Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.87 - Siluman Beruang Hitam


"Apa yang kau rencanakan?" Ye Huolang mengerutkan kening mendengar begitu banyak teriakan yang muncul.


Hang Guan hanya tersenyum tipis dan menyeka darah dari sudut bibirnya. "Haha… apa yang kau pedulikan? Mereka hanya mengikuti nafsu yang selama ini sudah tertanam."


Ye Huolamgg berdecih, ia melihat banyak pendekar yang berhamburan ke udara dan menduga jika itu adalah perbuatan pengikutnya.


Sosok bertudung yang sebelumnya meninggalkan Hang Guan kini kembali menghampirinya. Hang Guan hanya meliriknya sejenak dan terus mengatur napas.


"Tuan, aku sudah melakukan tugasku. Tinggal menunggu waktu hingga makhluk itu bangun…" Suara sosok bertudung itu begitu lirih, namun dapat di dengar oleh Hang Guan.


Hang Guan memalingkan wajah padanya, kemudian tersenyum lebar. "Bagus, bagus… aku hanya perlu mengulur waktu sebentar lagi."


Melihat lawannya berbicara dengan orang lain, Ye Huolang menjadi geram. "Kau berani mengalihkan perhatianmu saat melawanku!? Nyali mu cukup besar, KEPARAT!"


Pedang Ye Huolang tercengkram keras sebelum ia mendekati Hang Guan dengan kecepatan tinggi.


"Jurus Peri Selatan!" Ye Huolang memutar tubuhnya hingga membuat pusaran angin yang bergerak mendekati Hang Guan.


Hang Guan menyipitkan matanya lantaran debu-debu yang bertebaran menghalau pandangan. Saat pusaran angin menghilang, Ye Huolang mengayunkan pedang yang di selimuti asap tipis.


Pertarungan keduanya berlangsung sengit, meski kecepatan Ye Huolang telah meningkat namun bukan serta merta ia di atas angin. Hang Guan nyatanya mampu menahan Ye Huolang menggunakan tombaknya.


Hawa dingin dari jurus Ye Huolang mulai menusuk kulit lawannya.


Telah puluhan jurus yang di keluarkan keduanya, namun masih belum ada yang terluka. Hang Guan tidak sadar, setiap tombaknya berbenturan dengan pedang Ye Huolang, tombaknya akan sedikit membeku beberapa saat.


"Mati kau!" Ye Huolang mengalirkan lebih banyak qi pada pedangnya, membuat pedang itu di selimuti hawa dingin yang cukup kuat.


"Peri Bunga Salju!" Butiran salju yang keluar dari pedang Ye Huolang mebuat tanah di sekitarnya membeku.


"Hahaha! Datanglah! Aku akan menerima teknik terhebat dari Menara Bintang Permata!" Meski dalam kondisi tidak menguntungkan, Hang Guan masih bisa tersenyum lebar. Dia begitu menikmati pertarungan melawan Ye Huolang.


KRAAK!


Tombak Hang Guan patah setelah menangkis puluhan serangan Ye Huolang. Matanya melotot karena terkejut, namun senyuman masih tetap bertahan di wajahnya.


Tidak menunggu lama, kedua tangan Hang Guan terputus dengan satu gerakan dari Ye Huolang. Pemimpin kelompok Beruang Hitam itu jatuh berlutut, ekspresinya tidak berubah.


Ye Huolang tidak berniat memberikan kematian yang mudah untuk Hang Guan, ia ingin orang ini merasakan penderitaan yang selama ini di rasakan korban kelompoknya.


Ye Huolang menarik rambut pria itu, memaksa agar ia menatapnya.


"Ini adalah akhir kelompokmu, tidak ada yang perlu kau banggakan setelah ini," ucap Ye Huolang pelan namun penuh penekanan.


"Benarkah?" Hang Guan tersenyum lebar. "Jika ini adalah akhir, maka kematian akan segera menjemputmu! HAHAHA…!"


Ye Huolang berdecih, tidak mengindahkan ucapan Hang Guan lebih jauh. "Bicaralah sesukamu selagi sempat, karena setelah semua ini berakhir kau tidak akan bisa melakukannya."


"Apa yang kau sembunyikan di dalam goa itu?" Ye Huolang memerhatikan mulut goa, sosok bertudung sebelumnya terlihat sibuk keluar masuk tempat itu.


"Oh…" Hang Guan menaikkan alisnya dan tertawa kecil. "Kau ingin melihatnya?"


GRRRHHH!


Suara geraman yang di ikuti hembusan angin keluar dari dalam goa. Aroma amis darah seketika menyengat hidung Ye Huolang.


"Kau-… Apa yang ada di dalam sana?" Ye Huolang menjadi waspada, ia merasakan aura yang sangat kuat terpancar dari dalam goa.


"Hahaha! Kau ingin tahu? Kalau begitu…" Hang Guan menyeringai lebar. "Lepaskan makhluk itu! Biarkan dia menghabisi sampah-sampah ini!" Hang Guan berteriak keras yang di ikuti tawa lebar.


