
Li Han melepaskan nafsu membunuhnya untuk menekan Fu Chen. Peringatan ini sangat jelas bahwa ia tidak sedang bermain-main. Keringat dingin mengalir dari punggung Fu Chen, meski ekspresinya terlihat tenang namun mentalnya sudah sangat terpuruk.
"Tentu aku tidak mengatakan jika kekuatanku saat ini hanya berasal dari sebongkahan kecil ini." Fu Chen menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menyandarkan tubuhnya di kursi.
Li Han mengerutkan keningnya melihat tingkah Fu Chen yang cukup santai di bawah tekanan auranya. Meski tidak terlalu besar, setidaknya aura yang ia lepaskan dapat menekan pendekar kelas satu sekalipun.
"Ketenanganmu justru membuatku semakin mencurigaimu bocah." Li Han menambahkan sedikit auranya untuk melihat reaksi Fu Chen. Raut wajah Fu Chen berubah rumit sejenak sebelum kembali tenang dalam beberapa tarikan nafas.
Li Han menarik kembali sebagian auranya, ia tau anak itu hanya mencoba untuk tetap terlihat tenang. "Lalu apa yang ingin kau katakan dengan menunjukkan kristal ini?" Nada bicara Li Han sedikit melunak.
Fu Chen akhirnya dapat menarik nafas lega saat Li Han mengurangi tekanannya. Hal seperti ini sebenarnya sudah pernah ia lalui bersama ayahnya. Bahkan saat latihan, Tang Shu beberapa kali mengeluarkan nafsu membunuh hingga membuat Fu Chen tidak sadarkan diri.
Namun seiring berjalannya waktu, tubuh Fu Chen mulai terbiasa menahan tekanan yang di lepaskan Tang Shu dan yang baru saja Li Han berikan masih dalam batas yang bisa Fu Chen tahan.
"Jika tetua sudah mencari semua informasi mengenaiku. Tetua tentu sudah tau jika aku berlatih hampir satu tahun bersama ayahku di dalam hutan. Aku tidak bisa mengatakannya secara rinci, namun yang pasti, kekuatanku ini bisa di katakan berasal dari sana." Nada bicara Fu Chen terdengar percaya diri.
"Apa tetua percaya, jika aku memiliki cukup kristal ungu untukku gunakan hingga mencapai kekuatanku saat ini?"
Li Han memandangi wajah Fu Chen sejenak, berusaha untuk membaca pikiran anak itu namun tidak menemukan apapun. "Hahaha… kau pikir bisa membodohiku bocah? dengan ilmu tingkat tinggi sekalipun, setidaknya kau memerlukan lebih dari seratus butir kristal ungu untuk kau serap. Melihat latar belakang keluargamu saat ini, hal itu mustahil di dapatkan."
Fu Chen tersenyum tipis, "Apa benar tetua sudah mengetahui semua latar belakang keluargaku? Kurasa tidak bukan? Namun tetua tentu tidak menemukan informasi apapun tentang ayahku, karena informasi itu memang tidak ada."
"Seperti yang tetua katakan, dengan ilmu tingkat tinggi sekalipun memerlukan banyak kristal ungu untuk mendapatkan kekuatanku saat ini. Namun bagaimana jika kristal ungu yang ku miliki lebih dari cukup untuk di serap setiap harinya."
Li Han memandangi kristal ungu di mejanya sejenak. "Jadi maksudmu tidak bisa mengatakannya secara rinci adalah asal kristal ungu ini dan pelatihan yang di berikan oleh ayahmu? Namun memiliki kristal ungu sebanyak itu masih sulit di terima, bahkan sekte menengah sekalipun tidak akan menghabiskan seratus kristal ungu untuk satu orang saja."
"Persediaanku memang cukup banyak, namun itu semua bukanlah milikku. Seperti yang tetua katakan, aku tidak bisa mengatakannya lebih runci." Fu Chen tersenyum kecut saat teringat ia dan ayahnya mengambil cukup banyak kristal ungu di dalam goa yang ia temukan.
"Namun tetua bisa mempercayaiku… aku datang ke tempat ini adalah kemauanku sendiri. Tujuanku juga sama dengan anak-anak yang kalian didik."
Li Han menarik seluruh aura yang di lepaskannya. Sepertinya ia harus mencari informasi lebih jauh lagi. Lagi pula tuduhannya itu hanya spekulasi dari dirinya sendiri. Tidak baik jika langsung menyimpulkan tanpa bukti yang jelas.
"Penjelasanmu cukup meyakinkan, tapi terlalu banyak hal yang mencurigakan di dalamnya." Nada bicara Li Han susah kembali seperti semula.
"Semua orang memiliki rahasia, termasuk anda juga bukan? Tetua?" Sahut Fu Chen tersenyum tipis.
"Hahaha… baiklah-baiklah. Kurasa cukup sampai disini. Ada beberapa catatan yang membahas tubuh sepertimu di tempat ini. Kau bisa datang kemari saat kau punya waktu luang."
