Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.103 - Pusaka yang Tersegel


Berakhirnya rapat tetua tidak membuat Li Han segera pulang ke kediamannya. Li Han masih ingin membicarakan beberapa hal dengan Feng Youxin juga mengungkap kecurigaannya pada Kuang Bei.


Untuk sekarang ia harus menyelesaikan masalah ini sebelum terlambat. Li Han meminta Feng Youxin untuk berhati-hati dalam berbicara kedepannya, seingat Li Han salah satu kemampuan Kuang Bei adalah meniru penampilan orang lain.


"Bisakah kau ikut denganku malam ini?" tanya Li Han.


Feng Youxin sedikit menaikkan alisnya, "Tentu, tapi kemana?"


"Ada hal yang ingin aku tunjukkan padamu…"


Li Han kemudian melompat menggunakan ilmu meringankan tubuh miliknya yang kemudian segera di susul oleh Feng Youxin.


"Ck, sial!" Gerutu seseorang yang sejak tadi mengikuti Li Han dan Feng Youxin, "Tunggu, bukankah mengarah ke perpustakaan?"


Penguntit itu adalah Kuang Bei yang berniat mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai pusaka sekte. Kuang Bei bisa sejauh ini mengikuti Li Han karena percaya dengan kemampuan menghilangkan hawa keberadaannya. Sehingga saat Li Han menggunakan ilmu meringankan tubuh Kuang Bei merasa sedikit kesal.


"Aku tidak bisa mengikutinya menggunakan ilmu meringankan tubuh atau mereka akan menyadariku." Kuang Bei kemudian memepercepat langkahnya.


Meski tidak mengatakannya, sebenarnya Li Han sudah mengetahui keberadaan Kuang Bei, dia sengaja memancing tetua itu agar niat busuknya terungkap di depan Feng Youxin.


"Selamat datang, Tuan… ada yang bisa-"


Tanpa berbasa basi lebih jauh Kuang Bei segera mematahkan leher pelayan yang menyambutnya. Kuang Bei segera menyembunyikan mayat tersebut dan segera meniru penampilan si pelayan menggunakan jurus miliknya.


Wajah Kuang Bei kini menyerupai pelayan yang ia bunuh, bahkan seluruh tubuh hingga suaranya pun ikut berubah. Sebagian besar qi Kuang Bei terkuras untuk menggunakan jurus itu, namun ia tidak mempermasalahkannya dan segera bergerak mencari keberadaan Li Han dan Feng Youxin.


"Guru, hal apa yang ingin kau tunjukkan kepadaku?" Feng Youxin sedikit bingung karena Li Han tidak menjelaskan apapun.


"Hilangkan hawa keberadaanmu sejenak, ada satu orang lagi yang aku tunggu."


Meski sedikit bingung Feng Youxin tidak banyak bertanya dan melakukan permintaan Li Han. Benar saja, hilangnya hawa keberadaan Li Han dan Feng Youxin membuat Kuang Bei semakin cemas, ia mengira keberadaanya sudah di ketahui oleh kedua orang itu.


Kuang Bei bergegas menuju lantai atas namun saat baru tiba di lantai empat sebuah aura yang begitu hebat menyambut kedatangannya.


"Ugh, apa ini?!" Kuang Bei tersentak.


"Akhirnya kau datang juga."


Seketika melebarkan melebarkan matanya, dengan perasaan campur aduk Kuang Bei mencoba untuk mendongakkan kepala, melihat sosok kakek tua dengan aura hebat di tubuhnya.


"T-tetua… ada apa ini?" Kuang Bei masih berusaha bersandiwara dengan tubuh bergetar hebat.


"Tidak perlu berpura-pura lagi, kau pikir seorang pelayan mampu menahan tekanan ini?!" Li Han menatap tajam dengan penuh intimidasi pada Kuang Bei.


Feng Youxin segera meminta Li Han untuk menghilangkan aura miliknya yang semakin membesar. Feng Youxin khawatir orang-orang di bangunan ini juga akan merasakan dampaknya.


"Guru, siapa orang ini?"


"Kau masih belum menyadarinya? Dia adalah tetua Kuang Bei…" Li Han menatap Kuang Bei dengan tajam, "Sampah yang selalu menerima misi dari luar sekte."


"Kau- kenapa kau ada di sini?" Feng Youxin mengerutkan kening, tetua yang dia kira dapat di percaya ini ternyata berani membuntuti mereka tanpa izin.


Kuang Bei hanya bisa mengumpat dalam hati, tidak menyangka kekuatan Li Han akan mengerikan. Kuang Bei hanya bisa pasrah, ia memang terlalu gegabah untuk langsung membuntuti Li Han dan Feng Youxin.


Suasana hati Li Han sedang buruk, ia tidak ingin berlama-lama mengurusi masalah ini dan segera meminta Feng Youxin dan Kuang Bei untuk mengikutinya.


