
Xiao Jung memantau setiap pohon di sekitar jalan itu selagi para pengawal sebelumnya sedang bernegosiasi, ternyata dugaannya memang benar. Mata Xiao Jung menangkap beberapa orang yang bersembunyi di atas pohon, masing-masing dari mereka setidaknya membawa sebuah panah.
"Chen'er, kau habisi orang-orang yang ada di atas pohon sebelah kiri! Aku akan menghabisi di sebelah kanan jalan. Ingat! Jangan membuat kebisingan dan usahakan untuk tidak membunuh mereka." Xiao Jung menepuk pundak Fu Chen dan melompat tinggi ke arah seberang jalan.
Fu Chen menggertakkan giginya, sembari mendekati musuh-musuh yang di tunjuk Xiao Jung. "Ck, bagaimana melumpuhkan mereka tanpa membuat kebisingan?" Lidah Fu Chen berdecak geram.
"Tuan, tolong dengarkan aku dulu. Aku akan memberikan sejumlah uang jika tuan membiarkan kami melewati jalan ini…" Bujuk pengawal itu lagi, dia tidak menyangka sebelumnya jika perampok itu akan langsung membunuh tangkapan mereka.
Ketua perampok itu justru tertawa lantang mendengarnya. "Berapa banyak yang kau tawarkan?" Tanya perampok itu dengan seringai kebar.
Di tempat lain, Xiao Jung mulai mendekati salah satu pemanah dari perampok itu. keberadaanya tidak di sadari sehingga ia dapat dengan mudah mendekap orang itu dan memukul tengkuk lehernya dan seketika membuat pemanah itu tidak sadarkan diri.
"Sial, masih lima orang lagi!" Desis Xiao Jung lalu melanjutkan aksinya. Sesekali dia juga melihat keadaan para pengawal itu, sepertinya mereka juga menyadari ini adalah jebakan dan sedang mengulur waktu untuk mencari kesempatan melarikan diri.
Disisi lain Fu Chen juga mulai mendekati seorang pemanah yang sedang bersiap untuk membidik. Dia sebisa mungkin untuk tidak membuat suara saat melompat.
Sesaat kemudian Fu Chen muncul di belakang pemanah itu dan menutup mulutnya rapat-rapat.
"Hmmm! Hmmm…!" Erang pemanah itu Sebelum lehernya di putar oleh Fu Chen.
Fu Chen menahan pemanah itu agar tidak terjatuh, tangannya sedikit gemetar setelah melakukannya. "Maaf senior, aku tidak tau harus bagaimana selain membunuh mereka…" Gumam Fu Chen kemudian mendekati pemanah lainnya.
Pemanah di sisi Fu Chen setidaknya masih tersisa tiga orang lagi. Nafas Fu Chen memburu setelah dia membunuh pemanah kedua, nafasnya memburu bukan karena lelah. Tetapi jiwanya terasa di guncang karena ini adalah pertama kalinya dia membunuh manusia.
Saat akan membunuh pemanah ketiga, Fu Chen gagal melakukan aksinya karena pemanah itu menyaadari keberadaanya.
Pemanah itu melompat menjauhi Fu Chen setelah ia menepis serangan Fu Chen sebelumnya. Tiba-tiba saja suara siulan terdengar melengking di udara saat pemanah itu pergi.
"Sial!" Fu Chen menjadi panik, dia menarik pedang di pinggangnya lalu melesat untuk menyusul pemanah itu.
Keterkejutan ternyata ridak hanya di alami oleh Fu Chen, bahkan para perampok itu sendiri juga terkejut mendengarnya.
"Mereka berusaha mengulur waktu! Cepat kepung mereka!" Seru ketua perampok itu.
Seketika beberapa orang berbaju zirah lengkap dengan pedang dan prisainya keluar dari dalam kereta yang di sandera para perampok itu. Mereka lekas berlari mendekati para pedagang di depannya.
"Sial! Padahal tinggal sedikit lagi agar kami dapat melarikan diri." Pemimpin pengawal itu menggerutu lalu berlari mendekati rekan-rekannya.
"Cepat naiki kuda kalian!" Perintah pemimpin pengawal saat melihat kereta pedagang yang mereka lindungi sudah putar balik.
"Panah mereka!" Seru ketua perampok itu lantang, namun setelah beberapa saat keningnya menjadi berkerut karena tidak ada anak panah yang muncul.
"Apa yang di lakukan para bajingan itu?" Umpat ketua perampok itu geram. "Tangkap mereka! Aku tidak peduli mereka mati atau hidup!"
Tanpa di suruh sekalipun kawanan para perampok itu sudah berhasil mendekati rombongan para pedagang.
Namun lengkah mereka terhenti karena seorang pemuda berjubah biru tua menghadang dari depan.
Di tempat Fu Chen sendiri dia harus mengalahkan satu pemanah lagi sebelum bergabung dengan Xiao Jung. Pemanah itu tetap menembakkan anak panahnya meski sedang melompat di antara pepohonan.
Jarak keduanya semakin menipis, terlihat jelas jika kemampuan meringankan tubuh pemanah itu di bawah Fu Chen. Pemanah itu kemudian terkena tebasan pedang di punggungnya hingga membuatnya terjatuh dari pepohonan.
