Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch. 144 - Pertemuan Kembali Sang Dewi Bulan


Sembari menunggu hari keberangkatan bersama Jin Taeso, Fu Chen memilih merenungi tindakannya akhir-akhir ini. Dou Huang sering mengatakan jika dirinya terlalu haus darah, ia tidak membantah sebab merasakannya sendiri.


Fu Chen terlalu ringan mengambil nyawa seseorang, para pendekar biasanya akan merasa terbebani setelah mengambil nyawa manusia namun tidak dengan Fu Chen.


Fu Chen menghabiskan waktu sepanjang hari di bawah batang pohon yang pertama kali ia datangi. Pemuda tersebut sesekali mengamati para prajurit yang tengah berlatih. Selain itu ia juga dapat mendengar informasi dari percakapan orang-orang disekitarnya.


Hari silih berganti, saat dimana rombongan Jin Taeso akan melewati perbatasan segera tiba. Selama beberapa hari Fu Chen hanya bermeditasi sembari menstabilkan qi di tubuhnya.


Fu Chen telah mencapai tingkat Jenderal Petarung tahap puncak dan seperti yang Dou Huang katakan, langkah untuk masuk ke tingkatan selanjutnya akan berbeda.


Ketika Fu Chen kembali menikmati latihan para prajurit muda di tempat biasanya, ia menemukan wajah baru yang terlihat cukup familiar. pemuda tersebut nampak berusia 18 sampai 20 tahun, namun kemampuan yang dia tunjukkan setara Jenderal Petarung tahap awal.


Dibandingkan dengan prajurit lainnya, kemampuan pemuda tersebut sangatlah menonjol, selain itu teknik yang digunakan juga cukup berbeda.


Fu Chen berusaha mengingat kapan ia pernah bertemu pemuda tersebut. Namun pandangan Fu Chen segera terpaku ketika menemukan seorang gadis yang memancarkan hawa dingin tidak jauh dari pria tersebut.


Gadis itu duduk di bawah batang pohon seraya di kawal beberapa prajurit, kini ingatan Fu Chen semakin jelas akan kedua orang itu.


"Tubuh yang memancarkan hawa dingin dan pemuda yang selalu bersamanya…" Fu Chen berpikir sejenak, dia teringat sepasang pemuda saat ia sedang memesan jubah di Ibu Kota dulu.


"Kondisi tubuhnya sama persis dengan yang di jelaskan di Kitab Dewa Raga… aku tidak menyadari ini sebelumnya tapi gadis itu memiliki tubuh Dewi Bulan." Fu Chen termenung, kitab Dewa Raga menjelaskan jika tubuh tersebut akan sepenuhnya bangkit saat berusia 20 tahun.


Kekuatan yang akan bangkit hanya akan menjadi malapetaka jika si pemilik tubuh tidak dapat mengendalikannya.


Fu Chen memiliki niat untuk menyerahkan kitab Dewa Raga kepada sepasang pemuda itu, namun tidak menemukan cara terbaik atau kedua pemuda tersebut akan mencurigainya.


"Aku tau ini bukan urusanku, tapi aku akan merasa bersalah jika sesuatu yang buruk nantinya akan terjadi." Fu Chen menghela napas pelan.


Sementara itu Jenderal Jia Lu yang merasa kagum dengan perkembangan Meng Tian ingin mencari lawan yang cocok untuknya. Diantara pendekar muda yang pernah ia lihat, hanya sedikit yang kemampuannya menandingi Meng Tian. Meski demikian Jenderal Jia Lu juga sadar alasan kenapa Meng Tian selalu melatih kultivasinya.


Namun akhir-akhir ini Jenderal Jia Lu telah menemukan pemuda yang sangat menarik, ia telah mengamati pemuda itu selama beberapa hari. Pemuda tersebut memiliki ketenangan sampai dimana Jenderal Jia Lu tidak dapat membaca pemuda tersebut.


Ia bahkan merasakan aura yang membuatnya ingin menundukkan kepala ketika berhadapan dengan pemuda tersebut.


Beruntungnya pemuda itu masih ditempat biasanya. Jenderal Jia Lu berniat mengajak pemuda tersebut untuk berlatih tanding dengan Meng Tian.


"Pendekar muda, kau masih bersantai seperti biasanya." Jenderal Jia Lu menghampiri seorang pemuda yang berteduh di bawah sebatang pohon.


Fu Chen membuka matanya ketika menyadari ada orang yang mendekat. Ia lekas berdiri dan membungkuk untuk memberi hormat.


"Selamat pagi jenderal." Fu Chen menyapa sambil tersenyum lembut.


"Pendekar muda, aku merasa ada yang berbeda darimu hari ini." Jenderal Jia Lu mengamati Fu Chen dari atas sampai bawah, aura di tubuh pemuda ini jauh lebih stabil dari sebelumnya.


Fu Chen hanya tersenyum lembut membalasnya, perubahan aura miliknya menandakan kultivasinya berjalan dengan baik.


Pandangan Fu Chen kemudian bertemu dengan pemuda yang sedari tadi menatap Fu Chen dengan kening berkerut. Jenderal Jia Lu yang menyadarinya segera mengenalkan pemuda tersebut.


"Apa kalian pernah bertemu sebelumnya?" Jenderal Jia Lu Merasa seolah ada hal lain di pikiran kedua pemuda itu.


Meng Tian hanya mengenalkan dirinya sebagai Tian, dia tidak ingin identitasnya diketahui publik untuk saat ini. Meng Tian dapat mengingat Fu Chen dengan jelas sebab pemuda inilah yang pernah membantunya dulu.


