Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.5 - Pembentukkan Dantian


"Hei… kau kenapa?" Sin Lou merasa keheranan dengan sikap Fu Chen yang murung itu, padahal ini adalah hari yang di nanti-nantikan olehnya.


Tang Shu juga menyadari hal itu, ia kemudian menepuk pelan pundak anaknya. "Ada apa Chen'er, kenapa kau tak segera pergi ke sana?"


"Ayah, bukankah umurku baru tujuh tahun? Aku perlu satu bulan lagi agar umurku genap delapan tahun, bagaimana jika nanti aku tidak terpilih?" tanya Fu Chen masih tertunduk lemas.


"Hahaha… kau tak perlu khawatir Chen'er, itu sudah sering terjadi," Kata Tang Shu menyemangati anaknya.


Mata Fu Chen membulat, dia menatap ayahnya tak percaya. "Benarkah? Dari mana ayah mengetahuinya?" Fu Chen menjawab antusias dan menatap ayahnya penuh selidik.


"Eh… ya itu benar, Tanyakan saja hal itu pada tetua yang disana itu nanti…" Tang Shu tersenyum canggung sembari menggaruk pipinya yang tidak gatal


Fu Chen tidak percaya dengan ucapan ayahnya, namun tidak ada salahnya untuk mencoba. "Baiklah!" Sahut Fu Chen sambil mengepalkan tangannya untuk membulatkan tekad.


Sin Lou yang melihat raut wajah Fu Chen kembali berubah lengsung menarik tangan pemuda itu dan mengajaknya pergi.


"Hei cepatlah!, aku tak ingin menjadi yang terakhir mengantri!" ucap Sin Lou sedikit berteriak sembari mempercepat larinya menuju arena.


Saat sampai disana, ternyata benar apa yang di katakan Sin Lou, mereka saat ini berada di barisan paling belakang.


"Kita sepertinya harus mengantri sedikit lebih lama…" Fu Chen tersenyum kecut


"Ini semua adalah salahmu!" Sin Lou merasa kesal, jika saja dirinya tidak menunggu Fu Chen, pasti dia sudah bisa memamerkan dantiannya kepada penonton.


"Iya aku minta maaf…" jawab Fu Chen tanpa menoleh ke arah Sin Lou, dia lebih fokus memperhatikan barisannya yang lumayan panjang.


Jika di hitung dari jumlah peserta yang melakukan pengecekkan, jumlahnya sekitar 70 orang. Itu pun sudah termasuk anak-anak yang di nyatakan tersingkir karena tidak memenuhi syarat yang ada.


Saat sedang mengamati peserta lain, Fu Chen menyadari ada satu orang lagi yang ikut berbaris di belakang Sin Lou.


"Hei, Besi Karatan, menyingkir dari hadapanku! Berikan antrianmu itu padaku!" kata anak itu pada Sin Lou dengan nada mengejek. Sin Lou yang mengenali suara pemuda itu lekas menoleh kebelakang.


"Hemph, ternyata kau Bqatang Kering, aku tebak ayahmu pasti sudah memohon-mohon pada perwakilan sekte Pedang Suci bukan?" Balas Sin Lou dengan nada mengejek pula.


Anak itu adalah Kyoto, dia anak dari Kepala Desa yang saat ini sedang menjabat. Kakek Kyoto bukan lah keturunan dari Benua Timur, melainkan dari negeri kecil yang berbatasan antara Benua Utara dan Benua Tengah. Oleh karena itu namanyya tidak memiliki marga.


Usianya sendiri saat ini telah menginjak 11 tahun. Tentu itu sudah melewati batas usia yang di tentukan, namun karena ayahnya yang bersikeras memohon kepada tetua perwakilan Sekte Pedang Suci, mereka akhirnnya mengizinkan Kyoto mengikuti seleksi itu juga.


Sin Lou sebenarnya Kurang akrab dengan Kyoto, mereka beberapa kali pernah berbincang dan selalu berakhir dengan pertengkaran di antara keduanya.


Kyoto memiliki tubuh yang kurus dengan tinggi badan hampir mencapai seratus lima puluh sentimeter. Hal ini membuatnya selalu di katai Batang Kering oleh Sin Lou.


"Cih, bocah sepertimu tidak akan mengerti," ucap Kyoto ketus lalu membuang muka dari Sin Lou, Sin Lou juga tak memperdulikannya lebih jauh.


Setelah menunggu cukup lama akhirnya Sin Lou mendapatkan giliran, sedangkan Fu Chen harus menunggu satu orang lagi agar dirinya mendapat giliran.


Saat Sin Lou telah duduk di depan tetua sekte Pedang Suci itu, entah mengapa dirinya merasakan gugup yang teramat sangat. Keringat dingin mulai membasahi keningnya.


