
Aula utama istana Kekaisaran Song, seorang pemuda sedang menghadap pada sang Kaisar dengan menundukkan kepalanya. Di dalam aula itu hanya ada mereka berdua, suasana begitu hening karena belum ada yang angkat bicara.
"Yang Mulia, saya mendengar jika dalam waktu dekat ini akan ada sebuah pelelangan di Ibu Kota. Apa saya boleh menghadiri pelelangan itu?" tanya pemuda itu memecah keheningan.
Kaisar Song terkekeh mendengarnya, kemudian berkata, "Kau adalah seorang Pangeran. Angkat kepalamu! Tidak sepantasnya seorang putra mahkota menundukkan kepalanya pada orang lain."
Pemuda yang di panggil Pangeran itu mengangkat kepalanya tanpa menurunkan rasa hormat. Sang Kaisar tersenyum melihatnya.
"Kita sudah pernah membicarakan hal ini sebelumnya, kau bebas mengunjungi semua tempat yang kau inginkan. Aku tidak punya hak untuk melarangmu, Tian'er. Selagi kau menyembunyikan identitasmu maka itu tidak masalah," ujar Kaisar Song
Pemuda yang tidak lain adalah Meng Tian itu lekas merenungi ucapan Sang Kaisar. Setelah pelariannya dari para pengkhianat Kekaisaran Meng satu tahun lalu, Jendral Jia Lu memutuskan untuk menyerahkan dirinya pada Kaisar Song. Jendral Jia Lu sadar jika masalah yang di hadapi Meng Tian terlalu besar untuk ia selesaikan sendiri.
Kaisar Song amat terkejut saat mendengar laporan mengenai Meng Tian dan Kekaisarannya. Dia sungguh tidak menyangka jika Kekaisaran Meng akan jatuh ke tangan Aliran Hitam setelah puluhan tahun tetap berdiri kokoh, meskipun di bawah tekanan yang ada di Kekaisaran itu.
Kaisar Song kemudian meminta Jendral Jia Lu untuk membawa Meng Tian dan adiknya ke Ibu Kota. Informasi mengenai mereka berdua juga di rahasiakan agar para pendekar dari Kekaisaran Meng tidak lagi memburunya.
Namun, sepintar apapun mereka menyembunyikan informasi, nyatanya kabar mengenai pengalihan tahta Kekaisaran Meng telah menyebar luas di telinga para pendekar Kekaisaran Song. Beruntung orang-orang dari Kekaisaran Meng hanya mengetahui jika Pangeran mereka, Meng Tian beserta adiknya telah mati ketika pemberontakan itu terjadi.
Menyadari hal itu, Kaisar Song langsung bertitah untuk memperkuat penjagaan di perbatasan Kekaisaran Meng. Dia tidak ingin jika sewaktu-waktu pendekar dari Kekaisaran Meng itu melakukan kekacauan di negerinya.
Meski begitu, Kaisar Song cukup yakin jika para pemberontak di Kekaisaran Meng tidak akan mendatangi negerinya setelah memikirkan kekacuan yang terjadi disana. Mereka tentunya harus bersaing dengan sekte-sekte dari Aliran Putih di Kekaisaran itu karena kekacauan yang mereka buat.
Kaisar Song membeiarkan Meng Tian dan adiknya untuk tinggal di istana, selain untuk menjaga mereka ia juga dapat menyembunyikan informasi mengenai keduanya. Pada awalnya cukup banyak yang tidak senang dengan Kehadiran kakak beradik itu karena mereka tidak memiliki identitas yang jelas.
Namun seiring berjalannya waktu, keduanya mulai akrab dengan penghuni istana bahkan cukup dekat dengan putra Kaisar Song. Kaisar Song sendiri cukup bahagia dengan perkembangan itu, dia telah menganggap Meng Tian dan adiknya sebagai anaknya sendiri meski pemuda itu masih bersikap formal padanya.
***
Kaisar Song menyarankan pada Meng Tian untuk mengikuti pelelangan bersama putranya, ia dapat ikut serta sebagai bagian dari keluarga kerajaan. Selain itu, Kaisar Song juga ingin memastikan keselamatan pemuda di depannya ini.
"Sebenarnya apa yang kau cari di pelelangan itu? Kenapa kau tidak memintanya saja padaku? Aku akan memberikan apapun jika benda yang kau pinta ada di istana ini."
Kaisar Song mengira jika Meng Tian mungkin berniat mencari senjata pusaka karena pemuda inintidak memiliki apapun saat melarikan diri dari Kekaisarannya. Satu-satunya benda yang melekat pada Meng Tian hanyalah cincin Bumi milik ayahnya dahulu. Cincin itu ia dapatkan karena sang ayah sudah mengira akan terjadinya pemberontakan itu.
