
Fu Chen masih memasang wajah masam sambil menahan kedongkolannya sepanjang jalan. Kamar itu sudah terlalu nyaman baginya, rasanya cukup sulit untuk pindah timpat tinggal lagi.
Penjaga asrama ternyata mengantar Fu Chen hingga ke depan perpustakaan, Fu Chen sedikit bertanya-tanya namun ia baru ingat jika kediaman tetua Li adalah perpustakaan ini sendiri.
"Selamat datang murid Fu," ucap seorang pelayan yang biasa melayani Fu Chen.
"Apa tetua Li ada di ruangannya?" Fu Chen bertanya tanpa gairah.
"Ya, mari saya antar." Pelayan itu tersenyum sederhana.
Fu Chen menghela napas panjang, ia mengekor di belakang pelayan itu dengan lesu. Saat ini ia hanya ingin beristirahat dan segera tidur sebab pikirannya sudah cukup lelah karena terus memikirkan sosok misterius yang mencuri kesadarannya.
"Em… apa tetua Li sudah menyiapkan kamar untukku?" Fu Chen bertanya, ia sungguh ingin beristirahat.
Pelayan itu berpikir sejenak, "Ya… beliau sudah menyiapkannya untuk anda. Apa anda ingin saya antar ke sana?"
"Ah, tidak perlu. Katakan saja di mana tempatnya."
"Kalau begitu… kamar anda ada di sebelah tempat biasa anda berlatih. Mohon tunggu sebentar, aku akan mengambilkan kunci kamarnya." Usai mengucapkannya pelayan itu segera bergegas menuruni tangga.
Setelah pelayan itu kembali dan menyerahkan kunci, Fu Chen bergegas ke tempat yang di maksud.
"Ah… akhirnya…" Fu Chen merebahkan tubuhnya di atas kasur, dalam hitungan menit ia sudah terlelap begitu saja.
***
"Cepatlah Kyoto! Aku tidak sabar ingin memukul kepala bocah sialan itu! Berani-beraninya dia meninggalkanku seperti ini!" Sin Lou menggerutu sepanjang jalan.
Setelah mendengar kabar kepulangan Xiao Jung, Sin Lou langsung bergegas mendatangi kamar Fu Chen namun tempat itu ternyata sudah di tinggali orang lain.
Awalnya Sin Lou ingin bertanya pada Xiao Jung namun saat melihat pemuda itu masih sibuk dengan laporannya, Sin Lou hanya bisa menduga jika satu-satunya tempat yang di kunjungi Fu Chen hanya perpustakaan.
Sesampainya di perpustakaan, Sin Lou dan Kyoto segera mencari pelayan dan menanyakan keberadaan Fu Chen.
"Murid Fu sedang beristirahat di kamarnya, ia berpesan untuk tidak membiarkan siapapun masuk," jawab pelayan.
"Apa? Istirahat?" Sin Lou menjadi geram, "Antar aku ke kamarnya!" pinta Sin Lou.
"Tapi-"
"Sudahlah… turuti saja apa yang dia inginkan, aku yakin dia tidak akan menyerah meski kau beri peringatan berapa kali pun." Kyoto menghela napas pelan, dia yang paling tau bagaimana kepribadian Sin Lou karena terpaksa tinggal satu kamar selama di sekte.
Pelayan itu sedikit ragu, namun melihat ekspresi wajah Sin Lou dia merasa mengerti situasinya. "Baiklah, aku akan mengantarmu… tolong jangan buat keributan yang berlebihan."
Sin Lou tersenyum puas, keduanya kemudian mengikuti sang pelayan yang menuju kamar Fu Chen. Pelayan itu mengetuk pintu kamar Fu Chen beberapa kali setelah mereka sampai.
"Murid Fu, ada orang yang ingin bertemu denganmu," panggil pelayan itu dengan nada sopan.
Setelah menunggu beberapa saat dan tidak ada jawaban, Sin Lou mengajukan diri untuk membangunkan si bocah Chen itu.
"Hoi! Apa kau mendengarku?! Jika kau tidak mau keluar dalam hitungan ke-lima maka aku akan merusak pintu kamarmu ini!" Sin Lou berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar Fu Chen.
"Cih… bocah ini hidup terlalu mewah," gerutu Sin Lou dalam hati melihat pintu putih yang berukuran lumayan besar di depannya.
Fu Chen sebenarnya dapat mendengar teriakan Sin Lou, hanya saja ia terlalu malas untuk bangkit apalagi meladeni bocah itu.
"Aku akan mulai!" Sin Lou kemudian mulai berhitung.
"Satu… Dua…" Belum sampai pada hitungan ketiga, kaki Sin Lou tiba-tiba menerjang ke arah pintu dan membuat pintu itu rusak.
