
Pria yang terlihat berusia 60 tahun itu melayang selama beberapa saat sebelum turun ke arah tetua Li secara perlahan. Tetua Li menyambutnya dengan tersenyum hangat namun sayangnya pria itu hanya berdecih pelan.
Sementara itu tekanan yang menimpa tubuh Fu Chen dan lainnya masih belum menghilang, Fu Chen terpaksa membantu Sin Lou dan Kyoto agar dapat berdiri tegak kembali.
Fu Chen sangat penasaran siapa yang berbicara dengan tetua Li namun untuk memutar kepalanya saja cukup sulit karena tekanan itu. Fu Chen hanya dapat melihat sedikit punggung pria itu, kulitnya yang berwarna coklat itu seolah terbakar oleh matahari.
"Seharusnya kau mendengarkan nasihatku untuk melihat dunia luar. Lihatlah dirimu sekarang! Penampilanmu seperti manusia Goa." Tetua Li tertawa lebar kemudian membicarakan tentang kemampuan Fu Chen dan lainnya.
Tetua Li berpesan untuk melatih ketiga pemuda itu dengan baik. Terutama Fu Chen, anak itu sedikit istimewa baik latar belakang maupun kemampuan.
"Aku akan menunggu kalian di kediaman itu." Tetua Li menunjuk ke arah rumah yang memiliki jarak sekitar 100 meter dari pinggiran hutan bambu.
Tetua Li dan pria di sampingnya kemudian melompat di antara ranting-ranting bambu sebelum akhirnya tiba di halaman rumah dalam hitungan detik. Fu Chen sangat terpana, ia baru melihat ilmu meringankan tubuh sehebat itu, apalagi gerakan tetua Li dan pria di sampingnya tidak menimbulkan suara sedikitpun.
Terlepas dari hal itu Fu Chen, Sin Lou dan Kyoto masih berjuang untuk melangkahkan kaki dengan susah payah. Tanah yang tidak terlalu keras membuat telapak kaki mereka sedikit tenggelam hingga membuat mereka semakin sulit untuk berjalan.
Ketiganya saling bahu-membahu satu sama lain, Fu Chen terpaksa membagi tenaganya untuk membantu Sin Lou dan Kyoto agar mereka dapat mempertahankan posisinya.
"Jadi itu anak yang kau maksud?" Pria yang bernama Li Chun itu bertanya usai menerima surat dari tetua Li beberapa hari sebelumnya.
"Bagaimana menurutmu?" Tetua Li tersenyum tipis sambil melirik Fu Chen.
"Hm… kemampuannya lumayan, aku sedikit berharap dia meninggalkan rekannya yang menjadi beban itu. Karena menghajar anak egois sepert itu sedikit lebih memuaskan." Li Chun nampaknya memiliki alasan tersendiri mengatakannya.
Tetua Li hanya tertawa pelan mendengarnya, ia telah mengajarkan toleransi kepada Fu Chen semenjak anak itu menemuinya, jadi hal seperti itu tidak mungkin terjadi.
Sembari menghabiskan waktu untuk menunggu Fu Chen dan lainnya, tetua Li mengajak Li Chun untuk bermain catur. Awalnya Li Chun menolak namun saat tetua Li membisikkan sesuatu ia langsung terlihat geram dan menerima tantangan tetua Li.
Hari mulai beranjak siang namun ketiga pemuda itu bahkan baru mencapai pertengahan antara kediaman Li Chun dan bagian luar hutan bambu. Sin Lou dan Kyoto terpaksa membuang barang-barang yang dirasa mereka tidak perlu untuk mengurangi beban.
Semakin dalam mereka masuk maka semakin besar pula tekanan yang di terima, Kyoto bahkan sempat hampir terjatuh beberapa kali namun Fu Chen dan Sin Lou berhasil memapahnya.
Mereka bertiga baru sampai di kediaman Li Chun saat hari menjelang malam. Ketiganya ambruk dengan napas terputus-putus, keringat yang terus mengalir membuat baju mereka basah kuyup hingga menimbulkan bau tidak sedap.
"Ki-kita sampai…" Fu Chen berkata lirih dan berusaha menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Sedangkan Sin Lou dan Kyoto sudah tidak kuat untuk berbicara hanya bisa berusaha mempertahankan kesadaran.
"Haha… ini adalah kekalahanmu yang ke-20 untuk hari ini." Tetua Li tertawa lebar sambil mengelus janggutnya yang panjang, tetua Li meletakkan bidaknya dan membuat Li Chun mati langkah. Tetua Li sangat menikmati permainan ini karena ia jauh lebih unggul dari Li Chun.
