Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.10 - Keberangkatan


Tang Shu baru tiba di rumah setelah hari mulai beranjak malam. Entah apa yang dilakukannya seharian penuh di luar sana. Namun jika diperhatikan, wajahnya terlihat lebih bersih, serta tubuhnya sedikit lebih berisi.


Dirinya seolah baru saja mengisi ulang otot-otot yang ada di tubuhnya. Fu Chen mengetahui ayahnya baru saja pulang, namun ia menahan rasa penasarannya. Ia ingin memberikan waktu bagi ayahnya untuk beristirahat.


Fu Chen sadar apapun yang di lakukan oleh ayahnya seharian ini, itu pasti sangat melelahkan. Malam hari juga berjalan seperti biasanya, Tang Shu juga tidak menyinggung akan ulang tahun Fu Chen sama sekali. Fu Chen sebenarnya cukup kecewa akan hal ini, namun ia tetap menyimpannya dalam hati.


Ke esokan paginya saat Fu Chen ingin bertanya pada ayahnya tentang pelatihannya, ternyata Tang Shu sudah lebih dulu pergi meninggalkan rumah pagi-pagi buta. Fu Chen marasa ada yang aneh dengan tingkah ayahnya belakangan ini. Ia pun akhirnya bertanya pada ibunya, namun jawaban ibunya itu tetap sama, bahwa ayahnya masih ada keperluan yang harus disiapkan.


Fu Chen kemudian mencoba untuk bersabar dan memahami keadaan terlebih dahulu. Pikiran-pikiran liar juga beberapa kali terlintas dalam benaknya, namun ia segera menepis seluruh anggapan bahwa ayahnya menghindari dirinya.


Setelah empat hari selalu pergi meninggalkan rumah. Kini Tang Shu mulai bersikap seperti biasanya, ia juga sempat beberapa kali mengurus kebun dan peliharaannya. Melihat ayahnya kembali normal, Fu Chen segera memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin. Ia menanyakan segala hal yang berkaitan tentang pelatihan serta dantian yang ia miliki.


Namun Tang Shu kembali menunda untuk memberi penjelasan pada Fu Chen. "Hari ini persiapkan seekor kuda yang menurutmu cukup tangguh terlebih dahulu. Besok ayah akan menjelaskannya padamu…!"


Mendengarnya membuat Fu Chen sangat tidak bersemangat. "Ayolah ayah… ini sudah hampir satu minggu semenjak ulang tahunku dan ayah bahkan belum menepati satu janji pun ssmpai sekarang." Fu Chen pergi meninggalkan ayahnya dengan wajah murung.


"Kau tenang saja, kali ini ayah akan menepati janji ayah…" Jawab Tang Shu tersenyum lembut.


Malam harinya saat Fu Chen dan Fu Mei sudah tertidur lelap. Kedua pasangan suami dan istri itu masih berdiskusi akan rencana Tang Shu yang akan meninggalkan Xin Xue dalam kurun waktu satu minggu sekali.


Hal ini sudah pernah mereka bahas sebelumnya, namun Tang Shu masih ragu untuk meninggalkan istrinya dalam waktu yang cukup lama.


"Tidak apa-apa … Bibi Fei serta paman Zhou akan menjaga kami berdua, kau tenanglah melatih Fu Chen disana! Ini juga demi kebaikannya bukan?" Xin Xue tersenyum lembut dan mengusap pipi Tang Shu.


"Itu memang benar, namun Bibi Fei serta saudara Zhou tidak akan selalu mengawasimu setiap saat, aku khawatir-…"


Xin Xue segera memotong ucapan suaminya agar tak terlalu mengkhawatirkan dirinya. Lagi pula selama ini Desa Bintang Jatuh tidak pernah mendapat masalah yang mengancam nyawa penduduk sama sekali.


"Berjanjilah saat aku pulang nanti, kau dan Mei'er masih dalam keadaan yang sama!" Tang Shu kemudian mengulurkan jari kelingikingnya di hadapan Xin Xue.


"Ya… tentu, kau juga…" Xin Xue menyambut jari kelingking Tang Shu dengan jari yang sama sambil tersenyum lembut.


Wajah Tang Shu sedikit lebih cerah setelahnya,


"Baiklah kalau begitu, aku akan pergi kerumah saudara Zhou terlebih dahulu. Kudengar anaknya juga ingin ikut berlatih denganku."