Di balik tawarannya itu, Li Han juga ingin mengawasi Fu Chen. setidaknya ia dapat mempelajari perilaku Fu Chen untuk kedepannya. Kabar mengenai banyaknya kekacauan yang muncul di sekitar sekte mereka membuat Li Han lebih waspada terhadap hal-hal yang mencurigakan.
"Terimakasih tetua. Kalau begitu saya undur diri." Baru saja Fu Chen berdiri, kerahnya langsung di tarik oleh Li Han.
"Aku akan mengantarmu ke lantai satu. Pasti sangat melelahkan bukan untuk pergi kesana." Li Han tersenyum lembut. Namun senyumanya tidak sesuai sama sekali dengan apa yang ia lakukan.
Dalam tiga tarikan nafas, Li Han sudah menghilang dari ruangannya dan muncul kembali di aula lantai satu. Pandangan Fu Chen menjadi gelap untuk beberapa saat. Ketika ia membuka mata, dirinya sudah berada di tempat awal mereka bertemu dengan Li Han.
"Sampai jumpa." Sosok Li Han kembali menghilang setelah usai mengatakannya.
"Setidaknya aku bisa melewati ini dengan selamat." Fu Chen menghela nafas panjang, dirinya seolah baru saja terbebas dari kejaran maut. Rasanya sangat melegakan.
"Tapi kakek tua itu memiliki catatan mengenai tubuh seperti milikku. Apa itu artinya aku akan selalu bertemu dengannya?" Batin Fu Chen sambil tersenyum kecut, tidak ada jalan lain selain menerima nasibnya. Lagipula ia memang berniat menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang sering ia kunjungi.
"Fu Chen!"
Baru saja Fu Chen ingin menutup matanya namun suara seseorang yang ia kenal memanggilnya. Fu Chen mencoba melirik ke arah datangnya suara itu dan menemukan Qiao Wu, Sin Lou dan Kyoto berada di ambang pintu aula.
"Fu Chen, kau tidak apa?" Qiao Wu berlari menghampiri Fu Chen saat melihatnya terbaring di lantai.
Setelah mengambil kitab bela diri, sebenarnya anak-anak akan di kenalkan pada tempat-tempat yang akan sering mereka kunjungi. Seperti kelas, taman, tempat latihan dan lainnya.
Namun sampai mereka selesai berkeliling, Fu Chen masih belum juga terlihat. Hingga akhirnya Qiao Wu mengajak Kyoto dan Sin Lou mencari Fu Chen dan baru menemukannya saat hari mulai petang.
"Apa yang di lakukan tetua itu hingga membuatmu seperti ini?" Tanya Sin Lou saat sedang menggendong Fu Chen.
"Bukan apa-apa, aku hanya sedikit lelah." Fu Chen tersenyum kecut setelah mengatakannya.
Mengingat kejadian sebelumnya, ia tidak mungkin menceritakan itu pada mereka bertiga. Hal itu hanya akan membuatnya tambah lelah meladeni pertanyaan-pertanyaan yang muncul.
"Ah iya, bagaimana dengan kitab bela dirimu? Apa kau mendapatkan yang kau inginkan?" Qiao Wu cukup khawatir sebelumnya karena Fu Chen terlihat kesulitan memilih kitab bela diri yang akan ia gunakan.
"Ya aku mendapatkannya." Fu Chen merogoh ke dalam bajunya, mengambil kitab yang di maksud, "lihatlah!"
"Tarian Bayangan?" Sin Lou, Kyoto dan Qiao Wu menggumamkan nama kitab yang Fu Chen pilih secara bersamaan.
"Pfft… Hahaha… Apa kau serius memilihnya adik Chen? Apa kau ingin menari-menari di depan musuhmu nanti?" Sin Lou tidak dapat menahan tawanya saat membayangkan Fu Chen akan melenggak lenggok layaknya perempuan.
"Kau seharusnya memilih jurus dengan nama yang lebih keren. Seperti punyaku, Ombak Timur! Qiao Wu, Awan Merpati! Dan Kyoto, Pisau Baja! Kau benar-benar payah adik Chen!"
Tawa menyertai langkah mereka di sepanjang jalan. Menikmati kebersamaan di bawah matahari senja, daun-daun yang berjatuhan membuat Fu Chen merasa nyaman.
"Aku akan menjaga hubungan ini selamanya." Fu Chen bertekad dalam hati saat melihat teman-temannya dapat tersenyum dengan bebas tanpa beban.
Sosok Li Han memandangi Fu Chen dan teman-temannya dari jendela lantai lima perpustakaan. Tangannya menyilang kebelakang dengan senyuman tipis yang terukir.
"Bagiamana tetua? Apakah anda menemukan sesuatu?" Tanya seorang pelayan laki-laki dengan kepala menunduk.
"Tidak, katakan pada Ketua Feng, dia dapat menyerahkan anak itu padaku."
"Baik." Setelahnya pelayan itu segera keluar dari ruangan.
"Klan Tang, ternyata kalian masih memiliki keturunan yang menjanjikan." Li Han tersenyum tipis melihat wajah Fu Chen yang sangat ceria bersama teman-temannya.