
"Bagaimana situasinya?"
Tetua sekte berjalan santai dengan tangan menyilang ke belakang, seorang murid inti kemudian menjawab pertanyaannya.
"Jumlah musuh masih sangat banyak, tapi tetua tenang saja. Musuh kali ini hanya pendekar kelas satu ke bawah, dapat di pastikan kemenangan ada di tangan kita."
Tetua mengangguk pelan, matanya melirik mulut goa yang begitu besar. Perasaannya menjadi tidak nyaman saat memperhatikan tinggi goa itu mencapai belasan meter.
"Kau pergi bantu yang lain, aku akan menjaga mereka." Tetua sekte menepuk ringan pundak murid inti dan tersenyum penuh makna, dia duduk di sebuah balok kayu dekat sana.
***
Sejak pertarungan Fu Chen dan Hongli berlangsung, tidak satupun anggota Beruang Hitam yang berani ikut campur. Bukan karena tidak ingin membantu Hongli, namun pria kekar itu akan sangat murka jika seseorang menggangu kesenangannya.
"Ingin melukaiku dengan mainan ini?" Hongli tertawa lantang saat berhasil menangkap senjata rahasia yang Fu Chen lemparkan "Ku kembalikan padamu, bocah."
Senjata rahasia itu melesat lebih cepat dari sebelumnya. Fu Chen menangkisnya dengan kesusahan menggunakan pedang.
Fu Chen mendengus pelan tanpa menurunkan kewaspadaan. Perbedaan kekuatan terlihat jelas antara keduanya, Hongli yang berada di ranah Jenderal Petarung tentu tidak sebanding dengan Fu Chen yang hanya pendekar kelas satu tahap menengah.
Perbedaan keduanya bagai langit dan bumi. Alasannya sederhana, seseorang yang berhasil memasuki ranah Jenderal Petarung dapat mengendalikan energi qi di luar kemampuan pendekar biasa. Pada tahap tertentu, mereka dapat membuat kulit sekeras besi.
Fu Chen dapat bertahan hingga sejauh ini telah membuktikan bahwa ia cukup kuat.
Kali ini Fu Chen tidak mencoba lari saat Hongli mulai mendekat. Dia bersiap melakukan serangan balasan, Fu Chen mengayunkan pedangnya dengan kuat saat berada di belakang Hongli.
Seharusnya serangan itu akan mengakibatkan luka serius karena Fu Chen menyerangnya dari titik buta. Namun, Hongli dengan pengalamannya selama puluhan tahun di dunia persilatan mampu membaca pergerakan Fu Chen.
Tangan kanannya menepis pedang itu sementara tangan kirinya telah melayang dan menghantam perut Fu Chen. Fu Chen terpental puluhan meter dan berhenti saat menabrak bangunan.
"Uhuk! Uhuk!"
Fu Chen memuntahkan seteguk darah segar, satu pukulan saja sudah membuat kepalanya terasa pusing. Dengan susah payah ia berusaha bangkit, Fu Chen mengangkat pedangnya hingga cukup tinggi dan mengarahkannya pada Hongli.
"Sepertinya tidak ada pilihan lain…" Fu Chen melakukan gerakan yang membuatnya terlihat seperti menari.
"Tarian Pedang Bayang!"
Ketika Hongli sedikit terpana melihat permainan pedangnya, Fu Chen mendadak maju dan menyerang Hongli. Gerakan Fu Chen begitu cepat, membuat Hongli tidak dapat menghindari serangan sepenuhnya.
Serangan Fu Chen mengarah ke jantung lawan, beruntung Hongli cepat menghindar sehingga hasil serangan Fu Chen tidak cukup dalam maupun serius.
Hongli tidak membiarkan Fu Chen bertindak semaunya, ia melayangkan pukulan kuat pada Fu Chen.
Fu Chen dapat menyadari serangan dari belakang tersebut, dia membalikkan badan dan menangkis puluhan pukulan yang Hongli lepaskan.
Kini Fu Chen telah membalikkan pedangnya sehingga membuat tangan Hongli di penuhi luka sayatan. Meski kulit pria itu cukup keras, namun Fu Chen berhasil melukainya berkat qi yang ia alirkan.
Hongli di buat tidak berkutik di bawah permainan pedang Fu Chen, ia terpaksa memasang posisi bertahan untuk menghindari luka fatal.
"HYAAHH!" Hongli berteriak lantang sambil mengeluarkan aura pembunuhnya. Fu Chen terpaksa melompat mundur dengan nafas yang tertahan sejenak.
Hongli mengamati tangannya dengan mata menyala, putih tulang sedikit terlihat lantaran dagingnya terkelupas. Dengan keistimewaannya sebagai pendekar sekalipun, belum tentu dapat menyembuhkan luka itu dalam waktu dekat.
Saat Fu Chen merasa yakin Hongli akan segera tumbang. Keanehan terjadi, Hongli tiba-tiba mengerang kesakitan sambil terus memegang kepalanya. Fu Chen mengira Hongli tidak terima tangannya di lukai namun ternyata semua anggota Beruang Hitam juga mengalami hal serupa.
Seketika itu, markas Beruang Hitam di penuhi teriakan dari anggotanya. Fu Chen dan seluruh murid sekte segera menjaga jarak, khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi.
Tetua sekte mengerutkan kening saat orang yang di jaganya tiba-tiba berteriak. Dia mencoba bertanya namun tidak ada jawaban.
