Legenda Pendekar Surgawi

Legenda Pendekar Surgawi
Ch.116 - Sekte Pedang Suci II


Tubuh Qiao Wu bergetar hebat begitu melihat ayahnya tergeletak di tanah dengan kepala terpisah dari tubuhnya. Qiao Wu sangat menyesali keputusannya karena tidak segera kabur usai menyelesaikan misinya. Sekarang, dia hanya terpaku seraya memandang ayahnya yang tidak lagi bernyawa.


Qiao Wuji adalah satu-satunya sosok penting dalam hidupnya, pria paruh baya itu selalu melindunginya dalam situasi apapun. Qiao Wu ingin marah dan membalas kematian ayahnya, tapi untuk menggerakkan tubuhnya saja ia tidak bisa karena tidak memiliki cukup tenaga.


'Aku akan membalas semua ini suatu saat nanti-!' Qiao Wu bertekad dalam hati seraya mengepalkan tangannya, tapi napasnya segera tertahan begitu melihat pemandangan mengerikan yang menimpa anggota sekte Pedang Suci.


Pisau angin milik Yuan Meng meninggalkan banyak kubangan selebar satu meter begitu mereka menyentuh tanah. Lapisan energi yang di buat Li Han dan tetua lainnya mulai retak secara perlahan karena pisau angin itu tidak ada habisnya.


Tubuh seorang murid inti langsung meledak begitu pisau angin itu mengenainya. Feng Youxin menjadi lemas, seluruh tenaganya telah dia kerahkan untuk menahan pisau angin itu namun beberapa dari mereka masih bisa melukainya.


Satu-satu persatu anggota sekte Pedang Suci tumbang dengan anggota tubuh yang terpisah. Hawa membunuh yang di lepaskan Yuan Meng membuat konsentrasi mereka terpecah, sampai sebagian tidak sadarkan diri dn tidak sempat membuat pelindung energi.


Yuan Meng memandang puluhan manusia yang berlutut di bawah sana dengan sinis. Ia meningkatkan kekuatan serangannya begitu teringat akan sutau hal di masa lalu. Kenangan saat dirinya membantai sisa-sisa anggota klan Tang yang masih hidup.


Li Han diam dan terpaku memandang ribuan pisau angin lainnya mulai muncul, kali ini ukuran mereka dua kali lipat lebih besar. Harapan mereka telah pupus, dengan putus asa Li Han dan Li Chun saling berpandangan sejenak, kemudian menganggukkan kepala bersamaan.


Pelindung energi yang mereka buat mendadak menyusut dan berpindah kesisi anggota sekte yang lain. Wajah kedua sepuh itu terlihat jauh lebih tua, mereka membiarkan tubuh mereka terbuka lebar tanpa adanya perlindungan.


"Tidaaaak!!" Feng Youxin berseru lantang menyadari keadaan gurunya, sesaat setelah suaranya menggema ribuan pisau angin itu segera menerjang segala hal di bawahnya.


"Aaaaaa…!!!" Xiao Tian berseru lantang seraya mengumpulkan sisa tenaganya. Apapun yang dia lakukan sekarang hasilnya akan tetap sama, yaitu kematian. Tapi setidaknya Xiao Tian ingin melepaskan serangan terakhir pada orang yang membuat kekacauan ini.


"Nak… Nasib sekte ini ada di tanganmu…" Li Chun bergumam pelan sebelum ratusan pisau angin milik Yuan Meng menembus tubuhnya. Di saat terakhir Li Chun hanya memikirkan murid sekaligus anak angkatnya yang mungkin masih bertapa sampai saat ini.


Para tetua yang lain ikut melepaskan seranga terkuat mereka begitu mendengar teriakan Xiao Tian. Puluhan serangan jarak jauh dari para tetua berbenturan dengan pisau angin Yuan Meng, terjadi ledakan dahsyat di udara setelahnya tapi pisau-pisau milik Yuan Meng tidak bisa di hentikan sama sekali.


Mayat-mayat murid sekte yang bergelimpangan di sekitar sana hancur tak bersisa begitu pisau angin itu menembus badan mereka.


Pelindung energi yang di kerahkan Li Han dan Li Chun tidak memberi dampak berarti, pelindung pecah setelah menahan puluhan pisau angin itu membuat semua petinggi sekte Pedang Suci yang di sana tidak dapat lepas dari kematian.


Di saat terakhirnya Li Han sempat melirik Feng Youxin yang sudah menjadi gumpalan daging. Air matanya mengalir tanpa peringatan, pada akhirnya, sekte yang di dirikan seorang legenda ini berakhir menyedihkan di tangannya.


"Berakhir sudah…" ucap Li Han sebelum mengembuskan napas terakhirnya.


