Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.134 - Keluarga Bangsawan dan Kesempatan


"Hei lihat! Mereka sudah keluar!"


"Itu kue sangat besar."


Orang-orang mulai memberikan tepuk tangan mereka saat rombongan keluarga Xiao Feng telah keluar dari rumah mereka. Kue setinggi setengah meter juga telah di siapkan di sana.


Barisan paling depan dari meja para tamu merupakan tempat bagi perwakilan dari bangsawan lain. Tempat itu memiliki atmosfer yang berbeda dengan bangku di sekitarnya karena di tempati orang-orang dengan persaingan tinggi.


Saat acara pemotongan kue telah di mulai, Xiao Yin yang tadi masih menemani Fu Chen pun mulai beranjak dan menghampiri keluarganya.


Fu Chen tidak begitu memperhatikan keseluruhan acara karena tujuannya memang bukan untuk itu. Pandangannya sempat terkunci kepada Xiao Jung yang juga ikut dalam perayaan itu, ia baru pertama kali melihat senyuman Xiao Jung yang begitu lebar.


Ketika acara pemotongan kue telah selesai, Xiao Yin nampak membisikkan sesuatu pada ayahnya seraya menunjuk ke arah Fu Chen. Xiao Feng sempat melebarkan mata saat mendengar ucapan anaknya, karena pakaian Fu Chen yang cukup mencolok membuat Xiao Feng dengan mudah menemukan pemuda itu.


Xiao Feng ingin menyapa pemuda itu secara langsung, tapi sepertinya ia harus menunggu sampai acara ini selesai lebih dulu. Fu Chen hanya mengangguk pelan sambil tersenyum sederhana saat pandangannya bertemu dengan Xiao Feng.


Dari pengamatan Fu Chen sejauh ini, sepertinya tidak semua kepala keluarga Bangsawan telah hadir dalam acara ini. Sebagian dari mereka hanya mengirim perwakilannya saja.


Fu Chen hanya diam di kursinya sambil menikmati hidangan yang di sediakan selama acara berlangsung. Bahkan ketika orang-orang mulai mengantri untuk memberikan hadiah mereka, Fu Chen nampak masih tenang di tempatnya.


Fu Chen hanya tersenyum kecut saat melihat para Bangsawan itu saling membanggakan hadiah yang mereka berikan. Hadiah-hadiah itu memang luar biasa, bahkan keluarga Xiao sampai harus menyediakan tempat khusus untuk menampung semuanya.


"Apa-apaan anak itu, apa dia datang hanya untuk numpang makan?" ucap teman Lee Untae dengan ketus.


"Hmph! Bocah kampungan sepertinya tidak akan punya cukup uang untuk membeli hadiah yang layak," jawab Lee Untae sambil memandang Fu Chen dengan sinis.


Fu Chen kemudian mulai mendekati rombongan keluarga Xiao saat antriannya gelas sedikit. Dia menjadi orang terakhir yang mengantri dan membuatnya menjadi pusat perhatian sekali lagi.


"Kakak Chen?" Xiao Ji melebarkan mata saat melihat Fu Chen, ia melempar beberapa hadiah di tangannya dan berlari menghampiri Fu Chen.


"Haha… kau sudah besar sekarang ya." Fu Chen mengangkat tubuh anak itu sambil tersenyum lebar. Sebenarnya usia mereka hanya terpaut tiga tahun, tapi karena fisik dan pembawaan Fu Chen yang cukup tenang membuatnya terlihat jauh lebih dewasa.


Fu Chen kemudian menurunkan anak itu sambil mengusap rambutnya, lalu berbisik, "Aku akan menunjukkan hadiah mu nanti. Hadiah yang kakak berikan cukup rahasia."


Xiao Ji nampak tersenyum lebar, ia sangat penasaran hadiah macam apa yang akan di berikan Fu Chen.


"Chen'er, kau sudah jauh berbeda sejak terakhir aku melihatmu." Xiao Jung tersenyum ramah dari tempat duduknya, Fu Chen lantas memberi anggukan pelan sebagai jawaban pada pemuda itu.


Saat Fu Chen berpapasan dengan Xiao Feng, Patriark keluarga Xiao itu sontak menarik tangan Fu Chen dan memeluk tubuh pemuda itu. Banyak orang di sana yang terkejut melihatnya, bahkan Fu Chen sendiri tidak menyangka tindakan pria ini.


"Siapa sebenarnya bocah itu, dia sudah membuatku penasaran sejak tadi!" ucap seorang pria dari meja paling depan.


Xiao Feng nampak tidak berniat melepaskan Fu Chen, sebelumnya dia tidak sempat melihat wajah penolongnya karena harus melakukan perawatan, dan ia sangat tidak menyangka saat mengetahui orang itu adalah seorang pemuda.


"Tu-tuan Xiao, aku rasa ini sedikit berlebihan." Napas Fu Chen sedikit tertahan, pria ini mendekapnya terlalu kuat.


"Ah maafkan aku, aku tidak bisa menahan rasa bahagia ini saat melihatmu secara langsung." Xiao Feng melepaskan pelukannya, wajahnya terlihat sendu karena bahagia.


Xiao Feng lantas mengajak Fu Chen untuk makan di satu meja yang sama dengannya. Meja itu cukup besar dan panjang, dan mereka yang ada di sana hanyalah para perwakilan dari masing-masing keluarga.


