Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.85 - Gunung Fugui III


Anggota Beruang Hitam terus berdatangan bagai air mengalir. Perbedaan Jumlah yang signifikan itu membuat murid-murid sekte sedikit kewalahan. Masing-masing dari mereka setidaknya melawan tiga sampai empat orang anggota Beruang Hitam.


Ye Huolang dan dua pengikutnya terus bergerak menuju pusat markas, setiap orang yang berani menghalau jalannya akan musnah menjadi gumpalan darah. Beberapa yang masih dapat berpikir jernih sedikit menghindar dan memilih lawan yang tepat.


Satu-satunya orang yang dapat melawan tiga orang itu hanya pemimpin mereka, Hang Guan!


Ye Huolang berjalan santai hingga mendekati mulut goa, saat tiba di sana, sosok pemimpin Beruang Hitam sedang duduk dengan menyilangkan kakinya di atas mulut gua. Seseorang dengan jubah hitam bertudung juga terlihat di sampingnya.


"Yo… aku sudah menunggumu sejak tadi, Tuan Muda Ye. Tidak ku sangka kau membawa cukup banyak pendekar untuk menangkapku." Hang Guan tersenyum sinis.


Dia sudah mengetahui kunjungan sekte Pedang Suci dan Ye Huolang sejak awal. Namun bukannya menyerahkan diri, Hang Guan justru menyuruh anak buahnya untuk lebih giat menculik banyak orang.


Ye Huolang mengangkat tangan kananya, kemudian memberikan tanda agar kedua pengikutnya membantu yang lain.


"Tapi Tuan Muda… kami di perintahkan untuk-…" Salah satu pengikut Ye Huolang tidak dapat menyudahi kalimatnya saat melihat tatapan tajam yang tertuju padanya.


"Aku sudah mengatakannya sejak awal. Aku akan membunuh orang ini dengan tanganku sendiri…"


"Tapi-"


"Ini perintah! Jangan membuatku mengulanginya sekali lagi!" Ye Huolang membentak dengan mengunuskan pedangnya, matanya sangat tajam menatap kedua pengikutnya.


"B-baik Tuan Muda. Tolong jaga diri anda…" Keduanya saling berpandangan sejenak dan bergegas pergi ke dua sisi berbeda.


"Hahaha…!" Hang Guan tertawa lebar, sedikit tertarik melihat tingkah Ye Huolang. "Aku tidak tahu apa yang membuat Tuan Muda dari Menara Bintang Permata sangat menginginkan nyawaku. Tapi, tidakkah kau terlalu meremehkanku?"


Ye Huolang mencengkeram pedangnya dengan kuat dan menatap Hang Guan. "Aku tidak perlu mengatakan di mana letak kesalahanmu, bukan?"


Hang Guan hanya tertawa kecil, kemudian mendekatkan wajahnya ke sosok bertudung di sampingnya. "Buat mereka menggila!" Hang Guan menyeringai kebar setelahnya.


Sosok bertudung itu hanya mengangguk dan berjalan pergi setelahnya. Hang Guan kemudian mengambil senjatanya yang berupa tombak panjang dan melompat turun. Dia berjalan mendekati Ye Huolang dengan santai.


"Mari kita mulai!" Usai mngucapkannya Hang Guan bergerak cepat mendekati Ye Huolang.


Ye Huolang mendengus kasar, keduanya saling menyerang di saat yang bersamaan. Ye Huolang mengalirkan energi qi ke pedangnya dan menimbulkan energi kejut saat pedangnya beradu dengan tombak Hang Guan.


Hang Guan menyeringai sambil menjilat bibirnya, "Kau sangat menarik!"


Di lokasi Fu Chen tengah bertatung, teriakan kesakitan terus terdengar dan tiada hentinya. Mereka yang tergeletak di tanah hanya bisa berharap jika ajal segera menjemput. Tangan dan kaki mereka sudah terkulai lemah dan tidak dapat di gerakkan, sedangkan rasa sakit terus menjalar ke seluruh tubuh.