"Jangan pulang terlalu larut, besok kau harus bangun pagi untuk membawa Fu Chen berlatih!"


Tang Shu yang sudah berdiri dan hendak melangkah segera menghentikan niatnya.


"Hm? Hahaha… kurasa kau hanya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan terakhir ini bukan? Kau tahu, bahkan jika aku tidak tidur sekalipun itu bukan masalah bagiku." Tang Shu tersenyum penuh makna, kemudian menghampiri istrinya. Xin Xue tidak menjawab pertanyaan Tang Shu, dirinya hanya tersenyum lembut dengan pipi yang sedikit merona.


Tang Shu kemudian mencium kening Xin Xue sebelum mengusap kepalanya pelan. "Kau tenang saja, ini tidak akan lama!"


Xin Xue mengangguk dan melihat suaminya melangkah pergi.


***


Pagi harinya Tang Shu beserta Fu Chen telah berangkat menuju tempat yang telah di tentukan oleh Tang Shu. Mereka berdua menunggangi Seekor kuda yang sebelumnya dipilih oleh Fu Chen dengan Tang Shu sebagai penunggang dan Fu chen duduk di depannya.


Meski memiliki beberapa kuda dirumah, nyatanya Fu Chen belum bisa sama sekali untuk menunggangi kuda. Padahal bagi seorang pendekar sekalipun, kuda merupakan tunggangan yang cukup penting untuk perjalanan jauh, meskipun banyak juga pendekar yang lebih memilih berjalan kaki dengan ilmu meringankan tubuh mereka.


"Ayah, kenapa Sin Lou tidak ikut? Bukankah ayah mengatakan akan mengajaknya juga?" Fu Chen mengangkat kepalanya untuk dapat memandangi ayahnya yang ada di belakangnya.


"Ayah Sin Lou masih belum mengizinkannya pergi. Tadi malam ayah sudah menghampiri Sin Zhou untuk memberikan izin padanya. Hanya saja Sin Zhou mengatakan bahwa Sin Lou masih ada beberapa hal untuk di selesaikan…"


Tang Shu sebenarnya tidak mempermasalahkan jika Sin Lou memang ikut, meski dirinya akan mengatakan beberapa hal yang tidak seharusnya di ketahui orang lain. Tapi kepercayaan Tang Shu pada Sin Lou sama besarnya dengan Sin Zhou.


"Kurasa Sin Lou akan sangat tersiksa disana, ayah tahu? Dirinya bahkan pernah memohon padaku untuk membawanya pergi secara diam-diam dari sana…" Kata Fu Chen yang merasa perihatin pada temannya itu.


"Lalu apakah kau menurutinya?" Tang Shu melirik pada anaknya.


Fu Chen menggelengkan kepalanya dengan pandangan yang masih ke depan. "Tentu saja tidak, dia yang sudah kenal tempat itu bahkan tidak bisa melarikan diri, apalagi tempat itu sangat ramai… aku akan tertangkap basah jika benar-benar melakukan itu."


Tang Shu tersenyum mendengarnya. "Apa kau sendiri tidak takut dengan latihan yang akan ayah berikan?"


Tang Shu merasa percaya bahwa anaknya tidak akan menyerah meski dihadapi berbagai macam kesulitan sekalipun.


"Tidak! Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa menunjukkan bahwa dantianku ini tidak cacat!" Fu Chen berkata tegas. Tekadnya telah bulat untuk berlatih sekeras mungkin sampai melewati batas stamina yang ia miliki.


"Oiya… ayah belum menjelaskan tentang dantian ku ini bukan?" Fu Chen baru tersadar jika ayahnya bahkan belum menyinggung masalah dantian sama sekali.


"Nanti malam akan ayah jelaskan, lagi pula perjalanan kita masih jauh. Kita masih punya banyak waktu untuk membahas hal itu." Sahut Tang Shu sambil memacu kudanya lebih cepat.


Tempat tujuan yang mereka adalah sebuah perbukitan yang cukup jauh dari Desa. Perjalanan menuju bukit itu juga memerlukan waktu sekitar dua hari dengan menunggangi kuda.