"Lama tidak bertemu." Meng Tian menjulurkan tangannya.


Fu Chen lantas menyambut tangan Meng Tian dan bersalaman, "Kau juga…"


"Lupakan masalah itu… Jenderal Jia Lu, apa yang membuatmu mendatangiku?" tanya Fu Chen.


Jenderal Jia Lu batuk pelan, ia cukup terkejut jika Meng Tian pernah berinteraksi dengan orang asing karena selama ini Meng Tian cukup tertutup.


"Baiklah, karena kalian sudah saling mengenal jadi aku tidak akan menjelaskan panjang lebar. Aku hanya sedang mencari lawan tanding untuk junior Tian, aku sedikit kesulitan karena dalam pasukan ku hanya sedikit yang mencapai jenderal petarung."


Meski tidak yakin dengan tingkat kultivasi Fu Chen namun ia yakin pemuda ini adalah lawan yang pas untuk Meng Tian.


Fu Chen hanya mengangkat alisnya sejenak, ia melirik Meng Tian dan melihat pemuda itu seolah membenarkan ucapan Jenderal Jia Lu. Mungkin ini akan menjadi alasan yang bagus untuk menyerahkan kitab Dewa Raga.


Meng Tian yang melihat keraguan di mata Fu Chen segera angkat bicara, "tenang saja, aku akan memberikan kompensasi. Berapa jumlah yang pendekar muda inginkan?"


Fu Chen hanya terkekeh pelan mendengarnya, "Maafkan aku senior tapi aku tidak memerlukan uangmu, hanya saja ada hal yang ingin aku pastikan."


"Sungguh? Apa itu?" Meng Tian sedikit terkejut.


"Kurasa kita bisa membicarakannya nanti." Fu Chen tersenyum lembut, ia akan mengatakan permintaannya setelah latih tanding.


Keduanya kemudian menuju lapang yang biasa digunakan para prajurit untuk berlatih. Dua pemuda itu kini tengah menjadi pusat perhatian sebab sosok Jenderal Jia Lu terlihat dekat dengan keduanya.


Orang-orang mulai mempertanyakan identitas keduanya, namun tidak ada yang bersuara karena tidak ingin menyinggung pihak militer.


Awalnya Meng Tian mengira jika Fu Chen adalah petarung tangan kosong karena sejak awal pemuda itu tidak membawa pedang.


Anggapannya segera terpatahkan ketika beradu pedang dengan pemuda itu, Meng Tian yang awalnya cukup mendominasi mulai kesulitan menyerang Fu Chen.


Fu Chen meminjam pedang yang disediakan para prajurit, meski kualitasnya tidak terlalu bagus namun itu lebih dari cukup.


Fu Chen menyadari perbedaan tingkatan ilmu pedang keduanya, meski ilmu pedang milik Meng Tian jauh lebih tinggi namun pemahamannya belum terlalu tinggi, sehingga Fu Chen dapat menemukan banyak celah pada tekniknya.


Fu Chen tidak berani mengomentari setiap gerakan yang di lakukan Meng Tian sebab pemahamannya sendiri bukan sesuatu yang pantas di banggakan. Fu Chen hanya sedikit memberikan masukan pada gerakan-gerakan tertentu.


Beberapa gerakan yang sangat cepat dari Fu Chen membuat latih tanding itu segera berakhir. Meng Tian tersungkur dengan ujung pedang yang hampir mengenai lehernya.


"Aku menyerah…" Meng Tian tersenyum kecut, ia tidak menyangka akan kalah melawan orang yang lebih muda darinya.


"Mataku benar-benar terbuka, usianya bahkan belum mencapai 15 tahun namun kekuatannya sudah setinggi ini." Meng Tian menatap Fu Chen sambil menggelengkan kepala, ia semakin sadar kekuatannya masih belum cukup untuk kembali ke Kekaisaran Meng.


"Senior sungguh hebat, aku sampai harus mengeluarkan lebih banyak usaha untuk menjatuhkan mu." Fu Chen tersenyum lembut sambil mengulurkan tangan.


"Itu lebih terdengar seperti hinaan dari pada pujian." Meng Tian Tersenyum kecut. Tapi memang ia akui, dirinya tidak punya kesempatan melawan jika Fu Chen mengeluarkan seluruh kemampuannya.


Jenderal Jia Lu dan prajurit lainnya yang menonton tidak percaya jika Meng Tian akan dikalahkan semudah itu oleh anak yang jauh lebih muda.


Jenderal Jia Lu menyangka jika kekuatan Fu Chen setara dengan Meng Tian, namun anggapan nya salah, ia sendiri belum pernah mendengar pendekar Jenderal Petarung yang berusia 10 tahun.


"Seperti janjiku, aku akan memberimu kompensasi sesuai yang kau inginkan." Meng Tian berterimakasih karena Fu Chen mau berbagi ilmu dengannya, ia pun menanyakan kompensasi macam apa yang Fu Chen inginkan.


"Aku tidak menginginkan apa-apa, hanya saja ada hal yang ingin ku bicarakan tentang gadis itu." Fu Chen melirik ke arah Meng Zhi yang mengamati dari jauh.


Raut wajah Meng Tian segera berubah ketika menyadari gadis yang di maksud adalah adiknya.


"Apa yang kau inginkan darinya?" Meng Tian menatap Fu Chen penuh selidik, sikapnya juga mendadak lebih dingin.