
Sekumpulan anak kecil yang sebelumnya berteduh di bawah pohon persik tua mulai membubarkan diri satu per satu. Sementara wanita paruh baya yang menemani mereka bercerita hanya terdiam memandangnya.
"Hei! Kalian mau kemana?" Seorang gadis kecil nampak khawatir pada wanita paruh baya itu, ia berusaha menghentikan teman-temannya yang mulai menjauh.
"Aku mau pulang, mendengar cerita guru membuatku mengantuk," sahut gadis lainnya seraya melambaikan tangan.
"Tapi kan guru belum selesai-!"
"Sudahlah Jie'er… biarkan mereka pergi, kau juga sebaiknya ikut pulang, hari sudah semakin larut." Wanita paruh baya itu mengusap kepala gadis bernama Jie Anxie seraya tersenyum lembut.
Jie Anxie menatap gurunya dengan sendu, ia masih ingin mendengar cerita gurunya tapi hari seolah berjalan terlalu cepat, "Bagaimana dengan nanti malam, guru? Apa guru mau melanjutkan cerita itu lagi?"
Wanita itu tertawa kecil, "Iya, iya… datanglah ke rumah guru nanti malam, guru akan menceritakan semuanya sampai kau tertidur pulas…"
Jie Anxie semakin bersemangat, "Kalau begitu sampai jumpa nanti malam, daah!" Jie Anxie melambaikan tangannya lalu mempercepat langkah dan menyusul teman-temannya.
Wanita paruh baya itu menarik napas panjang seraya tersenyum tipis, "Kau memberi amanah yang amat berat padaku, guru…" ucap wanita itu sebelum menghilang bersamaan dengan hembusan angin.
***
Fu Chen terdiam di salah satu sisi goa seraya memandang dua makhluk aneh di depannya. Fu Chen sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, keduanya terlihat bermusuhan namun di saat bersamaan mereka terasa cukup dekat.
Dari percakapan keduanya Fu Chen dapat mengetahui bahwa mereka telah hidup sejak 3000 tahun yang lalu, era di mana terjadi sebuah pertempuran yang melibatkan empat benua sekaligus. Fu Chen tidak tahu apa penyebabnya namun kedua makhluk itu terlibat dalam peperangan tersebut.
Fu Chen tidak dapat melihat paras makhluk putih yang muncul entah dari mana itu, matanya hanya terpaku pada seekor rubah kecil berekor dua dengan tanda aneh di keningnya. Fu Chen hampir tidak percaya bahwa rubah itulah yang mengajaknya bicara beberapa waktu lalu.
"Dou Huang… Bagaimana caramu bisa sampai di sini? Seharusnya kau sudah mati di peperangan itu!" geram rubah itu dengan tatapan tajam, auranya hilang tak bersisa akibat keberadaan makhluk putih yang bernama Dou Huang.
Dou Huang tersenyum tipis, "Inilah yang disebut dengan takdir, mungkin saat itu kau berhasil lolos namun sekarang aku tidak akan melepasmu!"
Rubah itu tertawa lebar selama beberapa saat tapi matanya berubah lebih dingin setelahnya, "Betapa menyedihkan dirimu Dou Huang! Apa kau masih menjadi boneka para Dewa itu sampai sekarang?"
Dou Huang menyeringai lebar mendengarnya, "Bagaimana jika iya, Rubah Kecil… Apa yang akan kau lakukan?"
Amarah rubah yang bernama Feng Bian itu semakin meluap, "Berhenti memanggilku Rubah Kecil, bedebah! Kau tidak jauh lebih hebat dariku!" Feng Bian merasa masalah ini tidak akan berakhir dengan mudah.
Sebenarnya Feng Bian masih dalam kondisi terpuruk saat ini, ia kehilangan kekuatannya akibat peperangan 3000 yang tahun lalu, mengakibatkan tubuhnya menyusut dan inti energinya retak parah.
Feng Bian kesusahan untuk mengumpulkan kekuatannya kembali saat itu, sampai ia terpaksa melarikan diri ke penjuru dunia karena para pendekar terus memburu dirinya.
Feng Bian adalah salah satu dari sekian hewan Magis di dunia ini, orang mungkin mengira dirinya sudah mati namun Feng Bian sebenarnya bersembunyi di suatu tempat seraya memulihkan kondisinya.
Feng Bian baru berhasil memulihkan inti energinya yang retak setelah seribu tahun lamanya. Feng Bian sangat kesusahan pada masa ini karena tidak seorangpun yang dapat membantunya bahkan semua sumberdaya miliknya telah habis di gunakan.
Saat mecoba kembali menjelajah di benua Tengah, Feng Bian terpaksa berhadapan dengan puluhan pendekar hebat masa itu. Feng Bian berhasil mengalahkan mereka tapi inti energinya kembali bocor dan kali ini lebih parah.
Feng Bian merasa semuanya semakin sulit untuk di atasi, para pendekar mulai membentuk aliansi untuk memburunya. Di saat semua penderitanya itu, Feng Bian memilih Kembali bersembunyi hingga dirinya benar-benar pulih.
Sayangnya Feng Bian tidak memiliki cukup kekuatan dan sumberdaya memulihkan kondisinya seperti semula. Sebanyak apapun Feng Bian menyerap energi alam semuanya akan merembes keluar dan energi itu akan memadat hingga membentuk sebuah kristal.
