Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.82 - Rencana


Fu Chen menginap di kediaman Bangsawan Xiao selama dua hari. Perubahan sikap mereka sungguh berbandik terbalik ketimbang saat ia sedang menyembuhkan Xiao Feng.


Fu Chen di layani layaknya tamu istimewa di keluarga itu hingga membuatnya merasa tidak nyaman.


Fu Chen awalnya tidak sadarkan diri selama empat jam setelah menyingkirkan racun di tubuh Xiao Feng. Sedangkan pria itu sendiri harus memulihkan tubuhnya selama satu bulan hingga ia kembali fit.


Namun, tabib menyarankan agar Xiao Feng tetap baring di tempat tidurnya selama seminggu. Tubuhnya telah sekarat lebih dari 3 tahun, tentu memerlukan waktu sedikit lebih lama agar dapat di gerakkan kembali.


Di hari ke tiga, Xiao Jung mengajak Fu Chen untuk kembali ke sekte. Fu Chen sedikit bingung lantaran seniornya tidak memilih menghabiskan waktu lebih lama dengan ayahnya.


Namun saat ia menanyakan hal itu, Xiao Jung dengan mantap mengatakan jika ada laporan yang harus ia sampaikan.


Fu Chen hanya menurutinya, keduanya kemudian meninggalkan Ibu Kota dengan menunggang kuda. Perjalanan mereka menghabiskan waktu 2 minggu unguk tiba di Kota Tiemao, Fu Chen sedikit terheran karena menjumpai banyak murid sekte di Kota itu.


Xiao Jung mengatakan jika laporan tentang misinya telah diberikan sejak mereka meninggalkan Kota. Karena itu murid-murid sekte Pedang Suci bergegas untuk mengamankan kota dan memburu kelompok Beruang Hitam.


Xiao Jung dan Fu Chen menghampiri seorang tetua yang beristirahat di sebuah kedai. Tetua itu sedikit menyinggung Xiao Jung lantaran tidak segera kembali ke sekte usai mendapat informasi yang di inginkan.


"Lalu, bagaimana perkembangannya? Apa kelompok itu berhasil di musnahkan?" Xiao Jung ingin membahas hal yang lebih penting.


Tetua itu tersenyum tipis. "Kami sudah menelusuri setiap lokasi yang di tandai. Dapat di pastikan jika kelompok itu sedang berkumpul di markas utama mereka."


Xiao Jung menaikkan alisnya, ia tidak terkejut mendengarnya. "Kenapa tetau masih belum menyerang markas mereka? Seharusnya ini menjadi kesempatan emas untuk menangkap mereka sekaligus."


Tetua itu terkekeh pelan. "Sabarlah murid Xiao. Kemarin aku mendapat laporan jika seseorang juga ingin melenyapkan mereka. Orang itu akan memberikan bantuan besar pada kita."


"Siapa?" Xiao Jung mengerutkan kening.


"Menara Bintang Permata!" Tetua itu menyeringai. "Hahaha… orang yang mereka bawa mungkin hanya tiga orang, tapi kekuatan mereka patut di waspadai. Rencananya mereka akan menemuiku besok pagi. Dan kita hanya perlu pergi bersama mereka."


Xiao Jung terkejut mendengar nama Menara Bintang Permata di sebutkan. Sepengetahuan nya, organisasi itu hanya bergerak dalam bidang bisnis sumber daya. Apa mungkin seseorang membayar mereka untuk menghapus kelompok perampok itu?


Xiao Jung melirik Fu Chen, matanya sedikit tajam dan penuh selidik. "Apa mereka mendapat informasi dari anak ini?"


Xiao Jung dapat menyimpulkannya karena Fu Chen telah menemui Xuan Rong sebelumnya, bisa saja wanita itu mendapatkan informasi usai menceritakan masalah perampok yang menculiknya pada Fu Chen.


Fu Chen berjalan menjauh sambil bersiul pelan menyadari tatapan seniornya. Datangnya pihak organisasi dan sekte Pedang Suci sungguh di luar perkiraanya.


***


Fu Chen menelan ludahnya kasar saat mengetahui identitas salah seorang dari Menara Bintang Permata yang sedang berdiskusi saat ini. Matanya terus melirik ke arah orang itu tanpa berkedip.


"Inikah orang yang ingin menikahi kakak? Pantas saja dia tidak ingin pulang ke Desa. Wajah pria ini sungguh seperti batu giok." Fu Chen sedikit iri saat memikirkan kakak angkatnya mendapat pria yang rupawan ini.


Pria itu berwajah putih bersih dengan rahang yang tegas. Rambutnya sedikit berwarna biru laut dan di ikat ke balakang, sekilas wajahnya akan terlihat layaknya lelaki sejati.


Namun, ketika sebuah senyuman mulai terukir di wajahnya, Fu Chen tidak yakin gadis mana yang rela mengalihkan pandangannya.


Wajah pria itubegitu manis, mungkin seorang lelaki juga terkesima melihatnya. Namun Fu Chen tidak menyadari, jika gadis-gadis di sektenya juga memandangnya demikian.


Pria bernama Ye Huolang itu sedang mendiskusikan rencana penyerangan markas Beruang Hitam bersama tetua sekte. Dia memiliki banyak informasi karena telah menyelidiki kelompok itu cukup lama. Dan informasi itu di gunakan untuk menutup lubang dari informasi yang di miliki sekte.


