
Penginapan itu memiliki tiga lantai. Setiap lantai memiliki fasilitas yang berbeda. Lantai satu merupakan tempat makan bagi penginapan itu, tempat ini biasanya selalu ramai di kunjungi penduduk setempat.
Lantai dua dan tiga juga memiliki perbedaan yang cukup jauh, para pengunjung harus membayar satu sampai dua keping perak untuk pelayanan khusus di lantai tiga. Harga yang cukup mahal untuk sebuah penginapan di Kota kecil ini.
Xiao Jung, Fu Chen dan Chu Ying mendatangi resepsionis disana. "Kami akan memesan tiga kamar di lantai tiga, juga tolong berikan kami pakaian ganti penginapan ini. Aku akan membayar semuanya." Xiao Jung meletakkan satu keping emas di meja dan seketika membuat mata resepsionis terbuka lebar.
"T-tentu Tuan," balas resepsionis itu cepat.
"Apa di penginapan ini juga ada pemandian air panas? Ah, tolong urus juga gadis ini, bantu dia mandi dan ganti pakaiannya." Xiao Jung merasa tubuhnya mulai gatal sejak beberapa hari tidak mandi.
"Baik, Tuan. Kami akan segera mengabari tuan saat semuanya sudah siap."
Fu Chen berniat menurunkan Chu Ying dari punggungnya namun gadis itu tidak melepaskan tangannya yang melingkar di leher Fu Chen.
"Ada apa, Ying'er?" keluh Fu Chen menyadari gadis ini tidak mau turun.
"Kakak, aku tidak mau tidur sendirian." Chu Ying mengusapkan wajahnya di punggung Fu Chen.
Fu Chen tersenyum kecut, ia memandang seorang pelayan yang masih cukup muda disana selama beberapa saat, sebelum kembali melirik ke arah Chu Ying. "Bagaimana jika pelayan ini yang menemani Ying'er tidur?"
Chu Ying melirik kepada pelayan yang di maksud, pelayan itu tersenyum lembut saat Chu Ying menatapnya. "Aku tidak mau, Ying'er hanya ingin ditemani kakak." Chu Ying menggelengkan kepala lalu mempererat pelukannya di leher Fu Chen.
Fu Chen tersedak nafasnya sendiri mendengar ucapan itu. Lehernya terasa sedikit tercekik. "Eh… Ying'er, tidak baik jika laki-laki dan perempuan tidur bersama. Lagi pula Ying'er-kan sudah besar, apa tidak malu jika harus di temani?"
Chu Ying tidak menjawab, dia semakin mengeratkan tangannya , membuat Fu Chen sedikit kesulitan bernafas. Fu Chen melirik ke arah Xiao Jung, namun seniornya itu hanya menatap aneh padanya.
Setelah cukup panjang lebar Fu Chen menjelaskan pada Chu Ying, akhirnya gadis itu menurutinya dengan terpaksa. Fu Chen akhirnya dapat bernafas lega setelahnya. Dalam hati dia berjanji, tidak akan bersikap manis di depan gadis kecil seperti ini meski sulit sekalipun.
Fu Chen kemudian menyerahkan jubahnya yang kotor, begitu pula dengan Xiao Jung.
Fu Chen menyempatkan diri untuk berlatih usai membersihkan diri. Setelah sekitar satu jam berusaha mengumpulkan qi, Fu Chen sedikit terkejut karena qi di Kota ini terasa lebih tipis dari tempat-tempat yang pernah ia kunjungi. Mungkin penyebabnya karena tempat ini sering di kunjungi banyak orang, menurut Fu Chen.
Malam harinya Xiao Jung mengajak mereka untuk makan malam. Xiao Jung tidak ingin makan di penginapan itu, dia memilih sebuah rumah makan yang terlihat cukup mewah. Bahkan bisa di katakan jika rumah makan itu salah satu yang terbesar di Kota Tiemao. Jaraknya tidak cukup jauh dari penginapan, mereka hanya berjalan kaki menuju kesana.
Seorang pelayan langsung menyambut mereka saat ke-tiganya masuk. Pelayan itu bersikap sangat hati-hati ketika melihat pedang yang terselip di pinggang Xiao Jung.
