasa ada yang salah dengan kultivasiku selama ini, maksudku… dantian ini terlalu mudah menyerap qi sehingga aku dapat dengan mudah naik ke tingkat selanjutnya. Karena itu aku tidak ingin terlalu cepat menjadi Jenderal petarung karena khawatir aka terjadi sesuatu…"
Urat dahi Dou Huang terasa berkedut, entah mengapa dia sedikit kesal mendengar ocehan bocah itu, "Apa kau biasanya memang sebodoh ini? Tapi tenang saja, setelah penempaan tubuhmu selesai maka segala dampak negatif di tubuhmu akan hilang."
"Benarkah… kalau begitu kapan kita akan memulainya?" sahut Fu Chen singkat.
Dou Huang hampir tersedak napasnya sendiri, rekasi anak ini terlalu tenang baginya, "Nak, apa kau mengerti maksud penempaan tubuh itu? Tubuhmu akan di hancurkan sampai ke tulangnya kemudian di satukan kembali! Dan itu akan terus berulang sampai prosesnya selesai!"
"Aku tau, aku pernah membacanya di sebuah catatan. Tapi hasilnya jelas sebanding dengan rasa sakit yang aku terima," jawab Fu Chen sambil tersenyum lembut.
"O-oh…" Dou Huang menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, tidak bisa mengerti dengan isi kepala Fu Chen. Mungkinkah ada yang bermasalah dengan anak ini setelah menerima ingatan darinya?
"Kalau begitu sebaiknya kau segera persiapkan diri, latihanmu akan di mulai besok!"
Fu Chen tersenyum lembut lalu bangkit dari posisi duduknya. "Terimakasih…"
"Huh, untuk apa?" Dou Huang mengerutkan kening.
"Berkat anda , aku dapat menemukan tujuan baru… Yah setidaknya lebih baik daripada harus memikirkan balas dendam kepada para bajingan itu," Fu Chen masih tersenyum.
Dou Huang terkekeh pelan, "Itu bukan apa-apa…"
Fu Chen melangkahkan kakinya lalu mendekat ke arah Feng Bian, pertemuan keduanya memang kurang menyenangkan tapi rubah inilah yang menolongnya ketika sekarat dahulu.
"Mungkin kau tidak terlalu suka mendengarnya, tapi… aku akan membuatmu mengakuiku dan membawamu melihat dunia luar, kau menjadi rekanku untuk kedepannya."
Feng Bian membuang muka dan lekas melingkarkan tubuhnya mendengar ucapan Fu Chen, "Sebaiknya kau buktikan kalau kau mampu, aku benci orang yang banyak bicara tapi tidak bisa membuktikan apapun."
"Tentu…" Fu Chen tersenyum lembut, "Kalau begitu izinkan aku istirahat untuk hari ini, besok aku akan memulainya dari awal."
Fu Chen lalu pergi, setibanya hingga ke mulut goa ia lekas duduk bersila dan mulai berkultivasi. Fu Chen berniat untuk menenangkan pikirannya, energi hangat yang masuk ke tubuhnya sangat cocok untuk menjernihkan pikiran.
Saat Fu Chen telah menjauh raut wajah Feng Bian dan Dou Huang segera berubah, mereka seolah menyadari sesuatu.
"Meski wajahnya masih tersenyum namun hatinya tidak bisa membohongiku, Bagaimana menurutmu?" Feng Bian berkata lirih.
"Yah, ketenangannya hanya nampak di luar sedangkan kesedihan, amarah, dendam… semaunya memancarkan aura yang sangat kuat. Aku harap dia bisa mengendalikan diri dan tetap tenang nantinya."