Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.95 - Ini Baru Di Mulai


Fu Chen, Sin Lou dan Kyoto sangat terkejut mendengar penjelasan tetua Li. Mereka tidak menyangka jika orang yang terlihat lebih kuat dari tetua Li itu ternyata adalah adiknya sendiri.


Saat tetua Li selesai menceritakan hubungannya dengan Li Chun, Fu Chen segera bertanya tentang kekuatan keduanya. Fu Chen ingin tahu seberapa besar kekuatan seorang pelindung sekte Pedang Suci.


Tetua Li hanya tertawa pelan mendengarnya. "Kemampuan seseorang tidak selalu di ukur oleh seberapa besar kekuatannnya. Dalam beberapa situasi, kekuatan yang besar tidak akan berguna jika berhadapan dengan seorang jenius." Tetua Li tersenyum tipis sambil melirik Li Chun.


Li Chun hanya mendengus pelan, kekuatannya memang satu tingkat di atas tetua Li namun untuk urusan strategy dan hal lain ia masih harus banyak belajar.


Li Chun kemudian mengatakan jika mereka berdua ada di ranah Pendekar Suci, yang mana tidak banyak sekte menengah seperti sekte Pedang Suci yang memiliki seorang Pendekar Suci lebih dari satu.


Sebenarnya Fu Chen sedikit penasaran alasan mengapa tetua Li tidak ingin menjadi guru mereka secara langsung. namun Fu Chen tidak ingin terlihat terlalu peduli saat ini, karena itu dia meminta Sin Lou untuk menanyakannya.


Tetua Li mengatakan jika ia tidak memiliki keahlian dalam menurunkan ilmu atau mengajarkan teknik bela diri. Tetua Li hanya hanya dapat mengajarkan hal-hal sederhana dan sekedar memberikan saran saja.


Tetua Li bahkan telah beberapa kali mengangkat murid namun tidak satupun diantaranya yang dia anggap, sebagian ia serahkan kepada Li Chun sedangkan sebagian lainnya memilih berhenti.


"Ck, jadi dia telah menipuku sejak awal." Sin Lou menggerutu dalam hati sambil menatap tajam ke arah tetua Li.


Sembari menghabiskan waktu, tetua Li mulai bercerita tentang pengalamannya di dunia persilatan dan bagaimana cara menyikapi orang-orang di dalamnya. Tidak hanya tetua Li namun Li Chun juga ikut mengisahkan pengalamannya yang cukup menarik.


Tiga orang pemuda itu mendengarkan dengan penuh antusias, tanpa mengetahui jika latihan yang menyiksa jiwa dan raga sedang menanti mereka.


Saat malam mulai larut Li Chun menyuruh tiga orang pemuda itu untuk tidur di luar. Selain belum sepenuhnya di terima sebagai murid, Li Chun mengatakan jika itu adalah salah satu bentuk latihan yang ia berikan.


Tubuh Sin Lou gemetar saat mengetahui hal tersebut, tidak ada hal lain di dunia ini yang ia takuti selain kegelapan. Membayangkan api unggun yang mulai menipis dan suara burung hantu yang menggema di telinganya membuat jantung Sin Lou berdetak kencang.


"Hei, kau kenapa?" Kyoto menyadari keanehan dari Sin Lou dan mencoba untuk bertanya.


"K-kyoto… t-temani aku untuk malam ini." Sin Lou berbicara dengan terbata-bata.


"Hah? Apa yang kau bicarakan? Aku tidak akan pergi kemana-mana." Kyoto merasa sedikit aneh dengan sikap Sin Lou saat ini.


Kyoto mencoba mengabaikannya namun saat ia hendak melangkahkan kaki, Sin Lou dengan sigap memeluk Kyoto dengan berlinang air mata.


"Aku mohon…" Sin Lou memelas.


"Ugh… lepaskan aku!" Kyoto berusaha melepaskan diri bahkan hingga melayangkan beberapa pukulan namun Sin Lou tidak bergeming.


"Minta temani saja sama kakak iparmu itu! Kenapa kau bertingkah aneh seperti ini, sialan!" Kyoto menghela napas berat setelah tidak berhasil melepaskan diri, tenaga bocah sialan ini sungguh berada di atasnya.


Sin Lou melirik sejenak ke arah Fu Chen, pemuda itu ternyata sudah memejamkan mata dan bersandar di sebatang pohon bambu sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sin Lou tidak yakin jika anak itu benar-benar tidur.


Mengingat kenangan kelam saat ia berlatih bersama Fu Chen dahulu saja sudah membuatnya trauma untuk tidur di dekat anak itu. Fu Chen tidak pernah menurunkan kewaspadaan saat tidur, sehingga ketika Sin Lou mendengkur anak itu akan langsung memukulnya dan itu sungguh menyakitkan.


Pada akhirnya Kyoto hanya bisa pasrah, ia masih merasa letih sebab kondisinya belum pulih sejak melewati tekanan di hutan bambu tadi siang.


Ke esokan paginya mereka di bangunkan oleh udara dingin yang begitu menusuk hingga membuat mereka mengigil. Saat itu hari masih sangat pagi, bahkan matahari hanya membagikan sedikit sinarnya untuk menghangatkan mereka.