**
Beruntung benturan itu tidak berlangsung lama karena Dou Huang lekas menarik auranya begitu menyadari keadaan Fu Chen, Feng Bian juga segera menarik auranya sesaat setelah Dou Huang karena tidak ingin energinya terkuras.
"Hahaha… Apa kau yakin ingin melawanku dengan kekuatanmu itu?" Dou Huang mengelus janggutnya sambil tersenyum lebar.
"Apa tujuanmu sebenarnya?" Feng Bian merasa tidak punya kesempatan untuk melawan karena kekuatannya sekarang hanya setingkat pendekar Sakti tahap menengah.
Dou Huang mengelus janggutnya seraya memandang Feng Bian dengan senyum bahagia. Ekor Feng Biang adalah petunjuk mengenai kekuatannya, Dou Huang ingat dengan jelas pertemuan pertamanya dengan rubah ini, saat itu dia memiliki delapan ekor dengan tanda di dahinya yang masih menyala.
Dou Huang merasa kasihan sekaligus bahagia, ini adalah kesempatan besar untuk menjalin kontrak dengan seekor hewan Magis, sayangnya kontrak itu tidak untuk dirinya, melainkan Fu Chen.
"Bukankah sudah aku katakan bahawa kali ini aku tidak akan melepaskanmu… Tapi sebelum itu, aku ingin mendengar alasanmu kenapa kau menghapus sebagian sisi kemanusiaan anak ini?" Dou Huang menunjuk Fu Chen.
Feng Bian melirik Fu Chen dan Dou Huang bergantian sebelum berdecih pelan, "Seharusnya kau sudah mengerti tanpa aku beritahu sekalipun," ucap Feng Bian dingin.
"Jadi benar…" Dou Huang menggeleng pelan.
Dou Huang sudah menduga ada yang anehpada Fu Chen saat anak ini dengan mudahnya mengambil nyawa manusia tanpa rasa bersalah setelahnya. Dou Huang mengira itu adalah perbuatan sosok yang merasuki Fu Chen beberapa waktu yang lalu.
Dou Huang akhirnya paham sekarang, Feng Biang mungkin berniat mengendalikan Fu Chen dan merebut raganya ketika pemuda itu sudah jatuh dalam kegelapan. Feng Bian tidak tahu bahwa ada satu jiwa lagi yang bersemayam di tubuh pemuda itu.
Fu Chen dapat mendengar perbincangan keduanya sembari mengatur napasnya yang memburu. Pandangan Fu Chen terkunci pada Dou Huang yang ikut memandangnya selama beberapa saat, sosok itu mengingatkannya pada kejadian aneh yang menimpanya saat menyerang markas kelompok Beruang Hitam beberapa bulan lalu.
"Aku akan melupakan apa yang telah kau lakukan padanya… tapi dengan satu syarat," Dou Huang memutar tubuhnya dan mendekati Feng Bian, "aku ingin kau menjalin kontrak dengan bocah ini!"
"Hehe…" Feng Bian terkekeh, "Kenapa aku harus menuruti perkataanmu?" lanjutnya seraya tersenyum sinis.
"Karena nyawamu ada di tanganku!" Dou Huang tiba-tiba menghilang dan kembali muncul di samping Feng Bian sambil berkata dingin.
Feng Bian terdiam seribu bahasa, ia tahu Dou Huang tidak sedang bercanda saat ini. Sebenarnya Feng Bian memiliki harga diri yang tinggi karena itu dia selalu menolak untuk menjalin hubungan dengan manusia, dan Dou Huang juga mengetahui hal itu.
Sejauh ini Feng Bian hanya terikat oleh satu orang saja di masa lalu dan orang itu adalah salah satu penyebab terjadinya perang besar 3000 tahun lalu. Dou Huang juga sadar akan hal itu, meski sangat berbahaya untuk terikat dengannya tapi ia tidak ingin kehilangan kesempatan emas ini.
Setelah hening selama beberapa waktu akhirnya Feng Bian mengambil keputusan yang membuatnya harus menghela napas panjang. Ia memang punya harga diri yang tinggi tapi agaknya Feng Bian sedikit sadar, nyawanya jauh lebih penting saat ini, ia tidak ingin berakhir menyedihkan di goa ini.
"Mari kita lihat, apakah dia layak atau tidak!" Feng Bian tersenyum tipis, mungkin ini bisa menjadi kesempatan untuk merebut tubuh anak itu.
Dou Huang tertawa pelan, "Kau tidak akan menyangka setelah menyentuh tubuh anak itu…"
"Baiklah Anak Muda, persiapkan dirimu untuk kontrak ini!" lanjut Dou Huang seraya tersenyum penuh makna pada Fu Chen.
"Ha, Huh? A-apa? Kkau bicara denganku?" Fu Chen yang berniat merengkak pergi pun terkesiap, lekas ia mengendalikan ekspresinya yang mulai panik.
"Tentu, siapa lagi kalau bukan dirimu. Aku akan memberimu sebuah hadiah, jadi bersiaplah!"
"Huh…?"
Fu Chen bergidik ngeri melihat kedua makhluk aneh itu tersenyum penuh makna padanya, 'Apa aku melakukan kesalahan? Mereka tidak akan memakanku kan?' pikir Fu Chen sambil mengeluarkan keringat dingin.