Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.77 - Percobaan Pertama


Orang yang di lantai satu itu hanya bisa mengigit bibirnya dengan geram saat harga tombak itu sudah melambung tinggi. Harga yang sudah tidak dapat lagi dicapai olehnya.


"50.000!"


"Hoi, hoi! Ada apa ini? Kenapa kau sudah berhenti? Ayolah, aku masih ingin mendengar suara gonggongan tadi. Kemana perginya suara itu?" Orang yang di balik bilik nomor 7 itu tertawa lepas.


Awalnya dia hanya ingin menawar tombak itu saja, namun setelah melihat bagaimana respon yang di berikan orang rendahan di lantai satu itu membuatnya berpindah haluan. Kini ia ingin memprovokasi orang itu dan membuatnya kehilangan muka.


Tujuan itu berhasil, namun sekarang yang menjadi masalah adalah bilik nomor 13 yang tadi sempat ikut campur dengannya.


"50.000 pertama!"


Orang di dalam bilik nomor 7 itu mengerutkan keningnya. Kenapa orang itu tidak lagi menaikkan harga? Apa mungkin dia hanya ingin main-main? pikirnya.


"50.000 ke-2!"


"50.000 ke-3!"


Usai Ye Kong mengumumkan hasilnya, Xuan Rong segera mengambil sebuah kotak kayu yang berbentuk peraegi panjang.


"Item ke-2 ini adalah sebuah seruling giok yang merupakan pusaka tingkat emas. Seruling ini dapat menghisap dan menggetarkan jiwa yang mendengarnya."


"Jika kalian memiliki ilmu yang cocok untuk di gunakan dengannya. Maka seruling ini akan menjadi senjata jarak jauh yang sangat ampuh dan mematikan. Tanpa berbasa-basi lagi, harga mulai dari 1000 keping emas!"


Ye Kong sengaja tidak mengenalkan seruling itu secara rinci. Menurutnya, jika seseorang menyukai pusaka ini maka ia akan langsung menawarnya tanpa pikir panjang. Tentu koknsepnya akan jauh berbeda jika itu adalah sebuah pil.


"1500!"


"3000!"


Tidak banyak yang ingin menawar seruling itu, meski ia adalah pusaka tingkat emas namun pendekar yang mengandalkan alat musik sebagai senjatanya sangat minim di temukan di Kekaiasaran Song.


Berbeda dengan semua orang di aula , mata Fu Chen tampak berbinar memperhatikan setiap inci dari seruling itu. Bahkan dia merasa perlu untuk segera melakukan aksinya agar mendapatkan seruling itu.


Sebenarnya dia tidak peduli seperti apa karakteristik dari senjata itu. Dia hanya ingin membelinya untuk di hadiahkan pada ayahnya, seingatnya Tang Shu sangat suka bermain seruling. Selain itu, dia juga telah belajar banyak untuk memainkan alat musik itu darinya.


Namun yang menjadi masalah bagi Fu Chen adalah Xiao Jung, dia terus berpikir mencari cara untuk dapat keluar dari bilik ini tanpa mengundang kecurigaan. Dan itu tidaklah mudah.


"Apa aku katakan saja jika ada sesuatu yang tertinggal di penginapan? Tidak, kami telah memeriksa semuanya, mana mungkin ia percaya dengan hal itu." Fu Chen berpikir keras, sesekali ia melirik ke arah Xiao Jung dari sudut matanya.


Pemuda itu nampak tidak bergairah lagi sejak sesi ke-2 di mulai. Mungkin karena item-item yang ia inginkan sudah di dapatkan, atau mungkin ia sedang menunggu item-item yang menarik perhatiannya karena hal serupa juga terjadi saat sesi pertama di mulai.


Xiao Jung menyadari kegelisahan di wajah Fu Chen, ia menanyakan sesuatu pada anak itu, "Apa kau tertarik dengan item itu? Jika iya maka tawarlah, aku akan membayarnya nanti."


Fu Chen terkejut mendengarnya, ia lekas memandang Xiao Jung tidak percaya. "Benarkah?"


Fu Chen sedikit bersemangat, sejauh yang ia ketahui seniornya ini tidak membiarkan seseorang menolak untuk pemberiannya. Karena itu Fu Chen sedikit berani untuk memastikannya.


Xiao Jung berpikir sejenak. "Sisa uangku kurang dari 40.000, mungkin tidak ada salahnya jika aku habiskan untuk anak ini? Baiklah, di mana aku akan menaruh wajahku sebagai senior jika tidak membelikan sesuatu untuk juniorku di lelang ini."


Xiao Jung menghela napas pelan kemudian tersenyum lembut. "Ya, ambil seruling itu untukmu. Kau sudah mengamati orang-orang sejauh ini, kurasa kau mengetahui caranya, bukan?"


Fu Chen mengangguk dengan senyuman lebar. Dari pengamatannya sejak tadi, hal pertama yang harus di lakukan adalah memperlebar jarak terlebih dahulu. Ini berguna untuk menjatuhkan mental lawan.


"17.000"


"Bilik nomor 10?"


"Yang benar saja. Mereka sudah mendapatkan 2 item utama sebelumnya dan masih ingin menawar? Berapa banyak uang yang mereka bawa?"


"Apa kalian tidak menganggap kami yang di sini?"