Meski demikian, Li Chun telah lebih dulu terbangun dan melakukan beberapa gerakan dari ilmu yang ia kuasai. Gerakan Li Chun yang cepat bahkan membuat dedaunan yang kering berhamburan ke udara dan membuat udara di sekitarnya terasa lebih dingin.


Ketiganya memilih untuk menghangatkan diri masing-masing seperti yang di lakukan Li Chun. Namun, setelah di pikir-pikir Fu Chen memilih untuk menyerap energi qi di sekitarnya karena sejauh ini energi qi yang memasuki tubuhnya terasa hangat.


"Menjauh dariku brengsek! Apa yang kau takutkan sebenarnya?" Kyoto sungguh tidak tahan lagi, kesal karena Sin Lou terus menempel padanya.


"B-baiklah…" Sin Lou berbicara lirih namun ia tidak benar-benar menjauh, sehingga keduanya sering berbenturan dalam melakukan gerakan.


Fu Chen mulai mengerutkan kening setelah hampir 30 menit berusaha menyerap energi qi di sekitarnya namun tidak menghasilkan apapun. Fu Chen telah mencobanya beberapa kali namun tidak sedikitpun energi qi yang ia rasakan di tempat itu.


"Ini aneh, kenapa aku tidak bisa menyerap qi di tempat ini?" Fu Chen bertanya dalam hati, berusaha memfokuskan diri namun hasilnya tetap sama.


Fu Chen mengira jika tempat ini memang tidak memiliki energi qi namun hal itu tidak mungkin sebab energi qi merupakan perwujudan dari energi alam, sedangkan tempat ini bahkan hanya di huni oleh satu orang saja.


Karena tidak ada pilihan lain Fu Chen juga melakukan hal yang sama dengan Sin Lou dan Kyoto.


"Jadi gerakan yang di lakukan orang itu hanya mengandalkan kekuatan fisiknya? Di tempat yang tidak memiliki energi qi seperti ini setidaknya dia harus berhemat tenaganya, kecuali jika di luar tempat ini terdapat energi qi yang cukup padat. Aku harus memastikannya nanti." Fu Chen bergumam pelan.


Li Chun kemudian mendekat ke arah Fu Chen saat matahari mulai muncul di ufuk timur. Li Chun meminta Fu Chen untuk memanggil teman-temannya, mereka kemudian berkumpul di halaman rumah Li Chun.


Li Chun ternyata telah menyiapkan enam buah ember kayu yang membuat Fu Chen dan lainnya sedikit heran, untuk apa ember sebanyak itu? terlebih ukurannya tidaklah kecil.


"Hari ini kalian harus menyiapkan air untuk kalian mandi dari luar hutan bambu dan carilah hewan buruan untuk makan malam. Ingat! Jangan kembali selagi kalian tidak bisa membawa setidaknya satu ember penuh untuk masing-masing orang." Li Chun kemudian menyerahkan ke-enam ember itu pada Fu Chen, Sin Lou dan Kyoto.


"Emm, apa aku boleh bertanya?" Fu Chen sedikit mengangkat tangan kanannya.


"Tidak!" jawab Li Chun singkat.


"Kenapa tempat ini tidak…-" Fu Chen tidak dapat menyudahi ucapannya sebab Li Chun segera memotongnya.


"Apa kau tidak mendengar ucapanku?" Li Chun menatap tajam kepada Fu Chen hingga membuat anak itu mengurungkan niatnya. "Lakukan tugas kalian, cepat!"


"Baik!" Fu Chen, Sin Lou dan Kyoto menyahut serentak, ketiganya segera mengambil ember masing-masing dan bergegas menyiapkan barang yang di perlukan.


"Hmm… dia menyadarinya hanya dari kejadian kecil yang dia alami." Karena tidak memiliki janggut, Li Chun hanya mengelus dagu sambil memeperhatikan Fu Chen yang berjalan dengan penuh kewaspadaan.


"Aku yakin perintahnya tidak mungkin sesederhana itu." Fu Chen berpikir sambil terus memperhatikan sekitar, berharap akan suatu petunjuk untuk sebuah pertanyaan yang ada di kepalanya.


"Ayo cepat! Apa lagi yang kalian tunggu?" Sin Lou melambaikan tangannya saat mengetahui jika kedua temannya masih jauh di belakang.


Fu Chen dan Kyoto segera menyusul Sin Lou dan saat ketiganya sudah berada di pinggiran hutan bambu, Sin Lou sedikit bergembira sebab tugas yang di berikan Li Chun terasa sangat mudah baginya.


"Seharusnya yang dia minta adalah makan siang! Padahal hari masih pagi, untuk apa pula kami mencari makan malam, huh." Sin Lou menggerutu pelan namun tidak menutupi kebahagiannya karena menemukan air dengan sangat mudah.


Fu Chen segera menahan Sin Lou saat pemuda itu hendak menimba air sungai yang ada di perbatasan hutan bambu. Fu Chen kemudian mengambil beberapa daun kering dan membuangnya ke sungai, dalam hitungan detik, sekumpulan ikan bergigi tajam segera menghabisi daun itu hingga tidak tersisa.


"Sudah ku duga, ini tidak semudah yang dia katakan." Fu Chen tersenyum tipis karena telah menemukan sebuah petunjuk. Namun di sisi lain timbul pertanyaan baru di kepalanya tentang seperti apa tugas sebenarnya yang di berikan Li Chun.


~Jangan lupa like and komen, bantu othor mengangkat novel ini ke permukaan ya~