"Antar kami ke lantai dua," pinta Xiao Jung.
Rumah makan itu memiliki dua lantai. Pelayan menjelaskan, untuk memesan satu meja di lantai dua, mereka harus membayar satu keping perunggu. Xiao Jung meminta Fu Chen untuk membayarnya, dia sendiri tidak menyimpan kepingan seperti itu di kantongnya.
Fu Chen memilih meja yang dekat dengan jendela lebar di lantai dua itu. Mereka dapat menikmati angin yang masuk sembari melihat pemandangan kota.
Seorang pelayan segera menghampiri meja mereka dan memberikan daftar menu di rumah makan itu.
"Aku, aku! Aku akan memilihnya!" Chu Ying langsung menarik buku daftar menu itu dan membukanya.
Fu Chen menggaruk kepalanya dan tersenyum canggung, tingkah gadis ini mulai seenaknya sendiri. Chu Ying terlihat berpikir keras sambil membolak balikkan lembaran buku tipis itu. Semua menu disana terlihat sangat lezat di matanya.
Ia kemudian tersenyum lebar setelah menemukan yang ingin dia pesan. "Aku ingin ini.. ini.. ini…"
Pelayan itu lekas mencatat pesanan Chu Ying dengan cepat. Fu Chen dan Xiao Jung saling berpandangan melihat cukup banyak makanan yang di tunjuk gadis itu.
"Ying'er, makan apa yang bisa masuk ke dalam perutmu saja. Apa Ying'er yakin bisa menghabiskan semua makanan itu?" Fu Chen merasa perlu untuk menghentikan gadis itu.
Chu Ying nampak tidak rela, sudah cukup lama dia tidak makan makanan yang lezat seperti ini. Dia kemudian memandang Xiao Jung dengan jurus andalannya, menyadari jika membujuk Fu Chen tidak lagi mudah setelah kejadian di penginapan sebelumnya.
Xiao Jung menaikkan ujung alisnya, dia luluh begitu saja dengan tatapan itu. Xiao Jung menganggukan kepala lalu melirik ke arah Fu Chen dan meminta untuk membantunya menghabiskan makanan itu nanti.
Fu Chen menelan ludahnya dan tersenyum pahit. Dengan kekuatannya saat ini, sebenarnya ia dapat bertahan meski berbulan-bulan tidak makan. Kebanyakan pendekar juga meninggalkan kebiasaan makan mereka, hanya untuk sekedar tidak ingin membuang waktu.
Xiao Jung dan Fu Chen berpandangan dengan wajah serius, kemudian mengangguk secara bersamaan. Mereka mengambil dan menyantap setiap makanan yang tidak di habiskan oleh Chu Ying. Mereka beruda seperti sedang berlomba.
Di akhir makan malam itu, Chu Ying mengantuk dan tertidur di pangkuan Fu Chen. Xiao Jung kemudian membahas rencana mereka kedepannya.
"Senior, apa kita akan tetap ke Ibu Kota untuk mengikuti pelelangan itu?"
"Tentu saja, itu adalah tujuanku sejak awal mengambil misi ini." Xiao Jung tersenyum tipis.
"Bagaimana dengan gadis ini? Tidak mungkin kita akan membawanya bersama, kan?"
"Aku akan menyuruh Kantor cabang keluarga-ku untuk mengantarnya pulang. Kau tidak perlu khawatir."
"Baiklah, setidaknya dia bisa pulang lebih aman." Fu Chen mengelus kepala Chu Ying, gadis itu sudah tertidur nyenyak.
Xiao Jung merenggangkan ototnya lalu mengambil sesuatu dari balik bajunya. "Untukmu." Dia meletakkan sebuah kotak kayu kecil seukuran kepalan di atas meja.
Fu Chen menoleh ke arah kotak kayu itu, tangannya masih sibuk mengusap kepala Chu Ying. "Ini untukku?" tanya Fu Chen heran.
"Ya. Isinya adalah pil Jindan, aku mendapatkannya ketika salah seorang dari kantor cabang menemuiku saat di penginapan tadi. Pil itu setidaknya dapat membantumu mencapai tahap selanjutnya."
