Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.45 - Makanan Yang Menghampiri


Fu Chen keluar dari perpustakaan dengan kening yang berkerut. Ia terus memikirkan cara tercepat menjadi murid dalam, tapi memang tidak ada pilihan lain sealin duel.


Jika biasanya Fu Chen akan ke kelas setelah berlatih dengan Li Han, maka kali ini ia memilih bersantai sembari memikirkan rencana. Pelatihan di kelas sangat membosankan, beberapa bahkan sudah Fu Chen ketahui di perpustakaan.


"Eh… dimana ini…?" Fu Chen melamun saat berjalan, hingga tidak menyadari telah berjalan cukup jauh dari tempat tujuannya.


Di sekeliling Fu Chen hanya ada pohon bunga persik, jalanan juga cukup sepi. Fu Chen menepuk keningnya merasa malu Menyadari dia telah tersesat.


Sebagai salah satu sekte besar, sekte Pedang Suci memang cukup luas. Akan menjadi masalah jika seseorang tidak benar-benar mengenali tempat itu.


Fu Chen berjalan sembari mencari jalan keluar dari sana. Setelah cukup lama berjalan, Fu Chen mendengar suara seperti benturan pedang dan beberapa sorakan dari orang-orang. Fu Chen tersenyum pahit, sepertinya ia justru masuk lebih dalam ke tempat itu.


Fu Chen mencoba mencari sumber suara itu, dengan harapan akan ada orang yang mau memberikan arah jalan keluar. Suara dentingan pedang semakin jelas di telinga Fu Chen. Setelah beberapa saat, ia menemukan kerumunan orang dengan jubah seragam berwarna biru tua. Menandakan mereka adalah murid dalam.


Sedangkan Fu Chen hanya memakai setelan kimono kinagashi biasa. Ia bergegas menghampiri kerumunan itu untuk melihat apa yang terjadi.


Saat sampai, Fu Chen melihat pertarungan hebat antara pemuda gagah tanpa baju dengan seorang pemuda dengan raut wajah terpaksa. Pemuda gagah yang memamerkan ototnya itu tertawa sepanjang pertarungan, sedangkan lawannya bahkan hampir kehabisan nafas.


"Dasar bocah gila itu! Tak kusangka di keluar secepat ini dari latihan tertutupnya." Desis seorang pemuda, dia terlihat tidak ingin berlama-lama disana.


"Berani bertaruh?" Sahut temannya.


"Apa maksudmu?"


"Aku bertaruh jika dia baru saja naik ke tahap akhir setelah ia keluar dari latihannya." Pemuda itu menyunggingkan senyumnya.


"Jangan bercanda! Lebih baik kita segera pergi. Aku tidak ingin dia menujukku menjadi lawannya."


Fu Chen yang tidak sengaja mendengarkan perbincangan keduanya merasa heran. Pertarungan ini cukup menarik untuk di saksikan, mereka justru menghindarinya.


"Maaf, senior … bisakah kau menceritakan apa yang terjadi?" Fu Chen tidak bisa menahan untuk tidak bertanya. Ia melupakan tujuan awalnya menghampiri kerumunan ini.


"Hm?" Pemuda yang baru saja berbincang melirik ke arah Fu Chen. "Kau pasti murid luar… sebaiknya segera tinggalkan tempat ini jika tidak ingin terlibat!" Balas pemuda itu acuh, dia juga tidak memperdulikan keberadaan Fu Chen dan bergegas meninggalkan kerumunan itu.


Pertandingan berlangsung begitu cepat. Pemuda berotot itu bahkan sudah menyelesaikan pertarungannya sebelum Fu Chen sempat melihat akhir pertarungan itu.


"Kau! Berikutnya!" Pemuda berotot itu menunjuk ke arah kerumunan dan seketika membuat orang-orang disana terlihat seperti orang bodoh.


Mereka berusaha untuk menghindari tatapan pemuda berotot itu sambil bersiul pelan. Fu Chen semakin heran, apa yang sebenarnya terjadi?


Pemuda berotot itu turun dari arena dan menghampiri ke satu arah penonton. Orang-orang membukakan jalan untuknya. Fu Chen tersedak ludahnya sendiri saat orang-orang membukakan jalan yang menghubungkan ia dan pemuda itu.


Fu Chen mencoba menghindar dan bergabung dengan penonton lainnya, namun orang-orang justru menjauhinya hingga akhirnya Fu Chen paham. Orang yang di maksud pemuda berotot itu adalah dirinya.


"Dilihat dari bajumu sepertinya kau murid inti. Junior ini ingin menantangmu untuk berduel…" Sapa pemuda itu dengan memberikan hormat.


Fu Chen tersedak nafasnya sendiri mendengar pemuda itu menganggapnya senior. "Tidak tidak! Aku hanya murid luar, senior tidak akan mendapat apapun dariku…" Jawab Fu Chen dengan tersenyum canggung.


"Senior tidak perlu merendah. Hanya murid inti yang bisa mengunjungi wilayah murid lain tanpa mengenakan seragam. Ini adalah duel resmi, aku telah membawa seorang tetua sejak tadi… mohon terima tantanganku!" Tegas pemuda itu.


