
Fu Chen merasakan sakit di sekujur tubuhnya saat dia sadar. Bahkan dia cukup kesulitan untuk sekedar melihat tangannya. Dia merasa tubuhnya menjadi lebih kurus dan tidak bertenaga.
Dia ingat betul sesaat sebelum Dou Huang merasukinya dengan paksa. Pertarungannya dengan siluman tikus itu hampir berakhir, namun ia tidak cukup yakin apakah dia bisa mengalahkannya.
Kondisi Fu Chen saat itu memang telah di ambang batas. Bahkan sulit baginya untuk mengharapkan Dan Suyu melihat kondisi pemuda itu lebih buruk darinya.
Ketika memikirkannya lebih jauh, tiba-tiba ia merasa kesal dengan tindakan Dou Huang. Fu Chen mulai menebak-nebak apa tujuan Dou Huang sebenarnya.
Saat Fu Chen mencoba memulihkan diri, matanya melebar lantaran terkejut melihat energi Qi miliknya yang meningkat. Namun Qi itu tidak terlalu murni seperti milik Fu Chen.
"Apakah ini sisa-sisa Qi yang diserap Dou Huang?" Fu Chen bergumam, ia kemudian segera bermeditasi untuk memurnikan Qi itu.
Fu Chen nampaknya tidak menyadari saat seorang pelayan bertanya padanya ketika ia sadar. Pelayan itu merasa khawatir melihat tatapan Fu Chen yang kosong.
Ia lantas mendatangi Dan Suyu yang ada di lantai satu penginapan. Di sana Dan Suyu nampak berbincang dengan tetua yang lain, sepertinya mereka masih membahas tentang pembagian hasil panen.
"Tuan…" Pelayan itu menyapa.
"Hm… ada apa?" Dan Suyu meliriknya sambil mengangkat alis, wajah pelayan itu nampak khawatir.
"Tu-tuan muda yang di atas telah bangun-"
"Benarkah?" Dan Suyu menyahut, wajahnya tersenyum lebar.
"I-iya tapi dia-"
Belum sempat pelayan itu menyudahi ucapannya, Dan Suyu bergegas ke lantai dua untuk menjenguk Fu Chen. Ia sempat cemas ketika tabib yang ia undang berkata mustahil untuk menyembuhkan Fu Chen.
Beberapa tetua di sana juga mengikuti Dan Suyu, mereka merasa beruntung karena jumlah korban di pihak mereka menurun berkat rencana Fu Chen.
Namun Dan Suyu mendadak menghentikan langkahnya ketika diambang pintu. Ia terpana dengan aura yang terpancar dari tubuh Fu Chen ketika anak itu sedang bermeditasi.
Meski dalam kondisi terbaring, namun Fu Chen dapat bermeditasi dengan baik. Aura emas yang terpancar dari tubuhnya seolah keluar kemudian masuk kembali.
Dan Suyu dan beberapa tetua yang melihat kejadian itu tidak dapat berkata apa-apa. Bahkan teknik kultivasi terbaik di sekte mereka tidak sebanding dengan yang Fu Chen perlihatkan.
Dan Suyu kemudian meminta para tetua untuk kembali, ia tidak ingin mengganggu pemulihan Fu Chen.
"Menurutmu dari mana anak itu berasal? Apa yang dia perlihatkan sejauh ini sungguh diluar pemahaman ku."
"Bukankah dia datang bersama pedagang dari Kekaisaran Song yang di kawal olehmu?" salah satu tetua memandang kuron.
Kuron hanya menggelengkan kepala, ia sendiri tidak pernah bertanya tentang latar belakang Fu Chen.
"Sepertinya rumor tentang Kekaisaran Meng yang terlemah diantara tiga Kekaisaran adalah benar."
Celetukan itu membuat yang lain merenung, sebagian besar dari mereka memang belum pernah meninggalkan Kekaisaran.
Sembari membicarakan Fu Chen dan kontribusinya dalam penyergapan. Kuron secara tidak sadar mengatakan jika Fu Chen pernah bertanya padanya tentang suatu tempat.
Ketika Kuron menyebutkan lokasi yang dituju Fu Chen, reaksi mereka nampak sama.
"Aku tidak percaya jika informasi itu bisa sampai ke Kekaisaran lain."
"Haha… sepertinya Keluarga Muyong akan kembali heboh."
Waktu terus berlalu hingga Fu Chen membuka matanya tepat ketika matahari terbenam. Dia menarik napas panjang dan menahannya sejenak sebelum ia hembuskan.
