
Tanpa terasa waktu beralalu dengan cepat, kini Fu Chen dan dua orang temannya telah bersiap untuk memasuki hutan bambu sambil menenteng ember berisi air.
Fu Chen dan lainnya telah memulihkan kondisi masing-masing selama beristirahat di sekitaran air terjun. Di sana Fu Chen juga membuat rencana agar mereka dapat lebih waspada dan saling membantu untuk mengurangi beban.
Saat semua telah siap kini Fu Chen sedang berjalan mencari batu untuk ia lemparkan ke arah hutan bambu. "Ku rasa ini cukup." Fu Chen mengambil batu seukuran kepalan tangan pria dewasa.
Batu yang di lemparkan Fu Chen seketika mendarat dengan keras ketika memasuki perbatasan hutan bambu. Tanah tempat batu itu mendarat meninggalkan kubangan kecil sedangkan batu itu sendiri mengalami retak di bagian tengahnya.
Sudut bibir Fu Chen sedikit melengkung, "Hmph, hal kecil seperti ini tidak akan membuatku pusing." Fu Chen kemudian meminta kedua temannya untuk bersiap, sedangkan ia sendiri akan pergi lebih dulu.
Sin Lou dan Kyoto mengangguk pelan, mereka bersyukur karena menuruti keinginan Fu Chen sejauh ini, tidak pernah terbayangkan di kepala mereka jika Li Chun akan mengaktifkan tekanan itu kembali.
Fu Chen kemudian melompat sambil membawa dua ember miliknya, sedangkan Sin Lou dan Kyoto masing-masing membawa satu.
Pendaratan Fu Chen yang begitu mulus membuat air di dalam ember tidak tumpah sedikitpun. "Ini aman…" Fu Chen memberikan isyarat pada kedua temannya kemudian Sin Lou dan Kyoto segera menyusul.
Sebelumnya Fu Chen telah memberikan Sin Lou dan Kyoto satu butir pil Aura Dewa. Pil itu berguna untuk menghasilkan aura seorang Raja dan menyingkirkan semua tekanan di tubuh si pemakai. Fu Chen mendapatkan pil itu usai memeriksa cincin Bumi miliknya, namun khasiat pil itu hanya dapat bertahan selama satu jam.
Li Chun mulai menyadari keberadaan Fu Chen dan lainnya saat ketiga pemuda itu mulai memasuki hutan bambu. Raut wajahnya sedikit berubah saat menyadari sesuatu dari mereka.
Li Chun memejamkan mata sambil merasakan energi qi di tubuh Fu Chen. "Ternyata anak itu lumayan juga, kondisinya tetap prima meski sudah melawan beberapa siluman peliharaanmu."
Li Han tersenyum lebar mendengarnya, merasa kemenangan sudah di depan mata. "Sebaiknya segera kau siapkan arak itu sekarang juga, hahaha…"
"Ini belum berakhir, bukankah perjanjian kita adalah sampai anak itu tiba di sini." Li Chun tersenyum penuh makna sambil mengalihkan pandangan ke arah Fu Chen. meski tertutup oleh banyaknya pohon bambu Li Chun masih dapat mengetahui posisi Fu Chen dari hawa keberadaan anak itu.
"Tetap waspada, mungkin Guru Li juga menyiapkan perangkap di sekitar sini." Fu Chen mulai mengamati sekelilingnya.
Ketiga pemuda itu pun mulai melangkah dengan hati-hati, perjalanan mereka cukup lencar karena tidak terhambat oleh tekanan di hutan itu.
Saat hampir mencapai setengah jalan, tanah yang di pijaki mereka tiba-tiba terasa lemah, beruntung Fu Chen menyadarinya dengan cepat sehingga mereka dapat selamat dari lubang besar berisi bambu runcing.
Mulai dari sana, banyak rintangan yang menghadang mereka. Awalnya rintangan itu terasa mudah namun dalam waktu singkat puluhan anak panah tiba-tiba muncul dari berbagai arah.
Ketiga pemuda itu dengan sigap menarik senjata masing-masing dan menepis setiap anak panah sambil melindungi ember agar tidak terkena serangan. Tidak sampai di sana, beberapa binatang melata seperti ular dan reptil juga sempat menghalau mereka.
Meski merepotkan tapi Fu Chen, Sin Lou dan Kyoto dapat melalui rintangan itu dengan lancar. Waktu berjalan dengan cepat, usai melewati berbagai macam jebakan di hutan itu, ketiga pemuda itu masih memiliki waktu 20 menit sebelum khasiat pil Aura Dewa menghilang.
Fu Chen telah menduga Li Chun akan menunggu mereka karena itu ia memiliki rencana sebelum mendekat ke arah kediaman Li Chun. Langkah ketiga pemuda itu begitu pelan dan berat seolah ada beban berat yang menimpa mereka, namun semua itu hanya sandiwara yang di siapkan Fu Chen.
Fu Chen juga meminta Sin Lou dan Kyoto untuk tidak mengatakan apapun mengenai pil Aura Dewa. Fu Chen hanya tidak ingin kedua sesepuh sekte Pedang Suci itu mengira bahwa dirinyalah uabg membawa harta peninggalan klan Tang. Mengingat mereka sudah mengetahui latar belakangnya bukan tidak mungkin suatu saat kedua orang tua itu akan menjadi musuh.