Tang Shu sebelumnya menggunakan ilmu meringankan tubuh yang ia miliki untuk sampai di perbukitan itu dengan waktu sekitar lima jam. Tingkat kekuatan Tang Shu juga sudah cukup tinggi untuk dapat terus berlari selama itu. Saat ini dirinya berada di tingkatan Pendekar Raja tahap menengah, tentunya berlari selama lima jam setiap hari bukan masalah baginya.


Mereka berdua terus melanjutkan perjalanan sambil mengombrol dan tanpa terasa malam hari mulai menjemput keduanya. Tang Shu memutuskan untuk beristirahat di pinggiran hutan agar tidak terlalu berbahaya.


Tang Shu kemudian mulai menyalakan api dari sebuah kayu yang digesekan pada dedaunan kering. Ia juga tidak lupa untuk mengajarkan hal tersebut pada Fu Chen. Meski sederhana, tapi cara itu cukup efektif jika sedang bermalam di hutan.


Tidak ada tenda yang dibawa oleh Tang Shu, karena Tang Shu ingin setelah keluar Desa maka ia akan mulai mendidik Fu Chen saat itu juga. Ia ingin mengenalkan kepada Fu Chen bagaimana kehidupan pendekar di luar sana ketika sedang berkelana.


Saat sedang menikmati roti kering di tangannya, Fu Chen kembali menanyakan perihal Dantian yang ia miliki.


"Eh… ayah bingung harus memulainya dari mana." Tang Shu menggaruk tengkuknya, karena memang apa yang akan dibahas adalah hal yang sedikit rumit.


"Apa ayah sendiri sebenarnya juga tidak mengerti akan masalah ini?" Fu Chen pada awalnya memang tidak berharap lebih dari ayahnya, namun ia hanya ingin mengetahui kebenaran apakah dantiannya cacat atau tidak.


"Bukan begitu…" Tang Shu menghentikan ucapannya sejenak sebelum menghela nafas pasrah.


"Baiklah, ayah akan mengatakannya… apa kau percaya jika ayahmu ini seorang pendekar?" Tang Shu sedikit enggan untuk mengatakannya. Namun dirinya juga bingung bagaimana cara menjelaskan pada anaknya, tentang cara ia mengetahui dantian yang dimilik oleh Fu Chen.


Ia tak mungkin mengatakan itu berasal dari pedagang yang tak sengaja mengetahui hal tersebut. Fu Chen yang mendengar pernyataan ayahnya jelas tidak percaya. Bagimana mungkin sosok ayahnya yang lemah lembut itu adalah seorang pendekar.


"Apa ayah bisa membuktikannya padaku?" Fu Chen jelas tak ingin di permainkan oleh ayahnya saat ini.


Melihat tatapan Fu Chen yang begitu serius padanya membuat Tang Shu hanya bisa menghela nafas. "Baiklah, perhatikan ini baik-baik…" Tang Shu kemudian mengumpulkan energi qi di telapak tangannya, hingga perlahan terbentuk sebuah kobaran bola api seukuran kepalan tangan pria dewasa di telapak tangannya.


Fu Chen yang melihatnya bahkan hampir lupa untuk bernafas, jantungya berhenti sejenak sebelum kembali berdetak lebih cepat. "B-bagaimana… bagaimana mungkin…. Ini tidak benar kan…?" Seru Fu Chen terkejut.


Dirinya jelas tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Apalagi itu adalah sebuah perubahan jenis yang cukup sulit dilakukan. Dia sebenarnya hanya berharap ayahnya akan memukul salah satu pohon disekitarnya untuk membuktikan ucapannya.


Fu Chen mencengkram kuat rambutnya sendiri, kepalanya mulai terasa sakit memikirkan kenyataan yang baru ia dapatkan. Tidak ada rasa bangga sama sekali yang ia tunjukkan, semuanya seolah mimpi baginya.


Tang Shu tidak mempermasalahkan hal itu, ia juga sudah menduga anaknya akan sangat terkejut. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah bagaimana caranya menjelaskan pada Fu Chen tentang masa lalunya.


Karena menurutnya, usia Fu Chen saat ini masih terlalu muda untuk mengetahui fakta tentang dirinya.


Fu Chen yang sudah terlalu pusing akhirnya jatuh pingsan, Tang Shu segera menangkapnya dan merebahkannya diatas rerumputan. Dia masih mempertanyakan keputusan yang ia ambil ini tepat atau tidak.