
Tao Lin keluar lebih dulu sebelum Fu Chen. Anak itu terlihat baik-baik saja sampai saat ini. Ia lalu memandangi lorong tempat Fu Chen melakukan ujiannya. Lorong itu memunculkan tanda-tanda akan terbuka.
Tao Lin tersenyum tipis melihatnya. "Dia memang sangat kuat. Bahkan saat ujian pertamaku dulu aku hampir kehabisan waktu untuk menyelesaikannya."
Fu Chen juga melirik ke arah Tao Lin. Pandangan keduanya bertemu, namun tidak ada di antara mereka yang berbicara. Fu Chen kemudian segera merapikan pakaiannya lalu keluar dari ruangan itu.
Mereka dibawa menuju ruangan lainnya. Isi didalam ruangan itu masih sama seperti sebelumnya, namun lorong di ruangan ini terlihat lebih lebar beberapa meter.
Fu Chen langsung saja masuk ke salah satu lorong disana. Namun saat Tao Lin juga ingin masuk, dia segera di hentikan oleh tetua Mao.
"Lin'er, sebaiknya kau lewati saja ujian kali ini…" Ucap tetua Mao sambil tersenyum kecut.
"Ha?" Tao Lin memiringkan kepalanya dengan wajah penuh tanda tanya. Mulutnya terbuka, hendak perotes. Namun segera di potong oleh tetua Mao.
"Kau sudah beberapa kali melewati ujian ini. Dengan kekuatanmu saat ini, boneka-boneka itu akan kau hancurkan dengan mudah. Mereka sedikit lebih berharga dari boneka-boneka sebelumnya. Sayang jika mereka rusak karenamu…" Kata tetua Mao sambil berdehem pelan.
Ucapannya membuat Tao Lin tersedak nafasnya sendiri. "Guru benar … aku terlalu kuat untuk ujian ini! Tapi kenapa tidak sejak awal saja guru memberi tahuku agar aku tidak perlu bersusah payah menggerakkan ototku?" Gerutu Tao Lin, tapi ia membenarkan ucapan gurunya.
"Itu hanya formalitas," Sahut tetua Mao, pendek.
Resepsionis yang melihatnya hanya memasang wajah datar. "Muridmu ini terlalu besar kepala!" Sahutnya.
tetua Mao hanya bisa tertawa hambar, tidak berusaha untuk membantah ucapan gadis disebelahnya. "Kata-katamu selalu tajam seperti biasa, murid Shi."
Tao Lin kemudian memandang ke arah Fu Chen, ada sesuatu yang menjanggal di pikirannya. "Guru! Tapi kenapa junior Fu masih melanjutkan ujian? Bukankah kekuatannya setara denganku?" Tanya Tao Lin. Ia menolak untuk mengakui jika Fu Chen lebih kuat darinya meski ia sudah di kalahkan.
"Berbeda denganmu! Dia baru pertama kali melakukan ujian ini. Dia harus bisa melewatinya jika ingin menjadi murid dalam."
Fu Chen dapat mendengarkan mereka meski ada semacam dinding penghalang di lorong itu. Satu hal yang ia sadari adalah lawannya masih sebuah boneka.
"Murid Fu, kau tidak harus menghancurkan boneka-boneka di dalam sana! Kau hanya perlu bertahan selama 30 menit. Setelah itu, kau akan lolos dari ujian ini!" Jelas tetua Mao.
"Kau bisa menghancurkan mereka agar ujianmu lebih mudah, Junior Fu!" Sahut Tao Lin dengan berteriak di depan lorong Fu Chen.
"Ck! Dasar anak itu!" Desis tetua Mao. Jika bisa, ia ingin menedang muridnya itu keluar agar tidak mengacau.
"Ku bertahukan kau satu hal Junior Fu Chen…" Shi akhirnya membuka suara karena pasangan guru dan murid itu tidak memberikan petunjuk yang berguna. "Ujian kali ini untuk menguji intuisi bertarungmu. Jadi berhati-hati lah!"
Fu Chen menganggukkan kepala mendengarnya. Lorong kali ini memang terasa berbeda dari sebelumnya.
Tao Lin sedikit kecewa dengan perkataan gadis resepsionis itu. Padahal ia berharap jika Fu Chen akan menghancurkan semua yang ada disana.
Hampir satu menit berlalu sejak dimulainya ujian ketiga. Namun belum ada tanda-tanda yang cukup mencurigakan selain gerakan boneka-boneka disana yang lebih cepat.
Meski begitu, Fu Chen tidak menurunkan kewaspadaanya. Fu Chen juga tidak bisa menyerang bagian belakang mereka begitu saja, gerakan-gerakan boneka ini lebih solid dari ujian kedua.
Setelah hampir dua menit, Fu Chen baru menyadari jika gerakan boneka-boneka itu semakin cepat. Di tambah dengan kerja sama mereka membuat Fu Chen sedikit tersudut.
"Apa ujiannya hanya dengan meningkatkan kecepatan mereka?" Pikir Fu Chen dalam hati. Karena masih belum ada tanda-tanda akan munculnya sesuatu.