"Jika seperti ini sama saja kami hanya menonton."


"Tangan Kosong kalau berani!"


Wajah Ye Kong menggelap, aura pendekar merembes keluar dari tubuhnya dan membungkam orang-orang yang membungkam orang-orang itu. Ia sudah berusaha menahan diri sebelumnya.


"Ini adalah peringatan pertama. Jika kalian masih ingin menyudutkan orang lain di lelang ini, maka jangan salahkan aku jika kalian di tendang keluar tanpa penghormatan!"


Seketika itu orang-prang di lantai satu menelan ludah mereka kasar. Mereka hanya bisa diam dan mengumpat dalam hati karena tidak berani melawan pihak Menara Bintang Permata.


"16.000."


"16.500."


"17.000!"


Aturan ke dua yang Fu Chen pelajari, jika masih ada yang menawar maka ia hanya perlu memperhatikan dan memastikan pesaing yang sebenarnya.


"Oh, ternyata kau belajar cukup banyak." Xiao Jung sedikit kagum dengan pemahaman Fu Chen. Selintas anak ini seperti sudah bertahun-tahun mengikuti lelang.


"Ah… bukan apa-apa. Alu hanya mengikuti cara senior tadi." Fu Chen tersenyum canggung.


"Hm?" Kening Xiao Jung sedikit berkerut. "Ah, sial. Ini sangat tidak adil, bagaimana mungkin pengalamanku selama bertahun-tahun di renggut oleh anak ini begitu saja? Menyebalkan," gerutunya dalam hati.


Xiao Jung memandang Fu Chen begitu dalam, wajahnya terlihat tidak rela namun juga pasrah.


"Memikirkannya membuatku kesal," gumam Xiao Jung.


Fu Chen memfokuskan dirinya kembali pada lelang. Sejauh ini pesaingnya hanya menawar dengan kelipatan mininum, menandakan jika uang yang mereka pegang tidaklah banyak.


Fu Chen tersenyum tipis, jika sudah seperti ini maka ia hanya perlu mengakhirinya dengan cepat. "30.000!"


"Mereka benar-benar tidak membiarkan kita ikut campur di sesi ke-2."


"Sial, sejak awal sesi ke-2 ini memang di berikan untuk mereka."


Orang-orang hanya bisa menggerutu pelan, mereka tidak berani memprotes lebih keras setelah merasakan aura yang di lepaskan Ye Kong. Aura itu bukanlah sesuatu yang bisa di dapatkan oleh pendekar Raja sekalipun.


Ye Kong menunggu beberapa lama sambil mengedarkan pandangannya pada para hadirin. Memastikan jika masih ada yang ingin menawar.


"30.000 pertama!"


"30.000 ke-2!"


"30.000 ke-3!"


Fu Chen sangat kegirangan di dalam biliknya. Beberapa kali pemuda itu melompat-melompat dengan senyum lebar."Ahahaha! Aku berhasil! Aku mendapatkannya."


Fu Chen kemudian menyambar tangan Xiao Jung dan menggoyangkannya dengan cepat. "Terimakasih, senior. Terimakasih…"


"C-Chen'er, hentikan. Jangan membuatku malu di tempat ini." Xiao Jung berusaha melepaskan tangannya dengan wajah masam.


"Ah, maafkan aku." Fu Chen melepaskan tangan Xiao Jung, pandangannya kemudian mengarah pada Nie Mi.


"Bisakah anda mengambilnya untukku?"


Nie Mi mengangguk dan menuruti permintaan Fu Chen. Saat ia kembali lagi, pemuda itu terlihat sangat senang dan mengambil seruling itu dengan segera.


"Woah, Seruling ini lebih indah jika di perhatikan dari dekat." Mata Fu Chen berbinar memandang seruling giok itu. Xiao Jung juga beberapa kali melirik untuk melihatnya, ia mengakui jika seruling itu memang sangat indah dengan tampilannya.


***


"Hoam…" Xiao Jung mengusap matanya setelah menguap beberapa kali. "Chen'er, apa kau masih ingin menyaksikan lelang ini? Aku akan pergi karena tidak ada lagi yang aku inginkan di sini."


Fu Chen terlihat ragu, sudah 5 item yang di keluarkan oleh Menara Bintang Permata namun tidak ada yang menarik perhatiannya. "Apa aku boleh di sini sampai lelang selesai? Aku ingin melihat item-item utama lainnya."


Xiao Jung bangkit dari tempat duduknya dan sedikit meregangkan otot. "Kalau begitu aku pergi dulu, kita akan bertemu lagi di penginapan tadi malam."


"Baik." Fu Chen tersenyum lebar.


Xiao Jung mulai berjalan pergi setelah itu, ia masih sempat mengedipkan matanya pada Nie Mi dengan senyum tipis. Nie Mi hanya mendengus menanggapinya.


"Item selanjutnya adalah kitab Raga Dewa. Kami telah meneliti kitab ini dan di dalamnya tidak ada satupun ilmu bela diri atau semacamnya. Kitab ini hanya berisi informasi-informasi mengenai tubuh istimewa yang di miliki manusia."


"Awalnya kami ingin membuang kitab ini karena tidak berguna, namun setelah memikirkannya lebih dalam. Mungkin ada di antara kalian yang tertarik untuk memilikinya."


"Harga item ini di mulai dari 500 keping emas!"