"Aku akan menyuruh salah satu orangku untuk memeriksa markas, sementara kita akan menunggu di dalam hutan yang tak jauh di markas itu." Ye Huolang meletakkan sebuah batu kecil di atas peta yang di beri tanda X.


Tetua di depannya nampak mengelus dagu dan sedang berpikir. "Bagaimana jika mereka tidak ada di sana? Murid-muridku sudah mengawasi tempat itu dan beberapa markas di sekitarnya selama beberapa hari. Namun, sampai sekarang markas itu terlihat tidak berpenghuni."


"Kalau begitu hanya ada satu kemungkinan." Ye Huolang menunjuk sebuah tanda segitiga di peta. "Satu-satunya tempat yang menjadi pilihan mereka hanya ini…"


"Benar, ku dengar mereka sangat melindungi tempat ini dengan ketat, mungkin ada semacam harta yang mereka jaga di kaki gunung itu."


"Lalu, kapan kita akan berangkat?"


"Berapa banyak orang yang anda bawa?" Ye Huolang melirik tetua itu.


"Kurang lebih 30 orang dengan 10 orang murid dalam di antaranya. Apa ada masalah?" Tetua itu sedikit heran.


"Ah, tidak… itu bagus. Kita akan berangkat siang nanti jika murid-muridmu sudah siap." Ye Huolang tersenyum sederhana.


Tetua itu mengangguk setuju. Selain itu, dia harus mengabari murid-muridnya yang masih di luar Kota Tiemao. Mereka berdua kembali menyusun rencana mengingat lokasi yang dituju sedikit tersembunyi.


Fu Chen mengikuti Xiao Jung keluar dari kedai itu dan menghampiri murid-murid inti yang sedang bersiap. Mereka terlihat cukup santai meski tahu pertempuran sudah dekat.


"Tidak perlu heran. Sebenarnya anggota yang di bawa tetua saay ini sudah cukup untuk menumpas kelompok Beruang Hitam itu. Mereka cukup santai karena mendapat tiga orang bantuan yang setara dengan tetua sekte," ucap Xiao Jung menyadari kebingungan Fu Chen.


Fu Chen mengangguk beberapa kali, kemudian mendekati kuda yang kemarin ia pakai. "Apa kita juga akan ikut?" Fu Chen mengelus leher luda itu.


Xiao Jung tertawa kecil, "Tentu, tidak lengkap rasanya jika kita tidak ikut andil untuk melenyapkan kelompok itu."


Fu Chen tersenyum sederhana menanggapinya. Sebenarnya ia hanya ingin menguji teknik kombinasi dari ilmu pedang Arus Jeram dan Tarian Bayangan miliknya.


Perkembangan kombinasi keduanya sudah cukup jauh.


Fu Chen berniat menggambungkan kedua ilmu bela diri itu karena ilmu pedang Arus Jeram miliknya tidak cocok untuk melawan musuh dalam jumlah banyak. Ia berharap perubahan itu dapat sedikit membantu di pertempuran nanti.


***


Rombongan sekte Pedang Suci dan tiga orang dari Menara Bintang Permata segera meninggalkan Kota saat matahari mulai naik.


Mereka memacu kuda masing-masing dengan kecepatan tinggi. Jika perkiraan mereka benar, maka mereka akan tiba di lokasi dalam dua hari dengan kecepatan yang stabil.


Ye Huolang memilih untuk mengambil jalan pintas dengan melewati lebatnya hutan. Mereka baru istirahat saat malam semakin larut, kuda-kuda yang mereka tunggangi juga sudah cukup kelelahan.


Di hari kedua, perjalanan mereka sedikit terhambat akibat kemunculan seekor siluman berusia 300 tahun. Siluman babi hutan itu memiliki tinggi dua meter dan panjangnya mencapai tiga meter.


Ye Huolang langsung turun tangan karena merasa siluman itu setingkat dengan Jenderal Petarung. Ia lekas menarik pedangnya karena tidak ingin menghabiskan waktu terlalu lama.


Siluman babi itu memandang Ye Huolang dengan beringas. Taringnya yang mendongak ke atas nampak ada sedikit bercak darah, sepertinya siluman ini baru saja selesai memakan mangsanya.


Siluman babi itu melompat ke arah Ye Huolang, instingnya sebagai binatang mengatakan bahwa lawannya ini sangat mudah di lihat dari tampangnya.


Ye Huolang hanya berpindah ke samping saat siluman itu berniat menyerudukmya dengan kecepatan tinggi. Sesaat kemudian, sebuah luka sayatan yang cukup dalam tiba-tiba muncul di paha belakang siluman itu.


Gerakannya semakin liar. Dengan mengandalkan kecepatannya siluman itu menyeruduk ke segala arah dengan membabi buta. Karena ia memang seekor babi!


Ye Huolang masih cukup tenang, ia dapat mengimbangi kecepatan siluman babi itu dengan mudah. Setelah dapat membaca sedikit pergerakan siluman itu, Ye Huolang lekas mengayunkan pedangnya.


Dengan gerakan sederhana, Ye Huolang berhasil mencabik-cabik siluman babi itu menggunakan pedangnya.


Siluman babi itu tersungkur hingga ke depan rombongan mereka. Ia tidak dapat lagi bergerak karena ke-empat kakinya sudah terluka parah.


Fu Chen menelan ludahnya kasar, matanya terbuka lebar untuk memandang Ye Huolang. "Luar biasa! Aku bahkan tidak melihat ia mengayunkan pedangnya!"