Fu Chen bergerak secepat angin dalam menghabisi lawannya, pedangnya yang tumpul tidak menjadi masalah untuk memberikan teror mengerikan bagi para anggota Beruang Hitam.


Fu Chen tidak hanya sembarang menebas, setiap ayunan pedangnya akan mengakibatkan retak dan patah tulang di persendian lawan. Dan sejauh ini, tubuhnya masih belum merasakan gairah membunuh yang selama ini selalu muncul.


Keberadaan Fu Chen nyatanya menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya. Beberapa murid inti dan murid dalam yang melihat aksinya sedikit mengerutkan kening dan menelan ludah.


Bagaimana tidak, para pendekar umumnya lebih memilih mendapat luka sayatan ketimbang patah tulang. Selain rasa sakitnya dapat di redakan, mereka juga dapat menyembuhkannya dengan regenerasi di tubuh mereka.


Perbuatan Fu Chen memberikan pemandangan ngeri di mata mereka, tangan dan kaki para anggota Beruang Hitam itu berputar ke tempat yang tidak seharusnya. Tubuh mereka seolah remuk di tindih longsoran bebatuan besar.


Pakaian Fu Chen masih bersih seperti semula, tidak ada darah yang berani menodainya. Setiap kali lawannya tumbang, ia akan bergegas untuk menghabisi lawan lainnnya.


enam orang anggota Beruang Hitam kemudian datang secara bersamaan menghadang Fu Chen. Senjata masing-masing telah di keluarkan dan bersiap merenggut nyawa Fu Chen.


Fu Chen hanya menatap datar ke arah mereka, ke enam orang itu memiliki kekuatan setingkat pendekar kelas satu. Rombongan ini sedikit lebih kuat dari yang sejak tadi Fu Chen lawan.


Fu Chen tersenyum tipis, memang benar yang mereka katakan. Ia harus mengeluarkan lebih banyak tenaga agar setiap ayunan pedangnya dapat mematahkan tulang lawannya. Beruntung Fu Chen memiliki kualitas tulang yang sangat tinggi, membuat tenaganya tidak banyak berkurang.


"Tarian Bayang, jurus Langkah Bayangan…" Tiba-tiba Fu Chen menghilang dari pandangan anggota Beruang Hitam dan membuat mereka sedikit waspada.


Sedetik kemudian, terasa sebuah hembusan angin di sekitaran mereka dan Fu Chen tiba-tiba muncul di arah belakang. Anggota Beruang Hitam itu terlambat untuk bereaksi, membuat dua di antara mereka segera tumbang usai mendapat tebasan di kaki masing-masing.


Fu Chen lekas menyarungkan pedangnya kembali, ia memasang kuda-kuda merunduk dan cukup rendah. "Ilmu pedang Arus Jeram, Hiroshi Ketenangan…"


Fu Chen melesat secepat kilat dan mengayunkan pedangnya ke leher salah satu anggota Beruang Hitam. Kepala anggota Beruang Hitam itu terlepas dari tempatnya saat Fu Chen telah berhenti di belakangnya.


Tiga orang anggota yang masih tersisa reflek bergerak mundur beberapa langkah karena takut. Mereka menarik kembali ucapan yang sebelumnya. Anak ini adalah monster, mungkinkah dia menahan diri sejak tadi? pikir mereka sambil berusaha menjauh.


Fu Chen memejamkan matanya karena tidak ingin melihat lawan yang baru saja ia bunuh. Meski ia berhasil menumbangkan musuhnya dalam hitungan detik, namun penggunaan jurus Langkah Bayangan memerlukan jeda selama beberapa saat agar dapat di gunakan kembali.


"Wah, wah, wah… lihatlah apa yang aku temukan. Aku tidak menyangka bocah aliran putih sepertimu akan menyiksa lawannya hanya karena tidak ingin membunuh," ucap seseorang sambil berjalan santai melewati anggota Beruang Hitan yang sekarat.


