Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch. 76 - Siasat Xiao Jung


Nie Mi menghampiri sebuah ruangan khusus yang ada di lantai satu setelah meninggalkan bilik Xiao Jung. Ruangan itu menyimpan semua item yang akan di lelang nantinya. Saat ia masuk, Nie Mi segera menghampiri seorang penjaga dan membisikkan sesuatu.


Penjaga itu mengerutkan keningnya setelah mendengar penjelasan Nie Mi. "Baiklah, akan aku sampaikan. Terus awasi orang itu," ucap si Penjaga dengan serius.


Nie Mi mengangguk, lalu meminta item utama ke-dua yang baru saja di lelang. Dia menjelaskan jika alasannya kemari adalah untuk mengambil item itu dengan segera.


Saat keluar dari ruangan itu, Nie Mi menarik napas panjang dan mengatur agar ekspresinya dapat lebih tenang. Setelahnya dia segera pergi ke lantai dua, sesekali pandangannya mengarah ke panggung dan ternyata masih belum ada yang menaikkan tawaran.


"30.000 pertama!"


Ye Kong menelan pahit ludahnya, perkiraannya pil ini akan sangat di minati karena khasiatnya yang begitu luar biasa. Namun, minimnya informasi yang ia dapatkan mengenai para pendekar di Kekaisaran ini adalah kesalahan terbesarnya.


Ia mengira jika orang-orang akan langsung percaya setelah meyakinkan mereka dengan nama Menara Bintang Permata. Namun nampaknya tidak semudah itu.


Di tempat lain, Xiao Jung menyeringai sambil memperhatikan ekspresi Ye Kong. Perasaan puas ia dapatkan saat ini, usahanya untuk membeli informasi memang tidak sia-sia.


Di samping kegembiraanya itu, Fu Chen menatapnya dengan wajah bingung. Pemuda itu telah mengamati situasinya beberapa kali namun tidak menemukan alasan mengapa Xiao Jung tampak begitu bahagia.


Fu Chen hanya berusaha untuk mengerti, mungkin seniornya sangat senang karena tidak ada yang berani menaikkan harga setelah dirinya.


Fu Chen tidak mengetahui jika kegundahan para hadirin untuk menawar sebenarnya karena sebuah rumor yang beredar sebelum pelelangan di laksanakan.


Rumor itu membahas mengenai pil yang saat ini masih di atas panggung, rumor yang beredar itu mengatakan jika pil Matahari Bulan sebenarnya tidaklah sehebat yang di katakan. Teruatama kemampuannya dalam menjadi penawar dari racun Kelabang Raja.


Orang semakin ragu karena mendengar pihak organisasi bahkan belum pernah mengujinya secara langsung dengan racun Kelabang Raja yang masih menjadi momok menakutkan sampai saat ini.


Terlebih, racun itu sangat jarang di gunakan oleh patriark sekte Awan Merah, sekte itu juga tidak mungkin menyerahkan sampel racun Kelabang Raja pada Menara Bintang Permata untuk diteliti. Karena itu, kebenaran dari pil Matahari Bulan masih di ragukan.


Para hadirin di sana bahkan sangat terkejut saat seseorang berani menawarnya dengan harga tinggi yang mencapai tiga kali lipat. Mereka sangat menyayangkan kebodohan orang itu.


"30.000 ke-3! Selamat, pil Matahari Bulan di dapatkan hadirin di bilik 10!"


"Hahaha!" Sebuah tawa kemudian menggelegar dari dalam bilik nomor 10.


Semua orang menatap ke arah bilik itu dengan kening berkerut, terutama Ye Kong. Sorot matanya begitu tajam, jika tatapannya dapat mencabik-cabik tirai yang menutupi bilik itu maka ia sudah melakukannya sejak tadi.


"S-senior?" Fu Chen mengerutkan keningnya, tingkah seniornya ini menjadi sedikit aneh sejak kemunculan tiga item utama.


"Ah, maaf-maaf. Silahkan di lanjutkan." Xiao Jung menyingkirkan sedikit air mata yang keluar di sudut matanya. Perutnya sedikit sakit karena tawanya yang terlalu keras. Ia kembali mengatur nafasnya sambil sesekali terkikik geli.


Nie Mi yang hendak membuka pintu segera menghentikan niatnya setelah mendengar tawa itu. Ia semakin menaruh curiga pada Tuan Muda Xiao ini. "Tunggu sampai semua ini selesai," ucapnya dalam hati untuk menenangkan diri.


"Para hadirin sekalian, karena sesi pertama ini telah usai. Maka izinkan kami untuk mempersiapkan sesi ke-2 selama beberapa saat. Mohon pengertiannya." Ye Kong berusaha untuk tersenyum meski hatinya sangat geram saat ini.


"Emh, sebenarnya apa yang sedang terjadi, senior? Kenapa orang-orang tidak ingin menawar item utama tadi?" Fu Chen bertanya dengan ragu, dia juga melihat jika orang-orang mulai membicarakan mereka dengan tatapan curiga.


Xiao Jung melirik sejenak ke arah pintu, dia merasakan adanya kehadiran Nie Mi di balik pintu itu. Namun ia hanya tersenyum tipis menanggapinya. "Bukan apa-apa. Belakangan ini ada rumor yang beredar mengenai pil itu, wajar saja jika mereka meragukannya."