"Apa yang ku lakukan?" Sin Lou tersenyum lebar, "Tentu saja aku membangunkanmu," Sin Lou kemudian mengepalkan kedua tangannya sambil berjalan ke arah Fu Chen.
Sejurus kemudian Sin Lou melompat ke arah Fu Chen sambil berteriak, "Sialan! Beraninya kau meninggalkanku!"
Sin Lou menghajar Fu Chen dengan ganasnya namun tentu saja Fu Chen tidak membiarkan hal itu terjadi, ia menahan serta membalas setiap pukulan Sin Lou.
Kyoto hanya menatap datar perkelahian keduanya yang membuat kamar itu berantakkan. Perkelahian keduanya tidak berlangsung lama karena Sin Lou tidak kuasa mengimbangi Fu Chen, membuat wajahnya menjadi memar.
"Kenapa aku harus berteman dengan orang seperti ini…" Kyoto menghela napas pelan melihat Sin Lou yang belum terlihat ingin menyerah meski wajahnya lebam.
Terlepas dari hal itu, Kyoto lebih penasaran dengan perjalanan Fu Chen di luar sana sebab ia berencana akan mengambil misi dalam waktu dekat.
Fu Chen menceritakan semuanya secara ringkas, mulai dari pertemuannya dengan para perampok hingga pertempuran di markas Beruang Hitam.
Namun, Fu Chen tidak bercerita tentang kunjungannya ke keluarga Xiao dan fakta bahwa ia telah menyembuhkan kepala keluarga Xiao itu. Ia tahu jika informasi itu harus di rahasiakan demi dirinya dan juga keluarga Xiao itu sendiri.
Usai mendengar ceita Fu Chen, ada beberapa hal yang membuat mereka terkejut sekaligus sulit untuk di percaya.
"Jadi saat ini Kak Xuan Rong tinggal di organisasi Menara Bintang Permata?" Kyoto bertanya sembari ingin memastikan.
"Ya begitulah… dia juga sudah meminta ijin Kepala Desa."
"Ah… syukurlah, hidupku tidak tenang selama ini karena terus memikirkannya. Rasanya sangat lega mendengar Dewi-ku masih hidup dengan sehat." Sin Lou tersenyum simpul sambil merebahkan tubuh.
"Saudara Chen, sebenarnya ada satu hal yang ingin aku tanyakan…" ucap Kyoto sedikit ragu dan khawatir.
Informasi ini adalah yang paling mengejutkan menurut Kyoto, terlebih nyawa yang Fu Chen ambil tidak hanya satu melainkan puluhan.
"Apa itu?"
"Apa kau benar-benar telah membunuh manusia?" Kyoto berbicara sedikit pelan dan terbata-bata. Sin Lou yang mendengar pertanyaan Kyoto kembali duduk dan menunggu jawaban Fu Chen.
"Mem… bunuh…" Awalnya Fu Chen sedikit heran namun saat memahami maksud pertanyaan Kyoto ia langsung termenung.
"Y-ya… aku melakukannya, aku sendiri tidak mengerti kenapa dapat dengan mudah merenggut nyawa seseorang. Sebelumnya aku telah mencari tahu penyebabnya namun tidak menemukan petunjuk apapun."
Yang di katakan Fu Chen adalah benar, ia sendiri terheran karena tidak merasakan rasa bersalah atau menyesal sedikitpun.
Kyoto dan Sin Lou saling berpandangan usai mendengar jawaban Fu Chen. Mereka tidak menyangka jika Fu Chen akan berterus terang mengenai hal itu.
"K-kalau begitu… lebih baik kau banyak-banyak beristirahat agar tekananmu sedikit berkurang." Kyoto tersenyum canggung setelahnya.
Meski dari luar Fu Chen terlihat baik-baik saja, Kyoto beranggapan bahwa Fu Chen tidak ingin membuat Sin Lou khawatir akan kondisinya.
Kyoto tidak bisa membayangkan seberapa tertekannya mental Fu Chen saat ini. Mungkin jika Fu Chen adalah dirinya, maka ia tidak akan setenang itu apalagi jika mengingat usia Fu Chen yang masih di bawah sepuluh tahun.
"Hei! Cepatlah pulih dan setelah itu aku akan menantangmu untuk membuktikan siapa yang paling kuat diantara kita berdua!" Sin Lou menunjuk Fu Chen menarik sudut bibirnya.
"Dapatkan lencana murid dalam dan setelah itu aku akan menerima tantanganmu kapan pun itu." Fu Chen tersenyum tipis.
Sin Lou justru tertawa lantang mendengar ledekan Fu Chen. "Hei Kyoto! Tunjukkan lencanamu!" ucap Sin Lou sambil memamerkan lencana murid dalam miliknya.
Mulut Fu Chen sedikit terbuka. "Kalian…-"
"Ya! Kami telah menjadi murid dalam dan tinggal menunggu waktu sampai aku melampauimu! Hahaha…"