
Mu Lien telah mengamati keadaan sekitar dan barang bawaan Fu Chen. Namun ia tidak melihat apapun selain kuda putih yang menjadi sandaran pemuda itu.
Kuda itu bahkan lebih gagah jika dibandingkan dengan miliknya. Mu Lien menebak Fu Chen memiliki latar belakang yang cukup terpandang.
"Maaf mengganggu waktu istirahatmu Tuan Chen, musik yang kau mainkan begitu indah. Hingga membuatku penasaran siapa yang memainkannya." Mu Lien memulai pembicaraan dengan Fu Chen.
"Apa aku bisa beristirahat di sini juga? Hari sudah mulai larut, aku khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk jika terus melanjutkan perjalanan."
"Tenang saja, aku juga membawa beberapa makanan. Kau bisa mengambilnya jika kau mau," Lanjut Mu Lien dengan senyum lembut.
"Tapi Nona-" pemimpin pengawal itu menghentikan ucapannya saat Mu Lien menatapnya tajam.
Fu Chen hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala. Mungkin Mu Lien menebak jika Fu Chen sedang kelaparan karena ia terlihat tidak membawa barang apapun.
"Tuan Chen, maaf jika menyinggung mu… tapi aku tidak melihat satupun barang bawaan mu. Apa yang telah terjadi?" Mu Lien khawatir Fu Chen baru saja di rampas atau di hadang para bandit.
Karena tidak ada pemukiman di dekat mereka, setidaknya untuk anak seusia Fu Chen, dia memerlukan beberapa pengawal dan bekal untuk melewati hutan.
"Ini tidak seperti yang anda pikirkan nona Mu. Aku bisa mencari makanan di perjalanan…" jawab Fu Chen.
Mu Lien lantas menaikkan alisnya, dalam kepalanya ia mengira Fu Chen adalah pengelana yang mengandalkan kemampuan musiknya untuk bertahan hidup.
Usia Mu Lien sebenarnya tidak berbeda jauh dengan Fu Chen, karena itu dia belum memiliki pandangan yang luas tentang dunia luar.
Fu Chen kembali memainkan seruling nya karena permintaan Mu Lien, namun lagu yang ia mainkan berbeda karena lagu sebelumnya khusus untuk sang ayah.
"Tuan Chen, maukah kau ikut dengan ku ke Kota Lianing? Aku berencana untuk menghadiri pesta ulang tahun saudariku di sana…"
Mu Lien menawarkan Fu Chen untuk memainkan beberapa lagu untuk mengisi acara itu. Dengan kemampuan Fu Chen, Mu Lien yakin akan banyak orang yang terhibur.
"Maaf Nona, tapi sepertinya anda salah paham. Aku bukanlah penyair, ini hanya sekedar hobi saja. Jadi aku tidak yakin apakah mereka akan menikmatinya."
Fu Chen sebenarnya tidak masalah dengan tawaran itu, namun ia tidak ingin rombongan Bangsawan ini malah menghambat perjalanannya.
Fu Chen sedikit menjelaskan alasannya saat melihat wajah Mu Lien yang murung, "Jika aku punya waktu aku akan menerima tawaran nona. Lagipula tujuan kita sama."
"Benarkah?" Wajah Mu Lien kembali bersinar.
Fu Chen hanya tersenyum lembut, sungguh gadis yang sederhana pikirnya.
Para pengawal yang mengamati mereka pun ikut menghela napas lega. Mereka khawatir bagaimana menjelaskannya pada petinggi jika Fu Chen menerima tawaran Mu Lien.
Malam semakin larut dan orang-orang pun mulai tidur, namun seperti biasa Fu Chen tidak dapat tidur ketika ada orang asing di sekitarnya.
"Ulang tahun ya…" Fu Chen bergumam. "Jika aku ingat-ingat seharusnya hari ulang tahunku sudah lewat beberapa hari yang lalu."
Kini usia Fu Chen telah menginjak 11 tahun, tidak ada yang perlu di rayakan karena itu menandakan waktunya semakin sempit untuk mewujudkan mimpi ayahnya.
Sebelum matahari benar-benar terbit, Fu Chen telah memacu kudanya untuk melanjutkan perjalanan. Dia meninggalkan sepotong daging yang telah di masak untuk sarapan Mu Lien dan anak buahnya.
Mu Lien kembali lesu, ia mengira bisa memberikan kesan yang baik pada Fu Chen, namun sepertinya pemuda itu telah menutup rapat hatinya.
Mu Lien bahkan tidak habis pikir masakan Fu Chen jauh lebih enak dibandingkan masakan para pengawalnya.
"Beraninya bocah itu membuat nona kita memasang wajah seperti itu!" Gerutu salah satu pengawal.
Dengan kecepatan kuda miliknya, seharusnya rombongan Mu Lien tidak akan bisa menyusulnya. Meski sempat bertemu dengan beberapa siluman dan binatang buas, semuanya tidak berani menyerang Fu Chen ketika pemuda itu melepas auranya.
