
Setelah usai membuka kurungan terakhir, Fu Chen di buat terkejut saat tiba-tiba seorang gadis kecil memeluknya sambil terisak tangis. Gadis itu terus mengucapkan terimakasih dengan tersendat-sendat karena tangisnya tak kunjung berhenti.
Fu Chen membiarkan gadis itu memeluk pahanya, ia teringat dengan adik kecilnya di rumah saat melihat gadis itu. Sudah sangat lama Fu Chen tidak bertemu dengan Fu Mei, membayangkannya saja sudah membuatnya tersenyum sendiri.
Fu Chen mengusap rambut gadis itu, perasaanya jadi lebih tenang setelah melakukannya.
"Namamu siapa? Apa kau disini sendirian?" Tanya Fu Chen untuk menenangkan gadis itu.
Belum satupun dari tahanan itu berniat untuk keluar ruangan, bahkan tiga orang penjaga sebelumnya masih bersimpuh ketakutan dan tidak berani melarikan diri. Padahal cukup banyak kesempatan yang terlihat saat Fu Chen sibuk dengan urusannya.
"C-Chu Ying, namaku Chu Ying…" Jawab gadis itu sambil mendongakkan kepalanya agar dapat menatap sang penolongnya.
"Ah, namamu terdengar sangat manis." Fu Chen tersenyum lembut setelah mengatakannya. "Apa keluargamu ada disini?" Fu Chen ingin memastikan karena sejak tadi tidak ada yang mecoba menenangkan gadis ini.
Chu Ying kembali menundukkan kepalanya dan menggeleng pelan. Gadis itu seolah tidak ingin membahasnya lebih jauh. Fu Chen agaknya mengerti maksud gadis itu dan tidak membahasnya lebih lanjut.
Ia teringat akan tragedi yang menimpa Bibi Fei dahulu, mungkin jika Xuan Rong tertangkap dia pasti sudah menjadi seorang budak dengan parasnya itu.
Tunggu, bagaimana jika yang membunuh Bibi Fei dan beberapa warga Desa saat itu adalah kelompok Beruang Hitam? Fu Chen menjadi tertegun saat memikirkannya, meski benar sekalipun dengan kekuatannya saat ini maka tidak banyak yang dapat ia lakukan.
Bahkan untuk menghancurkan satu markas saja setidaknya dia harus setingkat dengan Xiao Jung atau lebih tinggi. Fu Chen hanya bisa menunggu dan berharap jika Xuan Rong benar-benar lolos saat itu.
Ia kemudian menuntun gadis itu menuju pintu dan di ikuti oleh tahanan lainnya, mereka akhirnya dapat sedikit bernafas lega karena ada orang yang mau menolong mereka.
Sebelumnya, telah banyak orang-orang yang di bunuh oleh para perampok yang menculik mereka, bahkan kawanan perampok itu saling berebut untuk menyetubuhi wanita-wanita muda yang mereka tangkap. Mereka tidak ubahnya seperti binatang!
Beruntung beberapa wanita lainnya belum tersentuh dan masih dapat mempertahankan kesucian mereka sampai detik ini.
Fu Chen berjalan paling depan untuk mengawal mereka, saat tangan Fu Chen hendak memutar gagang pintu itu, sebuah langkah kaki terdengar dari luar dan mengarah ke tempat mereka.
Fu Chen menarik Chu Ying untuk berlindung di belakangnya, ia lekas bersiaga saat pintu itu sedikit terbuka. Beberapa tarikan nafas berikutnya Fu Chen melayangkan sebuah pukulan saat seseorang muncul dari belakang pintu.
Orang itu ternyata dapat dengan mudah menahan pukulan Fu Chen. "Fyuh… ini sudah kedua kalinya kau hampir membunuhku. Apa kau memang berniat melakukannya?" Tanya orang itu yang tidak lain adalah Xiao Jung.
Fu Chen menghela nafas lega mengetahui orang itu adalah seniornya sendiri. Ia melemaskan tubuhnya dan menarik tangannya kembali.
"Apa semuanya sudah kau bebaskan?" Tanya Xiao Jung saat melihat orang-orang berkerumun di belakang Fu Chen.
"Ya, begitulah… masih ada tiga orang penjaga di belakang sana yang masih sadarkan diri." Fu Chen menoleh ke belakang lalu memandang Chu Ying yang bersembunyi di belakangnya. Xiao Jung baru menyadari keberadaan Chu Ying saat Fu Chen mengusap kepala gadis itu.
"Ooh… Lihatlah siapa gadis kecil ini…? Kemari, apa kau ingin paman gendong?" Xiao Jung membungkuk dan merentangkan tangannya, bersiap untuk menerima pelukan hangat dari gadis kecil itu.
Namun apa yang Xiao Jung dapatkan bak sebuah cinta yang di tolak. Gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya di paha Fu Chen dan mulai menangis kembali. Xiao Jung menjadi salah tingkah, ia berniat mengusap kepala gadis itu untuk menenangkannya. Namun, saat tangannya baru menyentuh kepala sang gadis, tangisannya menjadi lebih keras.