Fu Chen memperhatikan Kotak kecil itu sekali lagi. Ia merasakan adanya energi qi yang cukup kental di dalamnya. "Tapi kenapa senior memberikannya padaku? Bukankah akan lebih baik jika senior yang mengkonsumsinya?"
"Anggap saja itu sebagai bayaran dari misimu kali ini. Dengan tingkat kekuatanku sekarang, pil itu hanya berpengaruh sekitar 10% saja. Akan lebih berguna jika kau yang mengkonsumsinya." Xiao Jung menyodorkan kotak kayu itu agar lebih dekat pada Fu Chen.
"Senior tidak perlu khawatir tentang itu. Lagipula aku akan mendapat poin kontribusi dari sekte, seharusnya itu sudah cukup," jawab Fu Chen tersenyum canggung, merasa tidak nyaman jika menerima sesuatu secara cuma-cuma.
Xiao Jung menghela nafas berat, jelas jika juniornya ini belum mengetahui apa-apa. "Biar aku jelaskan padamu. Misi seperti ini tidak memiliki bayaran yang cukup tinggi. Kau harus ingat! Misi kita awalnya hanya mencari informasi.
Namun, apa yang kita lakukan beberapa hari yang lalu? Poin kontribusi yang kau dapat tidak akan sebanding dengan waktu latihanmu yang terbuang karena misi ini."
Fu Chen kembali merenungi ucapan Xiao Jung. Memang benar, jika saja ia berlatih selama beberapa bulan ini di dalam sekte, mungkin praktiknya akan ada sedikit perkembangan yang berarti.
"Tidak perlu kau ambil pusing. Ini hadiah dariku." Xiao Jung kemudian bangkit dan mendekati Fu Chen. "Berikan gadis itu padaku, aku akan mengantarnya ke penginapan."
Fu Chen melirik ke arah Xiao Jung dengan wajah penuh tanda tanya. "Kenapa tidak pulang bersama saja?"
Xiao Jung tersenyum kecut, dia malu jika harus mengatakan alasan sebenarnya. "Aku lupa membawa uangku saat kemari, aku akan mengambilnya. Jadi, tunggu disini ya," kata Xiao Jung dengan senyum penuh makna.
"Eh?" Fu Chen mematung. Apa dia baru saja di jadikan jaminan andai seniornya tidak kembali?
Xiao jung tidak memperdulikan ekspresi Fu Chen, dia mengambil Chu Ying dan bergegas meninggalkan rumah makan itu. Beberapa saat kemudian, seorang pelayan mengampiri Fu Chen dengan catatan menu yang Chu Ying pesan.
"Semuanya lima keping perak, Tuan," suara pelayan itu bagaikan sambaran petir di telinga Fu Chen.
Bagaimana bisa makanan-makanan ini menjadi begitu mahal? Bahkan harga sewa penginapan masih jauh lebih murah. Hati Fu Chen serasa ingin menangis, uangnya saat ini bahkan hanya tersisa 10 keping perak. Dan semuanya tertinggal di penginapan.
Otak Fu Chen berpikir keras untuk mencari alasan yang tepat untuk mengulur waktu. "Mohon maaf, tapi aku masih ingin menikmati tempat ini. Aku akan membayarnya nanti," ucap Fu Chen dengan Santai seolah tidak ada beban di pundaknya.
Pelayan itu tersenyum lembut, lalu menyuruh pelayan lainnya untuk menyiapkan teh untuk Tuan muda yang di layaninya ini. "Maaf mengganggu waktu anda, Tuan."
Fu Chen melipat kakinya dan mengangguk dengan mata terpejam. Ia terlihat cukup angkuh dan menawan di mata pelayan itu. Namun, pelayan itu tidak mengetahui, jika hati Fu Chen ingin menangis sejadi-jadinya karena dia menyediakan minuman yang lebih mahal lagi.
Fu Chen menghela nafas kasar setelah pelayan itu pergi. Dia seolah baru saja lolos dari maut.
Beberapa saat kemudian, tiga sosok dengan pakaian yang terlihat cukup mewah memasuki lantai dua. Salah seorang di antaranya terlihat seperti seorang pengawal.
Fu Chen melebarkan matanya saat melihat sosok yang ia kenal memasuki lantai itu. Mulutnya terbuka, namun tidak ada suara yang keluar.