"Lalu, kenapa senior masih ingin membelinya?" taya Fu Chen heran, terlebih itu bukanlah uang yang sedikit.


"Aku hanya ingin memastikannya saja," jawab Xiao Jung singkat.


Setelah Ye Kong meninggalkan panggung itu, Kuan Li dan beberapa pekerja lainnya juga segera meninggalkan aula dan menghampiri ruangan yang tadi di datangi Nie Mi.


Ye Kong ternyata lebih dulu ada di sana, pria itu menyandarkan tubuhnya dengan tangan yang menyilang. Raut wajahnya tampak tidak senang dan sedang berpikir keras.


Para pekerja yang datang ke tempat itu saling berpandangan sejenak, beberapa di antara mereka kemudian menggeleng dengan wajah menunduk.


Kun Li menelan ludahnya kasar sebelum maju satu langkah. Ye Kong sedikit menaikkan alisnya saat melihatnya.


Kun Li segera bicara menyadari itu. "Menurut beberapa pendekar yang aku tanyai. Mereka mengatakan jika ada sebuah rumor yang beredar mengenai pil itu beberapa minggu sebelum lelang di mulai."


"Mereka awalnya sedikit ragu untuk percaya dengan rumor itu, namun setelah mendengar ucapan anda… mereka mulai membenarkan rumor itu. Sebagian bahkan terlihat tidak senang karena anda menyinggung racun itu." Kun Li berbicara dengan terbata-bata.


Ye Kong mendengus kesal setelahnya. "Dia berbuat sejauh ini hanya karena aku tidak menjual pil itu padanya. Dasar keterlaluan!" batin Ye Kong.


"Lalu bagaimana Tuan? Kita tidak bisa membiarkan rumor itu terus berkembang, atau nama organisasi ini akan ternodai," ucap salah seorang pekerja.


Ye Kong membenarkan pernyataan itu, namun ia tidak bisa bertindak gegabah jika tidak ingin sesuatu yang lebih buruk terjadi. "Aku akan menemui penyebab dari semua ini setelah lelang berakhir. Segera kembali ke tempat kalian, sesi ke-2 akan segera di mulai."


Para pekerja itu saling berpandangan sebelum mengangguk serentak dan pergi meninggalkan ruangan itu.


Ye Kong menggertakkan giginya setelah itu. "Otakmu sangat licik anak muda," desisnya pelan.


Setelah itu dia lekas kembali ke panggung dan melanjutkan pelelangan yang sempat terhenti. Wajahnya kembali ramah seperti semula, keterampilan dan pengalaman pria tua itu patut untuk di puji.


Item pertama sebagai pembuka sesi Ke-2 itu adalah pusaka tingkat emas yang berupa sebuah tombak panjang dengan bilah yang sedikit berkelok-kelok.


Nama pusaka itu adalah Tombak Petir dan terbuat dari logam yang terbentuk akibat letupan gunung berapi.


Penempanya sendiri merupakan seorang pendekar hebat, nama tombak itu di dapatkan karena sang pendekar mencairkannya menggunakan perbuahan jenis petir yang amat kuat.


Namun, ketidak mampuan pendekar itu dalam menempa logam tersebut mengakibatkan ia hanya mampu menghasilkan sebuah pusaka tingkat emas. Meski begitu, pusaka itu tetaplah sangat berharga karena kualitasnya.


"Baiklah, tanpa berlama-lama lagi. Item ini di buka dengan harga 1000 keping emas!" Ye Kong segera mengumumkan harga awal setelah cukup panjang menjelaskan.


"10.000!"


Hanya perlu beberapa tarikan napas setelah Ye Kong menyudahi kalimatnya, hadirin lantai dua di bilik nomor 7 telah menawar dengan harga tinggi.


Orang-orang di lantai satu juga tidak ingin ketinggalan untuk saling berdiskusi dengan orang di sampingnya. Beberapa berdecak kesal, namun sebagian lainnya sedikit terkagum dengan orang-orang di lantai dua.


"Mereka benar-benar tidak membiarkan kita untuk menawar. Apa kalian tidak menganggap kami di sini? Jangan kira kami akan takut hanya karena kau memesan bilik di lantai dua!"


Seseorang berteriak dengan dongkol. Setelah itu dia nampak mengumpat dengan wajah tidak tenang. "11.000!" teriak orang itu.


"Oh…" Seseorang di dalam bilik itu sedikit terkekeh. "Nampaknya seekor anjing tengah menggonggong padaku. Apa kau tidak takut jika lidahmu tergigit?" Orang itu sedikit mengangkat tangan kirinya setelah mengakhiri kalimatnya.


Kemudian seorang pelayan di sampingnya segera menaikkan harga, "15.000!"


Orang yang tadi di sebut anjing itu mendengus geram dan kembali menawar harga. "17.000!"


Orang di dalam bilik itu tertawa kecil, namun saat ia ingin berbicara, seseorang di dalam bilik nomor 13 lebih dulu menawar harga. "20.000," suara itu terdengar pelan, namun penuh wibawa.


Tawa orang di dalam bilik nomor 7 tadi semakin lebar setelah mendengarnya. "Kau lihat? Sesi ke-2 ini hanya di khususkan bagi kami yang di lantai dua. Kalian hanya bisa bermimpi untuk mendapatkan pusaka-pusaka itu!" Orang itu mengangkat tangan kirinya lagi.


"25.000!"