"Apa kau baik-baik saja?" Tetua itu menyadari perubahan raut wajah Sin Lou yang mulai memucat. Tetua itu khawatir jika Sin Lou sedang sakit maka dia tidak bisa mengikuti pembangkitan ini.


"A…aku tidak apa-apa, hanya sedikit gugup hehe…" jawab Sin Lou tersenyum canggung.


"Tenang saja, ini tidak akan sakit. Siapa nama mu?" Tetua itu mengatakannya sembari mempersiapkan kertas serta alat tulis.


"Sin Lou," ucap Sin Liu sedikit gagap.


Sin Lou mengikuti arahan Tetua tersebut dan mengulurkan kedua tangannya di atas meja.


Tetua itu tertawa kecil melihat tingkah laku Sin Lou.


"Satu tangan saja sudah cukup."


"Baiklah…"Sin Lou segera menarik tangan kirinya dan mencengkram celananya kuat. Wajah polosnya yang tegang itu begitu menarik untuk dilihat.


"Hm… delapan tahun," gumam Tetua itu setelah memeriksa usia tulang Sin Lou, lalu menempelkan sebuah Stampel pada kertas yang berisi nama Sin Lou, menandakan bahwa dirinya telah memenuhi syarat.


"Apakah sudah selesai?" Sin Lou bertanya heran.


"Ya sudah selesai, ambil ini. Lalu pergilah pada salah satu tetua disana!" Tetua itu menyerahkan kertas yang telah di beri stampel dan menunjuk ke arah tetua yang sedang membantu salah satu peserta di tengah arena. Pemuda itu nampak memejamkan mata, tangannya memegang sebuah bola kristal di depannya.


"Oh, baiklah… itu tadi terasa menyenangkan." Sin Lou bergumam pelan sambil memainkan telapak tangan kanannya.


Tetua yang tadi memeriksa Sin Lou melirik ke arah Kyoto, lalu ia mulai mempersiapkan kertas serta alat tulisnya kembali. "Duduklah!"


"Baik."


Tetua itu sudah mengetahui Kyoto adalah anak dari kepala desa, jadi dia tidak perlu lagi memeriksa usia tulang Kyoto. Sementara Fu Chen yang sudah mendapat giliran menjadi sangat kikuk.


"Em… ma-maaf Tuan, bolehkah aku sedikit bertanya?" Tanya Fu Chen yang masih ragu untuk menanyakan saran dari ayahnya.


"Hmm, apa yang ingin kau tanyakan?" Tetua itu menghentikan tulisannya yang baru saja selesai menulis nama Fu Chen lalu menatap pemuda di depannya. Fu Chen merasa semakin ragu untuk bertanya saat tetua itu menatapnya.


"Emh, itu tentang usiaku yang baru berusia tujuh tahun, namun satu bulan lagi akan genap delapan tahun. Jadi apakah aku masih boleh berpartisipasi?"


"Hm, benarkah begitu? Kalau begitu biarkan aku memeriksanya, ulurkan tangan mu!" pinta tetua itu dan segera di turuti oleh Fu Chen.


"B-baiklah."


"Yang kau katakan memang benar, namun jangan khawatir hal ini sudah sering terjadi," ucap Tetua itu setelah memeriksa usia Fu Chen, dia cukup kagum dengan kejujuran anak ini.


"Benarkah?" Fu Chen menjawab antusias.


"Ya itu benar, ambil ini dan pergilah ke tempat temanu yang lain di sana!" Tetua itu menyerahkan sebuah kertas lalu menunjuk ke arah Sin Lou berada.


Fu Chen Beranjak Dari tempat duduknya lalu membungkuk memberi hormat pada tetua tersebut, ia kemudian berlari kecil ke arah Sin Lou dengan senyum lebar yang terukir di wajahnya.


Kali ini Fu Chen tidak perlu lagi untuk mengantri sebab yang masih ada di sana hanya dirinya dan Sin Lou, sedangkan Kyoto baru akan menghampiri tempat mereka.


Fu Chen kemudian duduk bersila di depan salah satu meja tetua, tetua itu kemudian berjalan dan duduk di belakang Fu Chen.


"Baiklah, apa kau sudah siap? Tubuhmu akan terasa sedikit panas ketika pembentukan itu dimulai," Kata tetua itu.


Fu Chen menarik nafasnya dalam-dalam sebelum mengatakan bahwa dirinya telah siap.


"Kalau begitu letakkan kedua telapak tanganmu pada bola kristal itu! Arahkan apa yang kau rasakan di tubuhmu ke perutmu dan padatkan energi itu pada satu titik yang paling cerah disana. Untuk percobaan pertama mungkin akan sukit, jadi berusahalah."


"Baik." Fu Chen meletakkan tangannya di atas bola kristal di depannya.


"Proses ini mungkin akan sedikit lama," ucap Tetua itu sebelum mulai mengalirkan energi qi ke seluruh tubuh Fu Chen.