Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.27 - Permohonan


Selama perjalanan Fu Chen berusaha untuk menghafal jalan agar ia dapat pulang sesuka hati nantinya. Anak-anak Desa yang terpilih juga semakin akrab selama perjalanan, meskipun Fu Chen masih menjadi bahan olokan mereka.


Qiao Wu adalah yang paling setia di samping Fu Chen, gadis itu selalu membela Fu Chen saat anak lain mengejeknya. Meski Sin Lou juga turut membela tapi dia lebih fokus pada Kyoto, mereka berdua layaknya sebuah rival yang memperebutkan pringkat kelas.


Para murid senior serta Tetua yang mengawal mereka tidak memperdulikannya, kebisingan yang di buat anak-anak itu cukup untuk mengisi perjalanan kali ini.


Hari mulai petang dan mereka memutuskan untuk bermalam di hutan sambil membuat tenda. Fu Chen dan lainnya kemudian di ajarkan cara membuat api unggun dan tenda sederhana.


Setelah semua persiapan selesai, mereka duduk melingkar di samping api unggun. Tetua Wang He kemudian menjelaskan aturan sekte pada anak-anak.


Fu Chen dan yang lainnya mendengarkan dengan seksama, tidak ingin melewati poin penting yang mungkin saja berguna nantinya. Sedangkan murid senior yang ikut berkumpul juga ikut mendengarkan, mungkin ada beberapa hal yang sudah mereka lupakan.


"Di sekte Pedang Suci maupun sekte lainnya, setiap murid di bedakan menjadi murid Luar, murid Dalam dan murid Inti. Kalian tentunya sudah mengenal senior kalian yang satu ini …" Wang He menepuk pundak Xiao Jung.


"Dia adalah salah satu murid inti di sekte Pedang Suci, jika kalian ingin menjadi sepertinya, kalian harus mengikuti seleksi tahunan untuk naik peringkat. Kalian juga bisa menantang murid lainnya untuk berduel dan mengambil posisinya. Tentu atas seizin Tetua lain." Wang He menutup penjelasannya setelah itu.


Kyoto dan lainnya mengangguk mengerti, tapi Fu Chen masih sedikit heran, peraturan seperti itu sama saja melepaskan murid baru ke dalam hutan yang di penuhi hewan buas. Fu Chen kemudian merapatkan giginya saat teringat ucapan Tang Shu, yang kuat akan di sanjung dan yang lemah akan menjadi budak.


"Kapan kita akan sampai di sekte, Tetua?" tanya Ji Jie pada Wang He.


"Jika kita melewati jalur cepat, kita hanya perlu dua minggu perjalanan. Tapi karena kita membawa kereta kuda Jadi kita melewati jalur yang biasa digunakan para pedagang saja. Kemungkinan perjalanan ini akan memakan waktu satu bulan."


Anak-anak jelas sangat terkejut mendengarnya, mereka tidak menyangka perjalanan ini akan sangat lama


Tetua Wang He tersenyum tipis melihat wajah kecewa anak-anak, dia kemudian berusaha untuk menenangkan mereka. "Kalian tenang saja, kita akan singgah di beberapa Desa dan Kota nantinya."


"Kota?!" anak-anak membuka matanya lebar-lebar.


"aku tidak sabar ingin kesana!"


"Aku dengar di kota banyak makanan enak dan sangat ramai!"


"Tidak hanya itu, disana juga ada bangunan-bangunan besar! Aah… aku sudah tidak sabar melihatnya."


Wang He menggelengkan kepala pelan, anak-anak ini jelas tidak pernah meninggalkan Desa mereka. Fu Chen segera menghampiri tetua itu Saat Wang He hendak memasuki tenda.


"Maaf Tetua, tapi … berapa hari lagi kita akan sampai di Desa selanjutnya?" tanya Fu Chen saat telah berhasil menghentikan Wang He.


"Hm, kurasa lima hari lagi, ada apa?"


"Eh … tidak ada, hanya saja … bekal kami tidak akan cukup untuk lima hari lagi, jadi…" Fu Chen sedikit kesusahan untuk mengutarakan niatnya.


Wang He mengelus dagunya sejenak seraya memikirkan perkataan Fu Chen. "Kau benar, mungkin kita bisa mempercepat laju untuk mengejar waktu."


Fu Chen mengerutkan dahi mendengar itu. Menurutnya memepercepat perjalanan tidak akan mengatasi masalah. "Sebenarnya aku ada saran, hanya saja-"


"Katakan saja." Wang He memotong ucapan Fu Chen, dia merasa tertarik dengan bocah satu ini.


Fu Chen menegak ludahnya sejenak, "Bagaimana jika kita berburu di hutan saat beristirahat, Tetua?"