Kening Li Chun berkerut dalam saat menyadari keberadaan Fu Chen sudah cukup dekat dengan kediamannya. Matanya menelisik ke arah rombongan Fu Chen, ada semacam aura tidak biasa yang Li Chun rasakan. Sebuah aura yang begitu agung dan berkharisma hingga Li Chun sedikit terlena di buatnya, namun Li Chun sedikit heran karena aura itu terasa tidak stabil.
Li Han yang ikut melihat kedatangan Fu Chen juga merasakan aura tersebut, namun yang ada di pikiran Li Han saat ini hanyalah arak terbaik di Kekaisaran Song milik Li Chun yang sebentar lagi akan ia dapatkan.
"Hahaha… Bukankah seharusnya kau segera ambilkan arak itu sekarang." Li Han tersenyum lebar, mengabaikan aura di tubuh Fu Chen dan lainnya.
Fu Chen, Sin Lou dan Kyoto berhasil memasuki halaman rumah Li Chun tepat sebelum khasiat pil itu habis. Sandiwara ketiga pemuda itu masih berlangsung, baju yang basah kuyup karena siraman air serta napas yang tersendat-sendat itu nyatanya dapat mengecoh Li Chun, namun tidak di mata Li Han.
Li Han dapat menilai seseorang yang benar-benar kehabisan tenaga dari qi di tubuh orang itu. Mungkin Li Chun tidak menyadarinya karena masih kesal akan kehilangan arak berharga miliknya.
"Huh kita selamat." Sin Lou menghela napas lega.
"Tapi belum tentu kita memiliki kesempatan yang sama besok, pil yang di gunakan saudara Chen juga sudah habis, kan?" Kyoto berbisik pelan sambil melirik ke arah Li Han yang sedang merapikan papan catur dengan senyum mengembang.
"Entahlah, ku rasa Guru Li tidak akan mengulanginya lagi." Fu Chen memberikan pendapatnya.
"Dari mana kau tahu?" tanya Sin Lou pelan.
"Hanya firasat saja," jawab Fu Chen sambil tersenyum sederhana.
Malam harinya Ketiga pemuda itu berkumpul di dekat api unggun sambil mengamati buah persik yang mereka ambil, buah itu lebih besar dari biasanya dan terlihat sedikit berbeda.
Li Han sedikit menaikkan alisnya saat melihat buah persik itu. Seingatnya buah itu di jaga oleh seekor siluman kera berusia dua ratus tahun, melihat ketiga pemuda ini mendapatkannya sedikit membuat Li Han terkejut.
"Sepertinya kalian punya keberuntungan yang bagus." Li Han mendekat ke arah api unggun dan ikut duduk di sekitarnya.
"Aku rasa tidak." Sin Lou bergumam pelan, membayangkan saat ia di kejar kawanan lebah dan buaya serta beberapa hewan mengerikan lainnya.
"Kalian tahu buah apa yang kalian dapatkan itu?" Li Han menunjuk ke arah buah persik yang di dekap Sin Lou.
Ketiga pemuda di hadapan Li Han saling berpandangan sejenak sebelum beralih pada Li Han kembali.
"Bukankah ini buah persik?"
Li Han tertawa pelan, "Itu benar… tapi juga salah."
Li Han mengatakan jika buah yang di pegang Ketiga pemuda itu adalah Persik Dewi Langit. Buah itu hanya berbunga setiap sepuluh tahun sekali dan menjadi salah satu sumber daya yang langka. Selain karena pohonnya yang sulit di temukan buah persik ini hanya bisa tumbuh di iklim tertentu.
Persik Dewi Langit ini memiliki khasiat yang sangat tinggi, selain memberikan qi dalam jumlah besar, satu buah Persik Dewi Langit juga dapat meningkatkan satu tahapan kultivasi hingga di ranah Jendral Petarung sekalipun.
Melihat buah Persik Dewi Langit yang sudah matang ini Li Han merasa perlu untuk segera memetiknya sebelum jatuh ke tanah, karena jika itu terjadi maka khasiatnya akan berkurang.
Tanpa di sadari oleh Li Han, Sin Lou dan Kyoto telah melahap buah itu mentah-mentah sembari asyik mendengarkan penjelasan Li Han. Kedua pemuda itu tidak mengetahui jika ada syarat tertentu sebelum buah Persik Dewi Langit itu boleh di makan.
"Uuurrggh…" Sin Lou bersendawa usai menghabiskan buah Persik Dewi Langit miliknya. "Buah ini sangat manis, bahkan lebih manis dari persik biasanya."
"Kau benar," sahut Kyoto yang juga sudah menghabiskan buah miliknya.
Sementara Fu Chen memilih menyimpannya untuk lain waktu, saat ini ia telah berada di ambang pendekar kelas satu tahap menengah dan tinggal menunggu waktu untuk masuk ke tahap akhir. Akan sangat di sayangkan jika buah itu ia gunakan sekarang.