Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.37 - Tubuh Yang Aneh


Keadaan Bai Yan ternyata lebih parah dari yang di duga, ia kehilangan banyak darah yang membuatnya dalam kondisi keritis. Beruntung Bai Chi memiliki sumber daya yang cukup berharga untuk membantu kondisi Bai Yan menjadi lebih baik.


"Jika bukan karena Xiao Jung, nyawa bocah itu pasti sudah aku habisi!" Bai Chi memandangi adiknya yang tergeletak di ruang perawatan sambil mengepalkan tangan.


Dia tidak rela tahun pertama adiknya masuk ke sekte mendapat perlakuan yang begitu memalukan. Meski ia juga geram karena Bai Yan juga membuatnya harus menanggung malu, tapi sebagai seorang kakak ia harus bisa melindungi adiknya.


***


Fu Chen sedang tertunduk sambil memegangi kepalanya setelah pertarungannya dengan Bai Yan selesai. Terlihat jelas jika mentalnya sedang terguncang saat ini.


"Fu Chen, tenanglah… aku yakin dia baik-baik saja, kau tidak perlu menyalahkan dirimu…" Qiao Wu selalu berusaha untuk menenangkan Fu Chen sejak mereka meninggalkan arena. Tapi bukan perkara mudah bagi Qiao Wu karena Fu Chen tidak menanggapinya sama sekali.


"Kenapa… kenapa tubuhku melakukannya? aku… aku tidak bisa mengingat apapun… apa yang ku lakukan padanya?"


Pikiran Fu Chen sangat kacau, tubuhnya terasa begitu panas tapi panas itu bukanlah sesuatu yang menyakitinya, melainkan gairah yang meluap-luap setelah pertarungannya dengan Bai Yan.


"Fu Chen… Fu Chen… Fu Chen!"


Suara Qiao Wu yang samar terdengar di telinga Fu Chen menjadi semakin jelas seiring waktu hingga membuatnya tersadar.


Ukhuk! ukhuk!


Fu Chen terbatuk dengan wajah memerah karena wajah Qiao Wu begitu dekat dengannya. "A-ada apa?" kata Fu Chen sambil mengalihkan pandangannya.


Qiao Wu menghela nafas lega, "Syukurlah… apa kau baik-baik saja? kau tidak perlu memaksakan diri lagi… di posisi kedua juga sudah cukup baik…"


"Tidak apa, aku masih bisa bertarung… kau lihat saja hasilnya nanti." Fu Chen mengusap kepala Qiao sambil tersenyum lembut.


Qiao Wu memalingkan wajahnya sambil mengembungkan pipi. "Dasar… kalau begitu cepat kalahkan dia!"


Qiao tidak bisa menahan wajahnya untuk tidak memerah karena senyuman Fu Chen, tatapan yang di harapkannya selama ini akhirnya bisa terlihat dengan jelas.


"Hm, baiklah… tubuhku juga terasa begitu lelah, aku akan mengakhirinya dengan cepat…" jelas sekali jika Fu Chen membohongi Qiao Wu, panas di tubuhnya bahkan tidak menurun sama sekali. Tanpa di sadari oleh Fu Chen, dantian hitamnya juga terus menyerap qi yang terkumpul di sekitar tubuhnya.


"Kau sudah selesai?" Tanya Tan Bao saat Fu Chen menaiki arena.


"Apa maksudmu?" Balas Fu Chen santai.


"Tidak ada," Tan Bao berbalik dan mempersiapkan diri di samping wasit. Sedangkan Fu Chen hanya mengangkat bahunya dengan wajah penuh tanda tanya.


"Fu Chen, jika kau mengulangi kesalahanmu maka kau akan didiskualifikasi dan mendapat hukuman dari tetua, apa kau mengerti?" Peringatan yang di berikan oleh wasit itu di dengar jelas oleh Fu Chen.


"Mengerti."


"Aku akan mengakhiri ini dengan cepat, jadi santai saja." Tan Bao tersenyum lebar, mereka berdua kemudian mulai memasang kuda-kuda.


"Aku memang berniat melakukannya." Sel-sel di tubuh Fu Chen Seperti bergerak dan membuat tubuhnya terasa begitu prima. 'Aku harus menghilangkan panas dari tubuh ini, tapi bagaimana caranya?.'


Seperti Biasanya, Tan Bao lebih dulu menyerang Fu Chen namun pola serangannya sedikit berbeda, mungkin ia menyadari lawannya kali ini tidaklah mudah.


Meski Fu Chen sedang hanyut dalam pikirannya tapi pandangannya tidak pernah lepas dari Tan Bao, dia berhasil menghindari dan menangkis beberapa pukulan Tan Bao dengan mudah.


"Sepertinya kau masih menahan diri, ya." Meski serangan Tan Bao belum ada yang mengenai Fu Chen namun wajahnya masih terlihat percaya diri.


"Kau juga, jika kau tidak mengeluarkan seluruh kemampuanmu maka aku yang akan mengakhirinya."


"Haha… menarik, akan ku turuti kemauanmu." Seketika di sekitar tubuh Tan Bao samar-samar terlihat puasaran energi yang menyelimuti tubuhnya.


'Dia sudah memiliki qi?' Fu Chen sangat terkejut dengan apa yang di lihatnya, bahkan dia sendiri harus menghabiskan 40 butir kristal ungu untuk berada pada tahap pendekar kelas dua tahap awal, itupun di bantu oleh ayahnya dan ilmu yang ia pelajari.


Tidak hanya Fu Chen yang terkejut, tapi seluruh penonton yang menyaksikan juga sama. Meski kekuatan pendekar kelas tiga tahap menengah cukup umum di kalangan murid luar, tapi hanya segelintir orang yang pernah memilikinya di usia yang begitu muda.


