Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.124 - Wanita Bangsawan


Pemandangan malam hari di salah satu Kota Besar kekaisaran Song membuat banyak orang membuka toko mereka ketika matahari telah tenggelam. Kota itu selalu dihiasi oleh penerang berwarna merah, emas dan putih membuat pemandangan Kota menjadi indah.


Contohnya seperti sebuah rumah makan mewah yang di datangi banyak pengunjung meski malam itu sudah semakin larut. Rumah makan itu memiliki empat lantai, namun lantai satu dan dua sepertinya tidak cukup untuk menampung tamu-tamu mereka.


Sebagian memilih makan di luar karena tidak mampu memesan meja di lantai tiga dan empat yang terlamapau mahal. Mereka rela mengantri lama di restoran itu karena masakannya yang terkenal lezat dan tidak biasa.


Restoran itu menyediakan berbagai macam daging siluman yang mereka tangkap, harga daging siluman itu cukup bervariasi, tergantung dengan usia dan seberapa sulit menangkap mereka.


Diantara segala hingar-bingar di lantai satu, seorang gadis muda yang di kawal oleh beberapa pendekar nampak menerobos antrean, gadis itu lekas naik ke lantai atas setelahnya. Selain para pengawal, gadis muda itu juga ditemani seorang pria paruh baya yang sepertinya berusia 54 tahun, ia terlihat memiliki kedudukan tinggi di Kota itu.


"Bukankah itu Walikota? Siapa gadis di sampingnya?"


"Beberapa bulan lalu dia sudah mendapatkan selir ketiganya, mungkinkah dia ingin menikahi gadis itu juga?"


"Jaga mulutmu! Aku dengar gadis itu adalah perwakilan bangsawan Su, nampaknya dia datang untuk mengambil alih Kota ini."


Gadis muda berusia dua puluh tahun itu hanya menghiraukan segala ungkapan yang tertuju padanya. Wajahnya yang cukup cantik sedikit terangkat ke atas, seolah menunjukkan dirinya memiliki keangkuhan yang tinggi.


Meja-meja di lantai empat nampak hanya diisi oleh segelintir orang saja, sebagian besar diantara mereka adalah saudagar kaya dan beberapa pendekar kelas satu yang memiliki rezeki lebih.


Para pengawal yang datang lebih dulu ke lantai empat lantas mengeluarkan aura intimidasi mereka, memberi tanda agar orang-orang di lantai empat segera pergi dari sana.


Lantai empat itu menjadi hening selama beberapa waktu, tentu mereka terkejut karena secara tiba-tiba aura intimidasi menekan tubuh mereka tanpa peringatan apapun. Namun, tidak perlu waktu lama hingga para pengawal itu memancing amarah beberapa pendekar di lantai empat.


"Apa maksud semua ini? Apa kalian ingin mencari keributan?" bentak salah seorang pendekar seraya bangkit dari kursi dan menggebrak meja di depannya. Ia menatap tajam pada seorang pengawal yang tidak jauh dari anak tangga.


Kekuatan si pengawal dan pendekar itu setara pada tingkatan pendekar kelas satu, membuat mereka saling beradu aura intimidasi satu sama lain. Sementara para saudagar di sekitar mereka mulai merasa sesak dan kesulitan bernapas.


"Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin membuat keributan di depan Nona Su?" Pak Walikota segera menahan tangan pengawal itu saat ia telah siap menarik pedangnya.


Pengawal itu sedikit panik, ia segera mundur beberapa langkah lalu membungkukkan badannya untuk meminta maaf.


"Ah, Nona Su… kau bisa melupakan kejadian barusan. Aku akan menyelesaikan masalah di sini." Pak Walikota tersenyum kaku, ia mengutuk perbuatan pengawalnya yang terlalu sembrono.


Gadis bangsawan Su itu hanya mengangguk pelan, ia kemudian segera memilih salah satu meja cukup besar yang berada di dekat panggung para pemain musik.


"Maafkan saya atas keributan yang baru saja terjadi, saya akan mengganti kerugian Tuan dan Nyonya sekalian. Tapi, bersediakah Tuan dan Nyonya membiarkan kami memakai lantai empat untuk malam ini?"


Ucapan Walikota bernama Hong Jitei itu terdengar begitu manis, membuat beberapa orang yang sebelumnya tersinggung jadi merasa lebih baik.


Satu per satu orang di lantai empat itu pun segera turun setelah mendapatkan uang mereka kembali, mereka adalah orang-orang dengan pengetahuan luas di kekaisaran ini. Mereka tahu bahwa bangsawan Su memiliki kedudukan cukup tinggi, jadi mereka memilih untuk tidak terlibat dengan rombongan gadis itu.


"Nona Su, mari kita lanjutkan untuk membahas perjanjian sebelumnya…" Hong Jitei nampak tersenyum lebar, kedua tangannya saling mengusap satu sama lain. Hong Jitei duduk bersebrangan dengan gadis itu, sementara para pengawal hanya berdiri di belakang mereka.


Gadis bangsawan Su yang bernama Su Anna itu tidak menjawab, perhatiannnya terkunci pada seorang pemuda yang menikmati es teh manisnya di pojokan. Su Anna nampak sedikit tersipu saat pandangan keduanya bertemu, padahal jika di lihat, usia pemuda itu nampak berada jauh di bawahnya.


Hong Jitei mengikuti arah pandangan Su Anna, urat nadi di pelipisnya terasa berkedut begitu melihat seorang pemuda yang acuh tak acuh pada kehadiran mereka. Hong Jitei memberi tanda melalui gerakan matanya untuk menyingkirkan pemuda itu pada anak buahnya.


