
Usai mendapatkan kitab Dewa Raga, Fu Chen masih terus mengamati lelang itu hingga selesai. Tidak ada lagi item yang menarik perhatiannya bahkan item-item utama yang tersisa hanya berupa pusaka.
Fu Chen yang masih dalam penyamarannya mendekati seorang penjaga di aula itu. Fu Chen minta di antarkan untuk mengambil kitab yang ia dapatkan sekaligus membayarnya.
Ia di bawa ke sebuah ruangan khusus yang di jaga oleh beberapa pendekar. Fu Chen sedikit terkejut saat memasuki ruangan itu, ternyata Ye Kong menyambutnya secara pribadi. Di belakangnya Xuan Rong terlihat sedang beristirahat.
Fu Chen hanya meliriknya sesaat sebelum mengalihkan pandangannya pada Ye Kong.
"Silahkan duduk dulu Tuan." Ye Kong menawari.
Fu Chen menurutinya dan tetap diam untuk mempertahankan sikap dinginnya.
"Silahkan Tuan." Ye Kong menuangkan segelas arak. "Saya sebenarnya merasa tidak nyaman pada Tuan mengenai transaksi ini…"
"Apa maksudmu?" tanya Fu Chen, memotong ucapan Ye Kong sambil mengerutkan keningnya.
"Ah, mohon dengar penjelasanku Tuan. Saya merasa kurang pantas jika anda membeli kitab ini dengan begitu tinggi. Karena itu, bagaimana jika Tuan menukarnya dengan sedikit informasi saja." Ye Kong tersenyum hambar.
"Apa yang kau inginkan?" Fu Chen merasa sedikit tertarik.
"Ini mengenai kelompok Beruang Hitam…" Ye Kong kemudian mulai menjelaskan keperluannya mengenai informasi kelompok itu.
Fu Chen mengerutkan kening setelahnya. Ia melirik ke arah Xuan Rong sambil memikirkan sesuatu.
Dari penjelasan Ye Kong, Tuan Muda dari Menara Bintang Permata menemukan Xuan Rong di tepian hutan saat mereka sedang dalam perjalanan.
Tuan Muda itu membawa Xuan Rong di dalam rombongannya. Secara perlahan perasaan asing mulai di rasakan Tuan Muda saat berada di dekat Xuan Rong. Tuan Muda selalu memperhatikan Xuan Rong hingga perasaan itu semakin kuat.
Entah mengapa saat Xuan Rong menceritakan kejadian yang menimpanya dan keluarganya, Tuan Muda menjadi begitu geram. Dia berjanji pada Xuan Rong akan membalaskan dendam untuk orang tuanya sekaligus meminta Xuan Rong untuk tinggal di organisasinya.
Awalnya Xuan Rong sedikit ragu, namun karena Tuan Muda itu terus mendesaknya, Xuan Rong hanya bisa berlapang dada dan menyetujuinya.
Setelah mencari informasi dan mengetahui perampok yang menyerang Xuan Rong. Tuan Muda bersikeras untuk melenyapkan kelompok itu dengan tangannya sendiri. Namun, sampai saat ini Tuan Muda itu belum berhasil menepati janjinya karena minimnya informasi mengenai lokasi kelompok itu.
"Bagaimana Tuan? Saya akan memberikan kitab ini secara percuma jika anda memiliki sedikit informasi mengenai kelompok itu." Ye Kong berusaha meyakinkan, ia tidak tega membiarkan ponakannya berkeliaran tanpa tujuan yang pasti.
Fu Chen mengangguk pelan dan mulai menjabarkan satu per satu informasi yang ia miliki. Entah keberuntungan apa yang menimpa dirinya belakangan ini hingga membuatnya demikian.
***
Ye Kong merasa puas mendapat informasi yang di inginkan, dia tidak menyangka jika orang ini memiliki begitu banyak informasi secara terperinci. "Terimakasih Tuan, informasi ini akan sangat berguna bagi kami."
"Kalau begitu bisa kau berikan kitab itu sekarang? Aku sudah tidak punya banyak waktu." Fu Chen mengulurkan tangannya.
"Ah, tentu, tentu." Ye Kong menyerahkan kitab itu secara perlahan.
"Informasi tadi aku dapatkan satu bulan lalu, kau harus memastikannya sekali lagi agar tidak ada masalah." Fu Chen memberikan saran.
Ye Kong tersenyum kecut, dia merasa baru saja di tipu oleh orang ini. "Kami akan mengurusnya Tuan."
"Dan kau!" Fu Chen menunjuk Xuan Rong.
"Ada seorang bocah yang ingin menemuimu di aula utama. Temui dia setelah aku pergi dari sini," ucap Fu Chen datar. Ia meninggalkan ruangan itu tanpa menunggu jawaban Xuan Rong
Xuan Rong sedikit bingung, dia memandang Ye Kong untuk meminta persetujuannya. Ye Kong menghela napas pelan sebelum mengangguk.
"Ikuti saja apa keinginannya. Aku tidak merasakan adanya ancaman dari orang itu."
"Baik." Xuan Rong mengangguk.
***
"Kakak!" panggil Fu Chen dari kejauhan, penampilannya sudah kembali seperti semula.