Ye Huolang mengerutkan kening, beberapa saat kemudian tanah di sekitar goa mulai bergetar. Ye Huolang melepaskan cengkeramannya dan menjaga jarak aman.


Tanpa sadar Ye Huolang bergerak mundur saat sesosok hitam besar keluar dari dalam goa. Matanya merah menyala dengan dengan mulut di penuhi darah.


"I-ini…"


***


Seluruh anggota sekte memilih menjauh dari lokasi Fu Chen. Mereka terkejut bukan main karena Fu Chen begitu menikmati pembunuhannya, bahkan tawa lebar tidak pernah berhenti saat ia menghabis lawan.


"Hahaha… benar, sambutan seperti inilah yang aku inginkan!" Fu Chen menjilat pedangnya yang di lumuri darah, bahkan pakaian yang ia kenakan sudah dipenuhi darah segar.


Saat sedang menikmati pembantaian, seseorang berbadan besar bergerak cepat ke arah Fu Chen. Karena tidak memperdulikan keadaan sekitar, tubuh Fu Chen terpental jauh akibat pukulan orang itu.


Sosok misterius yang mengendalikan tubuh Fu Chen melebarkan mata, darah segar sedikit keluar dari mulutnya. "Kau… Beraninya kau merusak tubuh baruku!"


Fu Chen menatap tajam ke arah Hongli, dua tulang rusuknya patah akibat pukulan itu.


Aura gelap kemudian menyembur dari tubuh Fu Chen, membuat siapapun yang merasakannya langsung terjatuh dan memuntahkan darah.


Fu Chen yang tubuhnya di selimuti aura gelap mendekati Hongli. Hongli semakin tidak berdaya karena tekanan yang begitu kuat.


"Oh… kau memiliki jiwa yang kokoh, namun jiwa mu sudah ternodai." Fu Chen mengangkat kepala Hongli dengan mudah.


Perlahan-lahan wajah Hongli semakin pucat, tubuhnya berubah kurus hingga akhirnya hanya terisa tulang berbalut kulit. Yang di lakukan sosok itu adalah menyerap jiwa Hongli dan memakannya.


Sedangkan aura hitam miliknya mempunyai kemampuan khusus untuk mengacaukan jiwa siapapun yang ada dalam jangkauan.


Ketika Fu Chen sedang berjalan santai di antara tumpukan mayat anggota Beruang Hitam, sebuah auman keras tiba-tiba terdengar.


Fu Chen segera menolehkan wajahnya, mencari sumber suara itu. Dan beberapa saat kemudian ia tersenyum lebar.


Dua pengikut Ye Huolang dan semua rombongan sekte Pedang Suci menghentikan aksi mereka saat mendengar auman itu. Tetua sekte dan dua pengikut Ye Huolang segera mendatangi asal suara. Xiao Jung juga ikut menyusul karena jumlah musuh sudah banyak berkurang.


"Tuan Muda, ada-…" Pengikut Ye Huolang tidak dapat menyudahi kalimatnya saat melihat makhluk besar setinggi lima belas meter berdiri di mulut goa.


Tetua sekte dan Xiao Jung segera merapatkan diri pada Ye Huolang dan lainnya. Mulut mereka sedikit terbuka namun tidak ada kalimat yang keluar.


"Makhluk apa ini?" Xiao Jung menelan kasar ludahnya.


"Ini… ini adalah siluman Beruang Hitam, di lihat dari tubuhnya seharusnya ia berusia lebih dari seribu tahun." Keringat dingin mulai membasahi punggung Ye Huolang saat memikirkannya.


Xiao Jung dan lainnya melebarkan mata lantaran terkejut.


"Bagaimana bisa sekelompok perampok memiliki makhluk mengerikan seperti ini?" Tetua sekte melirik ke sekitarnya.


Kehadiran siluman berusia seribu tahun ini mungkin dapat menjadi alasan kenapa tingkah anggota Beruang Hitam menjadi aneh sebelumnya.


"Tuan Muda, bagaiamana ini? Siluman seribu tahun setidaknya setara dengan pendekar Sakti. Kita berempat sekalipun belum tentu dapat mengalahkannya."


Ye Huolang merenungi ucapan pengikutnya. Tapi jika mereka kabur sekarang, siluman itu akan menjadi ancaman yang lebih berbahaya jika memasuki permukiman warga.


"Tuan Muda-…"


"Kita akan melawannya!" sergap Ye Huolang. "Jika perkiraanku benar, siluman ini harusnya baru terbangun dari tidur panjang…"


"Tidur panjang? Apa maksudmu hibernasi?" Xiao Jung menyergap ucapan Ye Huolang.


Ye Huolang menganggukkan kepala. "Itu benar, sangat tidak mungkin kelompok sekecil ini dapat menangkap siluman berusia seribu tahun tanpa membunuhnya."


"Kalau begitu tidak ada pilihan lain, sepertinya kita memang harus melawan makhluk ini." Tetua sekte menghela napas berat, matanya terarah pada siluman Beruang Hitam yang sejak tadi masih terus meraung.


***


saya harap tidak mengecewakan, othor bikinnya buru2🙏


like~