Qiao Wu hampir memuntahkan isi perutnya karena tidak kuasa melihat pembantaian sepihak itu. Ini pertama kali baginya melihat tubuh seseorang dapat meledak hingga tak bersisa.


"A-apa yang harus ku lakukan sekarang?" Qiao Wu mulai frustasi, ia tidak lagi punya tenaga untuk kabur, Qiao Wu juga terlalu takut untuk mengikuti Yuan Meng, andai ia tetap di sini sekalipun pasti anggota sekte yang lain akan membunuhnya.


Wajah Yuan terlihat datar dan dingin, jurus yang baru saja ia keluarkan telah menghabiskan cukup banyak energi qi miliknya. Mungkin Yuan Meng akan sedikit kewalahan andai sekte ini memiliki lebih dari tujuh pendekar Suci yang menjaganya.


Yuan Meng kemudian mengeluarkan sebuah kompas sederhana dari balik jubahnya, kompas inilah yang menuntun Yuan Meng untuk menemukan pusaka yang dia inginkan.


Yuan Meng hanya perlu membayangkan gambaran kecil tentang pusaka yang dia cari maka jarum kompas itu akan menunjuk ke satu titik di mana pusaka itu berada.


"Oh… masih ada satu orang yang selamat." Yuan Meng memandang ke satu arah, ia lekas memperpendek jarak dengan orang itu.


Tubuh Qiao Wu mendadak bergetar hebat begitu Yuan Meng tiba-tiba menghampirinya. Qiao Wu hanya menunduk ketakutan, bahkan dirinya tidak berani untuk segedar melirik Yuan Meng.


"Aku telah membuat ayahmu mati di sini dan kelompoknya juga telah berakhir… Aku akan memberimu pilihan, ingin ikut denganku atau membalas kematian ayahmu?" tanya Yuan Meng acuh tak acuh.


Mulut Qiao Wu menjadi kelu, pikirannya benar-benar kosong hingga tak tau harus mengatakan apa, "A-aku… aku akan ikut dengamu…" ucap Qiao Wu dengan suara bergetar.


"Bagus… Kau mengambil keputusan yang tepat." Yuan Meng lekas menarik kerah Qiao Wu dan membawanya terbang ke arah yang di tunjukkan oleh kompas di tangannya


***


"Inikah pusaka Legendaris itu?" gumam Yuan Meng seraya memandang patung pedang di hadapannya.


Yuan Meng tidak dapat merasakan energi apapun dari pedang itu, baginya pedang itu terlihat biasa saja tapi firasat Yuan Meng mengatakan bahwa dirinya tidak bisa menyentuh pedang itu sembarangan.


Yuan Meng merasa beruntung bagunan masih utuh karena berada jauh dari area pertempuran, akan sangat merepotkan jika ia harus membongkar reruntuhan bagunan satu per satu.


Qiao Wu mengangguk pelan begitu Yuan Meng bertanya padanya tentang keanehan di pedang itu. Qiao Wu dapat merasakan adanya qi tipis yang melapisi pedang itu, ia tidak melihatnya dengan jelas namun qi itu terasa sangat berbahaya.


"Begitu ya…" Yuan Meng melirik pedang itu kembali seraya menyeringai tipis.


Yuan Meng mendekatkan tangannya ke pedang itu secara perlahan, mendadak terjadi kilatan cahaya dari pedang itu dan membuat Yuan Meng sontak menarik tangannya.


Yuan Meng menyeringai lebar mendapati ujung jari telunjuknya sedikit tergores dan mengeluarkan darah, padahal serangan pendekar Suci sekalipun belum tentu dapat melukainya.


"Hahaha… Ini luar biasa!"


Yuan Meng merasa sangat puas, jalannya menunju puncak dunia semakin terbuka lebar. Ia akan memikirkan cara melepas segel itu nanti, sekarang yang menjadi perhatian Yuan Meng adalah bagaimana membawa pusaka itu.


"Bagaimana jika kau menyentuhnya, mungkin segel itu tidak berpengaruh pada anak kecil sepertimu…"


Qiao Wu cepat-cepat menggelengkan kepala mendengarnya, jika Yuan Meng saja bisa terluka maka tangannya mungkin lebih dulu hancur sebelum menyentuh pusaka itu.


Yuan Meng kembali berpikir, ia tidak terlalu yakin pusaka ini bisa di masukkan ke dalam cincin Bumi mengingat segel yang melapisinya, namun tidak ada salahnya untuk di coba menurut Yuan Meng.


Setelah beberapa waktu ia berusaha dan mengerahkan lebih banyak tenaga, akhirnya pusaka itu berhasil di pindahkan ke cincin Bumi. Yuan Meng tersenyum puas, seolah itu adalah hal paling menyenangkan selama hidupnya


"Hahaha! Ini akan menjadi awal lahirnya seorang Dewa di dunia ini!"


~