Fu Chen sedikit berlari sebelum akhirnya memeluk tubuh wanita itu. Air matanya mulai tumpah karena sejak tadi sudah berusaha untuk menahannya. "Kakak, apa kakak tidak mengingatku?"
"Chen'er?" Xuan Rong terkejut saat memperhatikan pemuda ini lebih dekat. Ia tidak kalah haru melihat orang yang di rindukannya ada di tempat ini.
"Chen'er, apa yang kau lakukan di sini?" Xuan Rong bertanya cemas, ia menyingkirkan air mata dari wajah pemuda itu berkali-kali.
Fu Chen hanya menggeleng menjawabnya. Meski ia telah melatih mentalnya sejauh ini, namun hatinya sangat lemah jika menyangkut orang terdekatnya.
Xuan Rong mengusap kepala Fu Chen sambil menenangkan dirinya sendiri. Dia tidak menyalahkan sikap pemuda ini karena ia juga tak mampu untuk berbicara saat air matanya bercucuran.
Fu Chen kemudian melepas pelukannya setelah cukup tenang. "Apa kakak baik-baik saja di tempat ini?" ucapnya, masih sedikit tersendat-sendat.
"Iya Chen'er, jangan khawatirkan kakak… kakak baik-baik saja di sini." Xuan Rong tersenyum lembut.
Fu Chen terdiam untuk sesaat karena ragu mengajukan pertanyaanya. "Em… kenapa kakak tidak pulang ke Desa? Ayah dan yang lainnya pasti sangat senang mengetahui kakak masih selamat."
"Kakak sudah menemui mereka Chen'er. Paman Shu juga sudah tahu kakak tinggal disini," balas Xuan Rong.
Fu Chen terkejut mendengarnya, mungkinkah Xuan Rong sudah kembali ke Desa saat ia masih di sekte?
"Kau sangat berbeda dari terakhir kali kita bertemu. Chen'er pasti sudah menjadi pendekar hebat, ya?" Xuan Rong ingin mengalihkan pembicaraan. Dia bahkan hampir tidak mengenali pemuda ini karena tubuhnya yang dewasa.
"Tidak juga…" Fu Chen tertawa hambar. "Oiya, apa kakak tidak mau pulang ke Desa karena Tuan Muda dari tempat ini ingin menikahi kakak?"
"Eh?" Xuan Rong terkejut, wajahnya sedikit berkeringat. "D-dari mana kau mengetahuinya Chen'er?"
Fu Chen pura-pura memasang wajah polosnya. "Pendekar yang tadi menemui kakak yang memberitahuku. Jadi, apa itu benar?"
"C-Chen'er, kau tidak boleh menanyakan hal seperti itu pada perempuan." Xuan Rong mengalihkan pandangannya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Fu Chen tertawa kecil. "Jadi benar kakak akan segera menikah."
Fu Chen sangat bahagia dapat melihat wajah Xuan Rong kembali cerah. Keduanya terus berbincang dan bertukar cerita hingga matahari menunjukkan semburat merah.
"Sepertinya aku harus segera kembali." Fu Chen menghela napas tidak rela, pertemuannya dengan Xuan Rong terasa begitu singkat.
"Pergilah, mungkin seniormu sudah menunggu sejak tadi." Xuan Rong mengusap kepala anak itu.
"Kakak benar, kalau begitu aku pergi dulu." Fu Chen memeluk Xuan Rong sekali lagi sebagai tanda perpisahannya.
Fu Chen kemudian bergerak menjauh sebelum berkata, "Sampai Jumpa!"
"Sampai Jumpa! Kirimkan salam ku untuk Lou'er dan Mei'er di sana!" Xuan Rong melambaikan tangannya sambil tersenyum hangat.
Fu Chen memutar tubuhnya, "Tentu, kakak juga jangan lupa mengundangku saat kakak menikah nanti!" Fu Chen melambaikan tangannya dan di ikuti tawa lebar.
Xuan Rong hampir tersedak napasnya sendiri, ia hanya tersenyum lembut saat pemuda tidak lagi terlihat. "Anak itu sudah tumbuh dewasa." Sebuah tangan kemudian menepuk ringan pundaknya.
"Rong'er, siapa pemuda itu?" tanya seorang pria dengan usia tidak jauh berbeda dengan Xuan Rong.
"Dia anak dari Desa ku." Xuan Rong memutar tubuhnya agar dapat melihat pria itu. "Apa kau akan pergi lagi?"
Pria itu menghela napas pelan dan tersenyum lembut. "Paman sudah menyerahkan informasinya padaku, jadi aku harus segera memastikannya."
Senyuman Xuan Rong sedikit memudar. "Hati-hati ya, ku dengar kelompok itu cukup besar di Kekaisaran ini. Aku tidak ingin mendengar jika kau pulang dengan penuh luka."
"Haha…" Pria itu tertawa pelan. "Tidak perlu khawatir, aku membawa cukup banyak orang." Ia mengacak rambut Xuan Rong sambil tersenyum.
"Aku harus segera pergi, orang-orang sudah menungguku di luar. Jaga dirimu baik-baik di sini, ya." Usai mengecup kening Xuan Rong, pria itu segera meninggalkannya.
Xuan Rong membeku dan wajahnya memerah. Dia baru tersadar saat pria itu sudah cukup jauh. "Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu," gumamnya sambil memandangi pria itu dari kejauhan.