Suara tepukan tangan kemudian terdengar di belakang Fu Chen. Fu Chen memutar tubuhnya dengan kening berkerut, sesaat kemudian matanya terbuka lebar dengan kepala mendongak ke atas.


Seorang pria kekar berkumis tebal dengan tinggi yang mencapai dua meter sedang menatap Fu Chen dengan senyuman penuh makna. Pria itu tidak mengenakan baju, sehingga bekas-bekas luka di tubuhnya dapat di lihat dengan jelas.


Fu Chen mundur dua langkah, bersiap menarik pedangnya yang tersarung jika pria itu membuat gerakan yang mencurigakan. Lawannya kali ini bukanlah pendekar kelas teri seperti yang lainnya.


"Insting yang bagus… Aku ingin melihat apakah kau benar-benar kuat atau lawanmu yang terlalu lemah." Pria itu menyeringai, menampilkan gigi-giginya yang sedikit berwarna hitam.


"Sial! Apa orang-orang kuat di markas ini akhirnya keluar?" Rahang Fu Chen menegang, menggengam erat pegangan pada pedangnya sambil terus memikirkan cara melawan orang ini.


Beberapa anggota Beruang Hitam yang berniat menyerang Fu Chen segera mengurungkan niat saat melihat pria itu. "Wakil Ketua, bocah ini telah membakar persedian makanan dan arak kita. Kita harus-"


Orang itu tidak dapat menyelesaikan ucapannya karena pria kekar di depannya langsung mencengkeram kepalanya. Dengan tubuhnya yang tinggi dan besar, dengan mudah ia mengangkat orang itu.


"Siapa dirimu berani memerintahku!?" ucap pria itu dingin, ia mencengkram kepala orang itu semakin kuat.


"W-wakil… AAAAHHK!" orang itu meronta-ronta berusaha melepaskan diri, namun apalah daya. Kekuatannya tidak cukup besar untuk menyingkirkan tangan pria itu. Alhasil, isi kepalanya tercerai-berai hingga darahnya mencuat ke segala arah.


Tanpa sadar, Fu Chen bergerak mundur beberapa langkah setelah melihat perbuatan pria itu. Belum sempat ia menenangkan diri, pria itu telah berjalan mendekat dengan seringai lebar.


"Jangan membuatku kecewa, bocah!" Pria itu bergerak semakin cepat ke arah Fu Chen.


Fu Chen terkejut melihatnya, pria itu terlalu dekat, ia tidak memiliki waktu untuk menghindar. Sebuah pukulan keras kemudian mengarah ke wajah Fu Chen.


Beruntung Fu Chen masih dapat menghalaunya dengan pedang, namun hasilnya membuat tubuh Fu Chen terpental sejauh 10 meter. Fu Chen berguling beberapa kali sebelum akhirnya mendapat keseimbangannya kembali.


Tangannya gemetar usai menerima satu pukulan itu. "Dia Kuat!" Fu Chen menatap tajam ke arah pria kekar. "Aku harus menghindari pukulannya. Jika tidak, aku akan segera tumbang di sini!"


Hongli, nama yang sangat cocok untuk pria kekar berpangkat Wakil Ketua kelompok Beruang Hitam itu. Pria itu menaikkan alisnya melihat Fu Chen masih bisa bertahan setelah menerima pukulannya.


"Hahaha… menarik, menarik. Semoga kau dapat menghiburku hingga akhir hayatmu!"


Hongli bergerak mendekati Fu Chen, namun kali ini Fu Chen berhasil menghindar. Tanah bekasnya tadi berpijak menjadi retak akibat pukulan Hongli.


Fu Chen mulai bersikap serius. Dari pengamatannya, Hongli tidak memiliki kecepatan yang cukup tinggi namun kekuatannya sangat mengerikan. Tapi Fu Chen tidak mengkhawatirkannya, dengan mengandalkan kecepatannya ia dapat menghindari serangan pria itu.


Tanpa keduanya sadari pertarungan ini akan menjadi penentu, siapakah yang akan menjadi pemenang antara kecepatan dan kekuatan.