
"Ini sulit! Pertahanannya sangat kokoh di balik serangan yang tajam ini." Gumam Fu Chen dalam hati.
Meski kecepatannya mengungguli Tao Lin, namun pertahanan Tao Lin cukup rapat dan Fu Chen kesulitan untuk menyerangnya karena anak itu selalu waspada dan siap mengayunkan pedangnya kapanpun.
Fu Chen melompat mundur saat tendangannya berhasil di tahan oleh Tan Bao dan menghasilkan angin kejut yang membuat debu-debu berterbangan.
Fu Chen memperhatikan pedang di tangannya sejenak. Pedang ini sangat berbeda dengan katana meski memiliki ukuran yang hampir sama.
Pedang bermata dua yang ia pegang saat ini membuatnya harus berpikir bebrapa kali sebelum menggunakannya. Fu Chen menarik pedang itu dan memasang kuda-kuda yang berbeda dengan sebelumnya.
Tao Lin mengamati Fu Chen sejenak. "Apa kau masih menahan diri sebelumnya, senior?" Desis Tao Lin setengah berteriak.
Ia melihat pedang di tangan Fu Chen mulai di selimuti qi. Tao Lin sadar jika Fu Chen memiliki qi yang tidak berbeda jauh darinya. Menggunakan qi yang cukup banyak hanya untuk pedang sedikit beresiko untuk di lakukan. Kecuali orang itu ingin mengakhiri pertarungan dengan cepat.
Tao Lin mulai melangkah maju, tak ingin membiarkan Fu Chen mengumpulkan lebih banyak qi untuk pedangnya. Tao Lin bergerak gesit. Cepat diayunkannya pedang yang ia pegang, namun Fu Chen menghilang begitu saja saat pedang itu hampir mengenainya.
"Ilusi?" Tao Lin terkesiap.
Satu tarikan nafas berikutnya Fu Chen muncul di belakang Tao Lin dengan pedang yang terayun. Beruntung Tao Lin memiliki refleks yang bagus, sehingga hanya beberapa helai rambutnya yang terpotong.
Detik berikutnya, Fu Chen menyerang Tao Lin dari depan dengan mengandalkan jurus pertama dari ilmu Arus Jeram. Gerakan Fu Chen begitu cepat, tidak membiarkan Tao Lin untuk menarik nafas sedikitpun.
Tetua yang mengawasi mereka berdiri dari kursinya. Dahinya berkerut, wajahnya terlihat sedikit tidak senang dengan apa yang Fu Chen lakukan. "Apa-apaan ini?"
Jelas sekali jika tetua itu sedang terkejut. Gerakan Fu Chen adalah gerakan yang biasa di lakukan para pembunuh bayaran. Serangan Fu Chen yang saling menyambung seolah membuat Tao Lin berada di genggamannya.
Tao Lin tercekat. Tangannya terasa lemas tak kuasa menahan getaran setiap menangkis serangan Fu Chen. Ia bahkan tidak memiliki waktu untuk mengumpat dalam hati. Setiap kali ia menghindari serangan, maka serangan lainnya akan mengenainya.
Setelah beberapa saat menyerang dengan membabi buta. Fu Chen kembali melompat mundur dan membuat Tao Lin bisa menarik nafas sejenak.
Fu Chen memperhatikan tangannya yang terdapat beberapa luka sayatan. Ia beberapa kali tidak sengaja memegang mata pedangnya. "Sial! Aku belum terbiasa menggunakan pedang ini." Keluh Fu Chen dalam hati.
Ia memperhatikan lawannya sejenak, anak itu tidak terlihat ingin menyerah meski nafasnya sudah tersenggal. Fu Chen sendiri memiliki setamina yang tinggi berkat tulang permata dewa milikinya.
Tao Lin memandang tajam ke arah Fu Chen. "Ini akan menjadi penentu!" Dengus pemuda itu. Seketika lonjakan energi mulai terasa di sekitarnya. Hembusan angin itu bahkan terasa sampai ke penonton.
Fu Chen mengumpat dalam hatinya. "Tidak ada pilihan lain."
Kuda-kuda Fu Chen menjadi begitu rendah, bahkan bisa dikatakan jika ia sedang merunduk. Tangan kanannya yang memegang pedang menyilang hingga ke pinggul kirinya. Asap tipis keluar dari mulutnya yang di sertai dengan desisan angin.
Tao Lin bergerak maju, setiap langkahnya membuat arena menjadi retak. Pedang di tangannya siap di ayunkan.
"Hiroshi ketenangan…" Fu Chen melesat bagaikan kilat saat jarak keduanya tinggal enam meter.