"Hahaha… tidak sia-sia aku mengajukan diri untuk mengawasi pertandingan ini, kali ini aku akan mendapatkan murid yang kuat." Tetua yang menyaksikan pertandingan di atas podium tertawa puas.


"Nah bagiamana Fu Chen?" Tan Bao tersenyum lebar sebelum mulai menyerang.


Kecepatannya tidak berbeda jauh dari sebelumnya namun kekuatan di setiap pukulannya menjadi lebih berat. Meski memiliki perbedaan kekuatan yang cukup jauh, Fu Chen tidak ingin meremehkan lawannya.


Melihat dari pergerakan Tan Bao membuat Fu Chen yakin jika anak ini ahli dalam pertarungan tangan kosong. Setiap pukulan yang di berikan Tan Bao membuat darah Fu Chen mendidih, gairahnya sudah tidak dapat ia tahan.


Meski telah berusaha namun rasanya begitu nikmat, tubuh Fu Chen bagaikan di penuhi energi. 'Sial, aku tidak bisa menahan diri lebih jauh."


Dalam beberapa tarikan nafas, Fu Chen memusatkan pikiran pada tangan kanannya, ia memeperhatikan Tan Bao sejenak dan ternyata serangan Tan Bao memiliki banyak celah.


"Menyerahlah boc-aghk-!"


Tan Bao tidak bisa mengakhiri kalimatnya saat tiba-tiba sebuah pukulan yang begitu keras melayang ke perutnya.


Fu Chen segera melepaskan pukulannya setelah berhasil memusatkan qi pada tangan kanannya hingga membuat Tan Bao terpental ke pinggir arena.


"Dia tidak mati kan?" Fu Chen memandangi Tan Bao dari kejauhan yang sudah tergeletak tak sadarkan diri.


"Uhuk- uhuk… air, bawakan aku air!" Tetua pengawas tersedak nafasnya sendiri saat melihat Tan Bao melayang ke pinggir arena. Pukulan Fu Chen sebelumnya juga membuat debu di arena berterbangan.


"Whaaat?!"


"Gila, apa-apaan anak itu? Aku tidak yakin jika murid dalam juga bisa melakukannya."


Teman-teman Xiao Jung bersorak menyuarakan keheranan mereka, sedangkan Xiao Jung sendiri mengigit bibir bawahnya sambil menahan senyuman lebar.


"Kau melakukannya lagi bocah." Wasit di arena hanya bisa menggelengkan kepala sambil menghela nafas kasar sebelum mengumumkan Fu Chen sebagai pemenang.


Fu Chen segera menghampiri Tan Bao setelah ia di nyatakan sebagai pemenang, kondisi anak itu ternyata tidak terlalu buruk mungkin hanya beberapa tulang rusuknya yang patah.


"Anggap saja ini balasan dari lawan-lawanmu sebelumnya," Fu Chen menangkupkan kedua tangannya lalu kembali ke bangku peserta.


"Kau terlalu berlebihan…" Meski Qiao Wu merasa lega tapi dia juga tidak tega melihat lawan Fu Chen selalu berakhir ke ruang perawatan.


"Aku tau." Jawab Fu Chen singkat.


jawaban Fu Chen begitu datar dan dingin bagi Qiao Wu tapi ia berusaha memahami kondisi Fu Chen saat ini.


Fu Chen sendiri larut memikirkan kondisi tubuhnya, panas di tubuhnya mulai menghilang secara perlahan setelah ia melepasksn pukulan pada Tan Bao.


"Apa mungkin ada batas waktu tertentu agar ia menghilang? atau mingkin…" Fu Chen hanya bisa menghela nafas lega, ia akan memikirkan masalahnya nanti, yang terpenting saat ini adalah keistimewaan apa yang akan di berikan tetua pada peringkat pertama.


Fu Chen menduga jika hanya di berikan izin memasuki pavilliun perpustakaan maka akan ada kekecewaan bagi mereka yang berhasil masuk ke tiga besar.


Tetua pengawas bangkit dari tempat duduknya dan mulai berbicara, "Terimakasih, bagi murid yang telah berpartisipasi dalam pertandingan ini dan selamat bagi murid yang berhasil lolos ke babak sepuluh besar. Meski pertandingan kali ini banyak hal yang tidak terduga, tapi itu hal yang wajar…"


Saat Tetua sedang memberikan pidatonya, Xiao Jung hendak pergi dari bangku penonton.


"Hei, kau mau kemana?" Tanya salah satu teman Xiao Jung.


"Kembali ke asrama… tidak ada lagi yang menarik perhatianku disini." Balas Xiao Jung singkat.


"Anak itu, tingkahnya tidak bisa di tebak sama sekali, padahal dia yang menyeret kita kesini tapi sekarang malah pergi begitu saja."


"Sudahlah, aku juga akan pergi."


"… Seperti janji Ketua sekte, kalian yang berhasil masuk ke sepuluh besar akan di berikan kesempatan memasuki pavilliun perpustakaan selama lima jam, carilah ilmu bela diri yang kalian sukai dan sebagai hadiah pemenang juara pertama, aku akan menambahkan waktu sebanyak dua jam untukmu mencari ilmu kitab yang sesuai…"


Fu Chen berdecak kesal mendendengar pengumuman tetua itu, percuma saja ia bertarung mati-matian untuk merebut posisi pertama. Ia kemudian melirik ke arah Qiao Wu yang terlihat begitu bahagia.


"Dia sangat beruntung, dia bahkan tidak mengeluarkan keringat sedikitpun setelah masuk ke sepuluh besar." Fu Chen hanya bisa pasrah menerima kebodohannya, seharusnya ia juga melakukan hal yang sama dengan Qiao Wu.