Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.61 - Perbincangan Singkat


Xiao Jung duduk di kursi yang ada di ruang tamu. Dia menyuruh Fu Chen untuk ikut duduk namun segera di tolak oleh pemuda itu. Dengan bajunya yang masih kotor ini Fu Chen merasa tidak nyaman untuk duduk di kursi yang terlihat cukup mewah itu.


"Makan saja makanan yang ada disini Chen'er. Jangan sungkan, anggap sebagai rumahmu sendiri…" Xiao Jung menawari cemilan yang sejak awal sudah ada di meja. Xiao Jung benar-benar bersikap seolah ia adalah Tuan rumah disana.


Setelah menunggu beberapa saat, Walikota akhirnya muncul dengan sedikit tergesa-gesa. Xiao Jung hanya melirik sejenak kepadanya sebelum melanjutkan makanannya.


"Maaf membuatmu menunggu, Tuan muda. Aku harus membersihkan diri sebelum menemuimu." Walikota itu tersenyum canggung lalu duduk berhadapan dengan Xiao Jung.


Meski ia adalah seorang walikota, namun semua itu ia dapatkan karena dukungan yang di berikan keluarga Xiao. Sebagian besar bisnis di Kota Tiemao juga ada di bawah naungan keluarga itu, dirinya tidak lebih hanyalah seorang pegawai.


"Tidak masalah," Jawab Xiao Jung, ia lekas menyerahkan bukti-bukti mengenai para korban perampokan yang ada di luar.


"Ada banyak korban dari salah satu markas Beruang Hitam yang kami datangi. Saya akan memberikan informasi ini pada sekte Pedang Suci secepatnya agar mereka menggerakkan murid-muridnya. Saya harap Walikota bersedia membantuku dengan mengantarkan para korban ini ke tempat tinggal masing-masing, atau sekedar menyediakan mereka tempat tinggal.


Saya harap Walikota mengabarkan pada penduduk anda untuk berhati-hati saat berpergian. Saya mengandalkan anda dalam urusan ini."


Walikota itu memperhatikan beberapa data yang sebelumnya sempat Xiao Jung buat selama di perjalanan. "Tentu, aku akan melakukannya dengan baik," kata Walikota itu sambil tersenyum penuh makna.


"Saya ingin mendengar laporan mengenai anggota Beruang Hitam yang telah tertangkap beberapa hari lalu. Saya yakin para pedagang itu pasti menyerahkannya padamu, kan?"


Dia dapat mengatakannya dengan percaya diri karena kota ini adalah kota terdekat yang dapat pedagang itu hampiri. Tidak mungkin jika para pedagang itu berani membawa anggota Beruang Hitam lebih lama karena itu akan sangat berisiko.


Xiao Jung hanya ingin memastikan jika rombongan Hang Xie saat itu benar-benar sampai di kota ini.


Walikota itu menelan ludahnya, sedikit keringat dingin muncul di area keningnya. "I-ya, mereka memang menyerahkannya padaku, aku juga sudah memberikan bayaran pada mereka. Tuan muda tidak perlu khawatir." Walikota itu berusaha untuk tersenyum.


Xiao Jung sedikit mendesah, ia menyadarkan tubuhnya pada kursi dan memejamkan mata. "Dimana mereka di tahan? Aku ingin menemui mereka."


Walikota itu batuk pelan, kemudian tersenyum canggung, sebelum berkata, "Mereka sudah tidak ada di sini, Tuan. Aku telah menyerahkan mereka pada prajurit Kekaisaran yang kebetulan singgah di Kota ini."


Xiao Jung terheran, bahkan sampai keningnya berkerut. Dia dan Fu Chen hanya mendatangi markas Beruang Hitam dalam satu hari. Jika di pikirkan, mungkin rombongan pedagang yang membawa Hang Xie dan kelompoknya tiba dua hari sebelum dirinya sampai.


Xiao Jung tidak menyangka jika akan ada prajurit Kekaisaran di kota kecil ini, tapi semua menjadi mungkin jika Walikota langsung melaporkan Hang Xie pada prajurit itu.


Wajah Walikota mulai terlihat takut saat Xiao Jung merubah posisinya, sebisa mungkin dirinya berusaha untuk menenangkan diri.


"Kalau begitu aku akan undur diri, urusanku disini sudah selesai." Xiao Jung berdiri dan berjalan keluar, namun suara Walikota itu membuatnya menghentikan langkah.


"Anda bisa beristirahat di tempatku, Tuan muda. Aku akan menyuruh para pelayan untuk membersihkan bajumu." Walikota ingin memastikan jika Xiao Jung kembali dari kediamannya dengan perasaan senang.


"Tidak perlu repot-repot. Aku berencana untuk mengajak temanku ini melihat Kota mu." Xiao Jung kemudian segera pergi dari sana.


Fu Chen sejak tadi hanya memperhatikan Walikota itu, pandangan keduanya kemudian bertemu beberapa saat sebelum Fu Chen mengekor di belakang Xiao Jung.


"Kita akan kemana setelah ini, senior?" tanya Fu Chen saat keduanya telah di luar.


"Kita akan istirahat di Kota ini selama beberapa hari, aku juga memiliki sedikit urusan dengan kantor cabang keluargaku disini."


Fu Chen mengangguk dan mengelus dagunya, mungkin ini juga kesempatan baginya untuk berlatih. Selama menjalankan misi ini dia tidak memiliki waktu untuk melakukannya.


