
Informasi mengenai turnamen yang di katakan Hwang Jeong sebenernya telah disebarkan cukup lama. Fu Chen beruntung karena dirinya masih bisa mendaftar.
Banyak yang meremehkan Fu Chen karena usianya yang masih muda. Pendekar-pendekar yang mendaftar di sana menganggap Fu Chen sebagai sasaran empuk.
Di samping itu semua Hwang Jeong terus mengamati Fu Chen sejak ia bertemu dengannya. Ia cukup kagum melihat Fu Chen yang tenang menanggapi cemoohan padanya. Entah karena kepercayaan dirinya yang tinggi atau sikapnya yang cukup dewasa.
Hwang Jeong juga menilai jika Fu Chen bukan anak yang membuang-buang waktunya dengan hal tidak berguna. Sebagian besar waktunya digunakan untuk meditasi dan berlatih pedang.
Hwang Jeong sendiri sempat merasa iri, sebab sikapnya sewaktu muda sangat berbeda jauh dengan Fu Chen.
Hwang Jeong mengira sikap Fu Chen yang demikian adalah karena dirinya. Hwang Jeong mulai menyesal telah menyuruh Fu Chen untuk mengikuti turnamen.
Fia pun demikian, ia menyadari sikap Hwang Jeong yang mulai berubah. Akhir-akhir ini sikap Hwang Jeong menjadi lebih serius dalam beberapa hal.
"Bagaimana persiapan mu sekarang?" Hwang Jeong bertanya pada Fu Chen ketika melihatnya sedang menempa besi.
"Semuanya telah siap, hanya perlu menunggu pembukaan turnamen." Fu Chen menjawab, tubuhnya yang kepanasan membuat bajunya basah karena keringat.
"Bukankah kau seharusnya istirahat daripada menghabiskan waktu disini?" Hwang Jeong hanya tidak ingin Fu Chen kelelahan bahkan sebelum turnamen di mulai.
"Ini jauh lebih baik daripada tidak melakukan apapun." Fu Chen memperhatikan belati yang ia tempa.
Itu adalah belati biasa dengan kualitas normal, Fu Chen cukup puas mengingat itu adalah belati pertama yang ia tempa setelah mendapat petunjuk dari Fia.
Fu Chen berniat untuk membuat beberapa bilah belati lagi, ia berencana untuk menggunakan belati itu disaat situasi tertentu.
Melihat Fu Chen sibuk dengan urusannya Hwang Jeong berniat pergi. Dia juga tidak melihat Fia disana sehingga tidak ada yang bisa dia lakukan.
Malam hari sebelum turnamen dibuka, Fu Chen sempat berlatih dengan belatinya. Belati itu memang cukup bagus, namun ia tidak yakin apakah itu bisa bertahan jika berbenturan dengan senjata lain.
Keluarga Muyong melakukan pembukaan turnamen disebuah tanah kosong yang tidak jauh dari hutan. Banyak warga Kota Lianing yang menyaksikan karena memang lokasinya tidak begitu jauh dari kota.
Peserta turnamen itu setidaknya mencapai 200 orang, Fu Chen mengira keluarga Muyong akan membuka turnamennya di sebuah koloseum seperti biasa.
"Selamat datang dan terimakasih karena telah berpartisipasi dalam turnamen ini…"
Pembawa acara membuka sambutan untuk para pendekar, ia juga memberikan pidato tentang tujuan turnamen ini di adakan, tentu dengan kompensasi yang mereka dapatkan nanti.
Sebagian besar pendekar disana telah mengetahui informasi itu dari selembaran yang dibagikan keluarga Muyong. Sehingga banyak dari mereka protes untuk mempercepat pidato tidak berguna itu.
Si pembawa acara lekas menyudahi kalimatnya dan memberikan sambutan berikutnya pada perwakilan keluarga Muyong.
Dia adalah kepala cabang di Kota Lianing, ia cukup puas dengan turnamen ini karena banyak nama-nama yang terkenal di dunia persilatan ikut hadir.