Kuang Bei sangat terkejut ketika ia diizinkan untuk ikut namun ia masih curiga akan ada jebakan yang di siapkan kakek tua itu. Sementara itu Feng Youxin hanya bisa mengikuti Li Han dengan banyak pertanyaan di kepalanya.


Setibanya di lantai lima Li Han menghentikan langkahnya sejenak dan memandang kain hitam yang menutupi sebuah benda di tengah ruangan itu. Li Han kemudian berjalan mendekatinya.


"Aku akan mengatakan rahasia ini pada kalian, rahasia yang hanya di ketahui oleh keturunan asli sang leluhur."


Li Han menarik kain hitam yang menutupi patung tersebut, patung yang sempat menarik perhatian Fu Chen saat pertama kali melihatnya. Ruangan itu seketika berubah silau dalam sekejap sebelum akhirnya kembali normal.


Mata Feng Youxin dan Kuang Bei kemudian mengarah ke patung berbentuk pedang yang berdiri tegak pada sebuah bongkahan batu. Mereka berdua sedikit kebingungan karena patung yang sama juga sering mereka lihat di aula utama sekte. Bentuk patung itu juga merupakan simbol sekte Pedang Suci.


"Kalian tahu kenapa sekte kita di namakan sekte Pedang Suci?" Li Han mulai meraba patung itu dengan tatapan penuh makna.


Feng Youxin dan Kuang Bei hanya menggelengkan kepala, keduanya tidak tahu dan tidak pernah memikirkan hal tersebut.


Li Han kemudian mulai menceritakan asal usul sekte mereka, "Tidak banyak yang mengetahui kebenaran ini namun sekte Pedang Suci dulunya merupakan salah satu terbesar di benua Timur. Sedangkan leluhur sekte adalah salah satu pendekar terhebat di masanya…"


"Semenjak memasuki dunia persilatan leluhur sekte telah berteman dengan seorang pendekar terhebat sepanjang sejarah. Leluhur bersama rekannya berperan besar dalam pertempuran dahsyat di masa itu hingga ia mendapat julukan 'Jun Liang' (Kekuatan Suci). Dengan pedang di tangannya mereka berdua telah mengarungi dunia selama puluhan tahun…"


Setelah kekacauan itu berakhir, rekan Jun Liang menyerahkan sebuah pusaka tanpa tanding kepadanya sebelum keduanya berpisah. Pusaka itu memiliki nama Pedang Mutiara Bulan, merupakan satu di antara tiga pusaka terhebat di dunia.


Rumor tentang pusaka itupun mulai menyebar dengan cepat. Seluruh pendekar di penjuru dunia tertarik untuk merebut pusaka yang di berikan pada Jun Liang.


Akibatnya, banyak pendekar mulai berdatangan untuk merebut pusaka Jun Liang namun pendekar-pendekar itu berakhir dengan kematian. Dengan Pedang Mutiara Bulan itu Jun Liang berhasil memukul mundur ratusan pendekar Suci seorang diri.


Kemampuan Jun Liang sangat luar biasa, bahkan hingga akhir hidupnya Jun Liang masih tetap mempertahankan pusaka itu kemudian menyegelnya dengan energi kehidupannnya.


"Setelah kematian Jun Liang, banyak pendekar yang berlomba-lomba untuk membuka segel itu hingga sekte ini mengalami kemunduran, namun tidak satupun dari mereka yang bisa membuka segel itu…" Li Han melirik ke arah Kuang Bei dan Feng Youxin bergantian.


Sekarang, informasi mengenai pusaka itu telah musnah bahkan jejak para pendekar yang memperebutkannya pun menghilang.


Feng Youxin sangat terpana mendengar cerita Li Han, dia tidak pernah menyangka jika sekte Pedang Suci memiliki sejarah yang cukup panjang. Feng Youxin merasa tertarik untuk mengenal sosok Jun Liang lebih jauh.


"Aku tidak akan menghentikanmu jika kau ingin mengambil pusaka itu, itupun jika kau mampu membuka menyentuhnya." Li Han berjalan mendekati Kuang Bei, meminta orang itu agar segera menentukan pilihannya.


Segel yang di tempatkan Jun Liang adalah salah satu segel terbaik yang pernah Li Han lihat. Segel itu seolah memiliki kesadaran sendiri dan hanya orang-orang terpilih yang dapat menyentuhnya.


Kuang Bei hanya menelan ludahnya dengan kasar, jika pendekar-pendekar hebat di masa lalu saja tidak bisa membuka segel itu maka dirinya hanya bisa bermimpi untuk memiliki pusaka ini.


"… maafkan aku…" Kuang Bei menyesali perbuatannya, ia bersujud di kaki Li Han dengan perasaan campur aduk. Di situasi seperti ini seharusnya ia mementingkan keamanan sekte dari pada keserakahannya, karena bagaimanapun sekte ini merupakan tempat tinggalnya.


Li Han hanya menatap Kuang Bei sejenak, dia ingin menghukum pria ini namun tidak sekarang. Li Han kemudian kembali bercerita mengenai kisah Jun Liang saat melihat Feng Youxin begitu antusias.