Meng Tian menggeleng pelan lalu tersenyum lembut. "Anda tidak perlu melakukannya, Yang Mulia. Saya hanya merasa tertarik untuk mengikuti pelelangan itu."
Kaisar Song memandang Meng Tian selama beberapa saat, kemudian tertawa kecil. "Baiklah, lakukan apa yang kau suka, aku tidak akan ikut campur urusanmu."
"Terimakasih, Yang Mulia. Saya mohon undur diri." Meng Tian menangkupkan kedua tangannya lalu berjalan pergi setelah memberi hormat.
Meng Tian kembali menoleh dan tersenyum lembut. "Maaf Yang Mulia, saya tidak dapat terikat dengan kelompok manapun di luar Kekaisaran Meng. Itu adalah larangan yang selama ini saya patuhi," jawab Meng Tian tanpa keraguan.
Kaisar Song sedikit menghela napas, ia selalu mendapat jawaban yang sama ketika menanyakan hal itu. "Tian'er, kau sekarang tinggal di Kekaisaran Song. Mungkin Kekaisaran Meng tempatmu tinggal dahulu sudah tidak sama lagi. Tidak ada salahnya untuk membangun relasi dengan kelompok di Kekaisaran lain."
Meng Tian menggeleng pelan, pandanganya bertemu dengan Kaisar Song sebelum akhirnya ia berkata, "Justru karena Kekaisaran Meng tidak lagi sama, aku harus tetap mempertahankan aturannya agar Kekaisaran itu tidak benar-benar berubah." Meng Tian tetap kokoh pada pendiriannya.
Kaisar Song menghela napas pasrah. "Berhati-hatilah saat pelelangan nanti. Akan ada banyak pendekar dari sekte luar yang hadir, mungkin mereka akan mencari tahu identitasmu jika kau terlalu mencolok."
"Baik." Meng Tian kembali menangkupkan kedua tangannya dengan kepala menunduk. Dia kemudian pergi meninggalkan aula tanpa di hentikan kembali oleh Yang Mulia.
"Kak, bagaimana? Apakah Yang Mulia mengizinkan kita pergi?" tanya Meng Zhi saat kakaknya keluar dari aula. Wajahnya terlihat sedikit cemas.
Meng Tian hanya tersenyum lembut sebelum berkata, "Kau tenang saja, Yang Mulia telah memberikan izin. Kita akan mencari informasi mengenai tubuhmu disana."
Meng Zhi tersenyum lebar mendengarnya dan segera memeluk lengan sang kakak. "Aku harap kita segera mendapatkannya."
Meng Tian tersenyum lembut lalu mengusap kepala gadis itu. "Tentu, kau tidak perlu khawatir."
***
"Kenapa senior memilih tidur di penginapan? Apa kediaman keluarga senior tidak ada disini?" Fu Chen merasa heran karena Xiao Jung seolah tidak ingin mendatangi kediaman utama keluarganya. Dia bahkan menyembunyikan identitas aslinya saat memasuki Ibu Kota.
Mereka berdua telah tiba di Ibu Kota sejak beberapa hari yang lalu. Ibu Kota Kekaisaran memang sangat berbeda dengan Kota-Kota yang pernah Fu Chen kunjungi selama perjalanan. Bahkan untuk memasukinya saja mereka harus mengantri dengan para pedagang maupun pengunjung.
Fu Chen menduga jika Ibu Kota terlihat lebih ramai karena acara pelelangan yang sebentar lagi akan di selenggarakan. Fu Chen terperangah saat pertama memasuki Kota itu, hal pertama yang di lihatnya adalah bangunan tinggi yang berjejer di sepanjang jalan.
Setelah melihat hal itu, dia mendapat sedikit gambaran mengenai seberapa besar peperangan yang terjadi pada klan-nya dan para pendekar Benua Tengah. Memikirkannya saja sudah membuat Fu Chen geram lantaran terbayang berapa banyak korban tidak bersalah yang kehilangan nyawa.
Fu Chen dan Xiao Jung kini sedang menikmati hidangan di sebuah penginapan, Fu Chen tidak menduga jika makanan di Ibu Kota akan menjadi cukup mahal.
"Senior, berapa lama lagi pelelangan itu akan di mulai?" Fu Chen merasa tidak sabar untuk menyaksikan pelelangan itu.
"Seharunya masih satu minggu lagi. Ada apa? Tidak biasanya kau menyinggung hal itu?" tanya Xiao Jung santai sambil mengunyah makanannya.
Fu Chen menganggukan kepala dan tersenyum kecut, "Bukan apa-apa. Aku hanya sedikit penasaran."