Pandangan Fu Chen kemudian bertemu dengan Sung Woo ketika ia menoleh. Wanita itu lantas tersedak napasnya sendiri.
"Senior Woo, apa yang kau lakukan disini?" Suara Fu Chen terdengar lirih dan serak. Sepertinya kondisi Fu Chen belum pulih sempurna.
"Bukan apa-apa. Senior memintaku untuk menjagamu jika terjadi sesuatu." Sung Woo kemudian membantu Fu Chen membenarkan posisinya.
"Terimakasih…" Fu Chen menatap keluar jendela, ia melihat banyak lampion yang terpasang. Nampaknya ia telah melewati pesta yang diadakan warga Desa.
"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanya Fu Chen tanpa mengalihkan pandangannya.
"Setidaknya sudah tiga hari… Tabib memperkirakan kau akan sadar dalam satu atau dua tahun lagi."
"Begitu ya…" Fu Chen tidak menduga akan separah itu, "Sepertinya aku harus lebih waspada padanya." Fu Chen bergumam.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" Sung Woo kesulitan mendengar gumaman Fu Chen lantaran suaranya yang lirih dan serak.
"Bukan apa-apa," Fu Chen tersenyum lembut, "Ah bagaimana kabar senior Suyu dan yang lain?"
"Dia baik-baik saja. Mungkinkah kau ingin bertemu dengannya?" tanya Sung Woo.
"Ya… tolong."
"Baiklah." Sung Woo kemudian pergi setelah memberikan segelas teh hangat pada Fu Chen.
Fu Chen kembali menatap keluar jendela, melihat banyaknya lampion dan lentera yang terpasang sepanjang jalan membuat Fu Chen teringat akan masa lalu.
Fu Chen lantas menghela napas dan bergumam, "merenungi masa lalu tidak akan merubah apapun. Sebaiknya aku memikirkan rencana ku selanjutnya."
Dan Suyu kemudian datang tidak berselang lama setelah Sung Woo memanggilnya. Ia sangat bersyukur Fu Chen dapat pulih dengan cepat.
Keduanya berbincang sejenak tentang apa yang terjadi saat dirinya pingsan. Fu Chen terkejut saat mendengar Dan Suyu dan lainnya juga pingsan saat itu.
Dan Suyu menduga ada orang luar berambut putih yang membantu mereka. Dan Suyu tidak dapat mengingatnya dengan jelas sebab dirinya juga tumbang kala itu.
Fu Chen menduga orang yang di maksud Dan Suyu salah dirinya. Tapi Fu Chen pun baru mengetahui perubahan pada dirinya saat Dou Huang merasukinya.
"Maaf sebelumnya jika aku mengatakan sesuatu yang salah. Tapi benarkah jika tujuan mu adalah gunung Mushun?"
"Gunung Mushun?" Fu Chen memiringkan kepala.
"Itu adalah nama tempat yang belakangan ini di bicarakan dari keluarga Muyong." Dan Suyu kemudian menjelaskan informasi tentang gunung Mushun lebih dalam.
Fu Chen mengangguk paham, beberapa informasi umum juga telah dia dengar dari Kuron.
"Seperti yang kau tahu, kau harus membuat sebuah kelompok untuk dapat bergabung dalam penelusuran itu." Dan Suyu kemudian mengeluarkan sebuah lencana dari balik jubahnya.
"Aku mempunyai seorang teman di Kota Lianing. Dia juga terobsesi untuk menjelajahi makam itu, kau bisa menunjukkan lencana ini untuk mencarinya."
Dan Suyu menyerahkan lencana giok biru berbentuk kupu-kupu itu pada Fu Chen. Dia kemudian menjelaskan ciri-ciri dari rekannya itu dan juga tempat yang biasa dia kunjungi.
"Kau juga tidak perlu khawatir tentang bagian dari kontribusi mu. Para tetua juga telah setuju untuk memberikan sumber daya terbanyak padamu."
Dan Suyu tersenyum lembut, tidak ada yang dapat ia bantu lagi selain hal ini. Meski Dan Suyu sendiri tidak yakin apakah sumber daya itu akan berguna untuk Fu Chen.
Dan Suyu kemudian keluar dari kamar Fu Chen, ia sadar kondisi Fu Chen belum pulih sepenuhnya. Sehingga ia melarang siapapun untuk masuk agar Fu Chen dapat beristirahat dengan tenang.
"Hwang Jeong… sepertinya dia akan menjadi rekan yang menarik." Fu Chen memandang lencana giok itu sambil tersenyum tipis. Dia seolah mendapat gambaran rencana selanjutnya.