Mu Guanjiang tersenyum tipis sebelum mengucapkan kata sambutannya. "Sepertinya kalian sudah tidak sabar untuk menghancurkan lawan kalian. Tapi turnamen kali ini akan berbeda dari biasanya…"
Mu Guanjiang mengatakan jika peserta yang mendaftar terlalu banyak, sehingga ia akan merubah peraturan turnamen.
Para pendekar ini akan berburu satu sama lain, setiap pendekar akan diberikan pin sesuai dengan nomor urut mereka.
Tujuan pemburuan ini cukup sederhana, mereka hanya perlu mengumpulkan peserta lainnya sebanyak mungkin.
Mu Guanjiang mengatakan jika para peserta bebas melakukan apapun untuk merebut pin dari orang lain. Hal itu membuat semua orang terkejut, mereka tidak menyangka turnamen nya akan berbeda dari biasanya.
Fu Chen hanya bisa menghela napas mendengar peraturan baru itu. Selain belum mengetahui kondisi hutan, ia juga menebak dirinya akan dijadikan sasaran empuk bagi para pendekar lain.
Mu Guanjiang mempersilahkan para peserta untuk segera memasuki hutan. Ia akan menyuruh bawahannya untuk memberi tanda jika perburuan akan dimulai.
Tidak banyak pendekar yang berani memasuki hutan lebih dulu karena mereka takut akan di ikuti. Namun beberapa nama yang cukup terkenal nampak tidak peduli dengan hal itu, mereka justru akan senang jika banyak pendekar yang mengikutinya.
Fu Chen hanya berjalan santai sembari mengamati situasi, dia tidak akan tergesa-gesa untuk berburu karena waktu yang di berikan Mu Guanjiang adalah tiga hari.
Hutan ini cukup luas dan berbahaya, binatang buas dan siluman yang merasakan keberadaan para pendekar pasti akan terusik dan membuat sikap mereka lebih agresif.
Setelah cukup dalam menelusuri hutan, akhirnya Fu Chen menemukan ladang rumput yang tidak begitu luas. Fu Chen duduk disebuah batu ditengah-tengah ladang rumput itu.
Fu Chen berniat menunggu peserta yang mengikutinya, jumlah itu cukup banyak bahkan mungkin bisa membuat Fu Chen kerepotan.
Tidak lama setelahnya Seekor burung elang nampak terbang melingkar di atas langit. Para peserta menebak hal itu sebagai dimulainya perburuan.
Seperti dugaan Fu Chen, satu-persatu peserta mulai muncul dari balik pohon. mereka mulai menarik senjata masing-masing sembari menyeringai lebar.
Namun senyuman itu tidak bertahan lama karena banyaknya peserta yang berkumpul di satu tempat.
Fu Chen lantas terkekeh pelan, hal itu membuat salah satu peserta mengerutkan keningnya.
"Sepertinya kau sudah tidak waras bocah! Nyawa mu saat ini sedang di pertaruhkan. Jadi sebaiknya kau serahkan pin itu selagi aku bicara baik-baik."
"Hahaha…" tawa Fu Chen semakin lebar. "Tidak kah kau merasa bodoh? Apa kau yakin mereka akan menyerahkan pin ini padamu?" Fu Chen menunjuk pin di dadanya.
Peserta disana telah memasang sikap siaga sejak tadi, mereka juga tidak menyangka akan banyak orang yang mengikuti Fu Chen.
Senyuman di wajah Fu Chen menghilang, tatapannya berubah tajam. Ia tidak ingin menghabiskan waktu dengan meladeni perdebatan para peserta ini.
Fu Chen menarik pedangnya dan melesat ke salah satu peserta. Peserta itu tumbang dengan sekali tebasan yang membuatnya pingsan.
Peserta lainnya membeku sejenak saat Fu Chen mengambil pin peserta itu. Mereka terlalu fokus pada peserta lain sehingga mengabaikan keberadaan Fu Chen.
Mereka baru tersadar kembali setelah Fu Chen mendadak menghilang dari pandangan dan kemudian menumbangkan peserta lainnya.
hal itu membuat mereka waspada. seolah diberikan arahan, mereka kompak untuk mengincar Fu Chen lebih dulu. Membuat Fu Chen tidak bisa mengincar satu persatu dari mereka.