Lengan itu terbang dengan sangat cepat. Namun sesaat setelah Fu Chen menghindarinya, sebuah anak panah tiba-tiba saja melesat dari balik dinding pembatas, lalu mengincar kepala Fu Chen. Beruntung Fu Chen tidak menurunkan kewaspadaanya hingga dapat menghindari kedua serangan mendadak itu. Meski ia sedikit mendapat luka gores di pipinya.
Fu Chen melompat cukup jauh dari kerumunan boneka itu. Jumlah mereka hanya ada lima, lebih sedikit dari jumlah saat ujian kedua. Namun karakteristik mereka sangat berbeda jauh.
"Jadi begitu…" Fu Chen menyunggingkan senyum tipis. Ia akhirnya memahami ujian kali ini.
Boneka-boneka itu seperti saling terhubung satu sama lain. Mereka juga dapat berkoordinasi dengan baik agar serangan mendadak yang muncul tidak mengenai mereka. Fu Chen baru memahami alasan kenapa murid dalam setidaknya harus memiliki kekuatan di atas pendekar kelas dua tahap menengah.
Ini karena boneka-boneka yang menjadi lawannya kali ini memiliki kekuatan yang setara dengan pendekar kelas tiga tahap akhir.
"Aku akan serius kali ini!" Fu Chen memaksimalkan kewaspadaanya. Kelebihannya dalam hal kecepatan akan sangat membantu.
Namun baru satu langkah Fu Chen berjalan, sebuah anak panah langsung menyambar ke arahnya. "He! Jadi kalian berniat tidak memberiku nafas?"
Beriringan dengan setiap kali Fu Chen menginjakkan kakinya. Maka anak panah lainnya akan muncul dan menyerangnya. Dinding transparan dari pembatas tiap lorong itu juga layaknya sebuah cermin. Dia memantulkan setiap anak panah yang mengenainya lalu melemparkannya kembali secara acak.
Kelima boneka disana juga tidak hanya menonton. Mereka menyerang Fu Chen dengan kombinasi gerakan yang menyulitkan Fu Chen untuk bergerak leluasa. Namun yang membuat kening Fu Chen berkerut, mereka bergerak seperti sudah mengetahui kemana arah senjata rahasia itu akan muncul.
"Sial! Ternyata belati juga ada! Ini benar-benar berlebihan untuk sebuah ujian!" Gerutu Fu Chen saat tangannya tergores ketika menangkis sebuah serangan yang menghampirinya. "Andai saja aku memegang senjata, ini akan menjadi lebih mudah!"
Kletuk!
"Ha?" Hampir saja Fu Chen tersedak ludahnya sendiri saat menyadari sebuah pedang yang tiba-tiba terjatuh dari langit-langit ruangan itu. Setelah dia meyinggung perihal senjata.
Namun yang menjadi masalah, pedang itu terjatuh tepat di tengah-tengah para boneka. "Apa ini jebakan?"Pikir Fu Chen, sembari berusaha menghindari serangan senjata rahasia lainnya yang semakin banyak.
"Sial! Tidak ada pilihan lain! Aku akan memikirkan cara keluar dari sana nanti!" Desis Fu Chen lalu menggunakan ilmu Tarian Bayangannya lagi.
Gerakan yang membuat Fu Chen tiba-tiba saja berada di tengah-tengah para boneka itu adalah bagian dari bab ketiga ilmu Tarian Bayangan yang bernama Langkah Bayang. Fu Chen cukup handal menggunakannya karena ia sudah terbiasa dengan jurus ketiga dari ilmu pedang Arus Jeram. Gerakan keduanya tidak berbeda jauh.
Namun jurus Langkah Bayang mempunyai beberapa kelemahan. Fu Chen setidaknya harus menunggu sampai 30 detik sebelum dapat menggunakannya kembali. Dia sebenarnya cukup bertaruh dengan memasuki area para boneka itu.
"Bukankah ini terlalu sulit? Atau junior Fu sebenarnya memang lemah?" Tao Lin menyipitkan matanya. Ia merasakan perbedaan dengan ujian yang pernah ia alami.
"Aku memang sengaja meminta murid Shi untuk meningkatkan kesulitannya. Aku ingin melihat batas kekuatan anak itu." Alasan tetua Mao sebenarnya cukup sederhana. Dia hanya merasa tertarik dengan ilmu berpedang Fu Chen. Dan ujian ini adalah cara efektif agar anak itu menunjukkannya lagi.
"Kenapa guru tidak melakukannya untukku juga?" Pinta Tao Lin sedikit memelas.
"Tidak akan!" Sahut tetua Mao ketus. "Aku bahkan harus mengorbankan tiga buah kristal ungu untuk menggerakkan mereka agar bisa bertahan sampai 30 menit!"
Tao Lin mamayunkan bibirnya dengan wajah yang kesal. "Dasar pak tua pelit!" Umpatnya dalam hati. dia tidak berani untuk mengucapkannya secara langsung.
---
Jangan lupa tinggalkan like and komen^ω^ See u next Chpater~