Wang He sedikit mengerutkan dahinya, dia juga memikirkan hal ini sebelumnya, tapi ia ragu anak-anak ini bisa berburu atau tidak.


"Kita? Apa maksudmu? Kau tau jika rombongan ini cukup banyak dan hasil buruan belum tentu bisa di bagi rata." Wang He balik bertanya.


Fu Chen mulai gugup, tidak menyangka akan mendapat respon seperti itu.


Wang He semakin heran dengan pernyataan Fu Chen. "Apa kau yakin, kekuatanmu memang cukup, tapi bagaimana dengan teman-temanmu?"


Wang He merasa bahwa Fu Chen hanya memikirkan dirinya sendiri dan mengabaikan nasib anak-anak yang lain.


"Justru karena itu, jika aturan yang tetua katakan tadi benar maka mereka hanya akan menjadi budak di sana. Setidaknya aku ingin mereka terbiasa bertatung agar nanti tidak mudah di tindas. Dan juga, bukankah ada para Senior yang akan menjaga mereka saat di hutan nanti?"


Wang He tersenyum tipis mengetahui maksud ucapan Fu Chen. "Baiklah, aku akan memikirkannya. Segera beristirahatlah! kita akan melanjutkan perjalanan esok pagi buta."


Fu Chen tersenyum lebar, meski belum ada kepastian, setidaknya dia sudah mengatakan maksudnya pada Tetua itu. Fu Chen membungkukkan badanya dan pergi menyusul teman-temannya yang sudah beristirahat.


***


Sudah dua hari mereka melakukan perjalanan, perbekalan Fu Chen dan yang lain pun mulai menipis, mereka juga mulai berbagi satu sama lain.


Murid senior yang dapat menahan lapar memberikan sebagian perbekalan mereka pada anak-anak. Fu Chen merasa cemas, apa tetua Wang He tidak mengindahkan ucapannya?


Saat sedang beristirahat anak-anak mulai mengeluh karena mereka harus menghemat bekal hingga sampai di desa berikutnya, tidak hanya mereka tapi beberapa murid senior juga demikian.


Wang He yang melihatnya merasa ini waktu yang tepat untuk mengabulkan permintaan Fu Chen. Wang He kemudian meminta Xiao Jung untuk mengumpulkan murid sekte dan anak-anak dengan segera.


"Apa bekal kalian masih cukup untuk dua hari lagi?" Wang He bertanya ketika seluruh murid sudah berkumpul.


"Tidak…" Semuanya menjawab tanpa semangat sedikitpun.


Wang He tersenyum tipis, "kalau begitu, malam ini kita akan berburu makanan di hutan!" Seluruh mata tertuju pada Wang He setelah ia mengatakannya.


"Ada apa? Bukankah kalian sudah kehabisan makanan? Jangan khawatir, setiap dua orang anak akan di dampingi oleh seorang murid senior."


Wang He memandangi seluruh murid senior yang ada, dari perkiraannya, ada tiga orang yang tidak masuk dalam kelompok anak-anak.


"Murid senior yang akan menentukan anggota kelompoknya, jadi segera tentukan, atau kalian tidak akan makan malam!"


"Baik Tetua!" jawab murid senior serempak.


Para senior kemudian mulai memilih kelompok mereka masing masing, sedangkan tiga orang senior yang sebelumnya sudah di perkirakan, membuat kelompok mereka sendiri.


Kyoto dan Sin Lou di pilih oleh murid senior bernama Jyu Sun. Menurutnya, Kyoto dan Sin Lou adalah anak yang energik dan tidak akan mudah takut ketika di dalam hutan.


Xiao Jung yang ikut menjadi ketua kelompok memilih Qiao Wu sebagai anggotanya. Tidak ada alasan kuat, dia hanya tertarik dengan Qiao Wu karena dirinya satu-satunya perempuan disana.


"Pilih satu temanmu untuk jadi kelompok kita." Xiao Jung menyarankan agar memilih anak yang tidak merepotkan.


Qiao Wu sedikit tidak suka dengan perkataan Xiao Jung. Tapi bukan masalah baginya, karena apapun perintahnya dia akan tetap mengajak Fu Chen.


Xiao Jung menatap datar pada Fu Chen saat Qiao Wu memilihnya.


"Apa dia boleh, senior?" Qiao Wu bertanya sambil tersenyum cerah.


"Ya, terserah padamu."


Qiao Wu segera menghampiri Fu Chen untuk membujuknya. Fu Chen juga tidak ada pilihan lain, anak-anak selalu menolak dirinya ketika dia menawarkan diri menjadi anggota.


Total keseluruhan ada enam kelompok termasuk tiga orang senior sebelumnya. Wang He kemudian menyuruh masing-masing kelompok untuk menyebar. Dia sendiri juga akan ikut berburu, berjaga-jaga andai ada kelompok yang tidak mendapat buruan.