Setelah beberapa hari ia menemukan sebuah desa dan memutuskan untuk bermalam di sana. Kuda yang ia tunggangi juga terlihat kelelahan.
Fu Chen tidak ingin banyak berinteraksi dengan orang-orang di sana, dia hanya menitipkan kudanya pada penginapan dan segera memesan kamar untuk istirahat.
Mengingat ukuran gua yang cukup besar, Fu Chen merasa harus mencari waktu yang pas untuk mengeluarkannya.
Saat turun untuk makan, Fu Chen melihat keanehan dari pelayan di sana ketika menatapnya. Mereka nampak linglung dan pucat, beberapa bahkan berusaha menghindari Fu Chen.
Fu Chen hanya mengangkat bahu sejenak dan menyantap sarapannya. Fu Chen tidak dapat menahan diri untuk bertanya ketika ia hendak membayar makanannya.
"Apa yang terjadi? Apa ada sesuatu yang salah denganku?" tanya Fu Chen sambil menyipitkan mata.
"Bu-bukan begitu Tuan…" pelayan itu mulai panik, bisa di bilang Fu Chen telah membayar mahal untuk sekedar menginap semalaman.
"Ku-kuda anda telah…"
Fu Chen hanya menghela napas panjang melihat pelayan itu tidak berani bicara, ia hanya menebak jika kudanya telah membuat masalah di kandang dan merepotkan para pelayan ini.
Fu Chen memberikan beberapa tips untuk mengganti kerugian penginapan namun pelayan itu segera menolak.
"Maaf Tuan! Ta-tapi kami tidak bisa menerimanya," sahut pelayan itu.
Fu Chen tidak ingin pikir panjang dan mengambil uangnya kembali sebelum pergi ke tempat kudanya. Tapi yang ia lihat justru kuda itu menghilang.
Tidak ada tanda kerusakan yang mungkin disebabkan karena kuda itu mengamuk, semuanya rapi seolah tidak terjadi apa-apa.
Fu Chen kembali ke pelayan sebelumnya dan menanyakan apa ayang terjadi. Pelayan itu menjelaskan sambil terbata-bata dan keringat dingin mulai bermunculan.
Fu Chen menatap tajam pelayan itu sebelum menghela napas sejenak.
"Dimana anak Kepala Desa itu sekarang?" tanya Fu Chen.
"Di-dia pergi ke pusat perdagangan tuan, sepertinya dia ingin memamerkan kuda yang baru saja dia dapatkan."
Fu Chen menatap pelayan itu sejenak sebelum melangkah pergi. Pelayan itu lantas ambruk ke lantai dengan napas tersengal, beberapa pelayan di dekatnya pun segera membantunya berdiri.
"Sepertinya anak itu benar-benar mampus kali ini…" gumam pelayan itu.
Selama ini dia tidak pernah melihat petualang dengan kemampuan tinggi yang singgah di Desa mereka. Karena kebanyakan petualang memilih untuk melanjutkan perjalanan, sebab jarak dari Desa ke Kota Lianing tidak terlalu jauh.
Fu Chen berjalan santai sembari mengamati Desa, ia juga sempat membeli beberapa cemilan di pinggir jalan. Fu Chen cukup yakin tidak seorangpun mampu menunggangi kuda itu untuk pertama kalinya.
Fu Chen juga tidak kesulitan untuk menemukan lokasi anak Kepala Desa itu, mereka justru membuat keributan sepanjang jalan.
Beberapa orang dewasa terlihat berusaha keras untuk menarik kuda itu agar ia mau berjalan. Kemudian ia melihat seorang remaja yang tersenyum lebar sambil memperhatikan kuda itu dari depan.
Fu Chen muak untuk berurusan dengan orang-orang sepertinya. Lagipula Fu Chen dapat menebak apa yang akan terjadi jika ia merebut kembali kuda itu.
Kuda itu tidak terlihat kesusahan meski ia di tarik oleh beberapa orang dewasa. Bahkan dia mampu melempar beberapa diantara mereka saat ia merasa jengkel.
Fu Chen bersiul sejenak, kuda itu lantas meringkik dan menendang orang-orang dengan kakinya. Beberapa terlempar jauh hingga menabrak rumah warga, bahkan salah satu di antara mereka sampai tidak sadarkan diri.
Wajah penjaga penginapan yang melihat Fu Chen seketika berubah pucat, ia tahu ini akan terjadi dan telah memperingati anak kepala Desa itu sejak tadi.
"Hei! Apa yang kau lakukan?" Remaja itu membentak Fu Chen.
Seolah mengetahui maksudnya, kuda itu seketika membuang kotorannya di depan anak itu. Dia kemudian berjalan ke arah Fu Chen dengan santai.
Fu Chen mengelusnya sejenak, "Kerja bagus." Ia segera menunggangi kuda itu dan melintas di samping anak kepala Desa seolah tidak terjadi apa-apa.
Fu Chen bahkan tidak melirik kearah anak itu sedikitpun. Dengan cemilan yang masih di tangannya, Fu Chen kembali melanjutkan perjalanan.