Meski nada bicaranya terdengar sopan, tapi ia tidak ingin melepaskan Fu Chen bergitu saja. Fu Chen kehabisan kata-kata untuk menghindar. Ia seharusnya menuruti perkataan pemuda sebelumnya.


"Ini adalah duel resmi, jadi apa yang kalian pertaruhkan?" Ujar tetua itu.


"Karena aku yang menantangnya, maka dia bisa memilih apa yang dia inginkan." Sahut pemuda berotot itu dengan senyum percaya diri.


Perkataan pemuda bernama Tao Lin bagaikan sambaran petir di telinga Fu Chen. Ia teringat dengan masalah yang baru saja ia dapatkan. Dengan memenangkan duel ini mungkin ia bisa menjadi murid dalam.


Fu Chen berpikir sejenak, jika ia menginginkan token murid dalam maka yang ia pertaruhkan juga harus setimpal. Dia sendiri tidak memiliki apapun yang berharga saat ini selain cincin di tangannya.


"Aku akan mengambil token milikmu jika aku menang…" Ucap Fu Chen setelah cukup percaya diri dengan pilihannya.


Tao Lin terheran dengan permintaan Fu Chen karena ia mengira Fu Chen adalah murid inti. "Lalu apa yang senior tawarkan?" Balas Tao Lin tidak ingin berpikir lebih jauh.


Fu Chen tersenyum pahit mendengar Tao Lin masih memanggilnya senior. "Apa yang kau inginkan?"


Tao Lin terlihat berpikir sejenak, tapi siapapun dapat menebaknya jika ia tidak benar-benar sedang berpikir. "Bagaimana jika bertarung denganku setiap hari? Kau dapat memilih waktunya nanti." Balasnya tersenyum lebar.


"Dasar maniak petarung!" Tetua itu menggerutu dalam hati. Tao Lin adalah muridnya secara langsung, jadi ia mengenal dengan baik tingkah anak itu.


"Baik!" Tanpa pikir panjang, Fu Chen langsung menerimanya. Meski ia kalah sekalipun, ia hanya perlu mengorbankan waktu kelasnya dan datang kemari.


Tetua disana menghela nafas panjang. Ia memperhatikan Fu Chen dari atas sampai bawah, wajah Fu Chen tidak pernah terlihat sebelumnya. Tetua itu bahkan merasakan kekuatan Fu Chen masih di bawah muridnya. Apa benar anak itu bagian dari murid inti? pikirnya.


"Ambil ini!" Tetua itu melemparkan pedang di sampingnya saat melihat Fu Chen tidak membawa senjata. "Itu adalah pusaka tingkat rendah, kau bisa mengalirkan qi padanya sebelum benar-benar hancur."


Fu Chen menangkap pedang itu dengan sigap. "Terimakasih."


"Aturannya seperti biasa, kalian tidak boleh membunuh!" Ujar tetua itu, acuh.


Pertandingan di mulai setelah tetua itu memberikan aba-aba. Sesuai dugaan Fu Chen, Tao Lin langsung menerjang begitu pertandingan di mulai. Orang-orang dengan semangat tinggi sepertinya akan mengerahkan kemampuan sejak awal.


Fu Chen tidak ingin meremehkan lawannya. Tapi ia belum mengeluarkan pedangnya sebab ilmu pedang yang ia kuasai jauh berbeda dengan ilmu pedang sekte Pedang Suci.


Dengan ilmu Tarian Bayangan yang telah ia kuasai, Fu Chen mampu membalas serangan dan mengelabui Tao Lin. Beberapa pukulan berhasil mengenai tubuh Tao Lin karena pemuda itu memperlihatkan banyak celah.


"Jadi begitu, kau tidak menggunakan pedangmu karena memiliki ilmu bela diri yang cukup merepotkan." Tao Lin mulai mengatur kembali ritme pertarungannya.


Ia akan kalah jika ingin beradu kecepatan dengan Fu Chen. Fu Chen sendiri terus berusaha untuk tidak menggunakan pedangnya. Meski dia telah merasa jika lawannya kali ini lebih kuat dari dirinya.


Setiap gerakan Fu Chen sangat sulit di tebak. Gerakannya seolah lambat, namun sebenarnya itu hanyalah bayangan yang terbentuk karena Fu Chen terlalu cepat. Sehingga membuatnya terlihat seperti ilusi.


"Kau anak yang cukup pendiam saat bertarung." Tao Lin memayunkan senyumnya karena setiap ucapannya tidak di balas. "Aku tidak bisa mengalahkannya jika terus seperti ini." Gumam Tao Lin sebelum mengambil jarak.


Dia mengalirkan qi ke pedangnya dan seketika asap tipis keluar dari sana. "Apa kau yakin tidak ingin mencabut pedangmu?" Tao Lin tersenyum lebar.


Fu Chen mengamati pedang di genggaman Tao Lin sejenak, ia tahu pedang itu sudah di selimuti qi. Tapi yang mengganggu pikirannya adalah ilmu yang di gunakan Tao Lin.


Gerakan Tao Lin semakin tajam, dirinya berhasil membuat Fu Chen dalam posisi bertahan. Beberapa luka sayatan juga di dapatkan Fu Chen meski tidak terlalu dalam. "Inilah kenikmatan yang sesungguhnya!" Tao Lin tertawa lebar.