"Ah, benar. Aku harus menemui Ying'er sebentar." Fu Chen lekas menghampiri gadis itu saat tak sengaja mengingatnya. Xiao Jung mengikuti dari belakang dengan berjalan santai.


"Tuan muda…" Pria paruh baya yang menjaga Ying'er membungkukkan badannya. Ucapannya membuat Chu Ying menoleh untuk melihat siapa yang di maksud paman itu.


Fu Chen tersenyum lembut lalu menyentuh kepala gadis itu. "Sudah berapa kali aku katakan, jangan panggil Tuan! Panggil Saja kakak."


"I-iya…" balas Chu Ying sedikit malu-malu.


Fu Chen berdiri dengan lututnya sebagai tumpuan. Dia sedikit merapikan rambut gadis itu.


"Ying'er, mulai sekarang kau harus bersama paman ini, ya. Walikota akan mengantar Ying'er pulang, jadi kita akan bertemu lagi saat di Ibu Kota." Sebisa mungkin Fu Chen untuk tidak membuat gadis ini sedih jika ia tahu harus berpisah dengannya. Tidak mungkin juga dirinya harus membawa Chu Ying bersamanya yang mungkin akan membuatnya dalam bahaya.


"Aku tidak mau, aku ingin ikut dengan kakak!" Chu Ying nampak tidak senang, ia sepertinya mengerti jika ucapan Fu Chen adalah salam perpisahan untuknya.


"Ying'er, perjalanan kakak masih sangat jauh dan berbahaya. Bagaimana jika nanti Ying'er terluka? Orang tua Ying'er pasti akan menyalahkan kakak. Kakak berjanji akan menemui Ying'er setelah urusan kakak selesai." Fu Chen tersenyum kecut tidak tahu lagi harus bagaimana menyikapi gadis ini.


Chu Ying menggelengkan kepalanya dengan wajah memelas, membuat Fu Chen menjadi linglung. Ia melirik ke arah Xiao Jung dengan maksud untuk meminta bantuan. Namun, Xiao Jung hanya mengangkat tangan dan pundaknya seolah menyerahkan semua keputusan di tangan Fu Chen.


Fu Chen juga melirik ke arah paman yang tadi menjaga Chu Ying, namun paman itu segera mengalihkan pandangannya saat menyadari tatapan Fu Chen.


Fu Chen menghela nafas mengetahui tidak ada pilihan lain. Jika di pikir-pikir, gadis ini menjadi sedikit merepotkan. "Baiklah, Ying'er boleh ikut. Tapi ingat! Ying'er harus turuti apa kata kakak setelah ini!" kata Fu Chen dengan lemas.


Chu Ying menganggukan kepalanya dengan cepat lalu tersenyum lebar.


Fu Chen menyodorkan punggungnya berniat untuk menggendong gadis itu, dia tidak tahu seberapa jauh penginapan yang Xiao Jung maksud. Tidak mungkin dirinya membiarkan gadis kecil ini untuk berjalan kaki.


Chu Ying sangat kegirangan lalu segera naik. Fu Chen membawanya mendekati Xiao Jung, mereka melanjutkan perjalanan menuju penginapan setelahnya.


Dalam perjalanan itu, sesekali Xiao Jung melirik ke arah Chu Ying. Pemuda ini sangat gemas pada gadis kecil itu, dirinya merasa kurang beruntung karena semua adiknya adalah laki-laki.


"Hei-… Ekhem, maksudku Ying'er. Apa kau tidak ingin di gendong oleh paman? Paman lebih tinggi dari dia, pasti akan lebih menyenangkan jika bersama paman…" Xiao Jung mencoba untuk membujuk Chu Ying sekali lagi, ia merasa iri karena gadis itu selalu memilih Fu Chen. Padahal wajahnya tidak kalah tampan.


Chu Ying tidak menjawab, ia hanya memayunkan bibirnya lalu menggelengkan kepala dengan mata tertutup rapat.


"Ayolah, sebentar saja…"


"…"


"Lihatlah, paman punya permen, kau mau?"


"…"


"Apa kau lapar? Paman akan membelikan apapun yang kau mau asal paman yang menggendong Ying'er…"


Mau sampai berapa kali pun Xiao Jung mencoba, hasilnya masihlah sama. Gadis itu bahkan tidak melirik apa yang Xiao Jung tawarkan.


Fu Chen yang melihat tingkah seniornya hanya tersenyum kecut dan mempercepat langkahnya saat melihat papan nama bertuliskan penginapan.


Mereka di sambut oleh seorang pelayan saat ketiganya masuk. Namun, wajah pelayan itu sektika berubah pucat dan ketakutan. Fu Chen mengerutkan keningnya menyadari hal itu, dia memperhatikan bajunya dan memang ada sedikit bercak darah, namun itu sudah kering.


Fu Chen kemudian melirik ke arah Xiao Jung dan akhirnya mengerti alasan pelayan ini menjadi takut. Meski darah di baju Xiao Jung telah kering, namun bekasnya masih sangat banyak dan itu sangat tidak nyaman untuk di pandang.


"Apa penginapan ini punya jasa pencucian? Kami akan menyewanya untuk mencuci pakaian kami," tanya Fu Chen sambil tersenyum canggung.


Pelayan itu menganggukkan kepalanya lalu mempersilahkan ketiganya untuk masuk dengan hati-hati.