Xiao Jung menatap Fu Chen dengan wajah penuh pertanyaan. Xiao Jung seolah ingin bertanya apa yang salah darinya hingga membuat gadis itu menangis?
Fu Chen menggaruk pipinya yang tidak gatal sambil tersenyum kecut. "Senior, sebaiknya anda bersihkan darah di baju anda lebih dulu sebelum berbicara dengan Ying'er."
Xiao Jung kemudian berdehem pelan, setelahnya ia berkata, "Biarkan saja penjaga di belakang itu, lebih baik kita segera bersiap untuk pergi," Katanya lalu berjalan lebih dulu.
Fu Chen dan yang lainnya mengikuti Xiao Jung dari belakang. Namun, bukannya segera keluar, ternyata Xiao Jung menuntun mereka ke sebuah tempat penyimpanan para perampok.
Mata para tahanan itu melebar, apa yang ada di depan mereka adalah harta terbanyak yang pernah mereka lihat. Mereka menelan ludah masing-masing dan menatap ke arah Xiao Jung. Berharap jika pemuda itu mau memberi sedikit saja harta rampasan perampok itu.
Xiao Jung memahami semuanya, ia memang berniat membagikan harta rampasan ini karena memang miliki mereka. Ia menyingkir dari sana lalu menyandarkan tubuhnya dengan menyilangkan kaki dan tangannya.
"Ambil untuk keperluan kalian enam bulan kedepan," Kata Xiao Jung setelah menghela nafas sejenak.
Para tahanan itu awalnya sedikit ragu, namun tak berselang setelahnya mereka saling berebut mengambil harta sebanyak mungkin yang dapat mereka bawa. Fu Chen menarik Chu Ying mundur dari kerumunan itu, gadis itu juga terlihat tidak berminat mengambil tumpukan harta disana.
Xiao Jung menatap datar atas tingkah para tahanan itu, mereka saling berdesak-desakkan bahkan beberapa saling berebut dengan yang lain. Semua manusia di dunia ini tetaplah sama, nafsu selalu mengendalikan mereka saat di hadapkan dengan kekayaan.
"Kalian yakin dengan apa yang kalian ambil?" Tanya Xiao Jung dengan wajah datar tanpa melirik ke arah para tahanan.
Para tahanan itu saling berpandangan setelah mengambil harta sebanyak yang mereka bisa. Mereka tampak ragu, merasa jika harta yang mereka ambil masih kurang namun mereka tidak memiliki apapun untuk membawa harta itu lebih banyak.
"Aku tanya sekali lagi, kalian yakin dengan apa yang kalian ambil?" Tanya Xiao Jung dengan nada sedikit meninggi.
"I-iya tuan…" Ujar salah seorang tahanan ketakutan.
"Kalau begitu pergilah! Pergi dan biarkan orang-orang diluar sana merampas apa yang kalian bawa dari sini," Kata Xiao Jung sinis.
Seketika para tahanan itu tertegun, mereka membenarkan ucapan pemuda itu dalam hati namun ada rasa tidak rela untuk kehilangan kesempatan emas ini. Beberapa orang yang sudah sadar diri akhirnya mengembalikan benda-benda yang tidak dapat mereka sembunyikan, lalu yang lainnya mengikuti dengan perasaan terpaksa.
Xiao Jung kemudian menghampiri Fu Chen setelah melihat para tahanan itu menyelesaikan urusannya. Dia kemudian menanyakan sesuatu, "Apa kau bisa menjadi kusir?"
"Emh, kurasa tidak… tapi aku sedikit bisa menunggang kuda," Jawab Fu Chen sedikit kebingungan.
"Bagus… Aku telah menyiapkan dua kereta pengangkut milik para perampok ini. Kita akan membawa mereka dengan itu," Kata Xiao Jung lalu menyuruh para tahanan itu untuk mengikutinya.
Mereka sedikit berdesak-desakkan saat di kereta karena jumlah mereka memang cukup banyak.
Fu Chen yang baru pertama kali menjadi kusir juga sedikit gugup, namun karena ia sedikit mengetahui sifat para kuda itu ia mencoba untuk percaya diri.
Xiao Jung memimpin mereka dengan berjalan di rute yang berbeda, tentunya dia tidak ingin jika dalam perjalanannya akan kembali bertemu para perampok yang menempati markas itu.
Para tahanan yang kini sudah terbebas itu akhirnya dapat menghirup udara segar setelah cukup lama terkurung di dalam sel tahanan. Mereka sangat berterimakasih pada dua orang pemuda yang membawa mereka pergi saat ini, meski ada sedikit perasaan kurang puas karena tidak dapat mengambil rampasan itu lebih banyak.
***
Menurut kalian alurnya bertele-tele gk sih? komen di bawah ya, ini juga demi perkembangan novel ini.
Kalau ada typo dan lainnya mohon di koreksi ya, mata othor agak kurang awas kalo masalah itu soalnya^^