"Ah Nona Su, sebaiknya kita memesan beberapa makanan dulu, restoran ini terkenal dengan makanan mereka yang sangat enak."


***


Setelah pergi meninggalkan hutan Fu Chen tidak ingin terburu-buru untuk kembali ke sekte. Ia berniat mengambil jeda istirahat dan mencoba beberapa hal baru.


Fu Chen juga sekalian mencari beberapa informasi dari perbincangan orang-orang di sana. Setidaknya Fu Chen dapat mengetahui bahwa rumah makan ini di kelola oleh organisasi aliran Hitam.


Fu Chen telah memeriksa makanan itu, dan memang tidak ada racun atau semacamnya yang membuat ia curiga. Mungkin rumah makan ini adalah salah satu bisnis organisasi itu, terlepas dari label aliran Hitam yang mereka sandang.


Fu Chen cukup puas, harga yang mahal dari makanan itu benar-benar sepadan dengan rasanya. Kenikmatan itu semakin bertambah saat Dou Huang memasukkan beberapa bongkahan es kecil ke dalam teh celupnya.


Fu Chen juga mendengar orang-orang itu mulai membicarakan tentang sekte Pedang Suci. Sayangnya ia tidak bisa mendengar keseluruhan informasi itu karena kehadiran beberapa pengawal yang membuat keributan.


Fu Chen hanya mengamati gerak-gerik mereka, hingga ketika orang-orang di lantai empat itu membubarkan diri satu per satu. Tidak lama setelahnya beberapa pengawal terlihat berjalan mendatanginya.


"Anak Muda, apa kau tidak mendengar permintaan Walikota tadi?" tanya Pemimpin pengawal itu dengan nada provokasi.


Fu Chen hanya melirik beberapa pengawal itu sejenak sebelum kembali menikmati pemandangan kota dari balik jendela, mulutnya terus menyeruput es teh manis yang sebentar lagi akan habis.


"Jangan tidak tahu diri! Pergilah selagi aku bicara baik-baik!" Pengawal itu mulai menunjukkan sarung pedangnya, pertanda bahwa ia tidak main-main.


Srruuupp! Srruup! Srup-!


"Ah ini sudah habis?" Fu Chen menggoyangkan gelasnya kekiri dan kanan, ia baru pertama kali mengkonsumsi minuman dingin seperti ini karena memang cukup susah untuk mencari bongkahan es di kekaisaran Song.


Pengawal itu semakin kesal karena peringatannya diabaikan oleh bocah itu, dengan gerakan cepat dia menarik dan menghunuskan pedangnya ke leher Fu Chen. Sorot matanya tajam, seolah ingin mencabik-cabik pemuda di hadapannya.


"Ini peringatan terakhir! Gadis disana adalah anggota keluarga dari salah satu lima bangsawan besar. Jika kau masih tidak memberinya muka maka kau akan berurusan denganku!"


"Hmm…" Fu Chen menaikkan alisnya, melirik wanita bergaun biru yang sedang sedang menyantap makanan, jauh di depan ruangan. Wanita itu juga sesekali mencuri-curi pandang ke arah Fu Chen.


"Bagaimanapun aku ini juga seorang tamu dan sudah sewajarnya tamu harus di layani dengan benar. Apa kau ingin merusak citra rumah makan ini dengan mengusir para pelanggan? Kau juga memintaku memberi wanita itu muka, apa para keluarga bangsawan sudah kehilangan muka mereka?"


Fu Chen terkekeh pelan, ia memegang ujung pedang pengawal itu dengan jari telunjuk dan jempolnya. Fu Chen sedikit memutar jarinya, berniat merebut pedang pengawal itu tapi pedang itu tiba-tiba mengeluarkan suara retakkan kecil.


Fu Chen melebarkan matanya dan lekas menarik tangannya kembali, ia sendiri cukup terkejut dengan hal itu, beruntung suara retakannya tidak terlalu keras sehingga pengawal itu tidak menyadarinya.


'Haish… betapa buruknya pedang pengawal ini.' Fu Chen tersenyum pahit dalam hati, padahal ia hanya mengerahkan sedikit tenaga sebelumnya.


"Apa yang bawahanmu itu lakukan disana?" Su Anna melirik ke arah Fu Chen, "Hong Jitei, aku datang ke sini karena menghormati ajakanmu, jangan membuat seleraku hancur hanya karena keributan yang mereka buat!".


"Tapi Nona, aku khawatir orang itu akan menguping pembicaraan kita-!"


"Jangan mengurusi orang lain saat urusanmu sendiri belum selesai!" Su Anna menatap Hong Jitei, cara dia duduk begitu anggun, bahkan matanya masih menampilkan ketenangan setelah mengatakannya. Hal itu cukup membuat Hong Jitei menundukkan kepala.


'Sial! Aku akan membunuh bocah itu saat mereka datang nanti!' Hong Jitei mengigit bibir bawahnya sambil melirik Fu Chen dengan tajam, dia tidak ingin rencananya terbongkar hanya karena keberadaan seorang bocah.


Pengawal yang masih bersitegang dengan Fu Chen itu pun mendengus kasar sebelum akhirnya pergi. Fu Chen hanya tersenyum miring, lalu kembali menikmati cahaya rembulan yang mengenai wajahnya.


Sepertinya Fu Chen perlu lebih lama di rumah makan ini, samar-samar ia merasakan hawa membunuh dari ruangan lain di lantai empat. Mungkin salah satu diantara rombongan gadis bangsawan itu tengah merencanakan sesuatu.


~


Tombol like terbuka lebar, buruan klik untuk melihat animasi terbaru dari Nt^^ wkwkwk