"Apa yang terjadi?"
Setelah beberapa lama, orang-orang itu menjadi diam dan menimbulkan tanda tanya besar di benak rombongan sekte Pedang Suci.
Tubuh Hongli kemudian membengkak, otot-ototnya semakin besar hingga menutupi luka-lukanya. Urat-urat berwarna biru menonjol keluar layaknya cacing di antara kulit dan daging.
"Dia masih bisa tumbuh lebih besar?" Fu Chen menjadi waspada.
Wakil Ketua kelompok Beruang Hitam itu tidak menunjukkan pergerakkan apapun. Namun, anggota Beruang Hitam yang tadinya menjauh kini berlari ke arah Fu Chen seperti orang kesetanan. Tidak hanya dirinya yang mengalami hal demikian, seluruh murid sekte juga menghadapi hal serupa.
Orang-orang ini tidak berhenti menyerang meski telah Fu Chen lumpuhkan, satu-satunya cara menghentikan meraka hanya membunuhnya.
Fu Chen bergerak menjauh, mencari tempat yang lebih tinggi agar dapat melihat apa yang terjadi. Orang-orang berhamburan ke udara di dua sisi markas, Fu Chen tidak dapat melihat penyebabnya karena pandangannya tertutupi bangunan.
Puluhan orang kemudian menyusul Fu Chen naik ke atap, wajah mereka merah padam dengan napas memburu. Fu Chen segera melesat ke arah mereka, sekarang dia tidak peduli pada nafsu membunuh yang mulai ia rasakan, fokusnya terkunci untuk mengurangi jumlah musuh.
Fu Cheng mengalirkan energi qi ke pedangnya, membuat tiga orang mati seketika dengan kepala terlepas saat Fu Chen mengayunkan pedang.
"Ilmu Pedang Arus Jeram, Hiroshi Pertama…" Pergerakan Fu Chen bagai alir mengalir dan tidak terputus, setiap ayunan pedangnya berhasil membunuh satu orang. Puluhan orang yang tadi menaiki atap dengan cepat di habisi.
Fu Chen turun ke bawah, menyambut orang-orang yang berniat menyerangnya. Fu Chen membunuh lawannya hanya dengan satu tebasan di leher dan jantung mereka. Mata pedang terbalik miliknya ternyata sangat tajam membuat aksi Fu Chen tidak dapat di hentikan.
Fu Chen terus membunuh lawannya hingga muncul suatu keanehan di tubuhnya. Rasa panas di tubuhnya tiba-tiba menghilang namun nafsu membunuh yang merangsangnya semakin kuat.
Beberapa kali Fu Chen melakukan gerakan aneh tanpa sadar. Ayunan pedangnya semakin tajam dan terarah ke area vital tubuh manusia. Seringai mulai muncul secara perlahan di wajahnya.
"Bunuh! Bunuh mereka semua…!"
Tubuh Fu Chen seolah menuruti suara itu, sekarang dia tidak berbeda dengan anggota Beruang Hitam. Terus membunuh tanpa memperdulikan luka di tubuh.
"Benar! Lakukan seperti itu… Biarkan aku merasakan darah mereka! HAHAHA…!" Suara itu semakin nyaring terdengar di kepala Fu Chen.
"Kenapa tubuhku tidak bisa di kendalikan?" Fu Chen mengerutkan keningnya, perasaan cemas menyelimuti pikiran.
Sesaat kemudian, dunia seolah berhenti. Fu Chen tidak dapat menggerakkan tubuhnya sama sekali. Fu Chen semakin cemas saat pandangannya tiba-tiba menggelap. dan tak kunjung kembali.
"Apa aku sudah mati?" Fu Chen mengeluarkan keringat dingin, namun ia tidak dapat merasakan apapun.
Fu Chen mendengar suara tetesan air di sekitarnya dan setelah itu matanya dapat kembali melihat. "Tempat apa ini?"
Fu Chen terkejut mendapati dirinya berada di atas genangan air yang sangat luas, bahkan terlalu luas hingga matanya tidak melihat ujung tempat itu.
"Selamat datang… xixixi"
Suara yang tadi mengisi pikiran Fu Chen kembali terdengar, namun kali ini ia muncul seolah berada di sampingnya.
"Siapa kau?" Fu Chen mengedarkan pandangan ke segala penjuru.
"Aku? Haha… Kau tisak perlu mengetahui siapa diriku. Nikmatilah sisa waktumu di tempat ini, sementara dunia akan segera musnah di tanganku! HAHAHA…!"
suara itu tiba-tiba menghilang, membuat Fu Chen menjadi panik.
"Hei! Siapa kau? JANGAN PERGI! TUNJUKKAN WUJUDMU!" Fu Chen berteriak lantang hingga suaranya serak.
"Sial! Tempat apa ini sebenarnya?" Fu Chen memperhatikan tubuhnya, pakaian yang ia kenakan masih sama namun cicin bumi miliknya tidak ada di tempat.
Fu Chen tidak memahami situasi sekarang, namun sosok itu mengatakan jika Fu Chen adalah wadah jiwanya. Kemungkinan yang sekarang terkurung di tempat ini adalah kesadaran Fu Chen, sedangkan raganya di kendalikan oleh sosok itu.
***
Jujur aja, othor kehabisan ide.... maaf ya^^
chapter ini othor up siang buat ganti tadi malem...