Tiiinng!
Suara dentingan pedang berdengung di udara. Detik berikutnya Fu Chen telah berada di belakang Tao Lin. Kedua pemuda itu terdiam beberapa saat. Sebelum sebuah patahan dari bilah pedang terjatuh di antara mereka.
Tao Lin ambruk dengan pedang yang patah di tangannya. Fu Chen melirik sejenak dan memperhatikan pedangnya yang mulai berubah menjadi debu.
Tatapannya datar. Tubuhnya terasa panas meski hanya beberapa saat.
"Tao Lin!" Tetua itu terperanjat dari tempat duduknya dan melompat menghampiri muridnya.
"Guru … apa aku menang…?" Ujar Tao Lin, lemah.
"Iya … Kau mengalahkannya…" sahut tetua itu sambil mengalirkan qi untuk meringankan luka-luka di tubuh muridnya.
Tao Lin terkekeh. Ia ingin berbicara namun suaranya tersangkut di tenggorokan. Ia melirik ke arah Fu Chen yang sedang menangkupkan kedua tangannya.
"Maafkan aku, tetua. Aku sudah membuat muridmu terluka parah…" ucap Fu Chen, lemah. Beruntung ia bisa mengendalikan jurus ketiga Ilmu Arus Jeram untuk tidak mengenai Tao Lin dan hanya mengenai pedang pemuda itu.
"Tidak apa … dia hanya kehabisan qi. Dia anak yang gegabah, kekalahannya akan membuat dia sadar diri." Desah tetua itu, pelan.
Ia agaknya juga penasaran dengan Fu Chen. Ilmu pedang yang digunakannya sangat asing. Tetua itu juga menyadari Fu Chen sedikit kesulitan dengan pedang yang ia berikan meski sudah memahami ilmu pedang. Menandakan anak itu tidak terbiasa dengan jenis pedang yang berbeda.
"Aku juga minta maaf dengan pedang yang anda berikan. Aku akan menggantinya suatu saat." Fu Chen merasa bersalah telah menghancurkan pedang yang di pinjamkan tetua itu.
Dia sudah berusaha mengendalikan qi nya. Tapi sepertinya itu adalah batasan pedang tersebut.
"Tidak masalah, itu hanya pusaka tingkat rendah." Tetua itu memperhatikan muridnya yang di bawa beberapa orang. "Dimana asramamu? Aku akan menyuruh seorang murid untuk mengantarkan token milik Tao Lin esok hari."
Fu Chen menganggukan kepalanya sebelum memperkenalkan diri. Dia juga baru sadar belum berkenalan dengan lawannya dan baru menyadari nama pemuda itu.
"Bagaiamana dengan Tao Lin, tetua? Apa dia akan menjadi murid luar setelah ini?" Fu Chen merasa kurang nyaman jika memang seperti itu. Dia lebih baik menunggu pengacau yang biasa mengganggunya.
Tetua itu tertawa kecil, tawanya membuat Fu Chen sedikit terkejut. "Tenang saja! Anak itu akan mendapatkan posisinya dalam waktu dekat." Balas tetua itu dengan senyum lebar.
Fu Chen tertawa hambar. Tidak menyangka jika hal seperti itu bisa di lakukan. Ia melirik pada gagang pedang yang masih ia pegang. Ia nampak sedang berpikir.
Pandangannya kemudian terarah pada penonton yang mulai membubarkan diri. "Ah, benar. Aku belum tau jalan keluar dari sini." Fu Chen membuang gagang pedang di tangannya dan menanyai satu persatu orang disana.
***
Beberapa hari sudah berlalu sejak duel itu. Kekalahan Tao Lin menjadi berita hangat dalam beberapa hari ini. Fu Chen bahkan baru mengetahui jika lawannya adalah seseorang yang berada di peringkat 10 besar murid dalam.
Token yang Fu Chen inginkan juga telah ia dapatkan. Tetapi ia masih belum bisa menukarkannya di ruang administrasi karena harus ada seorang tetua yang menjadi saksi atas pengangkatannya.
Sedangkan Li Han tidak pernah terlihat semenjak kunjungannya pada Ketua sekte. Beberapa kali Fu Chen menghampiri ruangannya namun kakek tua itu masih belum ada.
Fu Chen hanya bisa menunggu sembari menjalani hari-hari membosankan di dalam kelas pelatihan. Dia juga menyembunyikan fakta pada teman-temannya jika ia memiliki token murid dalam.
Tinggalkan like and subrek^ω^ see u next chapter(⌒o⌒)