"Haha… dasar kekanakan!" tetua Li tersenyum tipis melihat apa yang akan Li Chun lakukan pada calon muridnya sendiri.
"Sepertinya kalian telah berjuang dengan keras." Li Chun kemudian menjulurkan tangan kanannya ke udara, dalam hitungan detik keluar cahaya tipis dari telapak tangannya hingga cahaya itu jatuh mengenai tiga orang pemuda di bawahnya.
Tubuh Fu Chen, Sin Lou dan Kyoto bersinar selama beberapa saat hingga sinar itu menghilang saat Li Chun menarik tangannya kembali.
"Itu cukup membuat kalian kembali bergerak." Li Chun berucap pelan.
Fu Chen merasakan tubuhnya sedikit bertenaga dari sebelumnya, meski masih terasa letih namun ini cukup untuk dapat berdiri dan berjalan.
"Apalagi yang kalian tunggu? Cepat bersihkan tubuh kalian dan buatkan api untuk malam ini!" Li Chun menatap tajam ke arah Fu Chen, Sin Lou dan Kyoto hingga ketiganya bergidik ngeri.
Mereka kemudian segera pergi namun tak berselang lama ketiganya kembali ke tempat semula karena tidak mengetahui lokasi tempat mandi di kediaman itu. Usai di beri tahu oleh Li Chun mereka pun segera membersihkan diri dan mengumpulkan kayu bakar.
Ketiganya sedikit terkejut sebab tekanan sebelumnya sudah tidak mereka rasakan lagi saat mencari kayu bakar. Mereka menduga jika Li Chun sengaja menghilangkan tekanan itu karena mereka sudah berhasil masuk. Namun, Fu Chen beranggapan jika tekanan itu hanya berlaku untuk orang asing yang berniat mendekati kediaman ini.
Terlepas dari hal itu setidaknya mereka berhasil mengumpulkan kayu yang bakar cukup untuk bertahan sepanjang malam. Mereka membuat api unggun di halaman kediaman Li Chun dan saat api sudah jadi Li Chun datang bersama tetua Li sambil menenteng dua ekor ayam ternak.
"Kalian pasti penasaran siapa orang ini sebenarnya, kan? tanya tetua Li kemudian mulai memanggang ayam yang telah ia bumbui.
Fu Chen, Sin Lou dan Kyoto saling berpandangan sejenak sebelum mengangguk pelan. Mereka penasaran sebab Li Chun terlihat sangat dekat dengan tetua Li, terlebih kemampuan meringankan tubuh miliknya yang setara dengan tetua pertama itu.
Tetua Li kemudian mulai bercerita mengenai hubungannya dengan Li Chun, keduanya merupakan keturunan asli dari pendiri sekte Pedang Suci yang kini menjadi salah satu sekte yang di segani di Kekaisaran Song.
Li Chun merupakan adik ke-2 tetua Li, sedangkan adik pertamanya telah mati ketika perjalanan mereka ke benua Tengah. Meski penampilan Li Chun terlihat seperti pria berusia 60 tahun namun usia pria itu sebenarnya telah mencapai 100 tahun.
Li Chun menggunakan sebagian energi qi miliknya untuk mempertahankan penampilannya. Ia hanya tidak ingin tubuhnya yang terawat itu hancur di makan usia.
Hutan bambu ini merupakan tempat yang ia rawat sejak dulu, alasan terbesarnya untuk tidak tinggal diantara anggota sekte adalah karena tugasnya sebagai pelindung sekte.
Tetua Li sebenarnya juga seorang pelindung sekte namun mereka berdua memiliki peran yang berbeda. Li Chun hanya akan muncul apabila terjadi serangan besar di sekte Pedang Suci, sementara tetua Li harus membesarkan namanya di dunia persilatan agar orang-orang segan untuk menyerang sekte mereka.
Keduanya sepakat untuk memberikan jabatan Ketua sekte kepada orang lain dan orang itu adalah Feng Youxin. Segala urusan mengenai pembangunan dan lain-lain akan di urus olehnya.
Feng Youxin sebenarnya adalah murid terbaik di generasinya, selain itu dia juga salah satu murid dari Li Chun dan bisa di katakan jika dia adalah murid kedua dari Li Chun sebab sebelumnya Li Chun pernah menerima satu murid lagi.