Saat sedang mengamati satu persatu orang di sana ternyata Su Anna juga hadir bersama keluarganya. Fu Chen baru ingat jika istri Xiao Feng juga berasal dari bangsawan Su, pasti kedua keluarga ini memiliki hubungan yang cukup erat.


"Jadi ini anak muda yang kau ceritakan kemarin, Anna'er…" ucap seorang pria di sebelah Su Anna sambil mengelus dagunya.


"Aku sangat berterimakasih padamu nak, aku akan memberikan hadiah yang setimpal padamu atas apa yang kau lakukan saat kami kembali nanti." Su Luoru menjabat tangan Fu Chen, ia sungguh tidak percaya kalau pemuda ini telah menyelamatkan anaknya dari kawanan penculik.


"Sebaiknya kita bicarakan masalah itu nanti, tidak enak membahasnya saat kita sedang merayakan ulang tahun orang lain." Fu Chen tersenyum canggung, ia khawatir jika perwakilan keluarga Huang akan mengawasinya dan rencana yang telah ia susun dengan susah payah akan runtuh.


Setelah semua acara perayaan itu selesai, Lee Untae yang sejak tadi terus mengawasi Fu Chen pun mulai berani mendatanginya. Pemuda itu menantang Fu Chen untuk latih tanding atas perlakuan Fu Chen sebelumnya.


Fu Chen sebenarnya cukup enggan untuk menerima tawaran itu, tapi Xiao Feng dan beberapa orang lainnya juga penasaran dengan kemampuan Fu Chen.


"Ada apa anak muda? Apa kau tidak berani menerima tawaran anakku? Jika kau tidak mau melakukannya maka bersujudlah sambil meminta ampun," ucap seorang pria di samping Lee Untae.


Fu Chen hanya mengangkat kedua pundaknya sambil tersenyum tipis, "Siapa yang tidak takut saat melawan putra dari seorang kesatria dari Kekaisaran ini…? Tapi karena aku juga punya harga diri, maka siapkan saja pertolongan pertama untuk anakmu nanti."


"Heh, kau pandai berbicara anak muda." Ayah Lee Untae itu tersenyum sinis, dia segera meminta pelayan untuk membersihkan taman dan memberikan ruang yang cukup untuk Fu Chen dan Lee Untae bertanding.


"Chen'er, jangan terlalu berlebihan padanya, bagaimanapun dia adalah tamu kita saat ini." Xiao Jung menasihati Fu Chen sambil tersenyum lembut, ia yakin kemampuan pemuda ini sudah jauh lebih tinggi sekarang.


"Kakak, apa ini cukup?" Xiao Ji menghampiri Fu Chen sambil membawa sebuah ranting kayu, Fu Chen memang memintanya untuk di jadikan senjata.


"Yah ini cukup," Fu Chen kemudian membuka jubahnya, ia menitipkan jubah itu pada Xiao Ji dan membuat anak itu bahagia saat menerimanya, "Jaga untuk kakak, ya."


"Hum…!" Xiao Ji menganggukkan kepala dengan cepat, ia mengusap jubah milik Fu Chen beberapa kali sambil memperhatikan corak naga di jubah itu, "Ini mengagumkan!"


***


"Apa kau meremehkan ku?" Lee Untae nampak tidak senang saat melihat Fu Chen hanya membawa sepotong ranting untuk melawannya.


"Ranting ini adalah bentuk penghormatan ku padamu, karena sebenarnya, satu tanganku saja sudah cukup untuk melawan bocah ingusan sepertimu." Fu Chen tersenyum tipis.


"Kau-!"


"Bukankah kurang menarik jika hanya begini saja?" Fu Chen mengangkat kedua telapak tangannya hingga sejajar pundak, pandangannya mengarah pada ayah Lee Untae untuk menanyakan pendapat pria itu.


"Apa maksudmu?" jawab ayah Lee Untae.


"Aku hanya ingin melakukan sebuah taruhan. Dengan taruhan ini semangat kami pasti akan bertambah." Fu Chen menyeringai tipis.


"Heh, lihatlah situasi mu sebelum bicara, bocah-"


"Tidak apa ayah, terima saja permintaannya, anak ini sedang menggali lubang untuknya sendiri." Lee Untae tersenyum sinis sambil menatap Fu Chen, dari pengamatan ayahnya pemuda itu tidak lebih dari pendekar kelas dua tahap akhir, sementara dirinya telah mencapai pendekar kelas satu tahap awal, mengalahkan Fu Chen tentu adalah hal yang mudah.


"Ha-ha-ha… bagus, bagus. Kau memang anakku," Pria itu kemudian mengelus dagunya, sedang memikirkan taruhan macam apa agar bocah itu tetap mengingatnya seumur hidup.


"Bocah, jika kau kalah dari anakku maka kau harus berlari mengelilingi Kota sambil melepas seluruh pakaianmu."


Fu Chen menyeringai lebar namun hal itu hanya berlangsung dalam sekejap sebelum ekspresinya kembali normal, "Baiklah, maka hal yang sama juga berlaku pada anakmu!"


"Ha-ha-ha! menarik… dengan ini pertandingannya akan segera di mulai!"


"Haish… penyakit anak ini kambuh lagi, apa sumberdaya yang ku berikan sebelumnya tidak berpengaruh padanya?" Dou Huang menghela napas panjang sambil menggeleng pelan, tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan dengan kepribadian muridnya ini.