"K-ku mohon pendekar! Jangan bunuh aku!" kata pemanah itu dengan wajah ketakutan.
Namun Fu Chen tidak menghiraukan permohonan pemanah itu. Wajahnya datar lalu ia mengayunkan pedangnya untuk menebas kedua kaki pemanah itu.
"Aaaaaargh!" Teriak pemanah itu kesakitan, dia mulai meneteskan air mata tak kuasa menahan sakit sambil memegangi pahanya.
"Aku sudah menuruti keinginanmu." Di balik wajah datar Fu Chen itu, sebenarnya dia sedang menahan sensasi panas di tubuhnya. Gairah untuk membunuh para perampok itu sudah meluap-luap, perasaan seperti ini pernah ia alami saat betarung dengan Bai Yan dahulu.
Fu Chen mengalihkan pandangannya ke tempat awal para perampok itu lalu melesat kembali kesana. Ternyata dia sudah cukup jauh mengejar satu pemanah ini.
Alasan Xiao Jung menghadang dari depan rombongan pedagang itu sebenarnya bukan untuk menghentikan mereka. Dia ingin para pengawal itu membantunya mengalahkan para perampok.
Saat Fu Chen tiba di lokasi mereka, ternyata pertempuran sedang berlangsung sengit. Meski para perampok itu menang jumlah, namun karena adanya Xiao Jung di sisi para pengawal membuat perampok itu terdesak.
Fu Chen mengacuhkan mereka, dengan kemampuan Xiao Jung saat ini seharusnya para peramok itu dapat di kalahkan dengan mudah. Fu Chen memeriksa kereta yang di sandera para perampok itu.
Fu Chen mengerutkan keningnya karena di dalam kereta itu tidak ada apa-apa. Namun, beberapa saat kemudian Fu Chen mendengar sebuah umpatan seorang wanita di belakang kereta itu.
"Bajingan sialan itu, dia bersungguh-sungguh menamparku! Lihat saja nanti! Aku akan mencincang habis tubuhnya jika tidak mendapat rampasan yang bagus," Desis wanita itu.
"Kau…?" Fu Chen sangat terkejut saat melihat wanita yang tadi di tebas oleh seorang perampok ternyata masih hidup, bahkan dia terlihat lebih baik sekarang.
Wanita itu terkesiap dan segera menolehkan kepalanya ke arah sumber suara itu. Dia menjadi salah tingkah dalam sejenak. "T-tuan… kau datang menyelamatkanku?" Kata wanita itu terbata-bata.
Kerutan di dahi Fu Chen justru semakin dalam. Pandangan Fu Chen menyelisik ke sekitarnya, dia mendapati tidak ada orang disana, tali di tubuh wanita ini juga sudah terlepas. Kenapa dia tidak segera melarikan diri?
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Fu Chen ingin mengamati gerak gerik wanita ini lebih jauh. Xiao Jung sudah mengatakan sebelumnya jika wanita ini salah satu dari kawanan perampok, tapi Fu Chen sedikit tidak percaya wanita seperti ini akan menjadi bagian dari persmpok itu.
Wanita itu diam-diam tersenyum lebar dalam hatinya, dia memuji dirinya sendiri yang begitu berbakat dalam ber-akting. Wanita ini mengira dia juga berhasil mengelabui Fu Chen.
"I-iya tuan, terimakasih sudah menyelamatkanku…"
"Sebaiknya kau segera pergi dari sini selagi para perampok itu sedang bertarung," Sahut Fu Chen masih menjaga jarak dengan wanita itu.
Wanita itu melebarkan matanya sejenak, sebelum kembali sendu, tidak ingin di ketahui oleh Fu Chen. "Apa yang di lakukan para bajingan itu disana? Bagaimana mungkin mereka membiarkan bocah ini kemari?" Umpat wanita itu dalam hati.
"Bisakah tuan membantuku berdiri? Kaki ku terasa lemas…" Pinta wanita itu lemah. Diam-diam dia memasukkan tangan kanannya ke dalam baju, ia seperti merogoh sesuatu.
Fu Chen tidak menjawab, dia hanya menuruti keinginan wanita itu tanpa mengalihkan pandangannya.
Saat jarak keduanya tinggal dua meter, wanita itu melemparkan sebuah senjata rahasia dari tangan kanannya. Fu Chen yang sebelumnya telah melakukan ujian untuk menghindari hal semacam ini dapat menangkisnya dengan mudah.
Wanita itu terkejut, padahal dia sudah yakin bocah ini sudah masuk ke dalam perangkapnya. Dia kemudian melompat mundur sambil melemparkan senjata rahasia lainnya, namun serangan itu dapat di tangkis dengan mudah oleh Fu Chen.
"Siapa kau?" Tanya wanita itu panik.
"Apa itu penting?" Fu Chen menyeringai lebar, setiap langkahnya membuat jantung wanita itu berdetak cepat.
Fu Chen dapat merasakan kekuatan wanita ini hanya pendekar kelas dua tahap akhir, yang membuat heran sebenarnya kenapa wanita ini mengumpat seolah dia adalah pemimpin perampok itu.